
Baik Nayaka dan Delilah seakan terlupa pada buah hatinya. Janjinya akan menjemput Kyomi, tapi nyatanya sepasang anak manusia itu telah kembali ke apartemen.
Bibir keduanya saling membelit dengan tangan melepas baju yang mereka kenakan. Delilah terjatuh di atas sofa dengan Nayaka yang menindihnya.
Tangan itu menaikkan penutup yang melindungi kelembutan Delilah. Memenuhi ruang mulut dengan ujung putik milik sang kekasih. Jemari Delilah terjalin pada helaian rambut Nayaka. Memutarnya bagai lingkaran, sesekali mengusapnya dengan lembut. Nayaka bertindak sebagai bayi dan Delilah ibu yang penuh kasih menyusui kekasihnya.
"Sayang sekali tidak ada airnya," celetuk Nayaka.
"Kau ingin aku hamil lagi?" Delilah meraih wajah itu, mengangkat kepala agar dapat mengecup bibir Nayaka.
"Saat ini aku tidak menginginkan anak lagi."
"Untungnya aku sudah meminum pil kontrasepsi. Aku siap jika kau menginginkan anak lagi."
Nayaka mencucup bagian satunya lagi. Delilah mengeluh saat merasakan kehangatan dalam mulut pujaaan hatinya.
"Aku tidak ingin kejadian tempo dulu terulang lagi."
Delilah paham. Tentu saja Nayaka trauma mengenai hal itu.Takut jika ia kembali lari dengan meninggalkan anak lagi.
"Kita akan menikah. Aku tidak akan lari."
"Bukan itu," ujar Nayaka sembari menaiikan kecupannya pada bagian bawah dagu. Pindah ke cuping telinga, mengigitnya, membuat Delilah merasa geli. "Tunggu aku mapan dulu."
"Aku sudah bilang jika kau akan bekerja di perusahaan papa." Delilah meringis ketika Nayaka mencucup kuat bagian atas pada permukaan kelembutan miliknya.
"Aku tahu, tetapi aku tidak ingin langsung duduk dengan nyaman saja. Aku ingin membuktikan diriku."
Kecupan Nayaka turun ke bawah. Menjelajahi perut rata Delilah. Bermain pada lingkaran yang membuat wanita itu merasa geli. Delilah mengangkat tubuhnya sedikit, membantu Nayaka melepas penutup terakhir yang melindungi bagian terlarang miliknya.
Sepanjang itu, Nayaka mengecup kaki jenjang kekasihnya sampai pada bagian yang tidak bisa disebutkan. Delilah melebarkan kakinya, mengundang Nayaka untuk mencicipi bagian yang tengah berkedut saat ini.
Nayaka menyentuhnya dengan lembut, memasukinya dengan satu jari. Perlahan seperti ia tengah mencari sesuatu di dalam sana. Begitu hati-hati agar Delilah tidak merasa kesakitan.
"Kau jangan merasa bersalah. Apa yang menjadi milikku, maka itu milikmu juga," ucap Delilah seraya mendekatkan kepala Nayaka pada miliknya. Ia mengerang tatkala pujaan hatinya telah menyapu di daerah yang basah itu.
"Tetap saja aku merasa tidak enak. Mungkin kau benar kalau aku memang tidak kreatif. Sudah tidak kaya, kerja saja tidak becus."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" Delilah menggigit bibirnya ketika Nayaka menambahkan satu jari masuk ke dalam sana. "Dulu kau ingin menikahiku dan berjanji akan bekerja keras. Lalu, sekarang kau malah seperti tidak percaya diri saja."
Nayaka memainkan lidahnya, dan membuat Delilah bergumam tidak jelas. Tubuhnya seperti tersetrum atas gelitikan indra lembut itu.
"Aku sendiri juga tidak tahu. Kenapa setelah direstui, aku malah takut untuk menikahimu."
__ADS_1
"Lebih dalam lagi, Kak," pinta Delilah dengan dua jari yang melebarkan kelopak mawar miliknya.
Nayaka menyapu bersih bagian dalam kelopak itu. Memainkan putik terkecil agar Delilah semakin terbang melayang.
"Kau yang terbaik, Kak," ucap Delilah.
Nayaka tersenyum. "Kental, dan rasanya memikat."
Delilah tertawa kecil. "Kau menyukainya, kan?"
"Yang ada pada dirimu, aku menyukainya."
Nayaka bangun dari duduknya, ia menurunkan kain terakhir yang menutupi bagian yang sedari tadi ingin bebas.
Delilah menangkapnya, hangat terasa ketika ia menyentuhnya. Tanpa diperintah, ia mengecup dahulu kehormatan bagi sang pria. Begitu menantang, dan Delilah tergoda untuk menaklukkannya.
Nayaka mengumpulkan rambut yang menghalangi kegiatan Delilah. Menggenggamnya kuat, ketika kekasihnya itu memenuhi mulutnya dengan bagian tubuh yang menantang tadi.
Rambut ditarik, Delilah mendonggak dengan Nayaka yang menyapukan miliknya pada bibir basah itu. Kemudian Delilah membelakangi Nayaka dengan posisi seperti anak kecil merangkak.
Sebelum masuk, Nayaka memukul punggung bagian bawah Delilah beberapa kali. Membuat warna putih itu menjadi kemerahan, lalu masuk menghunjam dengan keras.
Cengkeraman kuat pada bantalan sofa menandakan betapa kerasnya desakan pada tubuh Delilah. Keduanya sama-sama mengeluarkan suara berat seiring gerakan maju mundur yang Nayaka berikan.
Nayaka menarik diri, ia duduk di sofa, sedangkan Delilah berganti posisi dengan duduk di atas pangkuan kekasihnya.
"Kau mengucapkan sesuatu?" Delilah seperti mendengar Nayaka bergumam tadi. "Kau merindukanku?"
Nayaka tersenyum. "Tentu saja aku merindukanmu. Enam tahun aku tidak menyentuh wanita. Tentu aku sangat haus akan belaianmu."
Delilah kembali memagut bibir itu. "Aku juga sama."
Nayaka menarik bibirnya. "Benarkah?"
"Kakak!" Delilah memelas. "Jangan bahas itu selagi kita bersama."
"Baiklah. Lebih cepat lagi gerakanmu."
Dengan berpegangan pada sandaran sofa, Delilah memompa dirinya. Naik ke puncak ketinggian, lalu turun pada lembah kenikmatan. Ia terengah-engah, tetapi permainan belum berakhir begitu saja.
Nayaka membalik posisi, lalu mengambil alih kembali permainan. Ia menuntaskan adegan yang mereka peragakan secara cepat dan nikmat yang tidak terperikan.
"Jangan lupakan pil-nya," ucap Nayaka.
__ADS_1
Delilah mengangguk. "Aku ingin menganti pil itu dengan suntikan saja."
"Biar aku menemanimu ke dokter."
"Kau yakin untuk menundanya dulu?" Delilah memastikan ini sekali lagi.
"Kyomi saja belum dekat bersamamu. Jika kita memiliki anak sekarang, dia akan merasa tersisih."
"Sebenarnya Kyomi ini menuruni sifat siapa, sih?"
Nayaka menggeleng, Delilah seperti tidak sadar pada dirinya sendiri. Bukankah antara ia dan Kyomi hanya berbeda satu angka. Delilah sepuluh, maka Kyomi sebelas. Dion dulunya juga keras kepala dalam mendapati Dila. Segala rintangan pria itu hadapi agar bisa memiliki wanita yang ia cintai.
"Aku ingin mandi. Kau mau ikut?" Nayaka menawarkan sembari memungut pakaian mereka yang berserakan di lantai. Mengumpulkannya menjadi satu, lalu meletakkanya di sofa.
Delilah merentangkan kedua tangannya. "Gendong aku, Kak."
Nayaka membalik dirinya, lalu Delilah naik ke atas punggung itu. "Kau bukan lagi anak kecil."
"Bukankah kita sering melakukannya dulu?"
Nayaka menjawab, "Iya ...."
"Kak, kalau kau bisa mengulang masa lalu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Delilah.
"Aku tidak ingin mengenalmu."
"Apa?"
Nayaka tertawa. "Karena kau selalu menyakitiku."
"Maafkan aku." Delilah mengecup pundak polos kekasihnya.
"Lupakan itu. Jangan bertanya hal aneh lagi. Sekarang kita sudah bersama."
"Astaga!" Delilah menepuk jidatnya. "Kita belum menelepon Kyomi. Tadi dia bilang kita harus telepon sebelum dia tidur."
"Bisa dibayangkan wajahnya akan cemberut besok pagi."
Delilah tertawa kecil. "Tapi putriku itu sangat cantik dan manis."
"Hei, dia putriku," ucap Nayaka.
"Aku yang mengandung dan melahirkannya." Delilah tidak mau kalah.
__ADS_1
"Tapi aku yang membuatnya."
Bersambung