Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Menyelidiki


__ADS_3

Nayaka percaya akan ucapan Ashraf yang mengatakan tidak pernah meniduri Delilah. Saat itu, ia yang menyentuh Delilah tanpa pengaman karena memang setahu Nayaka, istrinya waktu itu mengonsumsi pil pencegah kehamilan.


Delilah tidak mengatakan kalau sudah melepas mengonsumsi pil KB. Ya, apa mau dikata. Saat itu hubungan mereka tengah berjarak. Ia datang hanya memberi nafkah batin tanpa ada obrolan panjang sebelum tidur.


Melihat itu, Nayaka keluar dari apartemen. Ia perlu mencari secara detil tentang kesehatan mantan istrinya. Mobil melaju ke rumah sakit tempat Delilah biasa berkonsultasi.


Tiba di sana, Nayaka mengunakan koneksi agar bisa bertemu dokter kandungan yang menangani Delilah.


"Halo, Tuan Nayaka." Seorang wanita memakai syal di kepala tersenyum menyapa.


Nayaka berdiri, lalu mengatupkan tangannya untuk balas menyapa. "Ya, kau sudah tahu apa yang ingin aku tanya, kan?"


"Saya membawa riwayat medisnya."


Dokter itu menyebut tanggal pertama kalinya Delilah periksa. Kondisi wanita itu yang tertekan ketika mengandung, dan harus mengonsumsi obat-obatan agar janin yang dikandung tetap sehat.


Dari sini Nayaka tahu kebenarannya. Ia bersalah karena tidak peka pada kondisi Delilah waktu itu. Apa-apaan dia? Nayaka ingin marah pada dirinya sendiri, tetapi semua tidak lagi berguna.


Ia adalah pria paling peka dalam hal soal Delilah. Jelas waktu itu ia khawatir pada kondisi fisik istrinya yang kurus kering. Ia hanya bertanya, dan menganggap itu sebagai angin lalu. Ini kekerasan kepalanya yang ingin memaksa Delilah memohon, padahal ia tahu jika nyonya muda itu tidak akan pernah mengemis.


Nayaka berharap kalau Delilah memohon untuk membawanya ke rumah sakit atau apalah. Ini sama sekali tidak. Delilah hanya mohon untuk dimaafkan.


"Terima kasih atas penjelasanmu. Aku permisi."


Dokter itu mengangguk, lalu Nayaka segera pergi dari gedung rumah sakit. Satu hal yang ia sesali juga adalah saat acara empat bulanan Angel.


Jika dihitung-hitung, jarak kehamilan Delilah dan Angel tidak jauh berbeda. Artinya, Delilah baru saja melahirkan, dan itu sebabnya Sofwan mengatakan kalau Reyhan berada di Swiss.


Nayaka tertawa, lalu ia menangis. Ada sesal, kecewa, juga tidak percaya. Ia kehilangan anak dari istri mudanya, dan ia juga mendapat bayi dari cinta pertamanya.


Bayi Delilah adalah anaknya. Adik kandung Kyomi. Itu artinya, mereka tidak resmi bercerai, kan? Sampai sekarang ia belum mengurus perceraian di kantor agama.


Nayaka menyesali ucapannya yang ingin melepas Delilah. Selamanya mereka tidak akan berpisah. Nayaka dan Delilah mungkin bisa menjauh selama bertahun-tahun. Tapi cinta tetap menyatukan mereka.


"Kyomi sayang!" Nayaka berseru memanggil putrinya ketika telah berada di rumah.


"Iya ...." Kyomi menyahut dengan heran. Kesedihannya berkurang setelah dihibur.


"Sayang!" Nayaka memeluk Kyomi. "Itu adik Kyomi. Anak Mama Delilah dan Papa. Jadi, Kyomi jangan marah lagi."


Kyomi melepas pelukan sang ayah. "Kyomi enggak mau punya adik."


"Itu adik Kyomi. Mama hamil, lalu melahirkan adik bayi. Itu adik Kyomi dari Mama dan Papa."


"Jadi, itu adik Kyomi?"

__ADS_1


Nayaka mengangguk. "Iya, itu adik Kyomi."


"Tapi Kyomi dapat Papa baru?"


Satu pertanyaan yang tidak bisa Nayaka jawab. Papa baru? Apa Delilah punya kekasih selama tinggal di sana? Rasanya tidak. Tapi, bisa saja wanita itu punya orang yang spesial. Mereka akan menikah setelah Delilah melahirkan tentunya.


"Coba Kyomi telepon Mama. Tanya pada Mama di mana alamat rumah yang sekarang."


"Kita mau jemput Mama?"


Nayaka mengangguk. "Iya, kita ke Swiss."


Kyomi bersorak. "Mana ponselnya?"


"Pakai telepon Kyomi saja."


"Iya. Berikan ponsel Kyomi."


Nayaka memerintahkan pengasuh untuk memberi Kyomi ponsel. Biar putrinya itu yang bertanya. Jika ia yang melakukan itu, takutnya Delilah tidak mau memberitahu.


"Kyomi telepon Mama dulu."


Gadis kecil itu berlari ke kamar, dan Nayaka juga melangkah ke ruangannya bersama Angel. Di dalam sana, sang istri setia menunggu.


"Kau baru bangun?"


Ketika Angel hendak bangun dari tempat tidur, Nayaka berkata, "Tetap di tempatmu. Aku bisa mengurus diriku sendiri."


"Kau dari mana?" Angel menatap suaminya dengan penuh harap jika Nayaka mau memberitahu apa yang tengah pria itu lakukan tadi.


"Aku punya anak lagi."


Kening Angel berkerut. "Anak lagi?"


"Kau tadi dengar ucapan Kyomi, kan?"


Angel mengangguk. Lalu ia terdiam. "Delilah punya anak?"


"Mungkin baru melahirkan. Aku belum bertanya pasti. Aku hanya mendengar suara tangisan bayi saja. Tadi aku pergi ke Dokter, dan usia kandungan Delilah tidak jauh darimu. Kurasa dia melahirkan di usia kandungan 8 bulanan."


"Bayi itu anak Ashraf?"


"Bagaimana bisa kau mengatakan itu? Aku sudah bilang kalau aku punya anak lagi."


"Delilah selingkuh. Itu pasti anak Ashraf."

__ADS_1


"Itu anakku, Angel! Aku bersalah pada Delilah. Aku akan datang menemuinya."


"Kau ingin bersamanya lagi?"


Apa ini? Setelah Nayaka seutuhnya ia dapatkan, mengapa ada sosok masa lalu yang akan mengambil pria itu darinya?


"Aku hanya ingin menemuinya."


"Jangan kembali padanya, Nay." Angel mulai terisak. "Kasihani aku."


Nayaka tidak menjawab. Ia melangkah masuk kamar mandi. Jawaban apa yang harus ia berikan pada Angel tanpa harus membuat istrinya sakit hati?


Sementara Angel sudah pasti tahu jika Nayaka bersama Delilah atau tidak, maka ia akan tetap tersakiti. Ini adalah pilihannya yang menikahi pria beristri dan tahu jika lelaki itu hanya mencintai satu orang wanita saja.


Ia sendiri yang membawa neraka dalam hidupnya. Delilah telah mengatakan itu. Mau ia tampil secantik apa pun. Mau ia sebaik apa pun di depan Nayaka, semua tidak bisa dibandingkan dengan seorang Delilah.


Delilah tidak bisa memberi alamat rumahnya pada Kyomi. Bukan tidak mau, tetapi ragu. Ia yakin sekali kalau Nayaka akan segera menemuinya.


"Beritahu saja. Jangan takut. Jika kau bersikeras menolak, maka Nayaka bisa mengambil bayimu. Jika kau memperlakukan dia sebagai sahabat, maka dia akan membiarkanmu bersama Kanaka. Kalian teman dan anggap saja kau tidak pernah menikah dengannya."


Saran sederhana yang Reyhan berikan, tetapi cukup bagus untuk melepas keraguan di hati Delilah.


"Iya ... aku akan berikan alamat tempat tinggalku."


Delilah tersenyum pada Kyomi di seberang kamera sana. Mereka tengah melakukan panggilan video.


"Kapan Kyomi akan kemari?" tanya Delilah.


"Enggak tahu. Nanti Kyomi tanya sama Papa."


"Adik Kyomi mana?"


"Oh, iya, Kyomi lupa. Bayi Mama Angel sudah meninggal."


"Apa?" Delilah kaget mendengarnya. "Sayang, jangan bercanda sama Mama."


"Kyomi tidak bohong. Adik Kanaka meninggal."


"Kanaka?" Delilah kaget lagi karena nama putra Angel sama seperti nama anak laki-lakinya.


"Namanya, kok, sama seperti adik Kyomi?"


Delilah menyengir. "Tapi, Kanaka, adik Kyomi lebih tampan. Wajahnya mirip Kyomi, loh."


"Kata Papa, adik bayinya anak Mama sama Papa."

__ADS_1


"Hah?"


Bersambung


__ADS_2