Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Bawa Kemari


__ADS_3

"Berhenti, Delilah!" ucap Sera.


Delilah berhenti, memutar tubuhnya menghadap Sera dan kedua keponakannya. "Kau masih tidak terima Nayaka bersamaku."


"Aku tidak pernah bicara begitu. Itu hanya kenakalan kita waktu kecil," sahut Sera.


"Kecil apanya. Kau mengirim surat cinta untuknya dan itu membuat Kiano marah."


Sera mendengkus. "Jangan membahas itu lagi. Aku sungguh tidak mengira kau membohongi kami selama ini."


"Lalu, kau mau apa? Semua sudah jelas sekarang. Aku dan Nayaka telah memiliki anak. Kami bersama sekarang."


"Lalu, Juno? Kau ini benar-benar serakah. Kau selalu saja mengambil apa yang kupunya."


Delilah berkacak pinggang. "Bukan aku yang mengejar Juno. Kau tentu tahu jika Juno menolakmu karena ada pria yang akan menjadi calon suamimu."


"Sudahlah, kenapa kalian bertengkar," kata Ayyena.


"Kau tanya pada Delilah. Dia membuat malu keluarga dan sekarang dengan mudahnya dia membuat keputusan untuk membatalkan pernikahan."


"Ini bukan urusanmu. Fokus dengan nasibmu sendiri, Sera," ucap Delilah, lalu melangkah masuk mobil.


Ketiganya cuma bisa melihat kepergian Delilah. Semua menyayangkan keputusan ini, lebih tepatnya mereka tidak tahu harus melakukan apa. Nayaka dan Juno sama-sama korban jika Delilah memilih salah satu dari mereka.


"Kau masih menyukai Nayaka?" tanya Anthea.


"Dia masih sama seperti dulu," sahut Ayyena.


"Dia semakin tampan dan Kyomi sangat cantik," ujar Anthea.


"Apa aku bisa menyukai seorang pria? Delilah selalu mengambilnya dariku. Aku mengalah karena dia tidak punya ayah dan ibu," ucap Sera.


"Sera," tegur Ayyena yang langsung memegang lengan Anthea.


"Maafkan aku telah mengatakan itu. Aku suka Nayaka, tetapi dia cuma ingin bicara pada Delilah. Aku suka Juno, tapi terikat dengan Kiano. Nasibku memang sial. Sudahlah, lebih baik kita masuk."


Di satu sisi kepala Reyhan terasa berdenyut dengan masalah ini. Adik yang berbuat, maka ia yang harus bertanggung jawab. Bagaimana seharusnya menjelaskan perihal ini tanpa menyinggung? Pasti tidak mungkin karena tanggal pernikahan telah disiapkan. Baju serta gedung telah dipesan.


Reyhan tidak mempersalahkan kerugian itu, tetapi cara untuk memberitahu pembatalan pernikahan ini yang membuat pikirannya tidak bisa jalan.


Keluarga Juno bukan orang sembarangan untuk bisa dipermalukan seperti ini. Reputasi baik keluarga dipertaruhkan karena kolega keduanya telah banyak yang tahu rencana pernikahan ini. Lalu, bagaimana dengan Juno? Pastilah pria itu sakit hati atas keputusan sepihak Delilah.

__ADS_1


"Jadi, bagaimana sekarang?" tanya Diki.


"Apalagi?" kata Reyhan. "Tentu saja membatalkan pernikahan. Delilah bersikeras untuk menolak menikah, dan dia ingin bersama pria itu, kan? Aku tidak mungkin memasaknya menikahi Juno."


"Ini akan berdampak pada bisnis."


"Aku tidak peduli. Ambil semua milik Delilah, dia harus bertanggung jawab dari hasil yang ia perbuat."


"Kau ingin membuat adikmu miskin?" tanya Diki.


"Ambil saja miliknya. Yang jelas aku harus menyelesaikan ini semua. Coba kau bawa pria itu kemari. Apa ini? Dia tidak bertanggung jawab pada adikku?"


"Masalahnya ini berkebalikan, Reyhan. Kau tidak menyimak penjelasan Delilah. Dia sendiri yang meninggalkan anaknya dan mencoba menghabisi pria itu," tutur Diki. "Aku ingat dia anak yang pendiam itu, kan?"


"Anak yang lemah itu ingin menjadi bagian dari keluargaku?"


"Kurasa dia seperti Dion. Tampang sangar, tapi berhati Hello Kitty," ucap Diki.


"Kau jangan bercanda. Aku tengah serius," kata Reyhan.


"Entahlah, lebih baik kau segera mengurus masalah ini."


"Bawa anak itu. Ya ampun, dia pasti sangat cantik. Dia pasti mirip Delilah," ucap Reyhan.


"Delilah tidak akan menjadi seperti ini jika mereka ada. Aku gagal, Diki," ucap Reyhan.


"Jangan menyalahkan dirimu. Dulu om Bastian sudah melarangnya untuk mendekati pria itu, tetapi Delilah masih ingin bersamanya."


"Kau bawa dia secepatnya kemari. Aku ingin lihat apa pria itu sungguh-sungguh ingin bersama dengan adikku. Jika tidak, aku akan mengambil anak Delilah," kata Reyhan.


...****************...


Mobil berhenti tepat di rumah sewa Nayaka. Delilah segera turun kemudian berjalan mengetuk pintu rumah. Terdengar kunci yang diputar, lalu lawang yang dibuka.


"Delilah!" Nayaka kaget melihat kondisi kekasihnya. "Ada apa denganmu?"


"Biarkan aku masuk." Delilah masuk begitu saja.


Nayaka menutup pintu, lalu segera melangkah ke dapur mengambil kotak obat. Wajah Delilah belum sempat diberi obat sebab keburu ia sudah pergi dari rumah Reyhan.


"Kyomi mana?" tanya Delilah ketika Nayaka sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Barusan tidur. Wajahmu kenapa?"


"Aku sudah memberitahu semuanya pada keluargaku."


"Kau dipukuli?"


Delilah meringis ketika Nayaka mengoleskan gel dingin ke pipinya. Reyhan memberi pukulan keras hingga Delilah merasa pipinya terasa tebal. Begitu juga bibirnya yang terasa bengkak.


"Kau sudah mengatakan semuanya pada Juno?" tanya Nayaka.


Delilah menggeleng. "Kak Reyhan akan melakukan pertemuan keluarga. Kak, sebaiknya kau pindah dari sini. Bagaimana kalau mereka menyakitimu?"


"Kenapa aku harus pindah?"


"Bagaimana kalau mereka tidak menyetujui hubungan kita? Bawalah Kyomi ke Paris. Aku akan menyusulmu."


"Aku tidak akan lari. Ini adalah fakta yang sesungguhnya. Kau dan aku telah memiliki anak."


"Aku takut tidak bisa melindungimu," ucap Delilah.


"Kau selalu menganggapku lemah. Kali ini aku tidak akan lari atau membiarkan mereka memukuliku."


"Kau tidak tahu tentang kak Reyhan dan keluarga Juno," kata Delilah.


"Aku sudah punya anak. Aku tidak mau anakku juga beranggapan aku tidak bisa melindungi dirinya. Apa pun itu, aku akan hadapi. Percaya padaku, Del. Aku bisa mengatasi segalanya," ucap Nayaka.


"Aku hanya takut, Kak."


Nayaka memeluk kekasihnya. "Kita yang berbuat dan kita juga yang harus bertanggung jawab. Kita hadapi ini bersama-sama."


Delilah mengangguk. "Iya, Kak.


Jika Delilah sudah mengaku berarti, Nayaka tinggal menunggu sang kekasih membawanya ke hadapan Reyhan dan keluarga lainnya. Atau bisa jadi akan ada orang yang datang menjemput.


Tengah asik berpelukkan, pintu rumah diketuk. Delilah dan Nayaka saling memandang. Nayaka beranjak dari sofa untuk membuka pintu, tapi sebelumnya ia mengintip dahulu tamu yang tengah bertandang dari tirai.


"Siapa, ya, wanita itu?" gumam Nayaka.


"Siapa, Kak?" tanya Delilah.


Nayaka mengedikan bahu, lalu memutar kunci dan membuka pintu. "Kau!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2