
"Rupanya kau benar, Fely."
Nayaka kaget ketika melihat sosok pria yang muncul dari balik tembok rumahnya. Sosok lelaki yang berstatus sebagai tunangan Delilah.
"Kalian!" ucap Nayaka.
Juno mendorong tubuh Nayaka sampai terbentur dinding dan itu membuat Delilah menjerit. Kaget karena Juno tiba-tiba saja datang bersama Fely. Artinya, pria itu sengaja mengintainya.
"Lepaskan Nayaka, Juno," ucap Delilah.
"Kau mengkhianatiku!"
Rasa kesal itu Juno lampiaskan dengan memukul Nayaka. Delilah ingin melerai, tetapi Fely menghalangi.
"Lepasin!" pinta Delilah.
"Biarkan saja Juno melampiaskan kemarahannya. Kau sudah berbohong. Kau berselingkuh bersama Nayaka," ucap Fely.
Nayaka terbatuk-batuk karena mendapat pukulan di perut dan wajah. Bibirnya sampai pecah karena mendapat hantaman dari Juno.
Delilah terdiam melihat itu. Inilah Nayaka yang sesungguhnya. Tidak pernah melawan ketika ia dipukul. Pria itu terlalu lemah untuk menghadapi sosok Juno yang kuat.
"Papa!" teriak Kyomi.
Semuanya kaget, Juno menghentikan pukulannya, tetapi tetap menahan leher Nayaka agar pria itu tidak dapat bergerak.
"Beraninya kau merebut kekasihku," ucap Juno.
"Lepaskan, aku tidak ingin membuat masalah. Jangan biarkan aku memukulmu," kata Nayaka.
"Papa!" Kyomi sudah menangis.
Delilah masih terpaku memandang Nayaka yang tidak pernah melawan. Ia mundur beberapa langkah, jatuh terduduk karena Nayaka masih sama seperti dulu.
"Kau lihat, Delilah. Aku akan menghabisi kekasih gelapmu ini!" kata Juno.
Juno melayangkan tinjunya, tetapi kepalan tangan itu ditahan. Nayaka menendang kaki Juno, mendorong pria itu menjauh darinya.
"Ayo masuk, Nak," ucap Nayaka yang menghampiri Kyomi, tetapi Juno meraih lengannya dan kembali melayangkan pukulan.
"Mati kau!" ucap Juno.
Nayaka memandang Kyomi yang menangis dan Delilah yang terduduk termangu. Nayaka menahan pukulan, tetapi pria itu terlalu kuat.
"Dasar lemah!" ucap Juno. "Kau tidak layak berebut wanita denganku."
"Aku tidak lemah!"
Nayaka meninju rahang Juno, menendang perut pria itu hingga terjatuh di atas sofa. Nayaka memukuli wajah itu dan membuat Fely lekas melerainya.
"Lepaskan aku!" ucap Nayaka yang mendorong Fely hingga terjatuh.
Nayaka memukul Juno secara brutal. "Kau bilang aku lemah. Kau lihat siapa yang akan mati saat ini."
"Papa!" teriak Kyomi.
Nayaka terdiam, ia tersadar dengan apa yang dilakukannya saat ini. Sementara Juno terbatuk-batuk dengan wajah babak belur bersamaan hidung dan bibir yang mengeluarkan cairan merah.
Sementara itu, tetangga yang mendengar keributan tentu saja segera datang. Kegaduhan mulai terjadi dan Kyomi mulai takut.
"Sadar, Delilah!" teriak Nayaka dengan mengguncang tubuh kekasihnya.
__ADS_1
"Kyomi!" ucapnya sadar, dan langsung memeluk sang anak.
"Aku tidak akan menerima ini," ucap Juno.
Fely lekas membantu pria itu, lalu membawanya pergi. Tetangga yang datang tentu saja heran, tetapi Nayaka mengatakan untuk tidak ikut campur dan menyuruh mereka kembali ke rumah masing-masing.
"Papa!" Kyomi melepas pelukannya dari Delilah, lalu segera memeluk Nayaka.
Nayaka terdiam karena sesungguhnya ia tidak ingin Kyomi melihat dirinya dipukuli atau memukuli orang. Ia kehilangan kendali karena ucapan Juno.
Nayaka tidak ingin direndahkan atau merasa lemah dihadapan anaknya. Sebagai seorang ayah, ia ingin Kyomi tahu kalau dirinya mampu diandalkan.
"Kenapa?" tanya Delilah.
"Apa?"
"Kau baru melawan setelah babak belur."
"Aku tidak ingin membuat masalah saja."
"Tapi sekarang kau terlibat masalah. Mungkin sebentar lagi polisi akan datang," ucap Delilah.
Nayaka menenangkan Kyomi dengan memeluknya. "Dia tidak melakukan itu, kan?"
"Bagaimana kalau dia melakukannya?"
"Aku ...." Nayaka tidak bisa menjawabnya.
"Jika ingin menjadi lemah, maka lemah saja," ucap Delilah.
Sekarang keadaan menjadi rumit. Nayaka telah memukuli seorang anak konglomerat dengan brutal. Tentu saja pasti orang tua pria itu atau Juno tidak akan mengampuninya. Inilah kenapa Nayaka membiarkan teman-temannya menindas karena ia tidak memiliki apa pun untuk melawan mereka yang berduit.
"Enggak mau," tolak Kyomi.
"Kak, ayo, kita pulang ke apartemen," pinta Delilah.
Nayaka menggeleng. "Kau pulanglah, biar aku bersama Kyomi di sini."
Delilah mendekat dengan menyeret kotak obat. "Untuk pertama kalinya aku sangat takut."
"Mengapa?"
"Entahlah. Tapi sungguh aku sangat takut. Sepertinya aku tidak bisa melindungimu."
"Aku tidak perlu kau lindungi," ucap Nayaka.
Delilah malah menangis. "Bagaimana ini, Kak?"
"Papa, Kyomi takut."
"Anakmu ketakutan, Delilah," ucap Nayaka.
"Maafkan aku." Delilah bangkit berdiri. Ia meraih kunci mobil yang tergeletak di atas meja. "Aku harus menemui Juno."
"Delilah!" panggil Nayaka.
Wanita itu menoleh, menatap kekasih dan anak kandungnya. "Aku akan kembali nanti."
Delilah tidak menanggapi Nayaka yang terus memanggilnya. Ia segera masuk mobil, dan berlalu dari sana.
"Papa berdarah," ucap Kyomi.
__ADS_1
"Ini tidak sakit, Sayang."
"Biar Kyomi obati," ucapnya.
Nayaka tersenyum, lalu mengangguk. Tangan kecil itu mengusap bercak merah yang berada di ujung bibir sang ayah dengan kapas. Kemudian meniupnya agar Nayaka tidak merasa sakit.
"Terima kasih, Sayang," ucap Nayaka.
Delilah sampai di apartemen Juno. Karena penjaga sudah mengenalnya, mudah saja bagi Delilah untuk naik ke atas menemui Juno.
Ia tidak lagi mengetuk pintu, tetapi langsung saja menekan sandi, lalu masuk ketika pintu itu bisa dibuka. Juno tertawa masam melihat Delilah yang masuk.
"Pulanglah, Fely," ucap Delilah.
"Aku tidak terima dia mendorongku. Kau akan lihat kekasih kecilmu itu mendekam di penjara."
"Jangan lupakan kalau aku tidak terima kau membawa Juno untuk memukuli seorang pria. Aku bisa melaporkanmu," balas Delilah.
Fely mendengkus, lalu keluar dari apartemen. Juno sama sekali tidak ingin menyuruh dokter pribadinya untuk keluar, padahal Delilah datang untuk bicara pada pria itu.
Delilah melepas cincin pertunangannya, lalu meletakkannya di meja. "Aku ingin kita putus."
"Pergilah, Dokter. Terima kasih atas perawatanmu," ucap Juno.
"Sama-sama, Tuan," sahut pria yang menjadi dokter pribadi Juno.
"Jadi kau sungguh ingin kembali pada pria itu?"
"Aku memiliki anak bersamanya."
"Apa?" Juno bangkit dari duduknya. "Kau bilang apa?"
"Aku tidak perawan lagi. Di umur dua puluh tahun, aku melahirkan Kyomi. Ya, anak Nayaka itu adalah anak kandungku. Aku ingin kembali bersama mereka. Bersama keluargaku."
"Sialan!" Juno mengangkat tangan, tetapi ia mengurungkan niatnya itu ketika melihat wajah Delilah. "Kau sudah memberitahu keluargamu?"
"Tentu saja dan pertunangan ini sudah dibatalkan."
"Kau mempermalukan keluargaku, Delilah," ucap Juno.
"Maafkan aku, Juno. Tapi ini kenyataannya. Aku memiliki seorang anak."
Juno menarik Delilah, lalu memeluk wanita itu. "Jangan tinggalkan aku, Del. Aku mencintaimu. Jika kamu punya anak, maka aku akan menerimanya."
"Apa?" tanya Delilah tidak percaya.
"Aku kecewa, tetapi aku mencintaimu," ucap Juno.
Delilah menggeleng, lalu melepas pelukan Juno. "Aku ingin bersama Nayaka."
"Kita sudah bertunangan dan akan menikah. Kau ingin mempermalukan kedua keluarga besar kita?"
"Aku mencintai Nayaka."
"Kau kejam. Aku mencintaimu. Kenapa kau mengkhianatiku, Del? Apa kurangnya aku sampai kau memilih dia?" ucap Juno.
"Maafkan aku, Juno. Tapi aku mencintai Nayaka dan ingin bersamanya."
Juno tertawa, lalu ia mengumpat karena merasakan perih di wajah. "Berbahagialah, Delilah. Sayangnya kekasihmu itu akan mendekam di jeruji besi."
Bersambung
__ADS_1