Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Sosok Bermata Biru


__ADS_3

Sekarang boleh di luar, tetapi lain kali, cepat atau lambat, ia akan tidur bersama Delilah kembali dalam satu ranjang. Nayaka tidak sabar untuk itu. Ingin cepat bersama keluarga kecilnya.


Besok paginya, semua telah memakai baju seragam putih biru. Semua keluarga berkumpul dan ikut larut dalam doa yang dipimpin oleh ulama.


Nayaka menyenggol pundak Delilah. "Kita rujuk, yuk!"


"Apaan, sih?"


"Serius. Mumpung semua keluarga kumpul di sini."


"Enggak! Kau masih punya istri."


"Kau bilang jangan menceraikan Angel. Aku harus gimana?"


"Pakai otakmu itu!"


Nayaka terkesiap. Delilah tetaplah Delilah. "Iya, aku pakai pikiranku mulai sekarang."


Selesai acara, waktunya foto-foto bersama. Keluarga memberi hadiah untuk si kecil Kanaka. Kyomi tidak mau kalah, dan untungnya telah disiapkan juga bingkisan untuk putri cantik itu.


"Halo!"


Semua menoleh pada sosok pria tinggi berkulit putih. Delilah tersenyum, menyerahkan Kanaka pada Nayaka, dan ia menghampiri pemuda asing itu.


"Hai, Vincent." Delilah memeluk dan mengecup kedua pipi pria itu.


Nayaka melotot melihatnya. Sama sekali tidak berubah. Pasti ada saja kecupan pipi yang Delilah anggap sebagai kecupan tanda persahabatan.


"Aku datang terlambat. Maaf, aku baru saja tiba dari Inggris dan langsung kemari."


"Tidak apa-apa. Ayo, bergabung bersama kami. Acara utama memang sudah selesai, tetapi kumpul keluarga belum. Kita lagi foto bersama. Kau ikut bersama kami saja."


"Aku jadi tidak enak."


"Jangan sungkan. Aku perkenalkan kau dengan keluargaku."


Apa ini? Kenapa ada pria yang memiliki mata warna biru? Lebih indah mata berwarna cokelat, kan? Delilah menyukai warna cokelat bukan warna biru. Tapi, Nayaka ingat kalau Delilah bilang ingin suami baru bermata biru, dan apakah ini orangnya?


Nayaka masih memperhatikan interaksi keduanya. Sepertinya akrab, tetapi kapan mereka berkenalan? Ini membuat hati Nayaka tidak karuan.


Akhirnya, tiba juga pria itu dikenalkan padanya. Lihat senyum manis mantan istrinya ini. Ah, Nayaka ingin membekap mulut itu, lalu membawanya masuk kamar. Bila perlu dikurung saja biar Delilah tidak dilihat oleh siapa pun.


"Kak, kenalkan, dia Vincent. Dan Vincent, ini Nayaka. Ayah dari anak-anakku."

__ADS_1


Vincent mengulurkan tangan. "Hai, aku Vincent. Teman dekat Delilah."


Teman dekat? Apa maksudnya teman dekat? Sejak kapan? Nayaka menatap Delilah lebih dulu sebelum menerima jabatan tangan Vincent.


"Nayaka. Aku ...."


"Mantan suami Delilah. Aku tahu," ucap Vincent.


Pria ini tahu dan artinya, Delilah cukup dekat bersama Vincent sampai tahu keadaan pribadi wanitanya.


"Kak, kau pegang dulu Kanaka. Aku bawa Vincent dulu untuk makan."


Dalam hati Nayaka bertanya-tanya. Siapa Vincent? Begitu cepatkah Delilah berpaling? Ya, kenapa tidak? Delilah bisa berbuat serong, dan bisa dengan mudah mendapat orang baru. Sementara ia masih tidak bisa berpaling hati, meski sudah menikahi Angel.


Vincent juga cepat akrab dengan keluarga Delilah. Orangnya humble. Mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, dan Kyomi? Nayaka membelalak melihat putrinya yang ikut-ikutan berbincang dengan Vincent.


"Dia anak dari Miss Eliza. Rumahnya di seberang sana," ucap Delilah.


Ini tidak bisa dibiarkan. Rumah Vincent berada begitu dekat. Otomatis pria itu bisa menemui Delilah kapan saja. Sudah cukup Juno, lalu Ashraf. Tidak lagi untuk Vincent.


"Delilah ...." Nayaka menegur.


Semua menoleh pada Nayaka, seakan panggilan itu terasa asing. Ia memanggil nama mantan istrinya, mengapa semua tatapan itu seakan memberitahu kalau Delilah boleh bersama Vincent. Ya, Nayaka tahu mereka telah berpisah, tetapi ada dua anak di antara mereka, dan Nayaka tidak ingin mereka berpisah lagi.


"Kanaka membutuhkanmu."


Nayaka memajukan wajahnya, lalu berbisik, "Kita perlu bicara."


Delilah tahu apa yang akan dibahas Nayaka. Ia mendorong pelan lengan sang mantan yang memegang Kanaka untuk mengikutinya ke kamar bayi.


Delilah menutup pintu, sedangkan Nayaka meletakkan Kanaka di tempat tidurnya. Keduanya saling menatap saat ini.


"Dia teman," ucap Delilah.


"Teman tapi mesra? Atau teman satu malammu? Atau calon pacar, atau calon suami? Kau harus membedakan Vincent itu masuk ke bagian mana?"


"Kau maunya dia masuk ke bagian mana? Aku bersedia dia menjadi teman, teman kencan satu malam, pacar dan calon suami. Vincent tampan. Kariernya sebagai konsultan keuangan juga bagus. Dia asli sini, tetapi tinggal di Inggris.


"Kebetulan aku juga mau pindah. Vincent masuk dalam kriteria pria idamanku. Secara fisik, aku menganggapnya sempurna. Kau, sebagai teman kecilku. Beri saran. Apakah dia cocok sebagai ayah dari Kanaka dan Kyomi?"


"Tidak cocok!" Nayaka menjawabnya cepat.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Karena mereka anak-anakku. Yang pantas menjadi ayahnya hanya aku. Tidak ada yang bisa mengganti diriku. Siapa pun, termasuk Vincent itu."


"Aku beritahu padamu. Aku menyukai Vincent."


"Tapi aku tidak suka!" Nayaka menekankan suaranya. "Dengar, Del. Dulu kau boleh bertindak semaumu. Sekarang tidak lagi. Milikku, tetaplah milikku."


Delilah tertawa kecil. Ia meremehkan ucapan Nayaka. "Aku ingin lihat kau bisa melakukan apa? Kita tidak punya hubungan apa-apa. Aku bebas menentukan kebahagianku sendiri." Delilah menjentikkan jari. Ia menemukan sebuah ide. "Mumpung di sini ada ustadz, aku minta dinikahkan saja."


Nayaka melotot mendengarnya. "Lihat aku, Delilah. Aku di sini. Aku pria yang sejak kecil mencintaimu."


"Ya, aku tahu itu. Kurasa cinta kita ini hanya sebatas adik dan kakak."


"Kau ingin menikah dengan Vincent? Kau pikir mudah memutuskan untuk menikah begitu saja?"


Delilah tersenyum meremehkan. "Kenapa tidak? Aku bisa menikahi Vincent untuk membalas semua perbuatanmu. Coba kau pikir, kau dengan gampangnya menikahi Angel untuk membalasku. Sekarang lihat, kau sendiri terkena getahnya."


Nayaka terdiam mendengarnya. Semua yang dikatakan Delilah memang benar. Ia sendiri terkena getah dalam perbuatan yang ia lakukan.


"Delilah, kumohon ...."


"Sudahlah, Kak. Kau ini selalu saja memelas padaku." Delilah berbalik, tetapi Nayaka sigap meraih tangannya.


Nayaka memeluknya erat. "Kau boleh menyiksaku lagi. Menghinaku, merendahkan diriku. Tapi kumohon, jangan menikahi pria lain."


"Sampai kapan aku tidak boleh menikah?"


"Tunggu aku, Sayang. Aku akan selesaikan semuanya."


"Aku tidak ingin bersamamu. Aku tidak ingin menjadi wanita jahat. Jangan membuatku serbasalah begini."


Nayaka pun tidak bisa menceraikan Angel begitu saja. Harus ada alasan tepat tanpa membuat Delilah menjadi penyebabnya


Delilah melepas pelukan Nayaka. "Kita harus keluar. Aku tidak mau keluarga sampai menduga hal yang tidak-tidak pada kita."


Nayaka mengangguk. Lalu, ikut bersama Delilah keluar kamar.


"Kyomi mau Papa baru?" tanya Kiano.


Nayaka dengar pertanyaan itu. Sialan Kiano. Mengapa bertanya hal itu pada Kyomi?


"Paman ini tampan. Matanya warna biru. Kyomi suka."


"Nah, Paman Vincent bakal jadi Papa baru Kyomi. Jadi, Kyomi bakal punya dua papa dan dua mama. Kalau Kyomi setuju, Mama Delilah bakal melahirkan adik bayi lagi. Pasti matanya warna biru juga, seperti Paman Vincent."

__ADS_1


"Pertanyaan apa itu?" sahut Nayaka.


Bersambung


__ADS_2