Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Tanda Tanya?


__ADS_3

Betul dugaan Nayaka. Wajah Kyomi tidak enak dipandang, bahkan anak itu enggan untuk bersamanya. Sedari tadi mengintil di belakang Reyhan.


"Ayo, Papa antar sekolah," ucap Nayaka seraya mengulurkan tangan.


"Enggak mau!" tolaknya. "Kyomi sama Kakek Reyhan saja."


"Kyomi mau naik mobil?"


Kyomi memalingkan wajah, lalu berlari menuju mobil sedan hitam milik Reyhan. Sopir membuka pintu, dan mempersilakan cucu pertama dalam keluarga Handoko dan Albert itu masuk ke dalam.


"Biar Om saja yang antar," kata Reyhan.


Nayaka mengangguk, membiarkan Reyhan berlalu melewati dirinya. Baru kali ini Kyomi lepas dari genggamamnya. Mungkin juga karena Nayaka lebih banyak menghabiskan waktu bersama Delilah ketimbang anak sendiri. Sementara Kyomi lebih banyak bersama Reyhan dan Anna saat ini.


"Kita berangkat kantor sama-sama saja," celetuk Delilah.


"Kau lihat anakmu merajuk." Nayaka memandang lekat calon istrinya.


"Nanti kita akan membujuknya."


Delilah mengucapkannya seolah hal itu sudah biasa. Namun, bagi Nayaka yang tidak pernah ingin melihat wajah Kyomi cemberut, itu merupakan masalah besar.


"Kita harus banyak menghabiskan waktu bersamanya. Aku enggak mau Kyomi itu menggangap kalau aku pilih kasih."


"Kenapa malah bicara begitu? Kita orang tuanya, kan?" Delilah merasakan keanehan pada ucapan Nayaka.


"Kan, kau sendiri baru masuk ke kehidupan kami. Cobalah untuk bersama Kyomi seharian. Jangan terus bersamaku."


Delilah tertegun mendengarnya. "Kita akan bersamanya hari ini. Sudahlah, Kak. Lebih baik kita segera ke kantor. Nanti siang kita lekas ke butik."


Nayaka mendecakkan lidah. Delilah mengatakan akan mengadakan pernikahan secara sederhana. Namun, sederhana bagi Delilah, tetapi mewah bagi Nayaka. Bisa-bisa ia tidak punya apa-apa karena menikahi gadis itu.


Keduanya berangkat menuju kantor. Nayaka tetap pergi dengan mengendarai sepeda motornya, meski Delilah beberapa kali menawarkan mobil untuk ia pakai.


Gosip di kantor saja sudah membuat panas telinga Nayaka, apalagi satu mobil bersama kekasih, yang merangkap sebagai atasan. Pasti itu akan menjadi topik paling hangat di kantor. Terlebih di media sosial, gambar Nayaka, Delilah dan Kiano bertaburan. Di sini yang menjadi korban tetaplah dirinya. Entah sampai kapan hal ini akan berlalu. Sungguh Nayaka sangat lelah menghadapinya.


Di kantor, Nayaka tetap menunjukkan sisi profesionalnya. Bekerja seperti biasa karena besoknya, pameran akan digelar di hotel bintang lima. Rancangan perhiasan hasil buah tangan Delilah akan dipamerkan di sana.


"Mary, kau sudah mengecek semua persiapan di hotel, kan?" Nayaka memeriksa berkas satu per satu. "Sofi, model Rachel dalam keadaan siap, kan?"


"Beres," sahut keduanya.


"Rachel tengah mengadakan geladi bersih saat ini." Sofi menunjukan video Rachel yang diambil rekan lainnya kepada Nayaka.

__ADS_1


"Nanti sore aku akan ke sana. Ini tim kita saja yang ikut atau bagaimana?"


"Tim kita tetap harus ikut. Kan, kita pemasaran, loh. Kau ikut terjun langsung menawarkan?" ucap Mary.


"Sudah kayak SPG saja," seloroh Sofi.


"Yang datang juga bukan orang sembarangan." Mary menyusun daftar tamu khusus undangan yang akan menghadiri acara ini.


"Jangan berdebat lagi. Yang menawarkan perhiasan bukan kita bertiga saja. Masih ada enam orang lainnya. Kita bagian mengawasi, tetapi kalau bisa membuat barang laku, kita dapat komisi," tutur Nayaka. "Ingat, kita ini bukan manager. Masih tahap karyawan biasa yang berada di divisi pemasaran.


"Kenapa kau malah mengatakan kenyataannya, padahal kami berteman dengan calon suami bu Delilah," seloroh Mary.


Nayaka menggeleng. "Kalian ini. Sudahlah, sudah waktunya makan siang. Aku harus menjemput putriku."


Ketiganya berpisah, Nayaka langsung berjalan keluar kantor, menyusul Delilah dan Kyomi yang mungkin saja sudah berada di butik. Delilah sudah keluar dari satu jam lalu untuk menjemput putrinya. Selagi Kyomi belum dekat, maka Delilah yang akan menjadi sopir yang menjemput putrinya sendiri.


Sekitar empat puluh lima menit, Nayaka sampai di butik yang kekasihnya maksud. Tempat yang sama pada waktu Delilah memesan baju.


"Datang juga akhirnya. Kamu telat." Delilah langsung menggandeng tangan Nayaka, membawanya duduk di samping Kyomi.


"Masih marah?" Nayaka memangku putrinya.


"Papa ke mana saja?"


"Papa cuma sayang Kyomi saja, kan?"


"Sayang Mama juga."


"Tapi lebih banyak Kyomi, kan?"


Nayaka tertawa. "Pastinya. Pokoknya lebih banyak Kyomi."


"Kak, ukur baju dulu. Kyomi tadi sudah selesai," sela Delilah.


"Sayang banget, dong. Papa enggak lihat Kyomi pakai kebaya."


Kyomi tersenyum. "Tapi dia sudah potret tadi."


"Panggil Mama, Sayang," bujuk Nayaka.


"Tadi Mama sudah ambil foto Kyomi," ucapnya.


Wajah Delilah berseri mendengarnya. Meski dipaksa, Kyomi masih mau memanggilnya dengan sebutan "Mama".

__ADS_1


"Kyomi duduk dulu di sini, Papa mau ukur baju dulu."


Nayaka memberi umpan pada Kyomi agar anaknya itu tidak berkeliaran di sekitar ruangan butik, dan Delilah meminta salah satu karyawan di sana memperhatikan putrinya selagi ia menemani Nayaka mengukur baju.


Bosan dengan adanya permainan di dalam ponsel Nayaka, Kyomi beranjak dari duduknya. Ia melihat-lihat baju yang dipajang, membelai dengan tangan mungilnya.


Langkah Kyomi membawanya sampai pada pintu masuk yang terbuat dari kaca tebal. Memandang lalu lalang kendaraan di jalan raya sampai matanya tertuju pada sosok yang melambai. Tangannya meraih handel besi, ia ingin keluar demi memastikan wujud pria di luar sana.


"Dek, jangan keluar," tegur karyawan wanita yang diberi tugas menjaga Kyomi.


"Hanya di depan sini," sahutnya. Kyomi keluar, lalu melambaikan tangannya juga.


Karyawan yang tidak ingin mencari masalah, lekas menarik Kyomi masuk, dan pria yang melambai tadi masuk dalam mobil.


"Lepasin!" ucapnya meronta. "Kyomi mau ke sana."


"Jangan, nanti ada yang culik."


"Bukan, dia bukan penculik."


Delilah yang mendengar keributan di luar sisi ruangan lain, lekas pergi meninggalkan Nayaka. Ponsel dan tas tergeletak di sofa, dan Kyomi menangis di tangan seorang karyawan butik.


"Apa yang kau lakukan pada putriku?" Delilah lekas meraih Kyomi. "Kau membuatnya menangis."


"Maaf, Bu. Tadi anaknya mau keluar dari butik. Tadi ada orang yang melambai pada anak Ibu."


Delilah kaget akan hal itu. "Apa ada penculik?" lantas ia langsung memeluk Kyomi.


"Saya enggak tahu, Bu. Tapi ada yang mengajak Kyomi untuk ikut bersamanya."


"Ada apa?" tegur Nayaka.


"Papa!" Kyomi melepas pelukan Delilah, lalu berlari menghampiri Nayaka.


"Kak, ada yang mengintai Kyomi. Ada yang mau culik anak kita," kata Delilah.


"Kau bicara apa, sih, Del. Memang Kyomi siapa sampai harus diculik."


"Tanya saja pada Mbak ini. Untung dia lekas membawa Kyomi masuk. Aku harus cari penjaga buat menjaganya. Kita pulang dulu saja," kata Delilah.


Nayaka mengangkat tangan agar Delilah tidak panik. "Diam dulu." Lalu, beralih dengan memandang Kyomi. Nayaka menurunkan tubuh, menyamai tingginya dengan sang anak. "Siapa yang tadi Kyomi lihat?" Nayaka bertanya dalam bahasa Perancis.


Kyomi pun menjawabnya dalam bahasa yang sama, " Kakek Omar."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2