Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Tidak Bisa Bayar


__ADS_3

"Kalian pesan saja, biar aku yang bayar," ucap Delilah.


"Kau selalu seperti biasa, Del." Chika menyahut.


"Kau tahu sendiri siapa Delilah. Restoran ini bisa saja ia beli."


Chika tertawa. "Kau benar, Wildan."


"Kau jangan khawatir, Del. Masih banyak pria lain yang akan menantimu," kata Wildan.


"Kenapa kau tidak kembali pada Juno saja?" Chika memberi saran.


"Aku tidak ingin menjalin hubungan dengan pria mana pun. Aku ingin sendiri."


"Kau masih saja mengharapkan Nayaka. Sekarang dia sangat kaya. Kau telah dicampakkan, Del."


Delilah sedikit tersinggung dengan ucapan Chika. "Eh, aku sendiri yang membuang Nayaka."


"Iya, iya, kau yang membuangnya." Chika manut saja daripada ia harus membuat Delilah marah.


Tidak lama beberapa teman Delilah yang lain juga datang. Delilah sengaja mengundang mereka untuk jamuan makan malam bersama. Tanpa mereka ketahui jika Delilah telah terusir dari keluarganya.


Semua temannya masih menganggap Delilah sama seperti dulu. Kaya, baik hati, dan suka menyenangkan sahabat. Uang bukan masalah bagi wanita satu ini. Berteman dengan Delilah merupakan suatu keberuntungan.


"Kalian pesan saja makanannya," kata Delilah. Ya, setidaknya berkumpul bersama teman-teman, tidak membuatnya merasa kesepian.


"Ayo, kita pesan. Aku mau menu lobster, deh. Ini makanan kesukaanku." Chika memilih menu mahal.


Beberapa teman Delilah juga ikut memesan. Restoran bintang lima ini menyediakan menu yang bisa membuat kantong pelanggannya jebol. Untuk steak daging saja bisa mencapai harga 1 juta rupiah.


"Kalian sudah selesai makannya?" tanya Delilah.


"Kita mau ke mana lagi?" Chika menyahut.


"Kelab malam, yuk! Sudah lama enggak minum bareng," ajak Wildan.


"Boleh, deh. Kayaknya aku juga perlu sedikit ketenangan." Delilah mengiakan karena ide Wildan, tidak buruk. Minum dan mendengar musik mungkin bisa membuat pikiran tenang.


"Kamu bayar dulu makanannya," kata Chika.


Delilah memanggil pelayan, ia mengeluarkan kartu kredit untuk membayar semua makanan yang telah dipesan olehnya, juga temannya.


Pelayan datang dengan membawa bill tagihan serta mesin gesek kartu. Lalu, mulai menjalankan tugasnya.


"Kartu ini ditolak, Nona."

__ADS_1


Kening Delilah berkerut. "Ditolak? Kau yakin, coba sekali lagi."


Wanita berseragam hitam itu mulai mengubah raut wajahnya. Delilah terlihat kesal karena tidak mungkin uangnya habis.


"Kartunya memang ditolak."


Delilah berdecak, lalu menyerahkan kartu yang lain. "Coba kartu Master ini."


Wildan, Chika serta keempat teman Delilah yang lain, mulai memandangnya. Tidak mungkin, kan, kartu-kartu itu ditolak begitu saja.


"Tetap tidak bisa. Anda bisa membayar dengan tunai, Nona."


"Jangan bilang kartumu melewati batas limit, Del."


"Aku bayar pakai debit saja." Delilah mengacak-acak tas guna mencari kartu debit. "Gesek kartu ini."


Pelayan itu kembali menggesek kartu. "Masih kurang tiga juta rupiah. Tagihannya senilai tujuh juta rupiah."


Delilah membuka dompetnya. Uang yang tersisa tinggal 500 ribu rupiah, dan masih kurang dari jumlah yang ditagihkan.


"Sepertinya aku harus pulang. Lebih baik tunda saja kunjungan kita ke kelab malam." Chika bangun dari duduknya.


"Ya, aku juga punya urusan." Wildan ikut menyusul.


Lalu, disertai teman Delilah yang lain. Semua meninggalkannya. Pelayan restoran itu memandang tajam Delilah yang tidak bisa membayar.


"Kau kira aku tidak bisa membayar? Aku akan panggil Kakakku kemari."


Kepanikan mulai melanda. Seumur hidup, ini baru terjadi. Seorang Delilah, tidak bisa membayar tagihan makanan di restoran. Sungguh sangat memalukan.


Satu per satu kenalan di telepon. Dari Reyhan, Anna, Kiano, si kembar, bahkan Andy, Delilah mintai pertolongan. Jangankan menolong, bahkan nomor itu tidak bisa dihubungi.


"Sial!" Delilah mendecakkan lidahnya. "Pasti kerjaan Kak Reyhan yang menyuruh untuk mereka memblokir nomorku."


Dalam keadaan genting seperti ini, Delilah cuma bisa memikirkan satu orang, dan ia segera menelepon.


"Aku terjebak di restoran Akina. Kau cepatlah datang kemari."


Sedikit lega karena sosok yang ditelepon menyanggupi panggilannya. Delilah tinggal menunggu orang itu datang, lalu ia bisa keluar dari restoran ini. Benar-benar hari yang sial.


Tiga puluh menit berlalu, orang ditunggu datang juga. Delilah tidak berani mengucapkan sepatah kata pun ketika Nayaka menatapnya.


"Apa yang terjadi padanya?" Nayaka bertanya pada manager restoran.


"Nona ini tidak bisa membayar makanan yang dipesan, Tuan."

__ADS_1


Nayaka melirik mantan kekasihnya itu seraya menyerahkan kartu debitnya. "Maaf atas ketidaknyamanannya."


"Tidak apa-apa, Tuan." Pria yang bertanggung jawab itu terkesan ramah, padahal tadi, ketika melihat Delilah, pria itu seakan ingin memakinya.


Nayaka mengambil kartunya kembali, lalu berjalan keluar dengan diikuti Delilah. Tidak ada yang ada bicara sampai pada akhirnya, Nayaka tidak tahan lagi.


"Aku semakin tidak mengenalmu."


"Hitung-hitung kau membalasku. Dari dulu selalu aku yang membayar biaya makananmu. Sekarang giliranmu," ucap Delilah.


"Aku menyuruhmu datang ke rumah untuk membujuk Kyomi, kan?"


"Kyomi sendiri tidak menginginkanku."


"Setidaknya kau bujuk dia."


"Hentikan, Kak!" bentak Delilah. "Aku bosan kau membahas Kyomi terus. Kau tidak tahu kesusahanku sekarang. Karena kau membatalkan pernikahan, aku diusir oleh Kak Reyhan. Sekarang aku tidak punya uang. Semuanya telah habis."


"Jadi, kau kesulitan keuangan sekarang?" Nayaka terkekeh. "Di mana Delilah yang sok hebat dan kaya itu? Kau bahkan tidak sanggup membayar tagihan makan di restoran."


"Kau berlagak sombong setelah kaya."


"Kau salah pengertian. Aku hanya kaget saja kalau wanita yang selalu membanggakan dirinya ini, sekarang tidak ada artinya di mataku."


"Kau pikir, aku akan mati tanpa uang sekalipun?" Delilah mulai marah.


Nayaka menggeleng. "Tadinya kupikir, aku bisa memperbaiki hubungan kita. Rupanya kau masih saja seperti ini."


Delilah melipat tangan di perut. "Kembali padaku?" Delilah tertawa. "Berlututlah jika kau menginginkannya."


"Tidak, Del. Itu tidak akan pernah terjadi lagi. Aku tidak akan pernah berlutut di hadapanmu." Nayaka memandangnya lekat. "Aku akan menikah dengan wanita yang bisa merawat Kyomi dan bersikap dewasa."


"Nikahi saja babysister." Dengan gampangnya Delilah mengucapkan hal itu.


Nayaka mengangguk. "Seminggu lagi kami akan pindah ke Dubai. Sebelum itu, kau akan lihat aku menikah."


Delilah menyunggingkan senyum. "Aku akan datang jika kau mengundangku."


"Sebagai teman masa kecilku, cinta pertamaku, kau akan mendapat undangan istimewa."


"Kita akan lihat, apa kau bisa mencintai wanita itu selain diriku." Delilah seolah memberi tantangan. Nayaka tidak akan mungkin melupakan dirinya begitu saja. Pasti ucapan pria itu hanya bualan semata untuk menyakitinya.


"Cinta hanya membuatku merasa sakit. Aku tidak perlu itu. Aku hanya perlu pendamping yang memahamiku dan merawat Kyomi."


Setelah mengatakan itu, Nayaka masuk ke mobil. Sementara Delilah hanya melihat kepergian mantan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Dia tidak mungkin menikah dengan wanita lain, kan?" tiba-tiba Delilah merujuk pada satu nama. "Nayaka tidak mungkin menikahi perempuan bunglon itu."


Bersambung


__ADS_2