Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Istri Idaman?


__ADS_3

Punya suami tampan. Kaya raya, lemah lembut pada wanita yang dicintai. Sayang pada anak. Nikmat mana lagi yang ingin Delilah dustai? Nayaka sudah menjadi miliknya. Ia adalah Nyonya Hawwas sekarang.


Tidak perlu pusing soal pekerjaan. Soal harta warisan orang tua. Uang yang ada pada Delilah sekarang begitu banyak. Ia bisa membeli apa pun dalam hitungan detik. Tinggal pesan saja, maka barang yang ia inginkan datang.


Lupakan dulu soal barang mewah yang akan ia pesan. Delilah sepertinya harus membuat sebuah komunitas sosialita. Ia dan teman-teman yang sederajat dengan dirinya, tentunya.


Tidak! Delilah menggeleng. Yang harus dipikirkan sekarang adalah masalah resepsi yang akan digelar di Dubai. Ia harus merancang segala resepsi itu dengan sempurna. Gaun, perhiasan, Delilah akan merancangnya sendiri.


Hari pertama menyiapkan makan siang bagi keluarga. Setelah malam panjang yang mereka habiskan di hotel, Delilah harus menjadi seorang menantu, istri, dan ibu yang baik bagi keluarga.


Ini sedikit sulit ketika menyiapkan menu makan siang. Ayah mertua Delilah, lebih menyukai makanan arab. Lalu Kyomi makanan western, dan Nayaka yang seleranya menyukai masakan indonesia. Suami Delilah itu lebih suka menu masakan padang.


"Kau tengah buat apa?" Nayaka menegur.


Delilah menoleh pada suaminya. "Coba kau rasa ini. Apa nasi kebulinya enak? Aku baru pertama kali membuatnya."


Nayaka membuka mulut ketika istrinya menyuapi nasi khas timur tengah itu. Nayaka mengunyah, mencoba merasakan nasi buatan Delilah.


"Bagiku seperti nasi rendang. Tapi ini enak, kok. Papa pasti suka."


"Nasi rendang bagaimana?" Delilah tampak kecewa mendengar Nayaka mengatakan hal itu.


"Ya, ini, kan, karena nasinya dicampur daging. Makanya aku bilang ini seperti nasi rendang. Tapi ini enak."


"Baiklah, kuharap Papa menyukainya nanti."


"Apa yang kau buat untukku dan Kyomi."


"Aku buat salmon grilled untuk Kyomi dan kau ada tumis kangkung dan ayam goreng."


"Kenapa makananku berbeda?" tanya Nayaka.


Delilah tertawa. "Aku buatkan makanan kesukaanmu."


Nayaka mengecup kening Delilah. "Terima kasih. Semoga kau terus seperti ini. Oh, ya, sebelum kita kembali ke Dubai, kau temui Kak Reyhan dulu. Pamitan sama keluargamu."


"Iya, aku akan pamitan. Lagian masih lama juga, kan, kita menunggu visa izin tinggalnya."


"Nanti kau lupa, Sayang."


"Aku perlu sedikit waktu," ucap Delilah.


Nayaka mengembuskan napas lelah. "Kita datang bersama. Ajak Kyomi juga."


"Kau atur waktu saja. Lagian kau sibuk, kan? Lebih baik kau belajar bersama Paman Fahmi sana. Kau tahu, Sayang. Kau ini memegang perusahaan besar. Ayahmu termasuk konglomerat dunia. Kau harus benar-benar menjalankan bisnis ini sepenuh hati."


Delilah mulai lagi. Nayaka mencomot paha ayam goreng, lalu segera melangkah pergi dari dapur.

__ADS_1


"Sayang!" seru Delilah.


Lebih baik pergi dari pada mendengarkan ocehan Delilah mengenai ini dan itu. Bisa-bisa Nayaka akan naik pitam kembali karena omongan tidak terkontrol istrinya.


Makan siang segera dihidangkan. Delilah gugup karena ini yang pertama, dan Omar akan mencicipi masakannya untuk yang pertama kali.


Berharap mertuanya itu akan senang, memuji atau apalah. Delilah sangat mengharapkan agar ia menjadi menantu kesayangan pria itu.


"Mama!" Kyomi berlari menghampirinya. Ia menepuk perutnya. "Lapar."


"Iya, duduk dulu, Sayang. Mana Papa dan Kakekmu?"


Kyomi mengedikan bahu. "Enggak tahu. Dari tadi Kyomi di kamar. Mau makan sekarang."


"Kalian panggil tuan besar dan tuan muda untuk makan siang."


Pelayan wanita itu mengangguk. Sementara Delilah melayani Kyomi dulu yang sudah kelaparan. Tanpa sempat dipanggil, Omar, Nayaka, dan Fahmi sudah muncul.


"Kok, Kyomi tidak tunggu Papa dan Kakek, sih?" Nayaka berkata seraya mengusap puncak kepala sang anak.


"Kyomi sudah lapar."


"Ayo, duduk. Kita makan bersama." Delilah menyela.


Semua duduk, Delilah melayani Omar lebih dulu, Fahmi, barulah Nayaka. Jantungnya berdegup kencang ketika Omar mencoba nasi kebuli yang ia hidangkan.


Baru satu suapan, Omar menyeka mulut dan tangannya dengan sapu tangan. Begitu juga Fahmi, Nayaka.


"Masakanku enggak enak, ya?" Akhirnya, Delilah mengatakan hal itu juga. Ia siap menerima kritikan apa saja bila memang makanan yang dihidangkan tidak sesuai selera ketiga pria itu.


Omar tersenyum. "Tidak, Nak. Masakanmu enak." Omar menjejalkan tangan di saku. Mengambil beberapa lembar dollar, lalu memberikannya pada Delilah. "Ambil ini."


"Ini apa?" Delilah tidak mengerti.


"Hadiah untukmu."


Dengan senang hati Delilah mengambilnya. "Terima kasih, Papa."


Fahmi dan Nayaka juga memberi uang kepada Delilah. Ini bukan tradisi dari tanah hindustan. Tapi, dalam keluarga Omar, memang seperti ini. Memberi hadiah kepada menantu sebagai ucapan terima kasih saja.


"Kyomi juga mau." Anak itu mengulurkan tangan.


"Buat Kyomi satu lembar dari Papa. Ingat! Uangnya harus ditabung," ucap Nayaka.


Kyomi mengangguk. "Iya, Papa."


Mereka kembali menikmati hidangan, termasuk Delilah yang begitu semangat hari ini. Selepas makan siang bersama, Delilah bersiap untuk pergi.

__ADS_1


"Mama mau ke mana? Kyomi mau ikut."


"Kyomi, kan, harus tidur siang. Mama mau ke salon."


"Kyomi mau ikut!" pintanya.


"Mama ke salon-nya lama, Sayang. Kyomi main sama bibi saja."


"Kyomi mau ikut!"


Delilah menghela. "Ya, sudah, Kyomi ganti baju sana."


Anak itu berseru, Delilah mengintip Kyomi yang telah berlari menuju kamarnya. Segera ia meraih tas yang ada di kamar tidur. Delilah tidak bisa membawa Kyomi bersamanya.


Selain lebih nyaman sendirian, membawa anak akan sangat merepotkan. Delilah akan menjalani perawatan di salon, bukan pergi belanja di mal. Tidak membawa Kyomi, adalah pilihan yang tepat.


Saat ingin keluar, Nayaka masuk kamar. Pria itu menaikkan sebelah alisnya yang memandang sang istri telah berpakaian rapi.


"Kau mau ke mana?"


"Salon."


"Oh, jangan lama pulangnya. Nanti Kyomi mencarimu."


Delilah tersenyum. "Iya, Sayang."


Tanpa Nayaka tahu kalau Kyomi juga mau ikut, tetapi Delilah tidak ingin membawanya. Delilah mengecup pipi suaminya, kemudian lekas pergi dari hadapan Nayaka.


Tidak lama Kyomi masuk kamar. Anak itu sudah berganti baju. Mengikat rambutnya, dan siap untuk pergi. Tapi yang ia lihat di kamar malah hanya ada Nayaka saja.


"Mama mana?" tanyanya.


"Mama ke salon." Nayaka mengerutkan kening. "Eh, Kyomi mau ke mana?"


Kyomi langsung menangis. "Kyomi tadi bilangnya mau ikut. Mama suruh ganti baju dulu tadi."


"Apa?" Nayaka lekas meraih putrinya. "Diam dulu, Sayang."


"Mama jahat. Kyomi mau ikut ke salon."


Nayaka cuma bisa membatin. "Mama mungkin lupa mau ajak Kyomi."


"Mama jahat!"


"Kita telepon Mama biar jemput Kyomi."


"Enggak mau!" Kyomi berlari menuju kamarnya. Sudah rapi, malah ditinggal pergi.

__ADS_1


"Astaga, Delilah!" gumam Nayaka kesal.


Bersambung


__ADS_2