
Sudah berpisah, tetapi Nayaka tetap pergi mencari Delilah. Pria itu kini berangkat menuju Inggris mengunakan pesawat pribadi seorang diri.
Angel sudah melarang. Ia tengah hamil saat ini dan tidak ingin Nayaka pergi jauh. Ia takut terjadi apa-apa pada suaminya. Selain itu, Angel merasa cemburu. Mengapa dicerai kalau nyatanya ingin rujuk? Seketika harapan menjadi istri seutuhnya pupus.
Salahkah Angel berharap? Wanita lain tidak mengerti posisinya. Mereka tidak paham tentang cinta. Mengapa di sini ia yang disalahkan?
Semua ini karena cinta. Ia mencintai Nayaka dari dulu. Bukan Angel tidak mencoba menjalin hubungan bersama pria lain. Ia pernah gagal menikah, dan ia bersyukur sebab kegagalan itu ia dapat bertemu sang pujaan hati. Hingga Nayaka datang dengan sendirinya untuk meminang.
Ia ingin bersama lelaki pujaannya. Berkorban perasaan. Berbagi kepemilikkan, dan siap dijadikan apa pun walau hanya sebagai alat balas dendam.
Nayaka menceritakan permasalahannya bersama Delilah. Dari situ Angel tahu, bahwa kedatangan Nayaka memang ingin ia menjadi pengisi di ruang yang kosong itu.
Beberapa bulan menjalani pernikahan, Angel diperlakukan seperti istri pertama. Ia tidak pernah mencari masalah pada Delilah. Ia tidak pernah mengusir wanita itu. Namun, Delilah sendiri yang angkat kaki dari rumah.
Bukannya Delilah sendiri yang memberi peluang agar ia bisa terus bersama Nayaka? Ditambah kehamilannya. Angel bersyukur atas anugerah ini. Satu berita perpisahan dari bibir Nayaka, semakin membuatnya bahagia.
Inilah akhirnya, Tuhan mengabulkan doanya. Ia yakin setelah ini Nayaka akan mencintainya. Rumah tangga yang bahagia pun muncul dalam khayalannya. Ia, Nayaka, Kyomi, dan si kecil yang akan lahir. Angel berharap bayinya seorang anak laki-laki. Dengan begitu, lengkaplah keluarga mereka.
Namun, buktinya apa? Nayaka belum mengurus surat perpisahannya secara resmi. Pernikahannya juga belum didaftarkan dalam pengadilan agama. Angel maklum, mungkin baru beberapa saat. Tapi, melihat kepergian Nayaka ke Inggris, rasanya itu tidak akan terjadi. Mungkin selamanya ia akan menjadi istri di bawah tangan.
Sampai di Inggris, Nayaka tidak ingin lagi menunda mencari keberadaan Delilah. Tentu saja ia pergi ke tempat-tempat yang sering mereka kunjungi.
Negara ini menjadi saksi kisah cinta mereka. Nayaka ingat saat ia menyambut kekasih hatinya tiba dari Indonesia. Delilah yang baru menginjak kedewasaan. Begitu cantik, indah dan harum. Bunga yang Nayaka petik sarinya untuk pertama kali.
"Dia tidak datang ke apartemen ini?" Nayaka bertanya pada penghuni sebelah.
__ADS_1
"Tidak ada yang datang, kecuali seorang pria ketika pemilik gedung merenovasi apartemen ini."
"Kapan?"
"Sudah sangat lama. Beberapa tahun yang lalu."
Nayaka mengangguk. "Terima kasih."
Ke mana lagi Nayaka harus mencari Delilah. Di apartemen Mama Dila saja tidak ada. Nayaka juga mencari keberadaan teman-teman Delilah semasa kuliah. Ya, sedikit susah karena mereka memang sudah ke mana-mana.
"Rumah sewa!" Nayaka ingat itu. Mungkin juga di rumah yang mereka tempati saat itu. Meski ia tidak yakin, tetapi apa salahnya mencoba.
Tiba di sana, Delilah juga tidak ada. Untuk mengenang kebersamaan mereka, Nayaka menyewa tempat itu untuk satu malam. Untungnya kamar itu tidak ada penyewanya.
Nayaka usap kasur yang ia duduki sekarang. Kamar ini menjadi saksi saat dirinya menyentuh Delilah pertama kali.
Nayaka terperangah. "Sayang!"
Delilah tertawa. Wanita itu masih mengenakan handuk, dan Nayaka baru saja pulang dari kerja paruh waktunya.
"Ayo, kita lakukan hal seperti tadi malam."
"Aku baru pulang, Del. Aku mandi dulu."
"Tidak perlu, aku suka bau keringatmu."
__ADS_1
Kenangan itu berputar, seperti Nayaka menyaksikan dirinya sendiri. Semua perlakuan Delilah padanya terlintas begitu saja.
Nayaka yang selalu menerima penghinaan. Ia yang terus mengalah, ia yang takut akan kehilangan. Semua itu terlintas. Memori itu berputar hingga pada di satu titik. Seorang Nayaka yang terlanjur kecewa.
"Di mana dirimu? Apa kali ini, kita akan berpisah selama-lamanya?" Nayaka memejamkan mata. Dari ujung kelopaknya, menetes buliran bening.
Kartu kredit dan debit saja tidak menunjukkan keberadaan Delilah. Tidak ada transaksi yang menunjukkan wanita itu berbelanja atau membeli tiket ke luar negeri. Ke mana Delilah sebenarnya. Nayaka sempat berpikir jika Reyhan mungkin menyembunyikan istrinya. Namun, Nayaka telah menyuruh orang untuk mengintai dan mencari keberadaan Delilah di Indonesia. Hasilnya tetap sama. Istrinya tidak ditemukan di mana pun.
"Kau tahu, Sayang. Kau beruntung bisa hidup di rumah yang hangat ini. Ya, bangunan ini terbuat dari kayu. Cat-nya warna cokelat tua. Saat kita membuka jendela, kau akan melihat hamparan padang dan pegunungan hijau yang indah. Kita akan tinggal di sini. Kita akan memulai hidup baru di Swiss." Delilah mengatakan itu seraya mengusap perutnya. "Oh, kita harus menghitung pengeluaran selama di sini."
Sengaja Delilah tidak kembali ke Inggris karena pasti ada seseorang yang akan menemukannya di sana. Mungkin Reyhan yang akan berceramah tentang dirinya yang tidak becus menjadi istri. Delilah tidak ingin bertengkar dengan kakaknya itu.
Lagi pula, Inggris adalah negara yang memang harus dihindari. Ada banyak kenangan bersama Nayaka di sana, dan Delilah tidak ingin mengenangnya.
Semua kartu dari Nayaka telah ia rusak dan buang di tempat sampah. Ponsel mahal ia jual, dan menggantinya dengan telepon genggam biasa. Lalu, dua tas mahal yang sempat ia bawa serta semua perhiasan terbaru juga di jual.
"Sialan!" Delilah mengumpat. "Harusnya aku mengambil perhiasanku di rumah Nayaka. Di sana banyak barang berhargaku. Pasti wanita sok baik itu mengambilnya. Aku tidak rela!"
Delilah menghitung uang yang tersisa. Ia harus siapkan untuk biaya persalinan, biaya makan, lalu mengurus adminitrasi izin tinggal. Untuk saat ini, ia hanya bisa tinggal satu tahun di Swiss.
"Apa aku harus telepon Kak Reyhan?" Delilah menggeleng. "Tidak! Dia tidak menemuiku, bahkan hanya menyuruh Kiano mencariku. Lihat saja nanti, aku juga bisa hidup tanpa kalian semua."
Jika ingin memulai hidup baru, ia harus bekerja. Semua dari nol, karena memang saat ini, Delilah tidak punya apa pun lagi.
"Tenang saja, Sayang. Mamamu ini tidak akan membuatmu kelaparan. Tetaplah sehat di dalam sana, kau ingin melihat dunia, kan? Mama akan tunjukkan indahnya dunia padamu."
__ADS_1
Dalam keadaan begitu, Delilah menitikkan air mata. Teringat pada Nayaka dan Kyomi. Ia sudah merelakan anak dan suaminya bersama wanita lain. Mungkin jodohnya dengan Nayaka hanya sampai sebatas ini. Menyesal sudah pasti. Bukan karena ia meninggalkan Nayaka, tetapi lebih pada perilakunya selama ini.
Bersambung