Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Salam Perkenalan


__ADS_3

Delilah menerima dua ratus Poundsterling dari Nayaka. Gaji pertama ayah anaknya dari bekerja paruh waktu di sebuah kafe. Memang lebih besar dari penghasilan dirinya ketika mendapat pesanan perhiasan. Tapi, Delilah tetap menyambut pemberian Nayaka dengan senang hati.


"Tidak cukup?" Nayaka mempertanyakan itu ketika Delilah diam saja.


"Kau sudah memberiku uang, maka aku akan membelanjakannya." Delilah mengatakannya sembari tersenyum.


"Aku belum mendapat panggilan dari perusahaan. Aku hanya bisa memberi uang segitu saja."


"Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha. Uangnya akan aku belanjakan dengan baik."


"Bilang saja jika kebutuhan rumah ada yang kurang. Aku akan membelinya."


Delilah mengangguk. "Aku akan beritahu padamu."


"Mumpung ini Sabtu. Bagaimana kalau jalan ke taman?"


"Boleh juga. Aku ganti baju Kanaka dulu."


"Kyomi!" Nayaka bangun dari duduknya menuju dapur. Nayaka terlihat bangga pada putrinya. Kyomi mau membantu Santi mengerjakan pekerjaan rumah. "Sudah selesai lap piringnya?"


"Tinggal satu piring lagi." Kyomi menyeka piring yang telah dicuci oleh Santi.


"Habis ini Kyomi ganti baju. Kita pergi jalan-jalan."


"Beneran?" mata Kyomi berbinar mendengarnya.


"Iya, Sayang. Ganti bajumu. Kita jalan ke taman."


Kyomi bersorak senang. Ia menyelesaikan pekerjaannya, lalu berlari menuju kamar. Sekolah akan dimulai Senin depan, dan Kyomi belum jalan-jalan ke kota London.


Ayahnya sibuk bekerja dari pagi sampai sore. Lalu, sang ibu harus membuat perhiasan pesanan pelanggan. Untungnya ada Kanaka dan Santi yang menemaninya.


"Haruskah Kyomi panggil Mama dengan sebutan Mom?" tanyanya.


Kening Delilah berkerut. "Kenapa harus diubah?"


"Kita tinggal di London."


"Tidak perlu, Sayang."


"Dari sini Paris tidak jauh. Kita bisa berkunjung ke sana, kan?"


Delilah mengangguk. "Tentu saja, Sayang. Kau lahir di sana. Paris juga punya kenangan indah. Tapi London sangat berkesan."


"Oke. Tapi Kyomi merindukan Paris, juga Dubai."


Satu kata terakhir, ia ucapkan dengan pelan. Delilah tidak mendengar kota terakhir yang putrinya sebutkan.


"Kita sekalian belanja saja untuk perlengkapan sekolah."


Kyomi mengangguk. "Ya, ide bagus."


Setelah semua siap, Nayaka pergi bersama Delilah dan dua anaknya. Tiba di luar, Delilah heran melihat mobil sedan warna hitam. Memang bukan kendaraan mewah, tapi aneh saja. Sejak kapan ada mobil? Itu yang menjadi pertanyaannya.


"Aku tahu apa yang kau pikirkan." Nayaka bersuara lebih dulu sebelum Delilah melancarkan pertanyaan.


"Aku menghabiskan uang simpananku untuk membeli mobil ini. Kita punya bayi, dan kendaraan ini juga bisa kau pakai untuk mengantar pesanan. Kau bisa berbelanja tanpa harus naik kereta atau bus."


Delilah mengembuskan napas kasar. "Kenapa tidak bilang? Sepertinya kita memang butuh kendaraan. Tapi akan sulit untuk mengurus izin berkendara."


"Itu sudah prosedurnya." Nayaka membuka kursi belakang. "Masuk dulu."


Delilah duduk di belakang, sedangkan Kyomi di kursi depan. Memang sedikit merepotkan membawa anak bayi. Selain kereta, tas perlengkapan untuk si kecil juga tidak lupa dibawa.

__ADS_1


"Mumpung masih sore. Kita ke taman Proud Of View dulu. Di sebelahnya juga ada pasar kecil. Aku ingin beli perlengkapan sekolah Kyomi," ucap Delilah.


"Iya, kita ke sana."


"Kyomi mau tas yang ada di majalah ini, Mom."


"Mom?" Nayaka menoleh pada putrinya.


Kyomi menyengir. "Panggil Mommy dan Daddy."


"Panggil Papa dan Mama saja. Biar beda kalau di sini," kata Nayaka.


"Coba Mama lihat. Kau mau tas sekolah yang mana?" Delilah mengulurkan tangan.


Kyomi memberikan ponsel miliknya. Tas yang diinginkan sang anak adalah tas bermerek. Delilah punya barang itu, tetapi berada di Dubai.


"Sekolah tempat untuk belajar, Kyomi. Bukan untuk bergaya. Pakai tas biasa saja."


Nayaka terbatuk mendengarnya. "Tumben."


"Yang aku katakan benar, kan?"


"Saat kau sekolah dulu, kau memakai tas mahal."


"Aku cuma ingin Kyomi punya teman yang tulus. Sahabat yang tidak memandang dirinya kaya. Kyomi tidak perlu mentraktir mereka agar bisa bermain bersama."


Jadi ingat masa lalu. Delilah merasa ia dihormati karena dirinya anak orang kaya. Semua yang ia kenakan adalah barang mahal. Banyak teman yang ingin dekat, tetapi seperti memanfaatkannya. Delilah mau kalau Kyomi punya teman yang benar-benar tulus.


Nayaka mengusap lembut puncak kepala putrinya. "Kyomi mau pakai tas biasa?"


"Iya, Kyomi mau pakai tas apa saja."


"Kyomi pasti dapat tas itu. Punya Mama ada banyak. Lebih bagus dari itu juga ada. Nanti Papa suruh Kakek Omar kirim, ya?"


Kyomi mengangguk. "Iya ...."


"Dad, Kyomi mau es krim." Kyomi menunjuk penjual di bagian sudut taman.


Nayaka menggeleng. "Panggil Papa, Kyomi."


"Ayo, Papa. Kita ke sana."


Nayaka merogoh uang di sakunya, lalu memberikannya kepada Kyomi selembar. Anak itu berlari setelah mendapat uang menuju konter es krim.


"Kita tunggu Kyomi di bangku itu saja." Nayaka menunjuk bangku kosong taman.


"Kanaka sepertinya suka di sini," ucap Delilah.


"Kalau begitu, kita harus sering membawanya kemari." Nayaka tersenyum saat mengatakannya. "Kita seperti keluarga, kan?"


"Kita memang keluarga."


"Maksudku, kau dan aku. Sepasang suami istri."


Delilah tidak menanggapi. Mereka memang seperti itu. Hanya saja belum ada ikatan pernikahan. Delilah nyaman bersama Nayaka tanpa ikatan.


"Kau anak baru di sini?"


Kyomi menoleh pada dua orang anak lelaki yang seusia dengannya. "Hai, aku Kyomi."


"Kau anak baru?" Anak lelaki berambut pirang bertanya pada Kyomi.


"Iya, aku baru pindah kemari." Kyomi mengambil satu cup es krim beserta uang kembaliannya. "Senang bertemu kalian. Aku permisi."

__ADS_1


Kyomi melanjutkan langkahnya menyusul orang tuanya yang duduk di bangku taman.


"Selamat datang, Teman!"


Kyomi terjatuh. Es krim yang dipegang dan uang kembaliannya juga. Ia tertawakan oleh dua anak lelaki itu.


Kyomi bangkit berdiri. Ia mendorong anak laki-laki berambut pirang. "Apa masalah kalian?"


"Kau mendorongnya," ucap rekan anak itu yang memakai kawat gigi.


"Kalian mendorongku dan membuat es krimnya jatuh. Kalian harus menggantinya." Kyomi juga ikut mendorong anak yang memakai gigi kawat itu.


"Nak, kau mendorong putraku." Seorang pria berbadan gemuk yang memakai kalung emas menegur Kyomi.


"Putramu yang mendorongku lebih dulu. Lihat, dia membuat es krim milikku terjatuh. Kau harus menggantinya, dan minta maaf padaku."


"Kau siapa?" Pria itu mendorong Kyomi hingga terjatuh.


"Papa!" teriak Kyomi.


Delilah dan Nayaka menoleh. Baru sekejap tiba-tiba sudah ada yang berkerumun. Nayaka bergegas menghampiri putrinya.


"Ada apa, Sayang?" Nayaka membantu Kyomi berdiri.


"Orang ini mendorong Kyomi."


Nayaka menatap sengit pria berbadan gemuk itu. "Ada masalah apa, Kawan? Kau mendorong putriku."


"Dia mendorong anakku. Bukan hanya anakku, tetapi temannya juga."


"Apa itu benar, Kyomi?"


"Mereka lebih dulu mendorong Kyomi. Es krim dan uangnya jatuh."


"Aku harap kau minta maaf pada putriku," kata Nayaka.


"Kau lebih percaya pada putrimu. Jelas sekali dia mendorong putraku."


"Kau juga percaya putramu, kan? Bagaimana kalau dia berbohong? Putramu dulu yang mendorong putriku."


"Lantas kau mau apa?" Pria gemuk itu mendorong Nayaka.


"Kau ingin main kekerasan denganku?" Nayaka pun mendorong pria itu. "Putramu yang salah, tapi kau malah mendorong putriku."


"Putrimu yang salah!"


Pertengkaran tidak dapat terelakkan lagi. Nayaka beradu mulut dengan si Gendut. Untungnya ada yang melihat jika anak dari lelaki gemuk itu yang mulai lebih dulu.


"Kau mau menyangkal apa lagi? Aku minta kau dan putramu minta maaf!" ucap Nayaka tegas.


"Baik. Aku minta maaf. Ayo, Nak. Kita pergi."


Pria gendut itu malah langsung kabur saja. Nayaka tentu saja tidak terima. Saat ia ingin mengejar, Delilah menghalangi.


"Sudah, Kak. Dia juga sudah minta maaf."


"Kau lihat permintaan maafnya, kan? Itu tidak tulus."


"Biarkan saja. Dia sudah minta maaf di depan banyak orang tadi. Tapi ... tumben sekali kau tidak mengalah. Biasa kau malah membuat dirimu yang salah."


"Aku ingin menjadi Ayah yang bisa diandalkan. Kyomi tidak salah, maka aku akan membelanya."


Delilah tersenyum. "Jadi, kau tidak perlu bantuanku lagi?"

__ADS_1


"Sekarang, aku yang akan melindungi kalian."


Bersambung


__ADS_2