Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Dubai


__ADS_3

"Tidak, hanya saja Kakak tidak memberitahuku lebih awal."


Semua untuk Kyomi, dan memang Delilah juga menginginkan hal sama. Tapi, kalau semua, ia dapat apa? Ia tidak berpenghasilan kalau begitu. Delilah hanya bisa mengharapkan Nayaka saja. Tidak masalah, ia punya suami kaya. Saham segitu tidak ada artinya.


"Apa Kyomi akan mendapatkannya setelah dia dewasa?" tanya Delilah.


"Ya, pada saat dia berusia 19 tahun," jawab Reyhan.


"Kak, apa ini tidak terlalu cepat? Maksudku, kau seenaknya saja memberikan harta benda milikku. Ini tidak adil. Kau memiskinkan adikmu sendiri."


"Aku tadi bertanya padamu, kan? Apa kau keberatan?"


"Itu artinya, kau akan menjadi pengelolanya lagi?"


Nayaka menyela, "Kak, sepertinya Kyomi tidak perlu saham itu. Ya, aku sangat berterima kasih. Tapi kurasa tidak perlu."


"Itu, kan, bagimu. Aku juga bukan memberi saham itu untukmu. Itu hak Kyomi yang ia dapatkan dari nenek dan kakeknya," ucap Reyhan.


Delilah membatin. Ini salah ibu dan ayahnya yang terlalu percaya pada Reyhan. Hanya sang kakek saja yang sempat menulis surat wasiat untuknya. Semua peninggalan Bastian telah dimiliki Delilah. Tapi itu tidak seberapa sebab sang kakek telah memberi lebih dulu pada Dion, dan harta Dion malah Reyhan yang menguasainya. Ini sama saja tidak adil, kan?


Reyhan membatin dalam hati. Saat datang tadi, Delilah belum meminta maaf padanya. Tidak ada niat sama sekali adiknya ini untuk memperbaiki hubungan yang renggang.


"Terserah Kakak saja. Aku tidak peduli. Sekarang Kakak tidak perlu mencemaskanku. Aku sudah memiliki suami. Kau tidak perlu pusing atas tingkahku. Lagi pula aku tidak akan tinggal di sini. Kami datang kemari hanya untuk berpamitan."


Reyhan menatapnya. "Kau bermaksud memutus hubungan keluarga?"


"Kakak berpikir begitu?" Delilah mengedikan bahu. "Itu terserah Kakak."


Reyhan bangun dari duduknya. "Ya, semoga kau bahagia. Jika kau susah, jangan pernah mencari Kakakmu ini."


"Itu tidak akan terjadi."


"Del, kita di sini untuk pamitan dan minta maaf. Kenapa kau malah bicara demikian?" Nayaka menegur.


"Sudahlah, Sayang. Kak Reyhan juga tidak mau mengalah dengan adiknya sendiri. Aku akan panggil Kyomi. Lebih baik kita segera pulang."


"Tidak perlu!" suara Kiano terdengar.


Kyomi berlari menghampiri kedua orang tuanya. Gadis kecil itu mendapat hadiah tas ransel dengan merek ternama.


"Cantik, kan, tas baru Kyomi," ucapnya.


Delilah menjawab, "Cantik, Sayang. Ayo, kita pulang."


"Nanti dulu. Kyomi masih mau di sini."


"Mama bilang pulang!" Delilah sedikit menekankan suaranya.

__ADS_1


Kyomi memandang sang ayah. Nayaka mengangguk, yang artinya, mereka harus pulang. Kyomi menghampiri Reyhan, Anna, serta kakak-kakaknya.


"Kak, kami pulang dulu. Maafkan atas tingkah laku Delilah." Sebagai seorang suami, Nayaka mewakilkan istrinya untuk meminta maaf.


"Kakak!" Delilah menegur Nayaka.


"Semoga kalian selamat sampai di Dubai nanti. Beritahu kami jika kalian sudah tiba di sana," kata Reyhan.


Nayaka mengangguk. "Pasti, Kak."


Dengan tidak sabarnya, Delilah undur diri dari semua. Ia membawa Kyomi bersamanya keluar dari rumah.


"Semoga kau tahan dengan sifatnya," ujar Reyhan seraya memperhatikan Delilah.


Nayaka cuma tersenyum menanggapi ucapan Reyhan. Ia sudah biasa dengan sifat Delilah seperti itu. Bertahun-tahun hidup bersama, ia diperlakukan dengan tidak baik.


...****************...


Waktu keberangkatan tiba. Satu keluarga kembali ke Dubai. Menyongsong satu kehidupan baru di sana. Dengan satu kali transit, penerbangan itu lancar sampai ke negara paling populer di dunia.


Surga kemewahan. Orang-orang kaya yang punya harta melimpah. Mobil mewah berlalu lalang. Gedung-gedung tinggi, modern, semua ada di sini. Tapi di sini, yang disebut kaya, adalah mereka yang memelihara hewan buas.


Termasuk Omar yang memiliki dua kucing besar. Singa putih, serta satu burung elang. Saat melihat kucing besar itu, Delilah bersembunyi di balik tubuh Nayaka.


"Kyomi!" teriak Delilah. "Jangan mendekat pada singa itu."


"Tidak apa-apa. Dia peliharaan Papa," ucap Omar. "Nayaka juga punya."


"Dulu aku juga begitu, Del. Tapi kami harus punya peliharaan sebagai simbol status."


Delilah juga tahu jika orang kaya di Dubai, senang memeliraha kucing besar. Tapi, melihatnya secara langsung, Delilah tidak kuat. Ia takut di makan.


"Ayo, masuk. Papa kenalkan kalian pada semua penghuni di sini."


Mereka disambut oleh pelayan yang memang menunggu kedatangan sang tuan rumah. Ketika masuk ke rumah mewah ini, Delilah melihat dua wanita muda yang umurnya sekitaran Nayaka.


"Mereka adalah istri-istri Papa. Maryam dan Yolanda."


Melihat dua wanita cantik, Delilah memandang Nayaka. Ayah mertuanya beristri dua, dan tidak menutup kemungkinan Nayaka juga. Terlebih rata-rata sultan di sini, memiliki istri lebih dari satu.


Delilah berbisik pada suaminya. "Aku tidak setuju jika kau sampai menikah lagi."


"Apa, sih?" Nayaka terdengar kesal.


"Kakak!"


"Aku tidak akan melakukan itu."

__ADS_1


Maryam dan Yolanda menyambut anggota baru keluarganya. Secara bergantian, Delilah memeluk ibu mertuanya itu, sedangkan Nayaka bersikap tidak acuh pada dua istri siri ayahnya.


"Tuan Muda, ini Sofyan. Dia yang akan menjadi asisten pribadimu." Fahmi memperkenalkan Sofyan pada Nayaka.


"Halo, aku Nayaka."


"Sofyan, Tuan. Senang bertemu dengan Anda."


Nayaka tergelak. "Aku juga. Jangan terlalu formal padaku. Anggap saja kita ini teman."


Perkenalan itu menggunakan bahasa Inggris karena Nayaka tidak terlalu mengerti bahasa Arab. Kecil dulu, ia juga bicara pada Omar dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Setelah memutuskan untuk menetap di sini, maka Nayaka akan mempelajari bahasa dari ayahnya.


"Kalian istirahatlah dulu," kata Omar.


"Ayo, Sayang." Nayaka meraih tangan istri dan putrinya.


"Kyomi mau lihat singa."


"Tidak-tidak." Delilah berkata cepat. "Jangan membuat Mama jantungan, Sayang. Ini sudah sore. Sebaiknya kau lekas mandi dan ganti baju."


"Sebentar saja, Mama." Kyomi memelas.


"Biar Kyomi sama Papa saja. Kalian istirahat saja dulu."


Keduanya mengangguk. Jika Omar sudah berkata demikian, maka Nayaka dan Delilah tidak perlu panik.


"Wow! Seperti kamar seorang raja saja." Tak jemu Delilah memandang interior dalam kamar suaminya. "Kak, kita akan tinggal di sini?"


"Kita punya rumah sendiri. Lusa kita pindah ke sana."


"Syukurlah. Aku kurang nyaman pada ibu tirimu."


"Mereka bukan ibuku." Nayaka tidak akan mengakui itu.


Delilah memeluk suaminya. "Kenapa kau marah?"


"Siapa yang marah?" sanggah Nayaka. "Kenyataan memang begitu. Mereka tidak suka padaku."


"Kau punya adik?"


Nayaka menggeleng. "Tidak. Aku sendiri bingung kenapa Papa tidak ingin memiliki anak banyak."


Jika dipikir-pikir, ucapan Nayaka ada benarnya. "Sudahlah, kenapa kita jadi membahas istri Papa? Aku lelah, aku mau tidur sebentar."


Nayaka meraih tangan Delilah, ketika wanita itu hendak melangkah ke tempat tidur. "Main sebentar, yuk!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2