
Delilah menepis tangan Angel ketika madunya itu mengautkan nasi goreng ke piring Nayaka. Karena ketiganya asli Indonesia, menu keseharian pun makanan nusantara.
"Biar aku saja." Delilah mengambil alih dengan menuangkan satu sendok nasi ke piring suaminya.
Setelah mendapat nasi dari Delilah, Nayaka mengangkat piringnya, lalu menyodorkannya pada Angel. "Ambilkan satu sendok lagi untukku."
Angel tersenyum, lalu mematuhi perintah suaminya. Barulah, Nayaka memakan nasi itu. Delilah menggebrak meja, ia bangun dari duduknya, kemudian berlalu pergi.
Ia tidak pernah berbagi apa pun, dan sekarang perhatian Nayaka teralih menjadi dua. Ini baru sehari, dan ia rasanya tidak tahan.
"Delilah belum menghabiskan sarapannya," ucap Angel.
"Biarkan saja. Dia lapar, maka dia akan makan."
"Dia marah padaku, Nay."
Nayaka menatap Angel. "Saat kau setuju untuk aku nikahi, kau tahu apa statusku, kan? Harusnya kau siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Tapi kau jangan takut, Delilah tidak akan menyakitimu."
Angel menggenggam tangan Nayaka. "Aku mengerti."
Nayaka melepas genggaman itu. "Kita lanjutkan makannya."
Keduanya kembali menyantap sarapan dengan nikmat. Sementara Delilah, bersiap untuk pergi. Ia butuh ketenangan. Berdiam diri di rumah akan membuatnya dalam amarah.
Selesai merias wajahnya, Delilah keluar kamar. Saat menuju beranda depan, ia melihat Nayaka yang mengusap rambut Angel, dan wanita itu mengecup punggung tangan Nayaka.
Harusnya ia yang ada di sana, tetapi wanita lain telah mengambil tempatnya itu. Delilah tetap berjalan, ia sengaja menyenggol Angel.
"Delilah!" Nayaka menegur.
"Aku tidak sengaja." Dengan entengnya, Delilah mengucapkan itu, padahal ia memang sengaja.
"Kapan kau akan bersikap dewasa?"
Delilah memutar tubuh menghadap suaminya. "Jangan mengajariku. Kau pun sama. Kau menikahi perawan tua ini karena ingin balas dendam denganku, kan? Lakukan apa yang ingin kau lakukan sampai puas."
Kemudian Delilah beradu pandang dengan Angel. "Dan kau, selamat datang ke dunia penderitaan yang kau impikan." Delilah tertawa remeh. "Aku ragu semalam kau melakukannya bersama Nayaka. Selamanya kau akan jadi perawan tua."
Setelah mengatakan itu, Delilah masuk mobil sport-nya, kemudian berlalu dari hadapan sepasang suami istri itu.
"Jangan dengarkan dia, Angel." Nayaka berkata lembut.
"Mungkin yang diucapkan Delilah benar, Nay." Ya, tadi malam beralasan lelah, mungkin malam ini juga. Mungkin apa yang Delilah katakan benar, ia akan menjadi perawan tua, meski sudah memiliki suami.
"Besok saja aku ke kantor."
__ADS_1
"Kenapa?" Angel sedikit kaget mendengarnya.
"Aku ingin bersama istriku." Nayaka tersenyum.
Angel tersipu malu. Keduanya kembali masuk rumah, berjalan menuju kamar tidur. Ini harus dilakukan. Nayaka tidak bisa selalu beralasan untuk menolak memberi nafkah batin pada Angel.
Sorenya, Delilah pulang dengan menenteng tas berisi belanjaan. Tentu ia heran melihat mobil suaminya yang terparkir rapi depan rumah, padahal ini belum jam pulang kantor.
"Suamiku sudah pulang?" Delilah bertanya sopir.
"Tuan Muda tidak jadi ke kantor, Nyonya."
"Tidak jadi?" Delilah mengulangi pertanyaan itu.
"Iya, sehabis Nyonya pergi, Tuan masuk rumah bersama Nyonya Muda."
"Hei! Siapa yang kau sebut Nyonya Muda itu? Panggil wanita itu Pelakor."
"Pelakor?" pria asal India itu bingung atas ucapan Delilah.
"Panggil saja begitu. Paham!"
"Paham, Nyonya."
Delilah masuk, meletakkan semua belanjaannya di sofa, dan langsung menuju kamar Angel. Ia menendang pintu itu, tetapi tidak terbuka.
Sekali lagi Delilah menendang pintu kayu itu. Ketika terdengar kunci diputar, Delilah langsung mendorong pintu itu, dan membuat wanita di baliknya termundur ke belakang.
Bertepatan dengan Nayaka yang baru saja keluar dari kamar mandi. Delilah melihat keadaan keduanya. Sama-sama memakai handuk, dengan rambut yang basah.
Delilah melayangkan tangannya, ia mencakar lengan Angel. "Dasar murahan!"
"Hentikan, Del!" Nayaka melerai keduanya.
Delilah seperti kesurupan, ia menarik handuk Angel hingga terlepas, menjambak rambut wanita itu, dan menendangnya.
Tidak ingin bertambah parah, Nayaka langsung menggendong istrinya, membawa Delilah keluar dari kamar Angel.
"Lepaskan aku!" teriak Delilah.
"Diam!" bentak Nayaka dengan menurunkan Delilah.
Delilah memukuli tubuh Nayaka. "Kenapa kau menyentuhnya? Kenapa kau tega padaku?" Delilah terisak.
"Aku menyentuh istriku, bukan kekasih gelapku!" Nayaka melotot pada Delilah. "Tidak seperti dirimu yang dengan mudahnya tidur bersama Ashraf."
__ADS_1
"Aku tidak tidur bersamanya!"
"Apa kau bisa membuktikannya? Kau selalu menghabiskan waktu dengannya. Kau mengunjungi apartemennya, kau pikir aku bisa dibodohi begitu saja. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, betapa kau menikmati kecupan yang pria itu berikan."
"Hanya sebatas itu!" Delilah menekankan nada suaranya.
"Ya, dan itu lumrah bagimu. Begitu juga dengan diriku. Hal wajib untuk menafkahi seorang istri."
Nayaka melangkah pergi, setelah memberi penjelasan pada istri pertamanya itu. Ia kembali masuk ke kamar Angel, menutup pintu dan menguncinya.
Tubuh Delilah merosot ke bawah. Ia menangis karena Nayaka sudah lepas dari genggamannya. Suaminya telah menjadi milik orang lain sekarang.
Rupanya bukan itu saja rasa sakit yang Nayaka berikan. Selepas kejadian itu, Nayaka tampak mesra bersama Angel. Ditambah lagi dengan diambilnya lagi Kyomi dari rumah sang ayah karena Angel merasa saat kesepian.
"Kyomi ada PR? Ayo, biar kita kerjakan sama-sama. Mama bantuin," ucap Delilah.
"Kyomi sudah kerjakan sama Mama Angel."
Kening Delilah berkerut. "Kapan?"
"Tadi, habis pulang sekolah. Kata Mama Angel, langsung kerjakan saja biar malamnya bisa santai. Ini Kyomi mau main monopoli sama Mama Angel dan Papa."
Anak itu langsung berlari, membawa perlengkapan monopoli. Memang Delilah baru pulang sore karena tidak ingin melihat wajah Angel. Tadinya ingin bersama Kyomi, sayangnya, Angel telah mendahuluinya.
Delilah berjalan menuju ruang keluarga. Ia melihat Kyomi, Nayaka serta Angel yang tertawa bahagia. Rasanya tidak tahan berada dalam posisi yang diabaikan begini.
Kembali ke kamar, Delilah mengambil koper, lalu memasukkan pakaian dan barang penting miliknya. Ia tidak tahan lagi tinggal di rumah mewah, tetapi penuh derita seperti ini. Ia akan pindah ke apartemen sekarang. Terserah kalau Nayaka ingin mengunjunginya atau tidak.
Pintu terbuka, Nayaka masuk ke dalam karena malam ini giliran Delilah. Ia tidak heran dengan istrinya yang mengepak pakaian.
"Kau ingin liburan ke mana?"
"Aku bukan mau liburan. Aku ingin pindah dari rumah ini."
"Tinggal saja di apartemen Burj Haleena. Aku akan mengunjungimu dua hari sekali."
"Terserah saja." Delilah menurunkan kopernya dari tempat tidur.
"Uang bulananmu sudah aku kirim."
"Kau tidak memotong uang bulananku, kan?" Delilah melipat tangan di perut. "Oh, iya, aku lupa. Sekarang kau adalah pria yang sukses. Kau sanggup menafkahi empat istri sekaligus."
"Aku punya dua istri, tetapi seperti menafkahi empat orang istri. Jika aku mengirim sedikit uang, maka istri pertamaku akan menghinaku, dia juga akan pergi berselingkuh dengan pria lain. Sebenarnya aku bekerja keras hanya untuknya. Tapi, apa boleh buat. Aku adalah pria biasa, sedangkan istri pertamaku itu, tidak pernah puas pada apa yang ia dapatkan."
Delilah terdiam mendengarnya, ia menarik koper, lalu keluar kamar.
__ADS_1
Bersambung