Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Pameran


__ADS_3

Kyomi pergi bersama Delilah dan keluarga ke hotel, sedangkan Nayaka sempat pulang tadi siang, lalu sorenya berangkat sendiri lagi karena ia adalah bagian dari tim promosi.


Nayaka bukanlah kekasih Delilah saat ini, tetapi sebagai seorang karyawan perusahaan. Ia berbaur bersama yang lain, meski ada saja bisik-bisik yang tidak mengenakkan terdengar.


Ada yang bilang ia tidak pantas masuk dalam keluarga konglomerat itu. Ada juga yang bilang aji mumpung, sok profesional, dan segala hal yang membuat Nayaka ingin sekali mengatakan identitas aslinya.


Tapi buat apa? Nayaka bukan pria seperti itu. Ia enggan memamerkan segalanya yang ia punya, terlebih harta itu sendiri berasal dari Omar.


Saat rombongan Delilah datang, acara pun dimulai. Pertama diiringi dengan kata sambutan oleh pemilik dan perancang perhiasan dengan nama brand Delano Jewerly.


Delilah mengatakan kalau nama itu adalah gabungan dari nama kedua orang tua dan dirinya. Mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar, anak dan terakhir yang tidak diduga oleh Nayaka, kekasihnya itu mengucapkan terima kasih padanya, meski Delilah tidak menyebut secara langsung nama pria yang menjadi pengisi hatinya.


Penampilan Delilah juga anggun. Dengan mengenakan gaun hitam satin bertali sejari, dan perhiasan mewah yang melingkar di lehernya, menjadikannya tampak glamour. Sesuai tema, dan Delilah menunjukkan siapa ia sebenarnya. Seorang anak, adik dari konglomerat ternama.


Selesai penyambutan itu, model yang ditunjuk untuk memamerkan perhiasan, mulai berjalan berlenggak-lenggok di atas panggung. Semua mata tamu undangan berpusat pada mereka. Namun, Delilah mencari-cari keberadaan dari kekasihnya.


"Kyomi sama Nenek Anna dulu, ya! Mama mau ke toilet sebentar." Alasan Delilah agar bisa pergi mencari Nayaka.


Kyomi mengangguk. Delilah lekas bangun dari duduknya, meski Reyhan tengah memelototinya saat ini. Tidak seharusnya Delilah lari dari acaranya sendiri, tetapi bertemu dengan kekasih lebih penting bagi Delilah.


"Ke mana dia?" Delilah mencoba menelepon. Saat ponsel didekatkan pada daun telinga, lengannya ditarik.


Delilah ingin berteriak, tetapi Nayaka lekas memberitahu siapa ia. Keduanya berada di balik panggung yang ditutupi dengan kain hitam.


"Kau membuatku kaget." Delilah menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang.


Nayaka menurunkan pandangan pada dua belahan yang menyembul di balik gaun yang kekasihnya kenakan. "Bukannya semalam aku sudah memberi tanda padamu. Kenapa bisa hilang?"


Delilah tersenyum. "Hanya wanita yang pandai mengatasi masalah ini."


Nayaka merangkul pinggang ramping itu, merapatkan tubuhnya pada tubuh indah yang berkali-kali ia cicipi. "Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak memakai gaun ini. Sekarang kau malah mengenakannya. Kau sengaja, kan?"


"Bagaimana penampilanku?" Delilah bertanya dengan percaya dirinya. Ia yakin Nayaka akan terpukau akan pesonanya. Bukan lagi yakin, tetapi Nayaka memang selalu tunduk pada dirinya yang sempurna.


"Kau biasa saja."


Senyum Delilah memudar. "Apa?"

__ADS_1


Nayaka tidak lagi meminta izin, ia langsung mengecup bibir lembab itu. Memagutnya sebentar, lalu melepasnya.


"Jangan sekarang, lipstikku akan belepotan."


"Karena kau memakai gaun ini, aku tidak tahan menunggu sampai hari pernikahan kita."


"Ada apa denganmu? Gairahmu akhir-akhir ini jadi naik." Delilah terlihat heran.


Nayaka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ini karena dirimu. Kau selalu saja menggodaku."


"Aku biasa saja, kok." Delilah membela diri.


Nayaka melepas rangkulan tangannya di pinggang Delilah. "Kau kembali ke tempatmu. Setelah model Rachel memamerkan kalungnya, kau menyusul naik ke atas panggung."


"Yakin, kau ingin melepaskanku?" Delilah menurunkan sebelah tali gaunnya.


"Sayang, jangan membuat kekacauan. Cepat balik ke tempatmu."


"Iya, sabar, dong. Lihat dulu wajahku. Ada lipstik yang belepotan tidak?" tanya Delilah.


Delilah mendengkus melewati Nayaka untuk kembali pada kursi yang telah beberapa menit ia tinggalkan. Selesai model utama berjalan, Delilah naik panggung sekali lagi untuk menerima karangan bunga. Tamu undangan yang hadir memberi tepuk tangan meriah, lalu acara dilanjutkan dengan memperlihatkan koleksi perhiasan yang lain.


Nyonya dan Nona berduit menyerbu perhiasan yang berada dalam kotak akrilik. Delilah pun berbaur dengan berfoto bersama mereka, sedangkan Nayaka dan tim-nya, melakukan apa yang menjadi tugas mereka. Menjelaskan bagian dari detil rancangan perhiasan agar calon pembeli semakin tertarik.


"Papa!" seru Kyomi, yang menarik kemeja Nayaka.


"Papa lagi kerja, Sayang. Kyomi sama Mama dulu, ya."


"Enggak mau. Mama Delilah sibuk foto."


Nayaka melihat Delilah yang asik bersama teman-temannya di sana. Ia melupakan Kyomi yang tidak bisa ditinggal.


"Kakek sama Nenek mana?" tanya Nayaka.


"Kakek Reyhan di sana. Kyomi mau pulang saja. Kyomi enggak suka di sini."


Kalau sudah ada angin rewelnya, Kyomi harus dituruti. Nayaka memanggil Mary untuk menggantikannya sementara, lalu membawa Kyomi keluar dari tempat acara.

__ADS_1


"Kenapa Kyomi tidak tinggal saja di rumah? Papa, kan, harus kerja, Sayang."


"Kyomi enggak mau ditinggal. Kita pulang saja. Kyomi mau tidur."


Nayaka memijat keningnya. "Papa telepon mama dulu."


Telepon tersambung, tetapi Delilah tidak mengangkatnya. Ya, karena memang ibu kandung Kyomi tengah menjamu tamu yang hadir. Sungguh tidak sopan bila Delilah mengangkat telepon atau pergi meninggalkan kumpulannya.


"Tidur di sini saja, ya?" Nayaka mencoba memberi pilihan.


"Tapi Papa temani Kyomi."


"Iya ... Papa pesan kamar dulu."


Keduanya berjalan menuju bagian resepsionis. Nayaka memesan satu kamar deluxe untuk putrinya, dan memang sepertinya Kyomi sangat mengantuk.


Setelah mendapat kamar, Nayaka dan Kyomi masuk lift menuju lantai tiga, tempat kamar mereka berada. Nayaka menggesek kartu kuncinya, lalu masuk bersama Kyomi.


"Cuci tangan dan kaki dulu, Sayang. Baru naik ke tempat tidur." Nayaka membuka pintu kamar mandi agar putrinya menghilangkan kebiasaan malas untuk langsung naik ke atas kasur.


Kyomi membuka sepatunya dulu. Tanpa alas kaki, ia berjalan masuk ke bilik mandi. Kyomi juga menggosok giginya di sana dengan sikat baru yang disiapkan oleh pihak hotel.


"Kyomi sudah selesai, Pa!" serunya.


Nayaka masuk dengan membawa sandal hotel. "Ini, nih, kalau terus banyak main. Ngantuk, ganggu kerjaan Papa. Besok-besok enggak boleh kayak begini lagi."


Kyomi diam saja, ia naik ke atas tempat tidur, merebahkan kepalanya di atas bantal, lalu memejamkan mata. Tidak butuh waktu lama, Kyomi sudah hanyut dalam buaian mimpi.


Deringan telepon terdengar, Nayaka menghela napas ketika memandang nama yang tertera di layar ponselnya. Delilah pasti baru sadar telah kehilangan seorang anak.


Nayaka mengangkat telepon itu. "Ya, kenapa?"


"Kau di mana? Kyomi ada bersamamu?"


"Iya, Kyomi ngantuk, minta pulang. Kami di kamar 305 C." Nayaka langsung memutus telepon secara sepihak. Ia jadi tidak lagi bersemangat untuk kembali ke tempat acara. Entah karena kecewa pada Delilah atau karena tidak ingin meninggalkan Kyomi sendirian. Semua jadi campur aduk.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2