
Nayaka menangkup kedua sisi pipi Kyomi. Terlihat mata putrinya yang merah dan sisa-sisa tangisan di wajah manis itu. Nayaka lantas menatap Delilah seakan ia meminta penjelasan mengapa putri kesayangannya bisa bersedih.
"Jangan menyalahkanku. Kau sendiri yang telat datang," ucap Delilah.
"Apa itu benar, Kyomi? Biasa kau tidak begitu," kata Nayaka.
"Kyomi tidak nakal. Hanya merindukan papa saja yang tidak datang."
"Kau sama sekali tidak bisa menenangkan putrimu. Kau lihat Kyomi. Matanya sampai bengkak karena menangis."
"Lebih baik kita lekas naik ke atas," kata Delilah yang tidak mampu untuk berdebat.
Nayaka memang pulang dulu ke rumahnya untuk berganti pakaian. Setelah itu barulah ia menyusul Kyomi ke apartemen Delilah. Baru sehari bersama sang ibu, Kyomi sudah menangis.
Ketika sampai di apartemen, Nayaka cuma bisa menggeleng melihat keadaan yang kacau. Boneka terlempar ke mana saja serta taburan nasi masih berserakan di lantai.
"Kapan kau dewasa, Delilah," ucap Nayaka.
"Kau menyalahkanku terus."
"Kau tidak bisa menenangkan anakmu sedikit pun," kata Nayaka. "Apa anakku sudah makan?"
"Kyomi tidak mau makan," jawab Delilah.
"Astaga! Kyomi anak enam tahun dan sebentar lagi usianya bertambah, bukan bayi yang susah diberi makan. Kau tidak bisa mengurusnya sama sekali," kata Nayaka. "Bereskan kekacauan ini. Aku tidak ingin anakku merasa tidak nyaman berada di sini. Biarkan aku memberinya makan."
"Aku tunjukkan ruang dapurnya," kata Delilah.
Nayaka menyuruh duduk Kyomi di kursinya. Sementara Delilah membereskan ruangan santai mereka. Nayaka berkacak pinggang seraya menatap putrinya.
"Apa ini?"
"Hanya menuruti akting di film Home Alone," kata Kyomi.
"Kau mengerjai mamamu?"
"Tidak. Kyomi memang ingin segera bertemu Papa."
"Habiskan makananmu dan jangan ada ulah yang tidak Papa sukai," kata Nayaka. "Aku harus mengecek pintu balkon."
Nayaka pergi meninggalkan putrinya. Kyomi tersenyum, lalu ia makan dengan lahap ikan salmon bersama nasi putih yang Delilah siapkan.
"Pastikan kau jangan sekali membuka pintu balkon," kata Nayaka.
"Kenapa?" tanya Delilah.
"Ada anakmu di sini. Kyomi selalu ingin tahu segala hal. Kunci pintunya dan sembunyikan kunci itu. Ah, sofa ini disandarkan ke pintu agar ia tidak bisa keluar," ucap Nayaka seraya menunjuk sofa panjang.
"Boleh juga. Jadi, ruangan ini menjadi luas."
Nayaka dan Delilah mulai mengatur perabotan rumah mereka. Meski Kyomi akan bermalam di apartemen satu minggu sekali, tetapi keselamatan haruslah diperhatikan.
__ADS_1
"Kau sudah makan malam?" tanya Delilah.
"Aku sempat makan dulu tadi. Kau makanlah dulu. Biar aku lanjutkan pekerjaanmu."
Delilah mengangguk, ia beranjak menuju dapur, dan saat itu Kyomi sudah selesai makan malam.
"Mau Mama potongkan buah?"
"Terserah kau saja," ucap Kyomi yang langsung pergi.
Delilah memijat keningnya. "Kapan dia akan memanggilku Mama?"
Kyomi langsung memeluk Nayaka. "Papa, kita buat scrapbook, yuk. Dia sudah membelikan Kyomi banyak sekali perlengkapannya."
"Mama, Sayang," ucap Nayaka.
"Iya, ayo, kita buat."
Nayaka dan Kyomi duduk di atas karpet. Buku Jurnal dibuka, Nayaka memotong kertas printing berwarna-warni, sedangkan Kyomi mendapat bagian menempelnya.
"Tambahkan isolasi warnanya," kata Nayaka.
"Tapi Kyomi ingin pakai stiker bunga."
"Boleh Mama bergabung," tegur Delilah yang tiba-tiba muncul.
"Duduklah," kata Nayaka. "Kita tempel kertas ini bersama."
"Papa yang bantu."
Delilah memandang Nayaka. "Papamu memang serba bisa."
"Selesai," kata Kyomi.
"Di sini ada bagian yang kosong, Sayang. Bagaimana kalau ditambah stiker hewan ini?" tanya Delilah.
"Boleh, biar Kyomi yang tempel." Dengan hati-hati Kyomi menempelnya. "Jadi cantik. Tolong Papa foto."
Nayaka mengangguk kemudian memotret hasil buatan tangan Kyomi. Setelah selesai membuat scrapbook, ketiganya memainkan permainan ular tangga. Di sini suasana mulai mencair. Kyomi tertawa lepas ketika berhasil mengalahkan Nayaka.
"Papa harus dihukum," ucapnya.
"Oh, tidak," kata Nayaka.
"Kita gelitik saja Papa," sahut Delilah.
Kyomi mengangguk, ia berhambur memeluk Nayaka agar tidak dapat menghindar. Delilah juga turut memeluk keduanya, seperti mereka adalah keluarga bahagia.
"Papa mengaku kalah," ucap Nayaka. "Sudah malam, Kyomi harus tidur."
"Kyomi masih ingin main."
__ADS_1
Nayaka menggeleng. "Kyomi harus tidur."
"Cuci kaki dan sikat gigi dulu," sahut Delilah.
"Temani Kyomi."
"Tentu saja anak manis," sahut Nayaka dan Delilah bersamaan.
Ketiganya menuju kamar mandi. Bersama-sama menyikat gigi dan mencuci kaki. Delilah memang telah mempersiapkan segalanya agar Kyomi dan Nayaka merasa nyaman di apartemennya.
"Kyomi cuma ingin bersama Papa," ucapnya.
Delilah merasa kecewa. Ia kira permainan tadi sudah bisa merebut hati Kyomi. Rupanya tidak. Putrinya tidak mudah berpaling dari hangatnya Nayaka selama ini.
"Aku ke kamarku dulu," kata Delilah, yang segera berlalu.
Nayaka cuma menatapnya. "Ayo, Kyomi. Tunjukkan kamarmu."
"Di sebelah kamarnya."
Keduanya berjalan masuk ke kamar. Nayaka menemani putrinya sebentar. Membacakan cerita, mengajarkan doa hingga anak itu terlelap.
Nayaka keluar bersamaan Delilah yang baru selesai mandi. Terlihat dari rambut wanita itu yang lembab karena Delilah hanya membuat setengah kering rambutnya menggunakan hair dryer.
"Dia sudah tidur?" tanya Delilah.
"Ya, dia sudah terlelap. Kau harus bersabar dalam menghadapinya."
Nayaka berjalan menuju ruangan TV, tempat mereka bermain tadi. Ia duduk di sofa dengan disusul oleh Delilah.
"Dia tidak memanggilku Mama, Kak."
Nayaka menatap ibu dari anaknya. "Suatu hari nanti kau akan mendengarnya."
Keduanya saling menatap, Delilah meraih tangan Nayaka. Mendekat hingga bibir saling menyatu. Nayaka menelusupkan tangan di belakang tengkuk Delilah, memperdalam kecupan di antara mereka.
Ini bukan kali pertama Delilah merasakan hangatnya bibir yang berlumuran liur. Namun, pria yang tengah mendesakkan lidah inilah, yang pertama mengambil segala-galanya dari tubuhnya.
Hasrat bangkit, keduanya jatuh terbaring di atas sofa. Tangan Nayaka begitu cepat meluncur ke dua bagian yang tidak berpelindung. Suara berat Delilah menandakan persetujuan jika jari-jari kurang ajar itu mencengkeramnya. Membuka satu per satu kancing piama, menelusup masuk sampai dapat Delilah rasakan kulit tangan pria itu.
Nayaka mengecup bagian bawah dagu wanita itu. Menyusuri lengkuk depan tubuh Delilah. Membuat hasrat yang tidak tertahankan dari dirinya, dan Nayaka mencucup, membiarkan Delilah pasrah atas bibirnya yang hangat dan basah.
Tanpa bisa dihindari lagi, memang keduanya tidak ingin menghentikan kerinduan yang selama ini dipendam. Keduanya lupa dengan apa yang terjadi. Saat ini adalah mereka. Dua insan yang ingin saling menuntaskan diri. Nayaka dan Delilah sama-sama melucuti diri mereka. Menginginkan penyatuan seperti masa lalu.
Dengan lembut, Nayaka menggeser kaki Delilah dengan lututnya hingga terbuka lebar. Menempatkan diri di atas tubuh wanita itu, mendesak perlahan, tapi pasti hingga seluruhnya masuk memenuhi rongga yang haus akan sentuhan.
Bibir mereka menyatu bersamaan tubuh yang saling berbenturan. Tanpa kata-kata, tetapi keduanya tahu jika ini adalah hal yang selama ini mereka rindukan.
Bersambung
Scrapbook buatan Kyomi (photo by google)
__ADS_1