Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Cemburu


__ADS_3

"Biarkan aku mengantarnya," pinta Delilah.


"Jika Kyomi sendiri yang menginginkan itu," sahut Nayaka yang beranjak dari duduknya kemudian membereskan meja makan.


Ia menyempatkan diri mencuci piring, sedangkan Delilah menyusul Kyomi di ruang tamu. Anak itu telah siap untuk berangkat sekolah. Tinggal menunggu Nayaka saja untuk mengantar.


"Mama sudah siapkan bekal makan siang yang baru," kata Delilah.


Kyomi memandang kotak nasi yang Delilah letakkan di meja. Anak itu meraih kotak dan botol minum kemudian memasukkannya ke dalam tas. Delilah tersenyum karena Kyomi mau menerima bekal yang telah ia siapkan.


"Kata papa tidak boleh menolak rezeki. Aku mengambilnya karena itu," kata Kyomi.


Delilah tersenyum. "Papamu memang benar. Hari ini biar Mama yang antar Kyomi sekolah."


"Kyomi lebih suka naik motor."


"Kalau naik mobil, rambutmu tidak akan kusut," kata Delilah.


"Papa sudah mengikat dan memberinya minyak. Kau jangan khawatir soal itu. Kyomi ingin papa yang mengantar," ucapnya.


"Kyomi, ini uang sakumu," kata Nayaka.


Berbeda dari Delilah tadi, Kyomi lekas bangun dari duduknya dan mengambil satu lembar uang senilai sepuluh ribu rupiah.


"Uang sakunya ditabung, ya," pesan Nayaka.


Kyomi mengangguk. "Iya, Pa."


Tidak ada yang aneh. Hanya saja Kyomi lebih memilih uang dari Nayaka yang nilainya tidak seberapa. Kyomi lantas menyimpan uang itu di sakunya. Selepas pulang sekolah nanti, maka ia akan memasukkan uang itu ke dalam celengan.


"Ayo, Kyomi. Biar Mama antar ke sekolah," kata Delilah.


"Enggak mau!" tolaknya.


Delilah menatap Nayaka. Ia ingin ayah dari sang anak memberi bujukan agar Kyomi mau bersamanya.


"Biar aku saja yang mengantar," kata Nayaka.


"Tapi, Kak. Aku ingin Kyomi bersamaku."


"Kau boleh ikut dari belakang. Jangan lagi membantah, Delilah. Sebaiknya kita pergi sebelum terlambat."


Delilah harus ektra sabar menghadapi Kyomi yang enggan bersamanya. Ia patuh atas perintah Nayaka dan merelakan Kyomi bersama sang ayah pergi bersama dengan mengendarai sepeda motor.


"Kau belum pernah merasa iri, Sayang. Lihat ketika anak-anak lain mendapatkan barang bagus, maka kau juga akan ingin memilikinya. Saat itu Mama akan menghujanimu dengan banyak keinginan yang terkabul," gumam Delilah sembari tersenyum.


Sampai di sekolah, Delilah ingin sekali protes karena Nayaka memasukkan anaknya di sekolah swasta biasa. Anak seperti Kyomi haruslah belajar di sekolah Internasional seperti dirinya.


"Kyomi salam sama Mama dulu sebelum masuk kelas, ya," pinta Nayaka.

__ADS_1


"Enggak mau," tolak Kyomi.


"Ayolah, Sayang," bujuk Nayaka.


Kyomi mengangguk, lalu menghampiri Delilah. Ia meraih tangan sang ibu, lalu mengecupnya. "Kyomi masuk kelas dulu."


"Kyomi belajar yang pintar, ya," ucap Delilah.


"Kyomi!" panggil Angel.


Delilah tidak percaya ini. Saingannya berada di sekolah yang sama. Kyomi lekas berlari memeluk Angel, dan Nayaka juga tampak senang ketika melihat wanita itu.


"Aku sudah mendapat pengasuh untuk Kyomi. Mulai hari ini bibi Asih akan bekerja," kata Nayaka.


"Artinya, aku tidak bisa bersama Kyomi lagi?" kata Angel pura-pura sedih.


"Tante harus main bersama Kyomi terus."


Angel mengusap puncak kepala Kyomi dan itu di depan mata Delilah sendiri. "Pasti, Sayang. Tante akan selalu bersama Kyomi."


"Kyomi belum mengenal bibi itu. Aku bisa tolong untuk kau menjaganya dulu," sela Nayaka.


Angel tersenyum. "Tidak apa-apa. Aku akan menjaganya."


"Kalau sempat, aku akan menjemput kalian nanti."


Angel mengangguk. "Iya. Kalau begitu, kami masuk dulu, ya."


"Kakak!" tegur Delilah.


Nayaka menoleh. "Kita cari tempat lain kalau kau ingin bicara."


"Aku akan menunggumu di ruanganku."


Keduanya sama-sama berlalu dari sekolah Kyomi dengan kendaraan masing-masing. Sampai di kantor, Nayaka langsung menemui Delilah di ruangannya. Masih ada waktu lima belas menit sebelum jam masuk.


"Kau semakin membuat yang lain curiga," kata Nayaka.


"Di kantorku tidak boleh ada yang bergosip. Jika sampai aku mendengar desas-desus yang tidak mengenakkan, maka aku langsung memecatnya," ucap Delilah.


"Kau ingin bertanya kenapa aku menyekolahkan Kyomi di sana. Jawabannya adalah karena kemampuanku hanya sebatas itu saja."


"Ibunya sangat kaya. Aku akan memindahkan Kyomi dari sana."


"Jangan sekali-kali kau menjadikan anakku seperti dirimu."


"Orang tuanya punya kemampuan dan kau tidak memberi apa yang dibutuhkan Kyomi," ucap Delilah.


"Benarkah? Apa kau dengar dia mengeluh?" tanya Nayaka. "Asal kau tahu betapa pusingnya aku mencarikan tempat untuknya sekolah."

__ADS_1


"Kau menyekolahkan dia di tempat kekasihmu," ucap Delilah.


"Kau tahu apa status Kyomi?"


"Dia anak kita," ucap Delilah.


"Dia anak tidak sah, Delilah. Dia anak yang lahir tanpa ikatan pernikahan," kata Nayaka. "Dia anak yang tidak punya orang tua. Kau ingin menyekolahkan dia di tempat istimewa. Kau ingin membongkar identitas Kyomi dan membuatnya malu begitu?"


"Aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin yang terbaik untuknya, Kak."


"Terbaik untukmu belum tentu terbaik untuknya. Apa kau siap memberitahu siapa Kyomi sebenarnya? Kau belum memberitahu keluarga dan tunanganmu, kan?"


"Ini belum waktunya. Ketika Kyomi sudah menerimaku, maka aku akan membawanya ke hadapan keluarga," ucap Delilah.


Nayaka tersenyum. "Aku akan sangat menantikan itu, Delilah. Menantikan kau mengakui jika Kyomi adalah anak dari seorang pria yang selalu dihina. Aku ingin lihat teman-teman kaya-mu itu mengejek."


Delilah tidak harus lupa. Rahasia besarnya saat ini belum terbongkar. Keluarga dan tunangannya tidak mengetahui fakta ini. Yang menjadi pertanyaan, apa Delilah mampu menghadapi ini semua. Reputasi dirinya dan keluarga di pertaruhkan di sini.


Pintu tiba-tiba dibuka dan membuat Nayaka serta Delilah kaget. Juno masuk dan menatap keduanya dengan aneh.


"J-Juno!" ucap Delilah.


"Kalian berdua ...."


"Hanya membicarakan masalah pekerjaan," jawab Delilah.


"Ketika Nayaka masih belum sempat meletakkan tas kerjanya?" kata Juno.


"Apa kami tidak boleh berbincang?" tanya Nayaka.


"Boleh saja, tapi ini sangat mencurigakan," ucap Juno. "Aku ini tipe yang pencemburu." Juno menarik pinggang Delilah. Merangkul dengan erat dan membuat wanita itu tidak nyaman. "Aku tahu kalian saling mengenal, tetapi aku tidak nyaman melihat calon istriku bersama pria lain.


"Mudah saja. Beritahu pada calon istrimu agar ia menerima surat pengunduran diriku," ucap Nayaka, lalu keluar dari ruangan Delilah.


Juno menatap tajam sang kekasih. "Apa maksudnya?"


"Jangan didengarkan. Nayaka ada masalah dan aku berusaha untuk membantunya," kata Delilah.


"Aku paling benci dibohongi. Katakan sejujurnya."


"Ini urusan perusahaanku. Kenapa kau malah ingin ikut campur."


"Kata yang Nayaka ucapkan seolah kau menahannya untuk tetap berada di sini," kata Juno.


"Dia ingin berhenti setelah menandatangani kontrak kerja. Ini tidak mungkin, kan?" ucap Delilah. "Perusahaanmu juga tidak akan menerima itu kecuali tenaga kerja itu dipecat."


"Aku sungguh tidak ingin kau dekat dengan Nayaka. Tidak peduli kalau kalian itu dulunya teman kecil," kata Juno.


"Lupakan soal itu. Sekarang jelaskan saja kenapa kau datang kemari."

__ADS_1


"Kau lupa kalau hari ini jadwal kita mengukur pakaian pengantin?" kata Juno.


Bersambung


__ADS_2