
Nayaka melampiaskan segala ketegangan yang membelenggunya beberapa hari ini pada kamar apartemen yang saat ini ia tempati. Pada kasur beralaskan seprai putih. Kepada tubuh indah Delilah yang mengelindan dalam selimut tebal.
"Aku kangen kamu," ucap Delilah sambil membenamkan wajah berpeluhnya di lekuk pundak Nayaka.
Ucapan itu disahuti gumaman dan belaian di rambut. Delilah mendongak, ia mengerutkan kening tatkala melihat warna muka sang kekasih. Tubuh pria itu berada dekat dengannya, tetapi pikiran Nayaka entah ke mana.
"Lagi mikirin apa?" tanya Delilah.
Nayaka beradu pandang padanya. "Hanya masalah pernikahan."
Detik itu juga, Nayaka bangkit duduk dan Delilah beringsut menarik selimut menutupi tubuh polosnya. Nayaka tampak serius, dan mungkin juga karena ucapan keluarganya tadi.
"Kita menikah saja dan untuk resepsinya bisa ditunda dulu," ucap Delilah.
"Aku baru tersadar bahwa wanita yang kucintai memang anak dari keluarga terpandang. Kau benar, mungkin ini alasannya dulu kau menyembunyikan hubungan kita. Aku merasa tidak mampu menjadikanmu istriku," ungkap Nayaka.
"Sekarang tidak akan lagi. Aku enggak mau peduli atas omongan orang lain. Sebaiknya kita memang menikah secepatnya. Enggak perlu mahar mahal. Cincin saja sudah cukup, asal hubungan kita sah."
Nayaka menoleh pada kekasihnya. "Kau yakin?"
"Menikah, kan, juga urusanku. Aku akan ambil bagian juga dalam pernikahanku. Kita hanya akan mengundang kerabat dan kolega penting saja. Kita adakan pernikahan sakral dan lebih intim bersama keluarga."
"Makasih," ucap Nayaka.
"Buat apa?"
Nayaka merangkul pundak Delilah, mendaratkan kecupan hangat di pipi wanita itu. "Kau memberi solusi dari kekhawatiranku malam ini."
"Saat kita begini, kau malah mengkhawatirkan pernikahan. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu."
"Kau sudah bersamaku." Nayaka mendaratkan satu kecupan di bibir.
"Tetap saja ini akan merusak moment kita berdua."
Nayaka menjatuhkan Delilah, menindih wanita itu sekali lagi. Menurunkan selimut yang melindungi tubuh indah, lalu mencicipinya untuk kedua kali pada malam ini.
"Kakak," ucap Delilah lirih ketika Nayaka berhasil menghunjam tubuhnya.
__ADS_1
Desakan keras dan cepat, membuat tubuh berkulit putih itu bergetar hebat. Gumaman tidak jelas dari kedua bibir saling beradu, bersamaan terbenturnya dua tubuh yang berlainan jenis.
Delilah tidak sanggup menahan rasa kantuknya dari aktivitas yang begitu menguras tenaga. Sementara Nayaka masih belum dapat memejamkan mata. Ia teringat dengan obrolan saat di kediaman Reyhan.
"Kyomi!" seru Nayaka, yang baru saja tiba di rumah Reyhan.
Anak itu langsung berlari memeluk Nayaka. "Papa di bawa ke mana?"
"Tidak, Sayang. Papa ada di sini. Maaf, ya, Papa tidak pulang tepat waktu," ucap Nayaka. "Kyomi baik-baik saja di sini, kan?"
"Kyomi sedih," ucapnya.
"Kan, ada Mama," sahut Nayaka.
Kyomi beralih memandang Delilah yang berada di samping Nayaka. "Iya, ada dia, nenek dan kakek."
Suara deheman membuyarkan keintiman Nayaka bersama putrinya. Ketegangan itu tiba-tiba hadir di saat melihat sosok tegap yang berdiri bersama wanita cantik di sampingnya.
Meski sudah berumur, sisa-sisa dari ketampanan muda itu masih ada. Karisma dari seorang Reyhan terpancar dan kecantikan Anna seolah tidak luntur di makan waktu.
Reyhan menaikan sebelah alisnya. Nayaka tegang karena seharusnya ia menyebut kakak Delilah itu dengan sebutan yang formal. Kalau Anna, ia terbiasa memanggil "tante". Namun, ini Reyhan.
"Maaf, Tuan Reyhan," ucap Nayaka.
"Panggil Om saja." Reyhan langsung duduk di sofa single.
"Duduklah," kata Anna seraya tersenyum manis.
Delilah mengiringi Nayaka, dan kekasihnya itu mengiringi Kyomi. Muncul Ayyena, Anthea serta Kiano. Lalu, pelayan rumah ingin membawa Kyomi, tetapi anak itu tidak mau.
"Biar dulu dia bersama kami," ucap Delilah.
"Baik, Nona."
Anggota keluarga yang bermunculan, langsung duduk ketika Nayaka serta Delilah telah mendaratkan tubuh mereka di atas sofa empuk.
"Kau yang namanya Nayaka?" tanya Reyhan memastikan.
__ADS_1
"Iya, Om," sahut Nayaka.
Baru ini Reyhan bertatapan langsung dengan ayah kandung Kyomi. Dulu ia belum jelas melihat anak remaja yang Dion tampung. Untuk Nilam saja, Reyhan tidak begitu ingat punya kenangan manis apa, dan entah mengapa ia bisa menjadi mantan kekasih dari ibu Nayaka itu.
Reyhan menggeleng. "Kau tidak bertanggung jawab pada adikku. Kau tidak menikahinya, meski kalian telah memiliki anak."
"Aku ingin menikahinya saat Delilah ternyata hamil. Tapi ...."
"Apa mulutmu tidak bisa bicara? Kau bisa mengatakannya padaku. Kau ingin terus mengalah pada anak manja ini?" Reyhan menggeleng.
"Aku tidak ingin membuatnya marah saja waktu itu. Aku sudah mencarinya untuk membahas hubungan kami," ucap Nayaka membela diri.
"Apa kau benar-benar ingin menikahi adikku?" tanya Reyhan. "Jika kau seorang pria yang sudah lama menginginkannya, tentu kau tahu siapa Delilah sebenarnya."
Setiap orang tua tentulah menginginkan agar anak perempuannya berada di tangan pria yang tepat. Bukan soal cinta saja jika sudah membangun rumah tangga, tetapi materi. Apakah nantinya Nayaka bisa menghidupi Delilah?
"Sebagai seorang pria, tentulah ingin membahagiakan istri serta anak. Sebisa mungkin mencukupi kebutuhan mereka." Nayaka menunduk. "Kalian tahu diriku, ini tergantung Delilah saja."
"Aku terima kamu, Sayang," sahut Delilah.
Kiano mendengkus mendengarnya. Begitu cepat sang bibi berubah. Mungkin Delilah sudah sadar, bahwa harta memang bukan satu-satunya jaminan dalam hidup berumah tangga, meski harta itu nantinya memang menunjang kehidupan untuk kedepannya.
"Aku hanya ingin kau bertanggung jawab pada Delilah, dan anakmu. Bekerja keraslah jika ingin setara dengan adikku," ucap Reyhan.
Nayaka terdiam, mungkin ia kurang bekerja keras selama ini. Rumah saja tidak punya. Delilah anak yang terlahir hidup enak, dan Nayaka merasa bersalah karena harus meminta kekasihnya untuk berjuang bersama dalam kesederhanaaan.
"Pasti, aku akan kerja keras," ucap Nayaka.
"Lebih baik kalian menikah dulu saja. Hubungan ini harus segera diresmikan," kata Anna.
Reyhan menimpali. "Ya, menikah saja dulu. Terserah kalian mau bagaimana acaranya. Semuanya lebih baik kalian putuskan."
Keluarga sepakat untuk tidak membebankan Nayaka. Menikahi Delilah dan memberi status kepada Kyomi sudah cukup. Untuk kehidupan selanjutnya biarlah menjadi urusan Nayaka serta Delilah saja.
Nayaka mengembuskan napas panjang ketika mengingat hal itu. Uang tabungannya tidak cukup untuk membeli rumah. Sebagai pria, ia juga tidak ingin terus menumpang bersama Delilah.
Bersambung
__ADS_1