Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Suka Dan Duka


__ADS_3

Jelas berita ini begitu menyesakkan hati Omar yang berharap pada cucu laki-laki. Namun, apalah daya jika takdir sudah berkehendak.


Tidak bisa menyalahkan siapa pun. Mau marah, tidak akan membuat sang pewaris hidup kembali. Ikhlas. Hanya itu yang harus dilakukan.


Sementara Angel, jelas bersedih dengan keadaan ini. Tuhan memberinya kebahagian dalam beberapa jam saja, lalu mengambil semua itu dalam sekejap mata.


"Sabar, Angel. Ini mungkin sudah takdir." Nayaka memeluk istrinya.


"Mereka pasti tidak becus menangani anak kita." Angel berkata sembari terisak.


Nayaka menggeleng. "Ini salah kita. Harusnya aku tidak tidur terlalu nyenyak."


Apa pun penyebabnya, kalau sudah Tuhan menentukan takdir seseorang, maka terjadilah.


"Tuhan sayang pada anak kita. Ikhlaskan, Angel."


Wanita itu mengangguk. "Iya, kita bisa mencobanya lagi lain waktu."


"Aku akan suruh orang menemanimu. Kau tetap di sini."


"Bawa aku untuk melihat Kanaka terakhir kalinya."


"Tetap di sini dan patuhlah."


Angel hanya bisa mengangguk bila Nayaka sudah berkata demikian. Ia tidak ingin melawan perintah dari sang suami.


Di sisi lain, kebahagian jelas tampak dari wajah Delilah. Ia menimang Kanaka yang masih setia dalam tidurnya.


"Ayo, bangun. Mau minum susu tidak?"


Ia kecup kecil pipi dan hidung Kanaka. Kulit putih, hidung mancung, rambut dan alisnya hitam lebat. Memang keturunan timur tengah.


"Kanaka," bisik Delilah.


Bayi itu mengeliat. Delilah menyodorkan miliknya yang langsung ditangkap oleh sang buah hati.


"Kau memang anak ayahmu."


Delilah terkikik karena merasa geli saat Kanaka menyusu. Selesai di sebelah kanan, Delilah menggantinya lagi ke sisi kiri.


"Cepat besar, Sayang. Kanaka mau ketemu Kakak Kyomi, kan?"


Pintu rawat terbuka. Delilah segera mengancingkan bajunya ketika Reyhan masuk bersama suster. Delilah dan bayinya dijadwalkan akan pulang hari ini.


"Kakak sudah urus semuanya. Kita bisa pulang."


"Taksinya sudah ada?" Delilah menyerahkan bayinya pada suster. Selagi ia turun dari ranjang pasien.


"Kakak sewa mobil." Reyhan mendelik melihat jalan Delilah. "Hati-hati. Jahitanmu bisa terbuka. Kak Anna sudah mengirimkan jamu untukmu. Kau harus meminumnya nanti."

__ADS_1


"Dulu aku juga tidak minum jamu."


"Jangan membantah."


"Aku akan meminumnya setelah paket jamu itu datang," ucap Delilah akhirnya.


"Nanti sore paket itu datang bersama seseorang yang akan menemanimu selama di sini."


Suster kembali menyerahkan Kanaka pada ibunya dan mempersilakan Delilah duduk di kursi roda.


"Biar saya antar sampai ke depan, Nona, Tuan."


Reyhan menyahut. "Terima kasih."


"Kau sungguh tidak ingin pulang ke Indonesia?"


Reyhan bertanya ketika ia dan Delilah telah berada dalam mobil. Sebenarnya tidak ada masalah bukan jika Nayaka tahu keberadaannya atau tentang anaknya. Toh, mereka telah berpisah. Ia tidak harus menyembunyikan diri.


"Kak, apa Nayaka nanti bisa mengambil putraku?"


"Kau ibunya. Nayaka tidak akan bisa berbuat apa-apa."


"Aku masih enggan untuk bertatapan wajah dengannya. Tapi aku juga tidak ingin mengabaikan Kyomi. Dia pasti sedang menungguku untuk menghubunginya."


"Apa yang harus ditakutkan? Kau dan dia, kan, berpisah baik-baik. Kalian juga teman dari kecil."


"Kakak benar. Buat apa aku harus sembunyi darinya. Jika dia datang kemari, aku terima saja."


Satu per satu pelayat pamit pulang. Nayaka masih tetap berdiri di depan batu nisan buah hatinya. Apa ini kutukan? Sang mantan pernah mendoakan agar ia tidak bahagia. Nayaka lucu sendiri bila mengingatnya.


"Kita pulang, Nay" Omar menegur.


"Mungkin ini hukuman karena aku menyakiti Delilah. Doa-nya terkabul."


"Ini takdir, Nak. Papa rasa sebaiknya kau menjalin hubungan baik bersama Delilah. Kalian ada anak yang harus diurus bersama-sama."


"Wajar, kan, bila aku marah padanya?"


"Kau sudah memutuskan untuk bersama Angel. Lupakan cinta Delilah. Jalin hubungan bersamanya sebagai teman saja. Kalian lebih cocok dalam hubungan pertemanan dari pada suami istri."


Nayaka mengangguk. "Ya, kami tidak harus musuhan, kan?"


Omar menepuk pundak putranya. "Lebih baik kau fokus pada istri dan anakmu. Jangan lagi kau mengingat Delilah. Angel sering mengeluh tentang kelakuanmu yang masih menyukai hal-hal mengenai Delilah."


"Aku akan coba. Sebaiknya kita pulang."


Untuk satu itu, Nayaka tidak akan menuruti nasihat Omar. Mengenang Delilah adalah salah satu bentuk dari membebaskan rasa rindu di hatinya.


Dua hari berlalu, Angel sudah diperbolehkan pulang. Tidak ada yang aneh ketika ia tiba di kediamannya. Bangunannya tetap sama mewah, tetapi perabot serta dekorasi ruangannya saja yang berbeda.

__ADS_1


"Kau mengubah tatanan perabotnya?" Angel menoleh pada sang suami.


"Bukannya kau suka yang begini? Kau suka ruangan yang tidak terlalu ramai, kan? Aku sudah menyingkirkan semua barang yang tidak kau sukai. Sarung bantalnya juga telah aku ganti."


"Bukannya itu sarung bantal kursi kesukaan Delilah?"


Sarung bantal bermotif khas eropa keluaran dari salah satu merek ternama dunia. Sementara Angel lebih suka sarung bantal bermotif polos.


"Aku sudah menyimpannya di tempat lain. Kita perlu mengganti suasana, kan?" Nayaka tersenyum ketika mengatakannya.


"Apa aku boleh menata rumah ini sesuai seleraku?"


"Tentu saja. Ini rumahmu. Kau boleh melakukan apa saja."


"Bagaimana dengan kamar utama?"


Nah, Nayaka terdiam karena kamar itu masih tidak diubah. Angel menyukai rumah yang tampak sederhana dan luas dan ia tidak terlalu suka perabotan. Berbanding pada sosok Delilah. Jika guci itu bagus menurut penglihatannya, maka ia akan membeli dan memajangnya di rumah.


"Kamar utama milik Kyomi. Ada kenangan ibunya di sana. Aku tidak mungkin menggantinya."


"Jangan menjadikan Kyomi alasan, Nay. Aku tahu kau masih mencintai dia."


"Kalau kau sudah tahu, kenapa masih mengungkitnya? Kau hanya akan menyakiti perasaanmu saja, Angel. Aku sudah memilihmu. Lalu, apa lagi?"


"Maafkan aku, Nayaka. Aku menjadi serakah. Aku ingin memilikimu seutuhnya."


"Jalani saja pernikahan kita, Angel. Untuk kedepannya, aku tidak ingin membahas ini lagi."


"Papa!" Kyomi berlari menghampiri.


"Ada apa?" Nayaka mundur selangkah ketika sang anak menempuh tubuhnya.


"Berikan ponsel Kyomi. Mama mau video call."


"Mamamu menelepon lagi?" Nayaka tidak percaya ini.


Kyomi mengangguk. "Iya, lewat telepon rumah. Mama bilang, pakai ponsel, teleponnya lebih murah dan Kyomi bisa lihat Mama secara langsung."


"Pakai telepon Papa saja." Nayaka mengulurkan ponselnya yang langsung diambil oleh Kyomi.


Anak itu berlari ke kamar. Nayaka ingin menyusul, tetapi di samping masih ada Angel. Ia harus memikirkan perasaan istrinya.


"Kita ke kamar saja. Kau harus istirahat," ucap Nayaka.


Di dalam kamar, Kyomi tidak bisa bicara saat Delilah menunjukkan seorang bayi yang berada dalam gendongan sang kakek.


"Itu siapa?"


"Dia adik Kyomi."

__ADS_1


"Kyomi enggak mau punya adik!"


Bersambung


__ADS_2