
Keduanya beranjak dari kamar. Nayaka dan Delilah mengunjungi taman belakang rumah. Tanaman mawar yang ada di sana begitu terawat, dan memang Delilah menyewa tukang kebun yang setiap hari datang untuk memeliharanya.
Nayaka duduk di bangku ayunan menghadap bunga hias itu, disusul oleh Delilah yang mendaratkan diri di sampingnya.
"Dulu mama dan papa suka sekali bersantai di sini." Delilah mencoba mengenang Dion dan Dila. "Kau tahu, kan, bunga di sini papa tanam sebelum ia menikahi mama. Dari sebelum mendapatkan mama, papa sudah bucin duluan."
"Ya, papamu memang begitu mencintai mama Dila. Mau wanita secantik apa pun yang menggodanya, ia tidak mudah berpaling."
"Sama sepertiku, kan?" Delilah menoleh pada Nayaka. "Mau aku bersama siapa pun, aku tetap kembali padamu."
Delilah menjatuhkan kepalanya di pundak sang kekasih, dan Nayaka merangkulnya. Keduanya saling bertatapan sejenak sampai pada akhirnya, kedua bibir itu saling menyatu.
"Aku harus patuh sampai pada hari pernikahan, kan?" Nayaka mengingatkan sang kekasih, meski saat ini hasratnya tengah naik.
"Sebenarnya aku senang karena kau yang memintanya lebih dulu."
Kecupan lembut mendarat di puncak kepala Delilah. "Aku selalu malu untuk memintanya dan aku selalu ingin memperlakukanmu dengan lembut."
"Bukannya kau terlalu cinta padaku sampai apa pun yang kukatakan, kau menurutinya?"
Nayaka tersenyum. "Mungkin benar. Aku selalu menurutimu karena tidak ingin kau meninggalkanku."
Delilah menarik diri dari pundak Nayaka. Ia bangun dari duduknya, lalu berpindah posisi dengan berpangku pada Nayaka. Kursi ayunan sempat terguncang, dan Nayaka sigap memeluk pinggang kekasihnya.
"Meski tidak tidur bersama, bukan berarti aku melarangmu menyentuhku. Kau bisa menikmatiku pada bagian tertentu, kan?" Delilah mengedipkan sebelah matanya menggoda Nayaka.
"Kebetulan di sini dingin. Berpelukan kurasa tidak masalah. Hanya saja, jangan sampai kau memintaku membawamu ke kamar."
Delilah mencubit lehernya. "Aku janji tidak akan memintamu membawaku ke kamar."
Nayaka tertawa kecil, menekan tengkuk belakang Delilah agar ia dapat memagut bibir manis itu. Entah bagaimana, jemari nakalnya sudah menekan-nekan gundukan lembut pada tubuh Delilah.
Mencari-cari kancing baju itu untuk membuka, tetapi sayang ia tidak menemukannya. Delilah melepas tautan bibirnya. Membuka langsung blouse yang ia kenakan, dan hanya menyisakan berenda putih di tubuhnya.
Begitu leluasa jemari Nayaka memainkannya. Melepasnya dari sekapan berenda putih itu. Memilin ujungnya, menekan kelembutan yang berhasil membuat Delilah merintih.
Tanpa dituntun, Nayaka tahu apa yang ingin kekasihnya inginkan. Ia membenamkan wajahnya di sana. Memenuhi bibirnya dengan ujung kelembutan itu.
Tangan Delilah mencengkeram lembut rambut Nayaka. Menggulungnya dalam pola lingkaran dengan sesekali mengusap punggung belakang pria itu.
__ADS_1
Nayaka melepas bibirnya, lalu kembali memagut manisnya bibir Delilah. Ia membuat kekasihnya itu duduk berhadapan dengannnya. Posisi yang pas untuk menikmati bagian bawah dagu.
"Jangan membuatnya membekas. Besok malam, aku akan memakai gaun berpotongan leher rendah." Delilah mencoba memberitahu ketika ia merasakan sesapan kuat bibir Nayaka.
"Bagaimana kalau di sini?" Nayaka menunjuk bagian permukaan dari gundukan milik Delilah.
"Tidak boleh juga. Gaunnya menampakan bagian itu."
Nayaka menggeleng. "Kalau begitu, aku akan membuat tanda merah di sini. Kau tidak boleh memperlihatkannya pada orang lain."
"Tidak terlalu rendah, kok. Hanya sedikit saja." Delilah mengutuk dirinya karena kelepasan bicara mengenai gaun.
Nayaka tahu kalau Delilah pasti berbohong. Sebab itu, ia mencucup bagian permukaan atas itu secara kuat.
"Aku harus pakai kalung," kata Delilah cepat.
"Sayangnya aku sudah membuat tanda." Nayaka mengusap lembut tanda yang telah ia buat. "Kurasa besok pagi, kau akan sibuk."
"Sayang!" gerutu Delilah.
Nayaka tertawa, lalu kembali mencucup milik kekasihnya. Seakan ia tidak pernah puas, selalu haus sampai tidak mau berhenti sebelum dahaga itu terpenuhi.
Pagi hari membuat Delilah begitu sibuk. Ia menyiapkan sarapan untuk buah hati dan kekasihnya. Belum lagi mendandani anak itu tanpa bantuan dari pelayan maupun Nayaka.
Ia sendiri yang ingin melakukannya, meski harus adu mulut dengan Kyomi yang masih ingin diurus oleh Nayaka. Delilah ingin anak perempuannya juga melihat ia sebagai ibu yang perhatian. Bukan hanya pada Nayaka saja perhatian Kyomi terpusat.
"Nah, Kyomi sudah cantik. Rambutnya sesuai sama keinginan papa." Delilah membuat Kyomi membelakangi cermin rias agar bisa melihat rambutnya.
Sedikit susah, tetapi Kyomi bisa melihat pita kecil yang disematkan pada setiap kepangannya. "Kepangannya bagus."
"Iya, dong. Kan, Mama yang buat."
Kyomi tersenyum. "Makasih ...."
Ucapan yang membuat hati Delilah bahagia. "Kita sarapan, yuk! Papa pasti sudah menunggu di ruang makan."
Kyomi mengangguk, lalu melingkarkan tangannya pada lengan Delilah. Keduanya keluar kamar, berjalan beriringan menuju dapur yang mana Nayaka sudah menunggu di sana.
"Papa tidak ke kantor?" Kyomi bertanya karena ia heran melihat Nayaka yang tidak memakai kemeja, melainkan hanya kaus berkerah.
__ADS_1
"Datang, tapi Papa harus ke hotel."
"Kyomi nanti ke rumah Kakek Reyhan saja, ya!" Delilah menimpali.
"Tapi Kyomi diajak pergi ke sana malam nanti, kan?"
"Iya, tapi Papa dan Mama harus kerja dulu hari ini. Malamnya baru kita ke sana," kata Nayaka.
Selesai sarapan bersama, Nayaka langsung berangkat menuju hotel untuk melihat lagi persiapan pameran mereka. Sementara Kyomi mengikuti Delilah yang tengah memilih gaun untuk dikenakan nanti malam.
"Ini semua karena Nayaka. Sudah dibilang jangan meninggalkan bekas, malah enggak dengar." Delilah mencoba menutupi bintik merah di bagian atas tubuhnya dengan concealer, dan itu berguna sekali. "Syukurlah, nanti bisa pakai gaun hitam ini."
"Kenapa leher Mama merah-merah? Digigit nyamuk?"
Delilah terkesiap mendengarnya. "Iya, Sayang. Mama digigit nyamuk."
"Kok, Kyomi enggak?"
Tadi malam, Kyomi dan Delilah tidur bersama, sedangkan Nayaka tidur di kamar tamu. Wajar jika Kyomi bertanya mengapa ia tidak digigit nyamuk juga.
"Oh, itu, karena Mama kasih Kyomi lotion anti nyamuk, makanya Kyomi enggak digigit."
Kyomi mengangguk. Lalu kembali memperhatikan ibunya. Delilah yang asik memandangi cermin, mengoleskan skincare di wajah dan pelembab khusus untuk bibirnya.
Kyomi pun mengikuti tingkah laku ibunya itu. Ia mengoleskan pelembab bibir di bibirnya yang mungil. Delilah mengoleskan lotion di badan, Kyomi pun mengikutinya. Tidak lama lagi, ibu dan anak akan bersatu.
Sementara, Nayaka tengah kesal saat ini. Baru juga datang ke hotel, ia telah dihadapkan dengan pria yang tidak ingin ia temui.
"Paman menginap di hotel ini? Atau Paman sengaja memata-mataiku?" Nayaka berdecak.
"Pulang sekali saja. Tuan Omar ingin pensiun, dan kau harus mengambil alih semuanya." Fahmi mengatakan maksud dari tujuannya datang menemui Nayaka.
"Aku akan pulang, tapi nanti setelah dia menceraikan dua istrinya itu." Nayaka terkekeh. "Itu tidak mungkin, kan? Kebiasaan Omar tidak akan berubah." Nayaka menepuk pundak Fahmi. "Siapkan saja semuanya. Aku akan ambil alih."
"Kau juga harus pelatihan, Nak. Selama ini kau ...."
Fahmi berhenti ketika Nayaka mengangkat tangannya. Ia menatap tajam Fahmi. "Aku sudah lelah dengan ini semua. Dia yang membuatku seperti ini. Aku akan pulang, dan membuat semuanya menderita."
Bersambung
__ADS_1