
Meski sudah melamar, Nayaka juga tidak bisa menyentuh Delilah seperti dulu. Tetap dengan ucapan kekasihnya itu.
"Aku tidak mau hamil di luar nikah!"
Nayaka mengangguk pasrah. "Iya, aku mengerti."
Lepas dari London Eye, Nayaka harus kembali ke biliknya sendiri, dan Delilah jelas menuju huniannya.
"Sayang!" Nayaka menegur.
Delilah menoleh. "Apa lagi? Masuk sana."
Wajah Nayaka seperti pria yang ingin dikasihani. Delilah mengembuskan napas perlahan, lalu ia mendekat.
Kedua tangan Nayaka di letakkan di pinggang. Sementara Delilah mengalungkan dua tangannya di leher sang kekasih.
Delilah menempelkan keningnya, kemudian ia mengecup bibir yang telah siap menyambut kehangatan itu.
Pelukan Nayaka erat. Tubuh Delilah semakin rapat padanya. Nayaka tidak ingin celah, ia ingin lebih dari ini, hingga Delilah memberinya peluang untuk menjelajahi bagian jenjang dari tubuhnya.
"Ke dalam sebentar," pinta Nayaka.
Delilah mengangguk. Rasa bahagia itu tiba-tiba hadir. Dengan penuh semangat, Nayaka membuka pintu. Baru masuk saja, ia tidak sabar untuk melepas outer yang kekasihnya itu kenakan.
Keduanya sama-sama jatuh terduduk di atas sofa. Bibir keduanya kembali menyatu dengan tangan nakal Nayaka yang melepas baju Delilah.
Kekasihnya belum melarang, dan artinya, Nayaka bisa melakukan lebih. Pakaian atas terbuka. Tangan itu menangkup bagian padat. Menelusup masuk dan Nayaka dapat merasakan hangatnya.
Kecupan itu turun lagi ke bawah. Nayaka memberanikan diri membuka bagian penutup atas dari kekasihnya. Ia melihat keindahan yang sering Kanaka nikmati. Putranya yang beruntung. Tapi, Nayaka juga tidak ingin kalah.
Ia mendorong Delilah hingga terbaring. Mengusap kulit yang putih mulus itu lebih dulu. Nayaka menatap kekasihnya. Mungkin saja Delilah tidak bersedia, tetapi kekasihnya ini hanya diam saja ketika jari-jemarinya menggelitik keindahan itu.
"Boleh, ya?" Nayaka meminta izin lebih dulu.
"Kau sudah melepas semua pakaian atasku. Apa perlu minta izin lagi?"
Nayaka tahu, Delilah pun sudah tidak tahan akan tindakannya. Pasti di bawah sana sudah berkedut, dan menginginkan sesuatu yang bisa meredakannya.
Suara yang begitu Nayaka rindukan. Delilah yang merasa nikmat saat ia tengah menyentuhnya. Nayaka pun demikian. Jadi begini rasanya mencicipi nutrisi milik Kanaka.
__ADS_1
Terasa manis, tetapi sedikit berlemak. Seperti santan kelapa, tetapi bukan. Seingat Nayaka, waktu Kyomi lahir, ia tidak mencicipi milik Delilah.
Delilah menjerit. "Jangan digigit! Kebiasaan, deh."
"Kemarin tidak ada airnya. Sekarang ada." Secara bergantian ia mencicipi milik kekasihnya itu. Nayaka tidak boleh rakus. Ia harus menyisakan sedikit untuk Kanaka. Ah, Nayaka lupa. Kanaka juga minum susu formula. Jadi, tidak apa-apa kalau ia mengosongkan air di dalamnya.
Asik di bagian atas, Nayaka tidak lupa bagian paling ingin ia temui. Bibirnya turun ke bawah. Lagi-lagi penghalang itu belum dibuka. Nayaka beringsut duduk. Ketika ingin membuka celana jeans Delilah, suara dering telepon berbunyi.
Nayaka tidak mempedulikan itu. Ia tetap membuka celana Delilah. Ia berdecak menemukan sepatu yang belum kekasihnya lepas.
Merepotkan saja. Dengan cepat Nayaka melepas sepatu dan celana itu. Tinggal segitiga bahan katun yang belum dilepas. Namun, suara Delilah menghentikan gerakan tangan Nayaka.
Delilah malah mengangkat panggilan telepon itu. Dengan susah payah ia meraih ponsel yang berada di saku celana. "Kenapa Kyomi belum tidur? Kanaka sudah tidur belum?"
Dari seberang telepon sana, Kyomi menjawab, "Kanaka sudah tidur. Tapi Mama kapan pulang?"
Andai saja Kyomi tahu kalau kedua orang tuanya telah berada di apartemen, tetapi di bilik milik sang ayah.
"Sebentar lagi, Sayang. Kyomi tidur, ya?"
"Jangan lama-lama pulangnya."
Delilah menutup bibir. Dasar Nayaka! Jemarinya begitu cepat melepas bagian penutup paling akhir dari tubuhnya. Bahkan pria itu sudah membenamkan wajahnya di sana.
"Janji sepuluh menit lagi." Kyomi membuat sang ibu mengatakan itu.
"Janji, Sayang."
Telepon harus cepat diputus. Delilah mengumpat karena Nayaka sedikit mengencangkan gigitan bibirnya.
"Kak, aku harus pulang."
"Sebentar lagi." Nayaka semakin melebarkan kaki Delilah agar ia lebih leluasa lagi membenamkan wajahnya di sana.
Memang nikmat, tetapi Delilah juga harus tahu dengan konsekuensi ini. Jika Nayaka sudah mendapatkannya, maka pria itu tidak berhenti sebelum memuntahkan cairan dari dalam tubuhnya.
"Kak, kasihan Kyomi dan Kanaka. Ini juga sudah malam. Kita tunda dulu." Delilah masih membujuk.
Nayaka mengangkat kepalanya. "Ya, Sayang. Aku belum mulai, kau sudah ingin mengakhiri ini."
__ADS_1
Delilah bangkit dari rebahannya, meski Nayaka tidak merelakan itu. "Sabar, ya, Sayang."
"Kau pasti sengaja."
"Kau lihat sendiri tadi. Kyomi menelepon. Lain kali saja."
"Kapan?"
Nayaka yakin jika malam ini adalah kesempatannya. Jika ditunda, maka Delilah akan jual mahal lagi. Tapi ia harus berkorban demi anak-anaknya, kan? Biarlah miliknya berpuasa dulu.
"Kau main solo dulu."
"Tidak enak."
"Ya, sudah. Bawa mandi saja, ya?" Delilah masih mencoba membujuk sembari memungut pakaiannya.
"Ini akan jadi penyakit jika tidak dikeluarkan." Nayaka menunjuk miliknya yang sedari tadi mengeras.
"Nanti juga keluar. Tenang saja."
Merasa dipermainkan. Delilah yang untung, tetapi dia malah sengsara. Malah Delilah menyarankan hal yang tidak ingin Nayaka lakukan sama sekali.
Delilah mengecup wajah yang tengah cemberut saat ini. "Besok, aku akan telepon Kak Reyhan. Kita harus segera menyiapkan pernikahan ini, kan? Sebaiknya dilakukan di Indonesia saja. Kita harus mengundang banyak orang."
"Kau yang atur saja."
"Aku mau semuanya terencana."
Perasaan Nayaka cukup membaik mendengar tentang pernikahan. Ya, ia ingin cepat-cepat menjadikan Delilah sebagai miliknya secara resmi. Lupakan masa lalu, dan mulai lagi hidup baru.
"Aku pulang dulu," ucap Delilah ketika sudah selesai berpakaian.
"Aku tidur di tempatmu."
"Mau tidur di sofa?"
"Enggak apa-apa. Pakai kasur juga tidak masalah, asal bersama kalian."
"Terserah."
__ADS_1
Tidur di ranjang empuk memang nyaman. Namun, tidur tanpa kedua anak dan calon istrinya, lebih membuat Nayaka tidak nyenyak. Tidur di kasur lantai bukan masalah, asal bersama keluarga yang membuat perasaan tentram.
Bersambung