
Kyomi masih saja ingin bermusuhan dengan ibunya. Di dalam mobil, anak itu hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, padahal Delilah mencoba untuk mengajaknya mengobrol dengan membahas kegiatan Kyomi di sekolah.
"Mama tidak mengerti, kenapa kau masih saja marah?" Delilah memperlambat laju mobil guna bisa menghabiskan waktu sedikit lebih lama bersama putrinya.
Kyomi menjawab, "Aku tidak marah."
"Kau berbeda memperlakukan kami, Kyomi. Aku ibumu dan Angel itu hanya orang lain. Kau paham, kan? Mama mengandungmu selama sembilan bulan. Berjuang melahirkanmu di tengah musim dingin yang memuncak."
"Lalu, kenapa kau malah meninggalkanku?"
Delilah mengerjap. Mengembuskan napas panjang sebelum berkata, "Ada alasannya. Mama tidak bermaksud begitu. Mama bersalah dan sekarang kita telah bersama. Mama dan papa akan segera menikah."
"Tante Angel baik," ucap Kyomi.
"Dia baik hanya ingin bersama papa." Sepertinya Delilah harus menanamkan wanita yang ingin dekat bersama Nayaka itu adalah perempuan jahat.
"Nona Stacy tidak begitu. Dia baik padaku."
"Stacy atau Stavi juga sama. Ibu tiri itu jahat. Kau mengerti!"
Kyomi mengerjapkan mata. "Kau tidak mempan merayuku."
Delilah tercengang mendengarnya. Ia mendengkus, lalu mempercepat laju kendaraan. Pesan Nayaka tadi sudah masuk. Malam ini mereka akan dinner romantis di salah satu restoran. Kyomi akan ia titipkan di rumah Reyhan untuk sementara.
Mobil sampai di kediaman sang kakak tercinta. Kyomi keluar lebih dulu, menunggu Delilah turun untuk menekan bel yang tidak sampai ia jangkau.
Delilah memencet bel dua kali, tidak lama pelayan membuka pintu. Kyomi langsung saja berlari, berseru memanggil neneknya, yang sebenarnya harus dipanggil tante atau bibi.
"Kesayangan nenek sudah pulang rupanya." Anna mengecup pipi Kyomi sekilas. "Cuci tangan, habis itu ganti baju dulu, ya."
"Nenek, bisakah kau memberiku sepiring makanan?" Kyomi mengucapkannya dalam bahasa Perancis.
Anna tertawa mendengarnya. "Kakekmu telah menyewa koki yang bisa memasak makanan Perancis."
Perkataan sederhana, Anna dapat mengerti karena keponakannya juga berdiam di negara Perancis sana.
"Nayaka akan marah, Kak," sahut Delilah.
"Putrimu sudah terbiasa melahap makanan barat. Kyomi lebih suka makan kentang tumbuk dicampur daging sapi dan roti."
"Bukannya begitu."
__ADS_1
Delilah bingung untuk menjelaskannya. Makanan barat tentu mahal bila berada di Indonesia. Memang tidak masalah bagi keluarga Delilah, tetapi bagi kantong Nayaka mungkin saja.
"Suruh kokinya untuk memasak makanan sederhana saja," kata Delilah akhirnya.
Anna beralih memandang Kyomi. "Hari ini Kyomi ingin makan apa?"
"Terserah nenek saja," jawab Kyomi.
"Makan nasi campur ikan gurame mau?"
Kyomi menggeleng. "Berikan Kyomi salmon atau daging ayam. Rendang juga boleh. Papa pandai memasaknya."
Anna tertawa. "Kyomi harus mencobanya dulu sebelum mengatakan tidak. Sekarang ganti bajumu dulu."
"Ayo, Kyomi. Biar Mama temani."
Kyomi tidak bisa menolak karena Delilah lebih dulu meraih tangannya. Keduanya berjalan bersama menuju kamar yang memang disiapkan untuk anak itu.
"Nanti Mama akan telat menjemput, Kyomi." Delilah membuka ikatan rambut kepang putrinya yang dibuat oleh Nayaka.
"Kalian mau ke mana?"
"Mama dan papa mau pergi sebentar."
"Kyomi! Ini Mama. Mana mungkin Mama mau mengambil papa. Kita ini keluarga. Ada urusana sedikit. Jadi, malam ini Kyomi menginap di sini saja." Delilah menyisir rambut panjang putrinya dengan lembut. "Hari Minggu kita jalan-jalan lagi."
"Terserah kalian saja," sahut Kyomi.
"Mama akan menyuruh papa meneleponmu nanti. Jangan sedih ditinggal. Mama dan papa hanya pergi sebentar."
...****************...
Delilah siap dengan gaun putih di atas lutut yang ia kenakan malam ini. Menghias wajahnya, menata rambut, lalu memakai sepatu bertumit tinggi dengan warna yang serasi.
Nayaka telah memberitahu restoran untuk dinner mereka malam ini. Meski tidak dijemput mengunakan mobil mewah, dan Delilah terpaksa harus berangkat sendiri, tetapi itu tidak mengurangi antusiasnya untuk bersama sang kekasih. Memangnya kenapa? Delilah terbiasa berangkat sendiri menemui Nayaka sejak dulu.
Suara kunci mobil terdengar ketika Delilah memencet remote pada kuncinya. Ia membuka pintu, lalu masuk. Sebelumnya, Delilah mengirim pesan singkat pada Nayaka kalau dirinya akan segera tiba.
Empat puluh menit, Delilah sampai di restoran yang dimaksud Nayaka. Ia masuk, disambut oleh pelayan pria. Delilah menyebut nama Nayaka dan nomor mejanya, lalu pelayan itu mengantarnya.
Nayaka berdiri menyambut kekasihnya. Ia meraih tangan lembut itu, lalu mempersilakan Delilah untuk duduk.
__ADS_1
"Kau punya uang untuk menyewa tempat ini?"
Hal pertama yang membuat Nayaka terdiam. Tadinya ia ingin memuji kalau Delilah sangat cantik malam ini. Namun, ucapan sang kekasih sedikit melukai hatinya.
"Aku sudah membayarnya "
"Kau tidak perlu mengajakku kemari. Tempat biasa saja aku senang," sahut Delilah.
"Kita makan saja dulu. Aku sudah memesan makanan kesukaanmu." Nayaka tidak ingin mendebat soal tempat yang telah ia pesan.
Delilah tersenyum. "Kau tahu kesukaanku, Kak."
Justru karena tahu, makanya Nayaka sampai reservasi restoran mewah ini. Tapi, Delilah seperti tidak mengerti apa yang sebenarnya ingin Nayaka tunjukkan.
Pelayan datang membawa pesanan makanan Nayaka. Setelah mengucapkan kalimat terima kasih kepada dua pelayan wanita, keduanya makan bersama.
"Oh, ya, Kak. Besok kau jangan lupa untuk mengukur baju," kata Delilah seraya memotong irisan daging ayam tanpa tulang di piringnya.
"Kau tidak mengukur baju?"
"Sudah selesai waktu itu. Tinggal kamu dan Kyomi saja."
Nayaka meletakkan garpu dan sendok di piringnya, meneguk air putih yang berada di meja, lalu menyeka bibirnya dengan sapu tangan yang tersedia.
Ia raih tangan sang kekasih. "Del, kau tahu kalau aku begitu mencintaimu. Tapi, apa kau yakin ingin hidup bersamaku?"
Delilah menghentikan makannya. "Masih kurang pembuktianku? Aku sudah melepas Juno demi bisa bersamamu. Kau tahu dari dulu hanya kau yang selalu berada di sisiku."
Nayaka mengecup punggung tangan itu. "Aku hanya meragu. Kau tahu siapa aku dan hidupku. Aku hanya pria sederhana, Del. Aku tidak bisa memberimu barang mewah."
"Jangan lagi bicara seperti itu. Aku tidak kekurangan uang untuk membeli barang mewah."
"Bukan begitu, Del. Aku bekerja, tetapi gajiku pasti tidak cukup untuk membiayai hidup kita kelak."
"Jangan menyiksa dirimu dan diriku, Kak. Kita akan hidup berdampingan. Aku terima berapa pun pemberianmu nantinya."
Nayaka mengeluarkan kotak merah dari saku kemeja yang ia pakai. Membukanya, lalu mengambil cincin emas putih itu. "Delilah, kau mau menjadi istriku?" Nayaka tersenyum. "Maaf, enggak bisa romantis."
Delilah ikut tersenyum. "Tentu saja, aku mau menjadi pendamping hidupmu."
Nayaka menyematkan cincin itu di jari manis Delilah. Mengecupnya sekali lagi dengan rasa penuh cinta. Delilah juga melakukan hal sama. Ia kecup cincin pemberian kekasihnya itu. Meski bukan berlian, tetapi Nayaka memberinya dengan tulus. Sama seperti gelang perak yang selalu Delilah pakai sampai saat ini.
__ADS_1
Bersambung