Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Hilangnya Nayaka


__ADS_3

Delilah meraba-raba sisi lain tempat tidurnya. Ia merasakan kekosongan di sana, lalu membuka mata. Semalam ia tidak keluar kamar, juga tidak makan. Entah kapan ia tertidur sampai pada matahari telah meninggi.


Delilah tidak melihat Nayaka di sampingnya. Ia beringsut bangun, lalu turun dari atas ranjang. Delilah langsung keluar dari kamar, dan hanya keheningan ia dapat.


"Kakak, Kyomi!" serunya. "Apa Nayaka mengantar Kyomi sekolah?"


Delilah melihat plastik sampah di atas sofa, lalu ia berjalan ke kamar Kyomi. Semua masih seperti semula. Tidak ada yang berubah. Delilah kembali lagi ke kamarnya. Mengambil telepon kemudian menghubungi kekasihnya.


Sangat disayangkan, nomor telepon itu tidak aktif. Delilah meletakkan ponsel itu begitu saja di atas nakas. Kekasihnya sudah pasti mengantar Kyomi sekolah, dan sebentar lagi akan pulang.


Delilah memandang rupanya di cermin. Rupanya tidaklah cantik. Ada lebam di pipi serta bekas cekikan Nayaka di leher. Punggung dan kepalanya juga sakit akibat tendangan, juga jambakan dari pria itu.


"Hari ini terpaksa tidak masuk kantor. Aku hubungi Nela saja," gumam Delilah.


Setelah menghubungi asistennya, Delilah pergi membersihkan apartemen, membuat makan siang agar Kyomi pulang bisa langsung makan. Namun, ia heran karena Nayaka masih belum juga kembali. Saat ia menelepon Nela, Delilah sempat menanyakan Nayaka, tetapi kekasihnya itu memang tidak berada di kantor.


Delilah kembali menghubungi kekasihnya. Tapi telepon itu tidak aktif. "Ke mana, sih?" kesal sudah pasti. "Seharusnya aku yang marah karena dia memukuliku. Apa kembali ke rumah sewa? Aku susul, deh."


Dengan memakai baju berkerah tinggi, kacamata hitam, Delilah cukup percaya diri untuk keluar. Hari sudah siang yang berarti Kyomi sebentar lagi pulang dari sekolah, dan gedung itu akan menjadi tujuan pertamanya.


Sampai di sana, Delilah tidak menemukan Nayaka. Hanya beberapa orang tua yang sibuk menjemput anaknya. Kyomi pun tidak tampak dari rombongan siswa yang keluar.


"Apa aku telat datang?" rasanya hari ini Delilah selalu mengucapkan kalimat pertanyaan. Ini karena Nayaka yang tidak bisa dihubungi, juga Kyomi yang tidak muncul di hadapannya.


Rasa khawatir, takut muncul dalam benaknya. Delilah melangkah masuk ke gedung sekolah, dan mempertanyakan keberadaan Kyomi kepada wali kelasnya.


"Anak saya tidak masuk sekolah?" Delilah sekali lagi bertanya.


"Iya, Bu. Hari ini Kyomi tidak masuk sekolah tanpa keterangan," jawab wanita berkerudung yang menjabat sebagai wali kelas Kyomi.


"Apa ibu guru yang bernama Angel ada di sini?"


"Oh, Bu Angel juga tidak masuk hari ini. Katanya lagi sakit."


Delilah memaksakan senyum. "Terima kasih atas perhatiannya. Saya pamit pulang."


Langkah Delilah cepat menuju mobil. Kekhawatiran semakin membuncah dalam benaknya. Delilah segera menjalankan kendaraan roda empatnya menuju rumah sewa Nayaka.


Di rumah sewa pun, Nayaka dan Kyomi tidak ditemukan, bahkan menurut penjaga komplek perumahan, Nayaka sudah lama tidak pulang. Memang benar karena Nayaka tinggal di apartemen bersamanya.

__ADS_1


Delilah menggeleng. "Dia enggak mungkin pergi meninggalkanku, kan?"


Sembari mengendarai mobil, Delilah terus saja bergumam sampai ia menghentikan kendaraannya itu di bahu jalan, dan teringat pelukan terakhir kekasihnya.


"Iya, aku melepasmu." Kalimat terakhir yang Nayaka ucapkan. "Enggak mungkin!" teriaknya. Delilah menarik napas panjang, lalu mengembuskannya. "Tenang, Delilah. Kau bisa membuat Nayaka kembali."


Memangnya Nayaka ingin ke mana tanpa uang. Delilah akan meminta bantuan Reyhan untuk mencari kekasih dan putrinya. Dalam sekejap saja pasti Nayaka bisa ditemukan. Saat bertemu nanti, Delilah akan membuat perhitungan pada kekasihnya itu.


"Kak Reyhan!" teriak Delilah, ketika sampai di kediaman mewah itu. "Kak!"


"Delilah, ada apa?" Anna bergegas keluar kamar ketika mendengar suara adik iparnya itu. "Astaga! Ada apa dengan wajahmu?"


"Kak, mana Kak Reyhan."


"Ada apa?" Rey muncul dari balik pintu kamar. Wajahnya sedikit kesal. "Apa kau kurang pendidikan? Teriak-teriak, Kakakmu ini belum tuli."


Delilah melangkah meraih tangan kakaknya itu. "Kak, Nayaka pergi bersama Kyomi. Dia meninggalkan aku. Dia enggak mau nikah sama aku."


"Wajahmu ini kenapa?" Rey memeriksa keadaan adiknya. "Nayaka memukulmu?"


"Kami bertengkar semalam. Nayaka emosi, dan dia memukulku."


"Delilah mau bersama Nayaka. Pokoknya Kakak harus bawa dia dan Kyomi kemari."


"Tenang dulu, coba kau jelaskan dulu perkaranya, Del. Kenapa Nayaka sampai memukulimu?" Anna menyela.


"Jelas pria itu kasar, Anna! Aku akan buat perhitungan dengannya."


"Tapi, Sayang. Kita juga harus dengar apa permasalah mereka, kan?"


"Masalah apalagi, adikku dipukuli. Aku tidak akan membiarkan Delilah menjadi Nilam yang kedua."


Reyhan melangkah pergi menuju ruang kerjanya. Tentu saja ia akan menelepon Diki yang akan memberitahu para bawahan untuk mencari Nayaka.


"Sayang, kalian bertengkar kenapa?" tanya Anna.


"Nayaka tidak terima dengan keadaanku, Kak. Aku menyuruhnya bekerja di perusahaan, tetapi dia menolak. Aku hanya berniat baik."


"Sayang, Kak Anna lihat Nayaka pria yang lembut, kenapa dia memukulimu?"

__ADS_1


"Kakak ini kenapa, sih?" Delilah jadi kesal karena Anna, seperti mendesaknya untuk menjelaskan secara detil. "Kami hanya bertengkar, dan tadi pagi Nayaka sama Kyomi enggak ada di rumah. Aku sudah mencari di sekolah dan rumah sewa. Mereka tidak ada di sana."


"Sayang, kau mungkin punya niat baik. Mungkin Nayaka tersinggung atas ucapanmu, makanya dia pergi. Ingat lagi, apa yang kau ucapkan padanya sampai dia pergi." Anna berlalu setelah mengatakan hal itu.


"Diki, kau perintahkan semua koneksi jaringan kita. Cari Nayaka dan Kyomi. Berani sekali pria itu memukul Delilah. Aku tidak akan memaafkannya."


Reyhan berada dalam keadaan emosi. Anna yang mendengar omongan suaminya hanya bisa diam. Tidak ada yang bisa dilakukan sebelum semua ini menjadi jelas.


Sementara di rumah besar lainnya, Kyomi berlari ke sana kemari dengan Omar yang mengejarnya. Sang kakek yang tidak menyangka kalau cucunya akan datang tadi malam, begitu merasa bahagia.


"Dapat." Omar meraih cucunya itu dalam gendongan.


"Kakek curang. Kyomi sudah cepat larinya."


"Kyomi lebih keras lagi berlarinya," ucap Omar.


"Kyomi!" tegur Nayaka yang datang bersama Fahmi.


"Papa!" Kyomi turun dari gendongan Omar, menghampiri sang ayah tercinta. "Ayo, pulang, Papa. Mama pasti cariin kita."


"Kyomi tidak suka di sini?"


"Suka, tapi Mama Delilah pasti cariin."


"Kita akan tinggal di sini, Sayang."


"Tapi Kyomi lupa bawa alat make up yang dibelikan Kakek Reyhan. Kyomi lupa bawa tas sekolah. Ayo, pulang dulu."


Nayaka tersenyum. "Papa sudah belikan yang baru."


"Enggak mau. Kyomi mau yang dari Kakek Reyhan."


"Kyomi anak baik, kan?" Nayaka mengucapkannya seraya mengusap puncak kepala Kyomi.


Kyomi mengangguk. "Iya ...."


"Kyomi pergi main dulu sama bibi, ya! Papa mau bicara sama Kakek Omar."


Kyomi mengangguk, meski ia tidak puas karena Nayaka tidak mengabulkan keinginannya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2