Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Hotel


__ADS_3

Tidak disangka Angel, kalau Nayaka akan secepat ini menikahi Delilah. Ia kira perang dingin itu akan berlangsung lama atau Nayaka memang memutuskan untuk tidak kembali pada wanita manja itu.


Ia sendiri sudah memberi arahan, nasihat, kalau keduanya lebih cocok menjadi adik kakak dibanding pasangan suami istri. Angel yakin sekali kalau tidak lama lagi, pasangan baru itu akan kembali dalam dunia pertengkaran.


Nayaka akan selalu salah di mata Delilah, dan sebaliknya Delilah akan dianggap tidak mengerti Nayaka. Yang kasihan adalah Kyomi.


Seharusnya yang bersanding di sana adalah dirinya. Angel menyayangi Kyomi, juga mencintai Nayaka sejak dulu ketika mereka sama-sama di sekolah yang sama.


Di sini Delilah-lah yang menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. Angel lebih dulu mengenal Nayaka, dan entah datang dari mana gadis kecil yang mulai merebut perhatian pria pujaannya.


"Selamat untukmu, Nay." Ucapan itu setengah tulus. Angel kecewa karena cintanya bertepuk sebelah tangan.


Nayaka tersenyum. "Terima kasih, Angel."


"Kau tetap yakin bersamanya."


"Yakin atau tidak, aku harus menikahinya. Aku sudah banyak mengambil darinya. Terlepas dari sikapnya, aku yakin Delilah akan jadi lebih baik. Aku akan membimbingnya."


"Aku tidak mau membayangkan kau mengasuh wanita yang masih berpikiran kekanak-kanakkan itu."


"Mungkin karena itu aku mencintainya," ucap Nayaka.


Delilah berdeham. "Ada apa ini?"


"Selamat, Delilah." Angel mengulurkan tangan.


Delilah menjabat salam itu. "Terima kasih." Lalu merangkul lengan Nayaka. "Ayo, Sayang. Kita harus menyapa kerabat yang lain."


Nayaka tersenyum tidak enak. "Aku ke sana dulu, Angel. Terima kasih sudah datang."


"Tante Angel!" seru Kyomi.


Delilah meraih tangan putrinya. "Sayang, kita harus foto bersama. Nanti saja menyapa Tante Angel."


Kyomi mengangguk, berbalik arah mengapit tangan ibunya. Delilah menoleh ke belakang, lalu ia menyunggingkan senyum sinis, seolah berkata "Hei, lihat ini. Kau tidak bisa mengambil apa yang telah menjadi milikku".


Delilah selalu ingat perkataan kakeknya untuk mempertahankan apa yang telah ia miliki. Jangan takut melawan siapa pun karena manusia dasarnya itu sama. Yang membedakan adalah karakternya saja.


Nayaka dan Kyomi awalnya adalah miliknya. Memberikannya kepada wanita lain, maka harus melewati ia dahulu.


Sepasang pengantin baru itu sibuk menyapa tamu yang lain. Rata-rata hanya teman dekat yang diundang, bahkan Delilah tidak mengundang teman-temannya lantaran masih sakit hati pada kejadian di restoran kemarin.


Sekarang ia akan menunjukkan siapa Delilah sebenarnya. Mereka tidak bisa meremehkan ia. Delilah sudah bertekad akan membalas semua perlakuan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ini untuk kalian. Hadiah dari Papa." Omar memberi amplop pada Nayaka. "Kyomi biar sama Papa saja untuk malam ini."


Delilah tersipu malu mendengarnya, dan Nayaka juga menarik dua sudut bibirnya ketika menemukan voucher menginap di hotel berbintang.


"Papa tidak perlu melakukan ini. Kami sudah bersama sejak dulu." Wajah Nayaka memerah saat mengatakannya.


Omar menepuk pundak putranya. "Jelas berbeda. Ini hari spesial kalian."


Delilah merebut voucher hotel itu dari tangan suaminya. "Terima kasih, Papa. Nanti sore saja kami ke hotel."


"Kyomi mau ikut!" serunya.


Nayaka garuk-garuk kepala. Delilah salah tingkah, sedangkan Omar tertawa. Ia raih tangan kecil sang cucu, lalu mengecupnya.


"Kyomi main sama Kakek. Kita main game sepuasnya."


"Kyomi boleh main ponsel?" mata anak itu mengerjap beberapa kali seolah benda itu yang mampu mengalihkan perhatiannya dari sang ayah dan ibu.


"Hanya satu jam." Nayaka menyahut. "Harus didampingi oleh Bibi."


Kyomi cemberut. "Ya, Papa."


"Mau atau tidak?" Nayaka memberi pilihan.


Daripada tidak sama sekali, lebih baik mengambil pilihan satu jam dan didampingi oleh bibi pengasuh.


Pukul setengah tujuh malam, Nayaka dan Delilah pergi bersama ke hotel tanpa sang anak. Sepanjang perjalanan, Delilah begitu manja. Lengan Nayaka saja tidak boleh bergerak sedikit pun.


"Jika begini terus, kita akan lama sampainya," ucap Nayaka.


"Kak, kita sudah sering melakukannya di kamar. Gimana kalau kita mencobanya di tempat lain." Tangan lentik itu menjalar ke arah terlarang sana.


Nayaka menepuk tangan itu. "Aku sedang fokus menyetir. Memang kau ingin melakukannya di mana?"


"Di sofa sudah, kamar mandi juga pernah. Kamar tidur lebih dari sering. Kita belum pernah melakukannya di mobil."


"Jangan aneh-aneh, deh. Mau dilihat orang kita melakukan itu?"


"Kolam renang juga belum pernah, Kak."


"Nanti saja saat kita sudah berada di luar negeri." Nayaka mengusap lembut lengan istrinya.


"Benar, ya, Kak!"

__ADS_1


Nayaka mengangguk. "Iya, Sayang."


Delilah memeluknya. "Jadi enggak sabar, deh."


Perjalanan dilanjutkan sampai mereka tiba di hotel Belin Internasional. Keduanya langsung saja menuju kamar di lantai teratas setelah Nayaka menunjukkan voucher booking-nya.


Delilah langsung merebahkan diri di kasur saat mereka telah berada di kamar. Sementara Nayaka mendaratkan tubuhnya di sofa seraya menyalakan TV.


"Kakak sayang!" tegur Delilah.


"Kenapa?" Nayaka memandangnya lekat.


"Malah duduk. Sini, dong." Delilah menepuk sisi kosong tempat tidur.


"Masih awal, Del. Lagian sudah sering juga."


Bagi Nayaka memamg tidak ada lagi yang spesial, kecuali status mereka yang telah berubah. Untuk tidur bersama, sudah terlalu sering mereka lakukan. Tidak ada bedanya mau itu gerakan baru atau lama. Semua tetap sama ujung-ujungnya.


Delilah mendengkus. Apa sekarang Nayaka telah berada di fase yang membuat pria itu bosan melakukan penyatuan tubuh bersamanya? Jika begitu, ini tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisa Nayaka berpaling dari dirinya.


"Tunggu aku sebentar." Delilah turun dari tempat tidur.


Nayaka mengerutkan kening, ketika Delilah bergegas masuk kamar mandi. Ia mengedikan bahu, tidak ambil pusing soal istrinya.


"Del, mau makan enggak?" seru Nayaka.


Delilah mengintip di balik dinding kamar mandi, lalu menjawab, "Tadi, kan, sudah makan. Sekarang waktunya tidur."


"Baru setengah delapan. Kita nonton dulu baru tidur."


"Pokoknya tidur sekarang!" jawab Delilah tegas.


Pintu bilik mandi ditutup. Delilah lekas membongkar tas ransel miliknya. Syukurlah ia membawa barang yang paling ia butuhkan. Baju menerawang berwarna hitam. Parfum viral yang katanya bisa membuat pria tergila-gila. Sempat-sempatnya Delilah memesan secara online minyak wangi itu.


Ia lekas berganti pakaian. Lalu, mengoleskan parfum mini itu di area sensitif. Wangi yang begitu lembut, dan Delilah yakin jika Nayaka akan tergila-gila padanya.


Ia juga membubuhkan sedikit bedak bayi di telapak tangan. Menepuk-nepuknya, lalu membenamkan wajah di telapak tangan. Gunanya agar ia wangi seperti bayi. Tidak ada yang tidak menyukai aroma bayi. Semua pasti suka.


Ikatan rambut dilepas, Delilah membuat surai-nya terkesan acak-acakan mengunakan sisir. Tidak lupa ia mengoleskan pelembab bibir, dan sekarang ia siap untuk menggoda suaminya.


"Wanita lain, tidak akan mampu bersaing denganku," gumam Delilah di depan kaca.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2