Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Kenalan Baru


__ADS_3

Bisa dibilang, kehidupan Nayaka berubah 180 derajat. Dulu, ia cuma memikirkan cara bagaimana mendapatkan bonus kerja yang banyak. Disukai atasan, dan berteman baik sesama rekan kerja. Lalu sekarang, ia harus memikirkan bagaimana cara menaikkan statusnya, hubungan kuat antar relasi dan memahami persaingan.


Nayaka harus jeli memilih mana lawan yang berkedok teman dan mana yang benar-benar tulus dijadikan sahabat. Selain itu, ia disibukkan dengan pesta yang sebenarnya sangat tidak ia sukai. Tapi apa boleh buat, memang begitulah seharusnya.


Lain halnya dengan Delilah. Wanita itu begitu menyukai pesta. Di mana ia bisa memamerkan tas koleksi terbaru, perhiasan yang dipakai, dan baju indah.


"Apa aku cocok memakai kaftan?" tanyanya.


"Cocok." Nayaka menjawab dengan malas. Sedari tadi istrinya itu belum juga kelar berdandan.


"Riasanku bagaimana?"


"Kau cantik, Sayang."


"Aku ingin jadi yang tercantik." Delilah kembali menatap dirinya di cermin. "Aku memang cantik."


Nayaka cuma bisa menggeleng. "Ayo, nanti kita terlambat."


Satu tangkapan berhasil membuat tas mahal itu berada di lengan kiri Delilah. Satu tangannya yang lain, mengapit lengan sang suami tercinta.


"Kyomi!" panggil Nayaka.


"Papa mau pergi sekarang?"


Nayaka mengangguk. "Iya, Sayang. Hanya sebentar, kok. Kyomi habis belajar langsung tidur saja."


"Kyomi sendirian. Mama juga ikut."


"Mama, kan, harus dampingi Papa." Delilah menyahut. "Hari Minggu nanti, kita jalan-jalan."


"Mama bohong. Minggu kemarin juga enggak jadi jalan-jalan."


Delilah tersenyum tidak enak. "Bukan begitu, Sayang. Habis dari arisan, Mama harus ke butik buat fitting baju pengantinnya. Minggu nanti, Papa dan Mama janji buat luangkan waktu untuk Kyomi."


"Iya, Sayang. Papa usahain bakal pulang cepat malam ini." Nayaka melepas pelukan Delilah di lengannya. Ia menunduk, lalu mengecup kening Kyomi. "Langsung tidur."


"Iya, Papa."


Delilah pun menurunkan tubuhnya hingga sejajar pada Kyomi. Satu kecupan di pipi ia berikan. "Kali ini Mama enggak bakal bohong. Selamat tidur, Sayang."


Kyomi mengangguk. Ia hanya bisa melihat kepergian Nayaka dan Delilah tanpa bisa ikut karena memang acaranya diadakan pada malam hari.


Melihat majikannya datang, sopir segera membuka pintu mobil. Delilah masuk lebih dulu, disusul oleh Nayaka kemudiaan si sopir.


Selagi mobil melaju menuju tempat diadakannya pesta, Nayaka berkata sesuatu hal yang tidak terduga. "Del, aku mau kau mengandung lagi."


"Bukannya Kakak yang enggak mau aku hamil lagi?"


"Bukan enggak mau, tapi ditunda. Sekarang kita sudah mampu. Yuk, kita tambah lagi anak."


"Kyomi masih kecil, Kak."

__ADS_1


"Justru itu, Sayang. Aku ingin Kyomi ada temannya. Dia kesepian di rumah. Selalu ditemani pengasuhnya. Paling tidak kau kurangi aktivitasmu."


"Kak, aku baru beberapa kali kumpul bersama mereka. Lagian aku selalu antar jemput Kyomi ke sekolah."


"Aku tahu, Sayang. Tapi aku juga ingin kau hamil. Aku ingin anak laki-laki."


"Nanti dulu, deh, Kak. Resepsi pernikahan saja belum digelar. Untuk saat ini, aku belum menginginkan anak lagi."


Nayaka hanya bisa menerima bila Delilah sudah berkata demikian. Ia pun tidak ingin memaksa jika yang punya tubuh enggan untuk mengandung kembali.


Sampai di hotel bintang 5, keduanya langsung menuju ballroom. Ini baru dinamakan pesta para orang kaya. Semua yang melekat pada tubuh mereka, adalah barang bermerek.


Ada musik, nyanyian serta tarian perut. Ini pesta perusahaan rekan Nayaka. Tidak baik memang kalau sampai absen dari acara ini.


Delilah sungguh tidak menyangka dengan apa yang ia lihat. Ia kira, pria yang bernama Ashraf adalah lelaki tua seumuran Omar. Rupanya pria itu masih muda. Dalam tahap kematangan yang sempurna.


Nayaka saling berpelukan bersama Ashraf, dan berbasa-basi. Delilah cuma memperhatikan, dan tidak jarang Ashraf mencuri lirik padanya.


Bisa dibilang Ashraf ini macho. Tubuhnya begitu kekar. Janggut tipis di rahangnya sangat memesona. Mata tajam itu indah, dan satu lagi kelebihannya. Ashraf adalah pria kaya.


"Sayang, kau di sini dulu. Aku ingin menyapa teman yang lain." Nayaka menunjuk sekumpulan pria yang memakai gamis putih.


"Ya, pergilah. Aku bisa mengurus diriku."


Nayaka pergi bersama Ashraf, lalu Delilah menyapa para wanita yang ikut hadir di pesta. Saat ia melihat Ashraf menjauh dari kumpulan suaminya, Delilah pun sama halnya. Ia mencari tempat yang agak lenggang. Pura-pura mengambil minuman, keduanya saling tersenyum dan menyapa.


"Hai! Aku Ashraf." Pria itu mengulurkan tangan.


Delilah mengerutkan kening karena menurutnya pria dan wanita tidak bersentuhan. Tapi ini Dubai dan di sini bebas.


"Istri Tuan Nayaka?"


"Kau sudah tahu aku datang bersamanya, kan?"


"Sepertinya dia lupa mengenalkanmu padaku."


"Apakah perlu?"


Ashraf tersenyum. "Kalau kau punya waktu, kita bisa makan siang bersama."


Delilah mengulurkan ponselnya. "Aku akan menghubungimu."


Dengan senang hati Ashraf menyimpan nomor kontak di telepon genggam Delilah. Sejak wanita itu tiba, pesonanya sudah mengundang Ashraf untuk mendekat.


"Yang mana istrimu?" tanya Delilah.


"Yang memakai gaun warna hitam."


"Hanya satu?"


Ashraf tersenyum. "Belum menemukan yang cocok lagi. Kau cantik, dan aku suka."

__ADS_1


"Kau juga tampan, Ashraf." Delilah berlalu setelah mengucapkan itu.


"Aku tunggu teleponmu, Delilah." Ashraf tersenyum.


Acara utama digelar. Ashraf naik ke atas panggung dan memberi beberapa kata sambutan. Namun, pandangannya malah jatuh pada Delilah. Tidak henti pria itu menyunggingkan senyum manisnya.


"Sepertinya Tuan Ashraf begitu senang," celetuk Nayaka.


"Memangnya salah kalau dia bahagia?" Delilah menyahut.


"Tidak, sih."


"Sudahlah, kita nikmati pestanya setelah itu pulang."


Nayaka mengiakan. Belum selesai pesta itu, mereka pamit untuk pulang lebih dulu. Memang Ashraf menyayangkan tadinya. Tapi, saat melihat senyum Delilah yang penuh arti, Ashraf sepertinya mengerti.


"Berapa umur Tuan Ashraf itu?" Delilah bertanya ketika mereka telah berada di mobil.


"Sekitar 38 tahun. Kenapa memangnya?" Nayaka menatapnya lekat.


"Aku kira dia seumuran dengan Papa."


"Begitu rupanya. Aku hubungi rumah dulu. Kyomi sudah tidur apa belum."


Delilah mengiakan, dan ia membiarkan Nayaka menghubungi rumah. Sementara dirinya, mencoba mengirim pesan pada Ashraf. Hanya untuk berkenalan, Delilah rasa itu tidak menjadi masalah. Baginya, yang tertampan tetaplah Nayaka seorang.


"Kyomi sudah tidur," kata Nayaka.


"Apa?" Delilah terkesiap dan ia langsung membalikkan ponsel.


Kening Nayaka berkerut. "Kau kenapa?"


"Tidak, Sayang. Aku kaget saja."


"Kemarilah!"


Delilah mendekat, lalu Nayaka membisikkan sesuatu yang membuat wajahnya memerah. Delilah mencubit perut suaminya. "Dasar genit!"


Nayaka menaik-turunkan alisnya. "Bagaimana?"


"Iya, kita lakukan di sini."


"Percepat laju mobilnya, Pak," ucap Nayaka pada sopir.


"Baik, Tuan."


Mobil melaju cepat menuju rumah. Setelah sampai, Nayaka memerintahkan sopir untuk segera keluar, dan meninggalkan area garasi mobil.


"Di depan atau di belakang sini?" tanya Delilah.


"Kau suka yang mana?" Nayaka memberi pilihan.

__ADS_1


"Kurasa di belakang lebih nyaman."


Bersambung


__ADS_2