Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Mata-mata Delilah


__ADS_3

Aneh. Seminggu yang lalu, Nayaka memberinya 200 Pound. Lalu, minggu ini Nayaka memberi 1000. Jika dihitung-hitung, upah harian sebagai pelayan kafe mungkin hanya 5 atau 8 pound per jam.


Delilah sendiri tidak tahu apakah gaji di kota London memang sangat besar. Nayaka pergi pagi, lalu pulang sore. Biasa siang hari ia juga menyempatkan diri untuk makan siang bersama, dan malamnya akan menghabiskan waktu bersama sang buah hati.


"Apa Nayaka diam-diam bekerja di malam hari?" Delilah tampak berpikir sejenak. Ia tidak akan mau menerima uang yang bukan hasil dari keringat Nayaka sendiri. Pria itu telah berjanji untuk tidak memakai uang orang tua, dan uang yang Nayaka miliki telah habis untuk membeli satu unit apartemen dan mobil.


"Apa aku mata-matai saja?" lagi-lagi ia berpikir tentang uang yang diberikan Nayaka. Rasanya ini terlalu besar, meski bagi Delilah uang itu tidak ada apa-apanya ketika ia masih hidup mewah.


Tekad harus diwujudkan. Delilah akan memata-matai Nayaka tengah malam nanti. Setelah kedua anaknya tidur, maka Nayaka akan pulang ke biliknya sendiri.


"Mama, Kyomi pulang!" serunya.


Delilah memasang senyum manis, terlebih ada Nayaka. Mantan suaminya itu yang menjemput Kyomi dari sekolah.


"Bagaimana hari pertamamu sekolah?" Delilah bertanya sembari membantu Kyomi melepas tas ranselnya.


"Kyomi dapat dua teman. Sekolahnya tidak jauh dari sekolah elite. Tempatnya sangat bagus. Tadi Kyomi sempat ke sana melihatnya."


"Kyomi ingin sekolah di sana?" giliran Nayaka yang bertanya.


"Sekolahnya sama saja. Kyomi suka dengan teman-teman di sekolah baru."


"Papa bisa bikin Kyomi pindah ke sekolah itu."


"Nanti saja. Kyomi capek harus pindah terus."


"Ya, sudah. Kyomi mandi dulu. Mama akan siapkan makan," kata Delilah.


Kyomi berlalu dari sana, sedangkan Delilah menuju dapur, dan Nayaka merebahkan dirinya di atas sofa.


"Kau tampak lelah, Nay." Delilah menegur. Ia datang dengan membawa secangkir teh hijau. Satu hal yang menjadi kebiasaannya saat ini. Delilah tidak lagi menyediakan minuman cokelat panas untuk Nayaka.


"Aku kurang tidur."


Dalam hati Delilah bersorak. Sepertinya ia akan segera mengetahui dari mana uang yang Nayaka berikan berasal. Delilah menjadi tidak enak sendiri. Nayaka bukan suami, dan bukan kekasih. Namun, pria itu menanggung semua biaya hidupnya, juga anak-anak.


"Apa kau bekerja?"


Nayaka menjawab, "Tentu saja aku bekerja. Kau tahu aku bekerja sebagai pelayan kafe dan restoran, kan?"

__ADS_1


"Ya, itu yang kau ucapkan padaku. Sekali-kali aku ingin melihat kau bekerja."


Nayaka beringsut bangun. Ia tergelak mendengar ucapan Delilah barusan. "Aku tidak salah dengar, kan?"


"Apa ada yang aneh?" Delilah menyatukan alisnya. Ia jadi bingung akan pertanyaan Nayaka.


"Dulu, kau tidak mau bertemu dan tidak mengakui aku sebagai kekasihmu karena aku hanya pelayan saja."


"Itu masa lalu. Lagi pula kau bukan kekasihku saat ini."


"Aku menganggap kau adalah kekasihku."


"Terserah apa yang kau pikirkan. Aku mau lihat Kyomi dulu." Delilah berlalu dari sana.


Nayaka tidak bisa apa-apa di dalam apartemen Delilah ini. Ada Santi yang bisa melihat mereka. Kyomi yang sudah besar dan mengerti apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Jika tidak ada mereka, Nayaka akan membuat Delilah menyetujui apa yang ia inginkan.


Seperti biasa, sehabis makan malam dan setelah Kyomi serta Kanaka tidur, Nayaka akan pulang ke kamar sebelah. Delilah menunggu kesempatan selama 15 menit dari langkah Nayaka yang baru saja keluar dari kediamannya.


Menunggu 15 menit, seperti dua jam saja. Delilah tidak sabar untuk mengunjungi apartemen Nayaka dan mencari tentang mantan suaminya itu.


Lima belas menit berlalu, Delilah keluar. Ia mengunjungi apartemen Nayaka. Tidak tahu apakah Nayaka ada di dalam atau tidak. Yang pasti, Delilah harus masuk untuk mencari tahu.


Untungnya Nayaka tidak mengunakan dua kunci smartlock. Delilah bisa masuk, meski ada orang di dalam. Sepi, dan apartemen Nayaka begitu rapi.


Delilah mengunjungi kamar. Rupanya Nayaka ada di dalam, tetapi di bilik mandi. Terdengar suara keran air dari dalam. Laptop di meja tengah hidup.


"Nayaka buka apa, sih? Kok, dia jadi misterius begini," gumam Delilah, yang hendak menekan mouse, tetapi suara pintu bergeser, menghentikan aksinya.


Delilah bingung sendiri, ia tidak sempat bersembunyi karena keburu Nayaka sudah keluar.


"Delilah ...."


"Aku ... aku ... mau minta sabun." Delilah mengutuk diri. Mengapa malah ia beralasan seperti itu? Membuat Nayaka curiga saja.


"Sabun?" Nayaka menaikkan sebelah alisnya.


Bila dilihat, tubuh yang masih basah itu terlalu menggoda. Terlebih rambut acak-acakan Nayaka yang belum kering sempurna. Dilihat semakin ke bawah lagi, bagian yang selalu menjadi favorit Delilah.


"Sabun mandiku habis. Aku mau pinjam sebentar buat mandi."

__ADS_1


Nayaka berjalan mendekat. Ia berdiri di depan mantan istrinya itu. "Kau, kan, bisa mengambilnya di dapur. Kau sendiri yang membeli perlengkapan rumah tangga di rumahku, dan kau sendiri yang menaruhnya. Kau harusnya tahu di mana menemukannya, bukan?"


Delilah tergagap menjawab, "Ya, aku tahu. Tapi aku harus izin dulu, kan?"


"Apa perlu sampai seperti itu?" Nayaka membalik tubuh Delilah. Ia mendorong wanita itu sampai terjatuh di atas tempat tidur. Nayaka mendekatkan wajahnya. Ia berbisik, "Kurasa kau membutuhkan hal lain, Sayang."


Nayaka menepikan rambut Delilah ke sisi sampingnya. Ia menggigit daun telinga Delilah hingga membuatnya meringis sakit.


"Jangan, Kak."


"Sejak kapan kau menolakku? Kau dulu sangat menyukainya, Del," bisik Nayaka, yang mulai menangkas blouse yang mantannya kenakan ke atas.


"Nayaka!" teriak Delilah, ketika sang mantan mulai mengecup punggung belakangnya.


"Kenapa kau berteriak?" Nayaka membalik tubuh Delilah. Lalu, ia menyentuh bibir yang merekah itu.


Bukan balasan, tetapi gigitan yang Nayaka dapatkan. Ia harus rela melepas tautan bibirnya dari Delilah.


"Sakit ...."


"Minggir dulu." Delilah mendorong tubuh Nayaka ke samping, tetapi Nayaka malah membawanya dalam dekapannya. "Nayaka!"


"Jangan berteriak. Kau ini seperti tidak biasa saja. Jangan jual mahal padaku."


"Tentu saja aku harus jual mahal sebagai wanita, dan ...."


Apa ini? Delilah tidak salah, dan sebagai wanita yang sudah berpengalaman, Delilah tahu apa yang terjadi pada Nayaka.


"Kau harus mandi air dingin."


"Kau menyiksaku, Del."


"Bukan aku, tetapi kau yang mendorongku lebih dulu. Biasanya kau tahan akan napsumu. Apa karena milikmu ini sudah lama tidak merasakan kehangatan wanita?"


"Dalam posisi begini, setiap naluri pria juga akan bangkit."


Delilah menarik diri dari dekapan Nayaka, dan untungnya pria itu mengizinkannya. "Aku harus berada di kamar. Aku takut Kanaka bangun dan mencariku. Aku harus menyusuinya."


"Kau benar, Del. Aku harus mandi lagi."

__ADS_1


Delilah tertawa mendengarnya.


Bersambung


__ADS_2