Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Murka Reyhan


__ADS_3

Semua terdiam mendengarnya. Anna menutup bibir untuk tidak berteriak, sedangkan Reyhan menatap lekat adiknya. Tidak heran dengan pergaulan yang bebas, tetapi sungguh tidak menyangka jika Delilah mengandung anak dari pria lain.


"Kau punya anak? Kau hamil?" tanya Reyhan tidak percaya. "Kau mengandung anak dari pria lain. Delilah, katakan kalau ini semua bohong."


"Maafkan aku, Kak," ucap Delilah.


Reyhan yang murka kembali melayangkan satu tamparan di pipi Delilah, dan itu membuat semua yang berada di sana kaget.


"Apa-apaan kau ini?" ucap Diki.


"Kau lihat anak ini. Bagaimana kita akan mengatakan sebenarnya pada keluarga Juno? Dia hamil anak orang lain. Mau ditaruh di mana muka ini, Diki."


"Kau tidak harus memukulnya."


"Aku bahkan ingin menghabisinya sekarang juga," ucap Reyhan. "Katakan anak siapa yang kau kandung."


Delilah menggeleng dan Reyhan semakin kesal karena dugaannya kalau adik tercinta telah melakukan pesta dan tidur bersama pria tidak dikenal.


"Katakan sejujurnya!" bentak Reyhan.


"Katakan, Delilah. Kita akan cari pria itu," sahut Diki.


Anna memegang lengan Reyhan. "Bukan itu maksudnya, Sayang."


"Apa? Dia hamil dan dia mengakui itu."


Anna menatap Delilah dan ia ingat percakapan terakhir waktu adik iparnya datang meminta pembatalan pernikahan. Saat itu Delilah mengatakan kalau Nayaka tidak menikah, tetapi memiliki anak.


"Apa dia anakmu?" tanya Anna.


Delilah menangis tersedu. "Aku bersalah. Aku menelantarkan anakku sendiri."


"Apa maksudmu?" tanya Reyhan yang ingin meraih Delilah, tetapi dihalangi oleh Anna dan Diki.


"Aku pernah melahirkan," ucap Delilah.


Reyhan langsung terduduk di sofa. Tercengang atas apa yang diungkapkan oleh Delilah. Adiknya pernah melahirkan dan ia tidak tahu apa-apa. Lalu, di mana anak itu sekarang? Ini sungguh sebuah kejutan yang tidak terduga.


"Jelaskan semuanya," pinta Diki. "Di mana itu sekarang?"


"Anakku bersama Nayaka," ungkap Delilah.


"Nayaka?" sela Kiano. "Artinya, anak perempuan itu adalah anakmu?"


Delilah mengangguk. "Kyomi anakku."


"Kau gila, Delilah!" ucap Kiano.


"Kiano, kau pernah bertemu mereka?" tanya Reyhan.


Kiano mengangguk. "Dia Nayaka, Papa."


"Anna, kau pernah menyebut nama pria itu, kan?"


"Anak dari Nilam," ucap Anna.


"Sialan! Anak itu rupanya," murka Reyhan.

__ADS_1


"Jangan, Kak. Kami saling mencintai," ucap Delilah.


Reyhan bangkit dari duduknya. "Kau ini sungguh keterlaluan."


"Diam di tempatmu, Rey!" ucap Diki.


"Kau membela anak ini. Dia adikku dan aku berhak mengajarinya."


"Kau memukulnya sampai mati juga tidak mengubah keadaan. Delilah pernah hamil dan melahirkan," ucap Diki.


"Jelaskan padaku, Delilah!" pinta Reyhan.


Delilah mengungkapkan semua kebohongannya. Tinggal di Inggris, lalu pindah ke Paris untuk melahirkan kemudian pergi ke Amerika agar semua tidak curiga kalau ia punya bayi.


"Kau keterlaluan, Delilah. Kau menyuruhku menyewa orang untuk menghabisi Nayaka?" ucap Kiano.


"Itu karena aku tidak mau dia mencariku."


"Anak kurang ajar!" murka Reyhan yang kembali melayangkan tamparan di pipi Delilah.


"Sakit, Kak," ucap Delilah. "Kau menyakitiku."


Ini kali pertama Reyhan memukul adiknya. Delilah sudah sangat keterlaluan. Kesalahannya tidak dapat ditolerir, bahkan adiknya itu punya pikiran untuk menghabisi nyawa orang lain.


"Reyhan!" teriak Anna.


"Aku gagal. Aku malu punya adik sepertimu. Maafkan aku Dion, maafkan aku mama. Sebagai kakak, aku gagal mendidik adikku," ucap Reyhan.


"Jangan menyalahkan dirimu, Rey," ucap Anna.


Ia menuruti segala permintaan sang adik agar Delilah selalu tercukupi. Reyhan percaya padanya kalau adiknya itu tidak akan membuatnya kecewa. Setiap di telepon, selalu saja Reyhan memberi pesan. Rupanya Delilah mengkhianati kepercayaan itu, dan tidak disangka telah melakukan sebuah kesalahan.


"Maya, obati dulu wajah Delilah. Aku akan menyusul Reyhan," ucap Diki.


"Om Diki," panggil Delilah.


"Om juga kecewa padamu, Delilah. Kau dimanjakan bukan untuk berbuat hal seperti ini. Ini namanya kejahatan. Kau ...."


Diki tidak sanggup mengatakannya. Ia lekas berjalan menyusul Reyhan ke ruang kerja. Sementara Kiano menatap bibinya itu dengan amarah yang tertahan. Ia pun ingin sekali memukul Delilah saat ini. Ada berapa banyak orang yang tersakiti karena ulahnya.


"Juno belum tahu rahasiamu?"


"Dia akan marah jika tahu," jawab Delilah.


"Kau masih bersama Nayaka rupanya," ucap Sera.


"Maaf mengecewakanmu, Sera."


"Dari awal dia memang milikmu."


Kiano memandang Sera. "Entah apa yang kau suka darinya."


"Dia lebih baik dirimu."


"Pencundang yang hanya bisa sembunyi dibalik Delilah saja. Aku kira dia pria tidak normal karena Nayaka itu terlalu lemah," ucap Kiano.


"Dia hanya tidak mau membuat masalah," sahut Delilah.

__ADS_1


"Apa pun itu, tetapi kau sudah membuat kebohongan selama bertahun-tahun. Kakek melarangmu untuk bergaul bersamanya, tetapi kau malah mengandung anak dari pria itu. Parahnya lagi kau ingin menghabisi mereka. Kau ini iblis atau apa."


"Kiano!" bentak Anna. "Kau bicara apa pada Delilah."


"Sebaiknya Mama memikirkan bagaimana caranya mengatakan ini kepada keluarga Juno. Aku sarankan agar Nayaka bersembunyi. Kalian tahu sendiri apa yang akan diperbuat oleh seorang pria yang telah dikhianati," ucap Kiano.


"Sudah, Kiano," sela Maya. "Sekarang bagaimana?"


"Tentu saja menikahkan mereka," jawab Anna.


"Kurasa tidak semudah itu," ucap Maya.


"Delilah, kau ingin menikahi Nayaka?" tanya Sera.


"Aku sudah berjanji untuk bersamanya," jawab Delilah.


"Hebat sekali kau," sela Kiano. "Oh, tidak. Bukan kau yang hebat, tapi pria-pria itu yang terlalu bodoh."


"Bicaramu terlalu lancang, Kiano," ucap Anna.


"Ada apa ini?" tanya Ayyena yang baru masuk ke rumah.


Ayyena dan Anthea berjalan menghampiri. Mereka menutup bibir bersamaan saat melihat wajah Delilah yang mengenaskan itu.


"Kau dikeroyok?" tanya Anthea.


"Kalian tahu, Ayyena, Anthea, anak kecil yang bersama Nayaka waktu di kafe itu," ucap Kiano.


"Aku mengingatnya, dia anak Nayaka. Tapi sayang, ibunya sudah tiada," ucap Ayyena.


"Memang pantas ibunya dianggap tiada. Toh, ibunya memang meninggalkan anak itu."


"Dia sangat manis. Namanya juga cantik, Kyomi Vio ...." Ayyena lupa nama belakang dari anak itu.


"Violetta," sambung Anthea.


"Ibunya ada di depan kalian," kata Kiano.


"Siapa?" tanya Anthea dan Ayyena bersamaan.


"Dia anak dari Delilah."


"Apa?" keduanya kaget bersamaan, lalu memandang Delilah. "Kyomi anakmu?"


Delilah tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Kiano segera melangkah pergi dari kumpulan wanita yang meratapi kesalahan bibinya. Ia pun akan terkena imbasnya karena Juno adalah sahabat terbaik Kiano.


"Bawa Nayaka dan Kyomi kemari, Del," pinta Anna.


"Aku tidak ingin kalian menyakitinya," ucap Delilah.


"Tidak akan, Sayang."


Delilah menggeleng. "Tidak sebelum pertunangan ini batal."


Delilah langsung pergi dari hadapan semuanya. Anna memanggilnya untuk tetap di rumah, sedangkan Sera dan si kembar mengejar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2