
"Aduh!" Nayaka menggosok kepalanya yang terbentur bagian atap mobil.
Delilah tertawa melihat itu, tetapi tidak menyurutkan hasrat Nayaka yang menghunjam dirinya.
"Gimana sampai terbentur, sih?" Delilah menggosok kepala suaminya yang terbentur itu.
"Giliranmu yang di atas. Aku duduk, deh."
Posisi berpindah. Nayaka menghela napas panjang, bersandar pada badan kursi dan bersiap menerima tubuh istrinya.
"Mainin dulu, Sayang." Nayaka meminta.
Pemanasan kembali dilakukan. Keringat sudah bercucuran di kedua tubuh mereka. Dengan lihainya, Delilah membangkitkan gairah suaminya.
Mengelus, mengusap lembut, lalu memberi sentuhan indra perasa di sepanjang ketegangan milik Nayaka.
Pria itu menegadah, ia sempat beristirahat, tetapi tetap merasa nikmat oleh sentuhan yang Delilah berikan.
"Masukan ke dalam mulutmu."
Delilah langsung menggeleng. "Kau sudah menusukku lebih dulu."
Nayaka tergelak. "Ayo, masuklah cepat."
Delilah naik ke atas pangkuan Nayaka. Perlahan, ia menurunkan tubuh sampai keduanya bersuara berat.
"Aku enggak bisa gerak." Delilah tertawa karena ulahnya sendiri.
"Pelan-pelan saja. Aku bantu." Nayaka mencengkeram kedua sisi pinggang Delilah, membantu istrinya bergerak sesuai irama yang ia inginkan.
Satu hal yang pasti. Nayaka bingung, kenapa saat menonton film dewasa yang bermain di dalam mobil, terasa begitu mudah melihatnya? Sekalinya praktik, terasa susah. Ruangan yang sempit, tidak memudahkan keduanya untuk leluasa bergerak.
"Jangan terlalu kencang. Nanti kepalaku juga kebentur."
"Kita salah mobil. Harusnya pakai mobil yang panjang itu." Nayaka menunjuk limousine warna putih yang terparkir rapi.
"Sudah terlanjur di sini. Kita buat mobilnya bergoyang."
"Harus buat bayi lagi." Nayaka memeluk Delilah.
"Jangan, Sayang. Aku belum siap."
Delilah menjerit ketika Nayaka mengubah posisi, lalu menghunjamnya dari belakang. Jika seperti ini, Nayaka pasti akan membuang benihnya ke dalam.
"Sayang!" Delilah kembali menjerit.
Namun, Nayaka tetap pada pendiriannya. Lagian, ia tidak membawa pengaman. Nayaka terus mendesak istrinya sampai puncak dari permainan ia rasakan.
Nayaka terengah-engah, ia menarik diri, terduduk karena kehilangan tenaga. "Aku kelepasan, Sayang."
Delilah mencebik. "Tunggu satu atau dua tahun lagi, Kak."
"Iya, Sayang. Aku menurut saja." Nayaka memajukan tubuh untuk dapat mengecup punggung belakang istrinya.
"Capek," celetuk Delilah.
"Tunggu bentar lagi, baru kita keluar."
__ADS_1
Selagi itu, Delilah segera memakai bajunya. Sialnya entah ke mana Nayaka tadi membuang dalaman miliknya. Semua di lempar sembarangan saja oleh suaminya itu.
"Kacamataku mana?" Delilah sibuk mencari-cari di kursi depan.
"Kacamata apa?" Nayaka mengerutkan kening.
"Ini ...." Delilah memperagakan miliknya.
"Oh, itu." Nayaka menunjuk kantong belakang kursi. "Aku selipkan di situ."
"Bisa bahaya kalau lupa."
"Lagian naik mobil cuma aku saja. Biarin di dalam situ. Kalau kangen, aku bisa peluk punyamu." Nayaka tertawa atas ucapannya sendiri.
"Ish ...." Delilah mencubit lengan suaminya. "Kalau sopir yang peluk gimana?"
"Jangan, donk."
"Makanya, harus aku ambil," kata Delilah. "Ayo, Sayang. Kita masuk. Gerah di sini lama-lama."
"Aku belum pakai baju. Tunggu sebentar."
Selesai Nayaka berpakaian, keduanya keluar dari mobil. Siapa pun melihat penampilan keduanya saat ini, sudah pasti tahu apa yang baru saja sepasang suami istri itu lakukan.
"Aku mandi dulu, ya," kata Nayaka.
Delilah mengangguk. Saat Nayaka telah masuk kamar mandi, Delilah menarik laci penyimpanan perhiasan. Di sana lah, ia menaruh pil pencegah kehamilan.
"Kak, aku ke dapur sebentar!" Delilah berseru, tetapi Nayaka tidak menjawab. "Pakaian gantimu sudah aku siapkan." Delilah kembali bersuara.
Sampai di ruang dapur, Delilah lekas meminum obatnya. Saat itulah, ia berkesempatan membalas pesan dari Ashraf.
"Pria ini sangat agresif," gumam Delilah.
Bahkan, Ashraf meneleponnya. Delilah panik, ia lekas mencari tempat sepi untuk mengangkat panggilan itu.
Delilah berdeham. Dengan ketetapan hati, ia menggeser tombol hijau itu. "Ya, halo."
"Hai, Delilah."
"Ya, ada apa kau meneleponku?" tanya Delilah basa-basi.
"Aku sendiri tidak tahu. Aku hanya ingin menelepon saja."
Delilah tergelak. "Kau tidak tahu alasannya?"
"Mungkin karena hatiku."
"Hatimu?" terus saja Delilah membuat jawaban menjadi sebuah pertanyaan agar obrolan ini terus berlanjut.
"Ya, hatiku menginginkanmu."
"Dasar pria!" Delilah tertawa ketika mengatakannya.
"Bukan, Baby. Ini sungguh hatiku."
"Ya, aku percaya padamu."
__ADS_1
"Makan siang bersama?" Ashraf menawarkan.
"Apa ini sebuah undangan kencan?"
"Sejujurnya aku ingin kau menganggapnya begitu."
"Baiklah. Besok siang kita bertemu."
Telepon dimatikan. Delilah berteriak girang, tetapi sedetik kemudian, ia menutup bibirnya. Tidak tahu kenapa, ada rasa berbunga-bunga dalam benaknya. Berkencan bersama seorang sultan. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya.
"Kau di sini?"
Delilah kaget tiba-tiba ada Nayaka. "Sayang, kau bikin kaget saja."
"Kau itu ngapain di sini?"
"Aku angkat telepon."
"Dari siapa?"
"Teman. Kita janjian buat makan siang bersama besok."
Nayaka mengangguk paham. "Aku mau lihat Kyomi. Kau pergilah mandi."
Delilah tersenyum. "Iya, Sayang."
Hampir saja. Delilah berucap syukur dalam hati ketika Nayaka telah berlalu dari hadapannya menuju kamar Kyomi.
"Untung Kakak enggak dengar," gumamnya.
Ketika Delilah selesai membersihkan diri, Nayaka rupanya telah terlelap. Tidak seperti biasanya pria itu tidur lebih dulu. Mungkin juga karena aktivitas mereka tadi selama di mobil.
Seolah diberi kesempatan. Delilah kembali mengirim pesan pada teman barunya. Lelaki yang berada di rumah lainnya, begitu semangat mendapat pesan yang memang ditunggu dari tadi, meski keduanya sempat bicara di telepon.
Masing-masing memberitahu kesukaan, kebiasaan, sampai pada hal-hal yang menggoda, tetapi Delilah menganggap itu merupakan candaan semata saja.
Termasuk ketika Ashraf meminta Delilah untuk mengirimkan sebuah foto, dan ia menuruti dengan timbal balik tentunya.
Ashraf mengirimkan potret selfi-nya. Pria itu seksi dengan piama yang sengaja tidak dikancingkan. Sudah Delilah duga, jika tubuh itu begitu menggoda mata. Bisa ia bayangkan bila tubuh itu berada di atasnya.
Sementara Ashraf mendapatkan foto Delilah yang mengenakan gaun tidur malam. Semakin tergila-gila pria itu mendapati tubuh nan aduhai. Masing-masing menghapus foto yang telah mereka kirim demi menjaga suatu hubungan yang baru dimulai.
Entah apa nama hubungan itu. Dibilang teman, sepertinya baru kenal. Pacaran? Sungguh mustahil. Mungkin lebih tepatnya, sebagai pasangan yang ingin mencoba bermain api.
Sampai dini hari, Delilah tidak merasakan kantuk. Ia asik saling berbalas chat bersama Ashraf. Obrolan mereka nyambung. Bagi Delilah, Ashraf sangat asik dan terbuka orangnya.
Tiba-tiba Nayaka terbatuk dalam tidurnya. Pria itu mengeliat, tetapi batuk masih menderanya. Dengan sigap, Delilah menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.
"Sayang!"
Nayaka terbangun. "Kok, batuk, sih? Belum tidur?"
"Sudah, kok, tapi aku terbangun juga. Tunggu sini, biar aku ambil air putih hangat."
"Biar aku saja. Kau tidurlah," ucap Nayaka, yang kemudian turun dari tempat tidur, berjalan keluar dari kamar.
Bersambung
__ADS_1