
Yang Delilah katakan memang benar. Baru ini Nayaka sungguh menyesal atas tindakannya. Emosi, sakit hati lah yang membuatnya tidak berpikir panjang.
Terlambat. Semua sudah terjadi, dan mengulang waktu tidaklah mungkin. Andai bisa begitu, pastilah Nayaka ingin kehidupannya diulang.
Delilah pun tidak terlalu menyalahkan Nayaka. Ia mengerti penyebab ini semua karena dirinya. Ia kecewa saja. Ia paham, tetapi haruskah menikahi wanita lain. Terlebih perlakuan Nayaka pada Angel membuatnya sakit hati.
"Jangan diingat lagi, Del. Semua itu hanya masa lalu." Delilah mengucapkan itu pada dirinya sendiri sembari menyeduh teh hijau untuk Nayaka. Bukan kopi atau cokelat yang akan ia hidangkan. Tapi, teh hijau. Semoga saja antioksidan dalam kandungan teh itu bisa menjernihkan isi kepala Nayaka.
"Teh?"
"Iya, teh hijau untukmu." Delilah mendorong cangkir panas itu ke hadapan Nayaka.
"Tanpa gula ini pahit, Sayang."
Delilah mendengkus. "Jangan memanggilku seperti itu."
"Kebiasaan." Nayaka membela diri.
"Kalau begitu, ubah kebiasaanmu itu."
"Memangnya bisa?"
"Sudahlah. Cepat kau minum. Kopi akan mengingatkanmu pada Angel dan cokelat akan mengingatkanmu padaku. Aku beri kau teh hijau supaya adil. Kau tidak perlu memilih."
"Aku lebih suka cokelat hangat, dan bisakah kau tidak menyebut nama Angel di setiap pembicaraan kita?"
"Mau aku sebut atau tidak, Angel telah masuk dalam kehidupan kita."
"Kau masih ingin membahas ini?" Nayaka memandang Delilah lekat.
"Kau menyakitiku, Kak."
"Aku tahu, Del. Aku tidak adil padamu."
"Jangan dibahas lagi. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku." Delilah menarik kotak kontainer putih berisi peralatan dalam membuat aksesoris.
"Aku bisa membantumu," ucap Nayaka menawarkan diri.
Delilah mengangguk. "Boleh, lakukan seperti apa yang kuperintahkan."
Ini yang Nayaka sukai dari Delilah. Wanita tangguh yang tidak berpangku tangan pada orang lain. Delilah kaya, tetapi ia bisa membuat usahanya sendiri.
"Kau boleh menambah karyawan lagi, Del."
"Tadinya begitu. Tapi aku akan pindah ke Inggris."
"Kau sengaja kemari karena tidak ingin aku menyusul ke sana?"
"Aku tidak memberitahu kehamilanku karena itu percuma. Kau bahagia karena Angel mengandung anak laki-laki dan kau pasti tidak akan mengakui kalau bayi yang kukandung adalah bayimu. Kau pasti mengira ini bayi Ashraf. Oh, ya ...." Delilah menjentikkan jari. "Kurasa kami bisa melanjutkan hubungan yang tertunda."
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Aku bisa menjadi kekasihnya. Mungkin istrinya. Ashraf pernah bilang kalau dia akan menjadikan diriku ratu dalam hati dan rumahnya."
"Jangan lakukan itu. Ashraf punya banyak kekasih. Waktu aku bertemu dengannya, dia punya gandengan baru."
"Ashraf jelas playboy. Tapi kau yang pendiam ini malah membuatku terkejut akan perbuatanmu."
Nayaka terdiam. Karena apa yang dikatakan oleh Delilah memang benar.
"Biar aku siapkan rumah untuk di Inggris."
"Aku bisa tinggal di apartemen ibuku."
"Rumah saja lebih nyaman. Setiap bulan aku akan datang menjenguk."
"Kenapa kau tidak pindah saja ke Inggris?" Delilah mencoba memberi pilihan. "Aku kasihan melihatmu bolak-balik."
"Kau tahu aku bekerja, Del."
"Aku hanya menawarkan saja. Terserah kau jika ingin menjenguk anakmu. Kanaka milikku, Nayaka. Kau tidak kuizinkan untuk mengambil hak asuhnya."
Diam saja lah. Nayaka tidak ingin berdebat lagi. Pukul 2 dini hari, pekerjaan itu selesai. Delilah langsung masuk kamar untuk merebahkan diri, sedangkan Nayaka terpaksa tidur di kursi sofa. Mana mungkin ia tidur di atas ranjang yang sama.
Pukul tujuh pagi, Nayaka terbangun dengan suara Kyomi yang heboh melihat adiknya mandi. Lalu, Santi yang terlihat membereskan rumah, juga telepon dari Angel.
Nayaka mengangkat panggilan itu dengan rasa malas. "Ya, Angel. Ada apa? Aku akan pulang tiga hari lagi."
"Kau bicara apa? Aku baru bangun tidur, tapi kau malah mengomeliku."
"Lihat sendiri story di ponselmu. Kau memeluk Delilah."
"Kau tahu sendiri siapa Delilah bagiku. Rasanya kau lupa akan syarat yang kuajukan. Kau harusnya sadar. Karena apa aku menikahimu."
Nayaka memutus sambungan telepon itu secara sepihak. Niatnya tidak ingin menyakiti, tetapi tidak bisa. Bagaimanapun, di antara mereka akan ada yang tersakiti. Kecuali Nayaka merelakan cintanya pada Delilah. Tapi itu tidak akan terjadi.
Seperti yang dikatakan Angel, Nayaka memeriksa ponselnya. Ia menghela, pasti ini kerjaan Kyomi. Bisa-bisanya anak itu memasang foto kebersamaannya di story wa.
"Selamat pagi, Papa!" Kyomi menyapa. Baju anak itu basah karena air.
"Ganti pakaianmu, Kyomi. Mama sudah buat sarapan?"
"Sudah, Kyomi juga sudah makan. Tinggal Papa saja yang belum."
"Papa mandi, deh." Nayaka beranjak dari duduknya, lalu melangkah ke kamar disusul oleh Kyomi. "Lucunya ...." Nayaka tidak tahan untuk mendaratkan kecupan di pipi Kanaka.
"Mandi dulu," kata Delilah.
"Nanti, deh, mau sama Kanaka dulu."
__ADS_1
"Kyomi mau buat video. Nanti kirim pada Kakek Omar."
Delilah hanya menggeleng melihat antusias itu. "Kak, kau jaga dulu Kanaka. Aku mau mandi."
"Iya ...."
Nayaka naik ke tempat tidur. Ia memeluk Kanaka yang sudah wangi. Bayi itu membuka mata, melihat sang ayah yang menimangnya. Kyomi tiba dengan ponsel di tangan. Tentu saja telepon genggam Nayaka yang menjadi korbannya.
"Papa sayang Kyomi atau Kanaka?" tanyanya.
"Sayang dua-duanya."
"Pilih salah satu," desak Kyomi.
"Kyomi adalah kakak, dan Kanaka adalah adik. Papa sayang kakak dan adik."
"Papa sayang Mama Delilah atau Mama Angel?"
"Mama Delilah, dong." Spontan saja Nayaka mengucapkan itu.
"Mama Angel?"
"Apa?" tanya Nayaka.
"Tadi Kyomi tanya. Papa, suka Mama Delilah apa Mama Angel?"
"Oh, Papa suka dua-duanya." Nayaka tersenyum saat mengatakannya.
Rekaman itu dikirim ke Omar, dan Angel tanpa sepengetahuan Nayaka. Sebab pria itu asik menimang putra kecilnya yang mulai mengantuk.
"Kakek telepon, Papa." Kyomi memberi ponsel itu pada Nayaka.
Panggilan video, dan Nayaka segera menjawabnya. "Iya, Papa."
"Dia cucuku. Bawa dia pulang, Nay."
"Delilah akan pindah ke Inggris. Aku memutuskan untuk berkunjung sebulan sekali."
"Tapi Kanaka harus ke Dubai. Aku harus mengenalkannya kepada kerabat kita."
"Papa, hubunganku bersama Delilah baru membaik. Ada saatnya nanti, Kanaka pulang ke Dubai."
Omar tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya pasrah. Merebut bayi dari ibunya juga tidak mungkin. Anak masih kecil memang harus bersama ibunya.
Jika Omar kecewa karena Nayaka tidak berkeinginan membawa Kanaka ke Dubai, lain halnya dengan Angel. Wanita itu menitikkan air mata setelah melihat video yang dikirimkan padanya. Di sana bertuliskan pesan 'Mama Angel, ini adik Kyomi'.
Tentulah Kyomi berpikir hanya ingin menunjukkan adik kecilnya saja dan memang itu tujuannya. Memperkenalkan Kanaka pada orang terdekatnya tanpa tahu jika pernyataan sederhananya tadi, membuat Angel terluka.
Nayaka menyayangi Delilah. Angel tahu itu. Rasanya Tuhan tidak adil padanya. Haruskah ia merelakan Nayaka? Di sini siapa yang sebenarnya menjadi orang ketiga?
__ADS_1
Bersambung