Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Puncak


__ADS_3

Nayaka dan Delilah segera keluar. Kyomi berlari tanpa memandang ke arah belakang, sisi kiri dan kanan. Tidak tentu arah yang membuat pengendara sepeda motor dan mobil membunyikan klakson.


"Berhenti, Kyomi!" teriak Nayaka.


Rasanya Nayaka sudah cepat berlari, tetapi mengapa putriya itu terlalu susah untuk dijangkau. Sementara Delilah terlalu sulit menyusul lantaran gaun dan sepatu bertumit tinggi yang ia kenakan.


Kyomi berteriak ketika ia berhasil diraih. Anak itu menangis sembari memukul pria yang menggendongnya karena lelaki yang memakai kaus hitam itu bukanlah sang ayah.


"Kemarikan anakku!" Nayaka mengambil alih Kyomi. "Sudah, Sayang. Tenanglah, ini Papa."


"Tuan Muda."


Sekarang Nayaka tahu siapa pria kekar ini. Rupanya Omar sudah mengirim orang untuk memata-matainya. "Terima kasih atas bantuanmu. Kau pergi saja. Jangan mengikuti terus."


"Ini perintah sebelum Anda pulang."


Nayaka diam saja, ia tidak peduli atas perkataan pria itu. Nayaka sudah mengatakan akan pulang, tetapi tetap saja Omar menyuruh orang untuk mengikutinya. Lagian ia bisa kabur ke mana lagi selain Indonesia?


"Kyomi enggak mau!" teriaknya.


"Kita pulang sebentar lagi." Nayaka mencoba menenangkan anaknya.


"Kyomi!" akhirnya, Delilah dapat menyusul putrinya itu. "Sini, Sayang."


"Enggak mau!"


Nayaka tetap memberikan Kyomi pada Delilah, meski anaknya itu tetap meronta ingin lepas. Nayaka lekas mengiringi keduanya masuk mobil lantaran orang-orang sangat menikmati memandang mereka.


"Diam, Kyomi." Delilah mencoba meredam tangis putrinya.


Nayaka diam saja sebab ingin marah rasanya sudah tidak bisa. Terlalu dongkol pada Delilah, dan lagi ini di depan Kyomi.


"Kita beli es krim, yuk!" Delilah membujuk. "Mama beliin es krim, ya."


Mendengar itu Kyomi diam, tetapi masih tersisa air mata dari anak kecil itu. Delilah mengusap lengan Nayaka, kode kalau sang ayah harus pergi membeli es krim.


Mobil kembali dikendarai. Sebelum ke apartemen, demi menunaikan janji sang ibu pada putrinya, mereka singgah dulu ke mini market.


Kyomi begitu senang mendapat apa yang ia inginkan. Es krim, cokelat, roti serta cemilan lainnya. Tangisnya mereda setelah menikmati makanan manis yang menggugah selera.


"Makan roti dulu, Kyomi, baru es krim," tegur Nayaka.


"Ini Kyomi campur es krim sama rotinya." Pertama Kyomi menggigit roti, lalu es krim cokelatnya.

__ADS_1


Nayaka memandang Delilah dengan tatapan yang tidak bersahabat. Sungguh kemarahan yang dipendam itu begitu menyakitkan hati.


"Makannya jangan belepotan begitu." Delilah mengambil tisu, lalu menyeka bibir putrinya. "Makan es krimnya cukup satu saja."


"Kok, satu? Kyomi beli banyak tadi," protesnya.


"Kyomi belum makan nasi. Boleh makan banyak, tapi nanti pas jalan ke taman enggak boleh makan rambut nyonya." Delilah mencoba memberi pilihan.


"Papa ...."


"Patuh apa yang Mama katakan. Hari ini tidak ada jalan ke taman. Kau sudah membuat onar hari ini, dan kau harus tahu hukumannya."


"Kalian ribut terus." Kyomi memprotes.


"Sejak kapan, kau pandai menjawab Papa?" Nayaka kembali emosi.


"Kak! Kau kenapa marah-marah?" giliran Delilah yang protes.


"Diam kau!" Nayaka membentak. "Kau mengajari Kyomi untuk pandai memprotes diriku. Bibirmu itu, Delilah. Terlalu beracun untuk anakku."


"Apa?" Delilah tentu tidak terima begitu saja. "Memangnya aku mengajari dia apa? Kau jangan sembarangan bicara."


Nayaka tidak lagi menanggapi, ia langsung mengendarai mobil keluar dari area mini market.


"Setiap yang kulakukan selalu saja salah di matamu. Aku sudah berusaha, Kak. Aku ingin menjadi ibu yang baik untuk Kyomi."


"Ya, ibu yang baik. Kau bahkan hampir membuatnya celaka di jalan tadi."


Delilah tertawa sumbang. "Aku tahu, kau masih tidak terima atas perkataanku di mobil tadi, kan? Itu memang benar, kan, Kak. Sekarang kau lihat dirimu. Apa yang kau hasilkan selama hidupmu? Tidak ada. Kosong! Kenapa kau ini masih tidak terima nasibmu ini?"


"Kau!" Nayaka mengepal geram.


"Apa?" tantang Delilah. "Seharusnya kau bersyukur. Kau mendapat kekasih yang sudah punya segalanya. Aku tidak menuntutmu untuk menjadi kaya, Kak. Aku hanya ingin kau memanfaatkan kesempatan di depan mata. Aku memberimu peluang bekerja di perusahaanku."


"Lalu kau akan mengatakan kepada orang-orang bahwa aku sukses karena dirimu?"


"Gengsimu terlalu tinggi. Kau tidak pernah maju dengan prinsip hidup seperti itu."


"Maksudmu apa, Del? Aku memang seorang pria tidak berguna?" Nayaka mengepalkan tangannya.


"Kau sendiri yang mengatakannya. Dari dulu kau tidak pernah berubah, Nayaka. Pecundang tetaplah pecundang."


"Kau mengataiku pencundang?" Nayaka bertanya.

__ADS_1


Dari pintu kamar, Kyomi melihat dan mendengar ayah ibunya bertengkar sembari memeluk boneka beruang. Dulu ia cuma mendengar pertengkaran orang tua sahabatnya yang bernama Sydney, dan sekarang Kyomi juga merasakan hal sama.


"Kau itu sok!" ucap Delilah. "Sebagai pria kau tidak ingin merasa kalah di depan wanita. Tapi buktinya apa? Kau tetap berada di bawah kaki seorang wanita."


Nayaka tidak dapat menahan lagi. Ia memberi tamparan di pipi Delilah. "Kau sungguh keterlaluan!"


Sungguh Delilah tidak dapat menerima pukulan Nayaka begitu saja. Ia balas memberi cap lima jari di wajah pria itu.


"Baru jadi kekasih, kau sudah berani memukulku!" Delilah memukul lagi tubuh Nayaka.


"Hentikan, Del!" Nayaka mencoba meraih tangan kekasihnya, tetapi ia mendapat cakaran dari kuku yang panjang itu.


Delilah berhenti setelah melukai tangan Nayaka. Ia terengah-engah, lalu berjalan pergi masuk kamar.


Nayaka meringis sembari mengusap noda merah akibat cakaran kekasihnya. Ia bersandar di badan kursi. Lagi-lagi ia kalah dari Delilah. Tidak! Nayaka hanya tidak ingin mengunakan kekerasan pada wanita, dan ia menyesal telah menampar Delilah lebih dulu.


Kyomi berlari naik ke atas tempat tidur setelah menyaksikan hal itu. Ia tidak ingin menghampiri sang ayah yang terlihat memang tidak ingin diganggu.


"Aku tidak begitu kalau kau tidak menamparku lebih dulu." Delilah muncul lagi dari kamar.


"Jangan mulai lagi."


"Kau yang memulainya lebih dulu."


Nayaka bangun dari duduknya. "Jangan lagi memancingku. Sudah cukup aku sakit hati atas perkataanmu itu."


"Kau yang tidak bisa menerima keadaanmu. Kau menganggap dirimu hebat karena telah membesarkan Kyomi. Tidak begitu, Nayaka. Sebagai ayahnya, kau belum bisa memberi semua yang Kyomi butuhkan. Kau terlalu sombong."


"Sialan!" Nayaka terpancing. "Aku bilang diam!" Nayaka berjalan mendekat, meraih lengan Delilah, lalu menyeretnya ke kamar.


"Kau ingin memukulku lagi?" Delilah berkata seperti itu lantaran Nayaka mendorongnya ke tempat tidur. "Kau ingin seperti ayahmu yang pemukul itu."


"Aku bilang diam!" Nayaka mencekik leher Delilah. "Jangan memancingku, Sialan!"


Kembali Delilah melayangkan tangannya. Nayaka melepas cekikikannya ketika wajahnya terkena cakaran kuku.


Nayaka mengumpat, ia naik pitam. Dua tamparan mendarat di pipi Delilah. Nayaka menarik rambut kekasihnya, membuat Delilah terjatuh dari atas tempat tidur.


"Jangan, Nay." Delilah meringkuk ketika Nayaka menendang punggungnya. "Kyomi! Tolong Mama, Nak." Delilah berteriak kencang.


"Diam kau!" Nayaka menarik tangan Delilah, membuat wanita itu berdiri, lalu kembali menghempaskannya ke tempat tidur.


"Papa!" teriak Kyomi yang menangis.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2