
Dalam kamar, Delilah menangis. Ia tidak sanggup mendengar Nayaka mengucapkan ijab kabul untuk kedua kalinya. Suaminya itu, menikahi Angel secara agama.
Berulang kali ia memohon agar Nayaka mengurungkan niatnya itu, tetapi sang suami tetap kekeh pada keputusannya.
Hati ini begitu perih. Kini Nayaka bukan lagi milik Delilah seorang. Ada satu wanita lagi yang berhak atas suaminya, dan mulai malam ini, mereka akan berbagi dalam segala hal.
Sementara perasaan Nayaka saat ini tidak dalam kondisi bahagia atau sedih. Ia datang ke Indonesia memang berniat melamar Angel. Wanita inilah yang pantas menjadi istrinya. Seorang sahabat yang pengertian, juga dekat dengan putri tercintanya.
Tidak ada yang namanya cinta. Dari awal, Nayaka datang meminang dan memberitahu keinginannya bahwa ia membutuhkan istri yang selalu ada untuk suami dan anak.
Angel menyetujuinya, meski tahu Nayaka telah memiliki istri lain. Ia mencintai suami Delilah itu sejak lama, dan ingin menjadi pendampingnya. Angel juga menerima bila ia hanya dinikahi secara siri.
"Kenapa Papa menikah sama Tante Angel?" tanya Kyomi. "Mama bagaimana?"
Nayaka sudah menduga pertanyaan ini. Anaknya memang belum dewasa, tetapi Kyomi pandai menilai dari apa yang ia lihat.
"Kyomi juga punya dua nenek, kan? Nah, sekarang Kyomi punya dua ibu. Kyomi suka sama Tante Angel, kan?" Nayaka mengusap rambut putrinya, dan berharap tidak ada lagi pertanyaan lain.
"Kyomi suka Tante Angel, tapi Mama ...."
"Kyomi sayang, ini sudah malam. Ayo, kesayangan Kakek harus pergi tidur." Omar menyahut.
"Tapi ...."
Omar segera memerintahkan pengasuh untuk membawa Kyomi ke kamarnya. Kyomi harus diselamatkan lebih dulu sebelum sang ibu datang kembali untuk mengamuk.
"Kalian beristirahatlah dulu," kata Omar.
"Kami langsung pulang saja. Titip Kyomi di sini."
Nayaka melangkah dengan diikuti Angel. Sementara Omar yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya. Ia tahu betapa sakit hatinya sang anak kali ini sampai membalas perbuatan Delilah dengan menikah lagi.
Tiba di kediaman, Nayaka mengajak istri barunya itu masuk. Rumah yang benar-benar mewah. Angel pun tak jemu memandang bangunan megah di depannya ini.
"Kau masuk dulu ke kamar. Pelayan akan mengantarmu dan membereskan barang-barangmu."
"Ini malam pertama kita, Nayaka," ucap Angel.
__ADS_1
"Aku ambil pakaian ganti dulu."
Nayaka langsung melangkah menuju kamar tidurnya bersama Delilah. Sementara Angel, diantar pelayan ke kamarnya sendiri yang tidak jauh dari kamar utama.
Saat Nayaka masuk kamar, ia sudah menduga akan mendapati ruangan yang berantakan. Delilah membuat kamar tidurnya seperti kapal pecah. Semua benda ia buang dan hancurkan.
"Aku akan suruh pelayan membereskan kamarmu. Kau tidur saja di tempat lain."
"Kau akan bermalam bersamanya?"
Nayaka terdiam, sesaat kemudian ia tersenyum. "Ini malam pertama kami."
"Saat kau menyentuh wanita itu, aku tidak akan izinkan kau meniduriku lagi."
"Pernahkah kau berpikir, Delilah. Bagaimana perasaanku melihat kau bermesraan bersama Ashraf?"
"Aku sudah minta maaf padamu!" Delilah bersuara lantang.
"Ya, kau benar. Sekarang begini saja. Anggap aku melakukan kesalahan dengan meniduri Angel, lalu besok paginya aku akan datang padamu, dan meminta maaf. Aku ingin tahu bagaimana perasaanmu setelah melihatku keluar dengan wajah penuh kepuasaan."
Delilah memalingkan wajahnya, perkataan Nayaka begitu menyayat hati. Mudah sekali suaminya mengucapkan itu.
Selepas mengatakan itu, Nayaka keluar dari kamar. Delilah meraih bantal, lalu melemparnya ke pintu yang sudah tertutup rapat. Ia kembali terisak. Malam ini, semuanya akan berbeda.
Jika sudah membuat keputusan, maka harus dijalankan. Dalam kamar, Angel telah menunggu kedatangan Nayaka. Ia juga telah mempersiapkan diri untuk malam pertama bersama suaminya.
"Biar aku susun pakaianmu, Nay." Angel mengulurkan tangan.
Nayaka mengangguk. Ia mengambil handuk, lalu masuk kamar mandi. Dalam sana, air dingin membasahi seluruh tubuh. Bayang-bayang pengkhiantan Delilah masih terlintas di pikirannya.
Nayaka mengumpat. Ia harus melupakan semua ini, dan menjalani kehidupan baru. Sekarang ada wanita yang memerlukan tanggung jawabnya. Bukan Delilah yang harus ia pikirkan saja, tetapi banyak hal.
Saat Nayaka keluar kamar mandi, Angel hendak mencoba menyeka tubuh suaminya, tetapi Nayaka malah menghindar.
"Maaf, aku cuma reflek saja. Aku lupa membawa baju tidur. Kau tidurlah dulu."
"Biar aku membantumu." Angel tersenyum saat mengatakannya.
__ADS_1
"Aku bisa sendiri. Malam ini aku sedikit lelah."
"Tidak apa-apa, Nay. Aku mengerti."
Nayaka tersenyum. "Terima kasih atas pengertianmu."
Lalu, Nayaka kembali masuk kamar mandi. Angel sudah menerima Nayaka, termasuk persyaratan dari pria itu.
Nayaka mengatakan kalau ia tidak bisa memberi cinta, tetapi selama menjadi istri, Nayaka tentu akan melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami terhadap istrinya. Kali ini Nayaka beralasan lelah, dan Angel percaya itu.
Pagi hari saat Delilah hendak ke dapur membuat sarapan, ia sudah melihat Angel berkutat dengan bahan makanan yang dibantu oleh pelayan.
Delilah mengibaskan tangan, dan pelayan pergi dari hadapan dua istri atasannya. Angel menghentikan kegiatannya dari mengiris buah potong.
"Oh, mau jadi istri yang perhatian rupanya."
"Kita berdua sudah menjadi istri Nayaka. Sebaiknya kita mengakrabkan diri." Angel menyunggingkan senyum.
"Seharusnya aku membawa Nayaka ke dokter mata. Bagaimana bisa istrinya lebih cantik dari seorang pelakor? Oh, bukannya pelakor itu enggak perlu cantik, ya. Dia hanya perlu gatal."
"Tutup mulutmu!" Angel tidak terima begitu saja. "Suamimu sendiri yang memintaku menjadi istrinya. Kau itu harusnya sadar mengapa suamimu bisa berpaling padaku."
Delilah tergelak. "Kau ini bodoh atau apa. Dari awal kau itu hanya dijadikan pengasuh oleh Nayaka. Tapi cintanya hanya padaku seorang. Hanya pada Delilah."
"Aku tidak butuh cinta. Dalam hubungan rumah tangga hanya butuh tanggung jawab dan perhatian. Aku hanya perlu itu dari suamiku. Buat apa cinta kalau hanya bisa menyakiti saja."
"Pembual!" ucap Delilah. "Tanya pada lubuk hatimu paling dalam. Kau pasti menginginkannya. Dengarkan aku, Wanita Tua. Meski kau berhasil masuk dalam kehidupan rumah tanggaku, meski kau berhasil tidur bersama suamiku, dan meski kau melahirkan anak untuknya, kau tidak akan pernah berhasil merebut hatinya. Sampai kapan pun perasaan Nayaka hanya untukku!"
Dengan angkuhnya, Delilah pergi dari hadapan Angel. Di depan madunya, ia berpura-pura kuat, dan masih bersikap sombong. Tapi sesungguhnya, Delilah merasa sakit hati.
Mana bisa dua istri dijadikan satu. Melihat Angel di dapur saja, Delilah sudah merasa kalau ia sebentar lagi akan tergantikan.
"Kau bersenang-senang dengannya semalam?" Delilah bertanya pada Nayaka ketika tanpa sengaja berpapasan.
"Aku minta maaf. Aku khilaf."
Jawaban yang pernah Delilah utarakan pada Nayaka, kini berbalik padanya.
__ADS_1
Bersambung