Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Acara Kanaka


__ADS_3

Nayaka sungguh tidak mengajak Angel pergi ke Swiss. Ia pergi bersama Kyomi, juga Omar. Nayaka tidak peduli ia dianggap sebagai suami yang tidak adil atau apalah. Sekali-kali ia ingin bertindak sesuai apa yang hatinya inginkan.


Lagi pula, Nayaka sudah menawarkan. Angel boleh pergi ke Swiss untuk liburan, tetapi tidak untuk bertemu dengan Delilah.


Untuk apa ke sana? Ingin perang lagi? Ingin menunjukkan kalau saat ini Nayaka punya istri yang harus diperhatikan? Sebenarnya, perhatian ini dalam bentuk apa? Angel seakan ingin dirinya tidak menemui Kanaka. Melupakan Delilah dan semuanya. Mana mungkin bisa begitu.


Ia tidak ingin lagi diatur oleh wanita. Cukup Delilah saja yang mengaturnya. Tidak dengan wanita lain.


Tiba di kediaman Delilah, di sana sudah ada keluarga Reyhan dan Diki. Ada juga Sara yang ikut. Nayaka masih tidak enak hati bila berhadapan dengan calon istri Kiano itu. Bagaimanapun juga, Sara pernah menyatakan cinta padanya, dan mereka akrab ketika masih kecil dulu.


"Halo, semua. Kyomi datang!" serunya yang memeluk satu per satu kerabatnya.


Nayaka canggung berada di dalam keluarga Delilah. Ya, apalagi kalau bukan karena hubungannya bersama Delilah saat ini. Namun anehnya, tidak ada yang menyinggung tentang pernikahannya bersama Angel.


Raut wajah Reyhan, Kiano, dan Diki juga biasa saja. Ketiganya malah berbincang bersama Omar. Hanya Nayaka saja yang salah tingkah.


"Kukira kau tidak jadi datang." Delilah menyambut tas yang diberikan Nayaka. "Kau bawa pesananku, kan?"


"Iya, semuanya ada di dalam tas."


Delilah berpesan untuk membawa semua permata yang Nayaka kumpulkan untuknya. Kali ini, Delilah tidak lagi membuat aksesoris dari bahan biasa, tetapi perhiasan betulan dengan emas, berlian dan batu permata.


Ia akan membuat bisnis ini di luar negeri dengan mengeluarkan nama merek sendiri. Ia punya keahlian untuk ini, dan mengapa juga tidak dikembangkan. Delilah juga akan menjual bahan makanan khas Indonesia yang tentu saja produk makanan itu dari perusahaan mendiang ayahnya.


"Aku mau mandi, Del. Mau lihat Kanaka juga."


Sara berdeham. Ia tahu kalau keduanya telah berpisah secara agama. Sementara Anna dan Maya hanya diam saja. Nayaka dan Delilah ini memang tidak bisa berpisah. Pasti keduanya saling bergantung satu sama lain.


"Aku tidak ingin bertengkar, Sara." Delilah berkacak pinggang.


"Kau tidak membawa istrimu, Nay?"


Nayaka diam saja, ia melangkah pergi menuju kamar tidur sang mantan. Delilah mendengkus. Kesal karena Sara pasti akan membuat kekacauan.


"Kau ini belum move on dari Nayaka?"


"Aku, kan, hanya bertanya saja. Kau marah kalau aku bertanya seperti itu? Nayaka memang punya istri lagi, kan?"


"Kalian ini kenapa, sih?" Anthea yang paling bijak di sini. "Bertengkar terus setiap bertemu."

__ADS_1


"Jaga sikapmu, Nak!" Maya menegur.


"Tadi malam kita sudah membahasnya. Tidak ada yang menyebut nama istri kedua Nayaka atau mempertanyakan istri kedua ayah Kyomi. Sara, kau tidak lupa, kan? Ini urusan Delilah dan Nayaka. Mereka sudah dewasa, dan kita tidak perlu ikut campur," ucap Anna.


"Kau dengar, Sara. Sudahlah, aku tidak ingin bertengkar. Aku susul Nayaka dulu."


Sekarang Delilah malas untuk berdebat, seperti dulu. Jika ia mau, Sara sudah pasti akan ciut. Delilah tidak ingin lagi terpancing dalam adu mulut yang konyol.


"Aku tidak mengira akan seramai ini. Kita buat acaranya di rumah ini? Kenapa tidak di hotel?" Nayaka duduk di tepi tempat tidur sembari mengeringkan rambutnya.


"Apa yang dikatakan Sara, ada benarnya. Kenapa tidak membawa istrimu?"


"Apa perlunya?"


"Kau takut?"


"Apa maksudmu?"


Delilah menghela. "Kau tidak ingin membawa Angel karena tidak mau membuatku sakit hati? Lalu, bagaimana perasaannya di sana?"


"Sejak kapan kau memikirkan perasaan orang lain?"


"Harusnya kau bawa saja dia." Delilah tidak menanggapi pertanyaan Nayaka tadi.


"Kau mau bilang aku pria berengsek sekalipun, aku tidak peduli." Nayaka mengatakan itu di sela kecupan bibirnya.


"Sudah, Kak." Delilah mendorong tubuh Nayaka. Ia mengusap bibirnya yang basah oleh liur pria itu. "Main sosor saja."


"Kau mengelapnya?"


"Jangan lakukan ini lagi."


"Kau juga membalasku tadi."


"Anggap aku lupa kalau kita ini sudah tidak punya hubungan apa-apa. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama lagi." Delilah merapikan baju dan rambutnya.


"Delilah. Kau bilang aku tidak boleh menyakiti hati wanita lagi. Aku jadi serbasalah."


"Aku tidak mau membahas ini. Jika aku bicara, maka aku seperti wanita jahat. Kau ayah dari anakku. Aku mengizinkanmu datang, mengingat mereka dan hubungan kita. Coba kau pikir, Kak. Aku juga diposisi yang salah."

__ADS_1


Semua keputusan ini ada pada Nayaka. Delilah tidak ingin bicara banyak sebab ia takut sebagai penyebab perusak rumah tangga Angel dan Nayaka, ya, walaupun sekarang kecupan tadi telah berkata lain.


"Jangan lagi menyentuhku!" Delilah menatap tajam Nayaka. "Aku bisa mengusirmu sekarang juga."


"Aku tidak janji."


Delilah mendengkus. "Terserahlah."


Nayaka tertawa melihat Delilah pergi dengan wajah kesal. Ia merebahkan diri di atas kasur seraya memegang bibir. Rasanya masih sama. Ia merindukan kehangatan seorang Delilah, dan sepertinya ini akan menjadi siksaan berat bagi tubuhnya.


Berlaku juga bagi Delilah. Ia membalas kecupan Nayaka. Harusnya, kan, ia tidak melakukan itu. Kebiasaannya susah untuk dihilangkan.


Acara akan diselenggarakan dua hari lagi. Rumah menjadi sibuk dengan kegiatan memasak. Karena hanya untuk keluarga, maka yang memasak keluarga juga. Tapi, Nayaka membuat syukuran di Dubai dan Indonesia lewat satu yayasan untuk kelahiran putranya.


Salah satu sudut rumah juga dihias. Delilah sengaja menyewa fotografer bayi untuk besok. Harusnya ia melakukan pemotretan bayi Newborn. Tapi si Kuno Nayaka, tidak mengizinkan itu. Takut Kanaka cedera.


"Untuk pria, tidur di hotel atau di manapun terserah," ucap Anna. "Kalau yang perempuan, boleh tidur di rumah. Besok, kumpul di sini jam 8 pagi."


"Kita tetap di sini, dong. Biar seru." Diki menyahut.


"Kamarnya enggak ada. Tidur di hotel lebih nyaman."


"Aku setuju sama Diki." Reyhan ikut menimpali. "Kita tidur sama-sama, impit-impitan."


"Betul itu, Rey."


"Itu maunya kalian!" Anna dan Maya menjawab bersamaan.


Reyhan dan Diki menyengir. Bagi yang ada pasangan pasti bisa saja tidur berdekatan. Bagi yang tidak? Bisa membuat iri. Sementara Omar, sudah menginap di hotel bersama ulama yang dibawa Reyhan dari Indonesia.


"Kiano enggak ikut. Mending tidur di hotel."


"Kita kemah saja di belakang rumah," ucap Anthea. "Ah, sayang sekali Ayyena enggak bisa ikut."


"Ya, makanya. Kan, enggak seru."


"Terserah kalian mau tidur di mana. Masing-masing bawa diri." Anna membebaskan semuanya.


"Delilah, aku tidur di mana?" bisik Nayaka.

__ADS_1


"Di luar!"


Bersambung


__ADS_2