
"Kau sungguh ingin berdekatan dengan dia? Pengemis seperti itu. Ingat, Delilah, kau sudah cukup membantu Nayaka," ucap Fely. "Kau ingat waktu dia dipukuli oleh teman-temannya, kan? Karena itu juga kakekmu sampai marah."
"Aku mengenal dia lebih dari yang kalian tahu. Kalian hanya melihat Nayaka yang lemah saja. Jangan lagi membahas ini. Jika kalian ingin makan, aku akan traktir," ujar Delilah.
"Kami tidak butuh. Aku ingin lihat apa Juno bisa melihat tunangannya makan bersama pria lain."
Delilah tersentak. "Aku pergi makan bersama temanku dan kalian ingin mengadu?"
"Teman atau pacar masa kecilmu?" ucap Chika. "Kami masih tidak percaya saat kau pergi ke Inggris untuk pendidikanmu. Nayaka juga berada di sana, kan?"
"Apa-apaan kalian ini?" Delilah mulai marah. "Maksudmu aku tidak bisa pergi ke mana pun jika Nayaka ada di sana? Kalian tahu London adalah kota kenangan mendiang ayah dan ibuku."
"Kau bisa saja berbohong," ucap Fely.
"Lalu, aku harus bilang kepada kalian semua apa yang kulakukan selama di sana?"
"Ada apa ini?" tegur Nayaka.
Kyomi yang melihat ayahnya, langsung beranjak dari kursi dan memeluk Nayaka. Sedari tadi menyimak pertengkaran antara ibu serta dua orang wanita di depannya itu, sekaligus mendengar hal yang tidak ia ketahui sama sekali.
"Kau masih ingat aku?" tanya Fely pada Nayaka.
"Kau siapa?" Nayaka membalas.
"Aku sahabat Delilah sekaligus anak yang ibumu hancurkan. Kau ingat video itu, kan?"
Nayaka tersenyum. "Kau menyalahkanku atas video itu. Pertama, bukan aku yang merekam dan menyebarkan video itu. Kedua, salahkan ayahmu yang tidak setia."
"Dasar pengemis! Kau itu hidup atas bantuan Delilah," ucap Chika.
"Apa aku merepotkanmu, Nona? Apa uangmu yang kupakai?" tanya Nayaka yang membuat Chika terdiam. "Kau tanyakan pada Delilah. Apa aku yang meminta itu semua darinya?"
"Hentikan, Chika!" ucap Delilah. "Nayaka sudah membayar semua yang kukeluarkan."
"Delilah, kau bukan lagi sahabat kami jika masih berhubungan dengan pencundang ini. Aku akan beritahu Juno hal yang sebenarnya," ancam Fely, lalu menarik Chika pergi.
Delilah menatap Nayaka dan Kyomi. "Lupakan itu. Sebaiknya kita duduk. Aku akan pesan makanannya."
"Baiknya kita pergi. Kau sudah membuat kekacauan," ucap Nayaka sembari meletakkan uang dua ratus ribu di meja karena mereka tidak jadi memesan. Anggap saja kompensasi karena insiden pertengkaran tadi.
Ketiganya keluar, lalu masuk mobil. Nayaka mengendarai kendaraan roda empat itu menuju apartemen karena sepeda motornya masih berada di sana.
"Kita makan di sekitar sini saja, Kak. Kyomi perlu mengisi perutnya. Aku akan pesan makanan," kata Delilah.
"Tidak perlu," sahut Nayaka.
"Aku akan pesan makanan untuk diantar."
Nayaka melihat Kyomi yang duduk di kursi belakang tengah mendengarkan pembicaraan dari kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kita makan di restoran ini saja," ucap Nayaka yang langsung masuk ke area restoran cepat saji tidak jauh dari apartemen mereka.
Egonya turun setelah melihat Kyomi. Rasanya memang ingin sekali marah lantaran Delilah yang masih memerlukan waktu untuk mengungkapkan hubungan mereka. Nayaka yakin sekali jika kekasihnya itu belum memberitahu hal sebenarnya pada Chika dan Fely.
Sampai dalam restoran cepat saji. Nayaka mengantri untuk keduanya, sedangkan Kyomi memperhatikan ibunya yang terlihat sibuk membalas pesan.
Delilah tersenyum. "Kyomi mau ponsel ini? Mama bisa membelikannya untukmu."
Kyomi memalingkan wajahnya ke arah Nayaka yang berjalan dengan nampan di tangan. Kyomi berseru ketika mendapatkan makanan kesukaannya.
"Cuci tangan dulu, Nak," kata Nayaka.
"Tangan Kyomi bersih," ucapnya.
"Cuci tangan."
"Ayo, Sayang. Jangan biarkan Papamu marah," sahut Delilah yang mengulurkan tangan.
Namun sayang, Kyomi tidak mau menyambut uluran tangan itu. Ia bangkit dari duduknya dan pergi sendiri mencuci tangan.
"Kapan dia baru bisa menerimaku," ucap Delilah yang menyusul Kyomi. "Biar Mama bantu, Sayang."
"Aku bisa sendiri," sahut Kyomi yang menepis tangan Delilah.
"Ini Mama, Sayang."
"Kau tidak bilang pada temanmu kalau aku ini putrimu. Kau tidak mengenalkanku pada mereka. Kau bukan ibuku!" ucap Kyomi sambil berlalu.
Delilah mengembuskan napas panjang. Ia harus mengontrol dirinya saat ini untuk tetap sabar menghadapai Kyomi.
"Papa, malam ini kita tidur di rumah, kan?" kata Kyomi ketika Delilah sudah duduk di kursinya.
"Iya, kita tidur di rumah."
"Hari sudah mau malam, Kak. Kyomi juga belum membersihkan dirinya. Sebaiknya bermalam lagi di apartemen," sela Delilah.
"Kyomi tidak betah di sana."
"Kita akan pulang ke rumah, tapi sebelum itu Kyomi harus mandi dan berganti pakaian," kata Nayaka.
Sehabis makan bersama, ketiganya pulang ke apartemen. Di sini Delilah sudah merasakan suasana menjadi tegang terlebih Nayaka yang enggan bersuara saat mereka berada dalam lift.
"Kyomi bisa mandi sendiri, kan?" kata Nayaka.
"Iya, habis ini kita langsung pulang, ya, Papa."
"Iya, Sayang. Kita pulang ke rumah sewa."
Nayaka memperhatikan Kyomi yang melangkah masuk ke kamar. Delilah ingin menyusul, tetapi dicegah.
__ADS_1
"Aku perlu waktu," kata Delilah.
"Kau tidak mengakui putrimu sendiri."
"Aku perlu satu-satu untuk mengungkapkan segalanya."
Di saat itu ponsel Delilah berdering. Nayaka yakin jika telepon itu pasti dari Juno karena sudah pasti Fely dan Chika memberitahu kejadiaan di restoran tadi.
"Kau boleh tidak mengakuiku, tetapi Kyomi putrimu. Kau ingin mendekatinya, tetapi kau juga ingin menjauhi dirinya," ucap Nayaka.
"Aku sudah bilang beri aku waktu dan kau setuju akan hal itu. Aku akan mengurus pembatalan pernikahan ini dulu. Kau tahu, Kak. Ini menyangkut reputasi keluargaku."
Nayaka mengangguk. "Jangan sampai kau mengecewakanku untuk kedua kalinya. Jika itu terjadi, tidak ada kesempatan untukmu."
"Kau senang sekali mengancamku. Aku sudah berikan seluruh hidupku." Delilah mendekat, menangkup pipi Nayaka, lalu mengecup bibirnya. "Aku tidak ingin kita bertengkar lagi."
Lagi-lagi telepon genggam itu berdering. Nayaka langsung mengambil alih tas kekasihnya. Menjejalkan tangan ke dalam meraih benda pipih tersebut. Benar saja jika itu adalah panggilan dari Juno.
"Kau masih bersahabat dengan wanita seperti mereka," kata Nayaka.
"Aku tidak ingin membahasnya," sahut Delilah.
"Kau yakin ingin kembali bersamaku. Kau lihat dua sahabatmu menghinaku."
"Kak, aku tidak mau bahas masa lalu. Aku sudah memutuskan untuk bersamamu."
"Angkat dan katakan kau bersamaku," pinta Nayaka dengan menyodorkan ponsel yang berdering itu.
"Apa?"
"Aku hanya menyuruhmu mengatakan kalau kau bersamaku bukan mengakui hubungan kita."
Delilah merebut ponsel itu, lalu mengangkat panggilan dari Juno. "Ya, Sayang."
"Kau bersama Nayaka? Fely dan Chika mengatakannya padaku," ucap Juno, yang dari suaranya saja bernada cemburu.
"Apa aku tidak boleh bersama temanku? Kami makan bersama di restoran."
"Aku akan menunggumu di apartemen. Cepatlah datang."
"Aku tidak bisa menemuimu malam ini. Tunggulah besok pagi," ucap Delilah dengan memutus sambungan telepon secara sepihak, lalu menonaktifkan ponselnya. "Aku sudah melakukannya."
Nayaka langsung memeluknya kemudian mengecup kembali bibir itu. Permainan yang manis, tapi sayang harus berakhir karena suara Kyomi membubarkan mereka.
Bersambung
Nayaka
__ADS_1
Delilah