Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Ucapan Reyhan


__ADS_3

Jelas di kotak bingkisan itu tertera nama si pengirim, yaitu dari alamat apartemen di Dubai. Sayang sekali tidak ada nama toko tertera di bungkus bingkisan. Itu artinya, Delilah memang tidak mau diketahui keberadaannya.


Nayaka bimbang, takut pada sosok kekasih kecilnya. Bagaimana kehidupannya? Apa yang dijalani wanita itu sekarang? Delilah tidak kembali ke Indonesia, dan keluarganya, seperti tidak peduli atas menghilangnya anak itu.


"Kyomi, Papa boleh lihat apa yang ditulis Mama?"


Kyomi menoleh. "Boleh, nih, Papa baca saja."


Nayaka mengambil alih kertas warna pink yang bertuliskan huruf cetak. Delilah memberitahu kabarnya dan menanyakan keadaan sang anak. Setelah itu tidak ada apa-apa lagi. Hanya ucapan sayang serta pesan kalau setiap tahun, Delilah akan ikut merayakan hari kelahiran putrinya.


"Kita pulang ke Indonesia, yuk?"


"Kita liburan ke sana?" Kyomi berbinar saat mengatakannya.


Nayaka mengangguk. "Iya, kita kunjungi Kakek Reyhan."


"Ya, Kyomi mau."


"Papa urus dulu dokumennya, baru kita pulang ke Indonesia."


"Indonesia?"


Nayaka dan Kyomi menoleh pada suara yang menyahut. Angel muncul dengan seorang pelayan yang membawa nampan berisi cemilan dan minuman dingin.


"Iya, aku dan Kyomi ingin berkunjung ke sana. Sudah lama sekali tidak pulang. Aku juga mau ziarah ke makam Mama."


"Aku mau ikut."


"Kau sedang hamil. Lagian tidak akan lama juga. Paling hanya tiga hari," ucap Nayaka.


"Justru itu, Nay. Aku ini hamil besar. Kau malah ingin pergi."


"Hanya tiga hari, Angel." Nayaka tersenyum ketika mengatakannya.


Lalu Angel melihat tas yang dipegang Kyomi. "Sayang, itu tas siapa?"


"Ini dari Mama Delilah. Bagus, kan?"


"Mama Delilah ada di Indonesia?"


Kyomi melihat sang ayah, lalu ia mengedikan bahu. "Mungkin. Kyomi ikut karena kangen Kakek Reyhan. Sampai di sana, Kyomi mau minta dibeliin hadiah."

__ADS_1


Nayaka tertawa kecil. Ia usap puncak kepala sang anak. "Tapi, Kyomi harus janji. Jangan bilang pada Kakek Reyhan dulu kalau kita akan datang. Kita harus kasih kejutan."


Kyomi mengangguk. "Oke, Papa."


"Sekarang, Kyomi simpan tas-nya dulu."


"Besok, tas ini mau Kyomi pakai."


Nah, baru Nayaka sadari saat melihat model dari tas itu. Tidak ada yang aneh, tetapi benda itu bukan dari barang bermerek. Ini Delilah, si penyuka kemewahan. Mengapa yang dikirim bukan brand yang wanita itu suka? Semakin khawatir saja Nayaka.


"Kau ingin mengurus surat perceraianmu? Kita juga harus daftarkan pernikahan secara hukum."


"Aku akan daftarkan setelah anak kita lahir."


"Nay ...."


"Apa kita tidak ada pembahasan lain? Aku pusing kau terus mengajakku bicara tentang ini."


"Nay, apa aku tidak pantas marah? Suamiku memikirkan mantan istrinya."


"Delilah masih istriku. Aku emosi waktu mengucapkan kalimat talak. Kami belum resmi berpisah."


"Kau mungkin bisa bicara begitu. Tapi nyatanya kau dan dia sudah berpisah. Aku jahat bila bicara seperti ini. Coba kau berpikir dengan apa yang Delilah lakukan padamu. Dari dulu, Nay. Kau itu dibodohi olehnya. Kau itu dijadikan budak, dan sekarang kau malah ingin mencari keberadaan sumber rasa sakitmu. Kenapa kau tidak melihat wanita yang menerimamu apa adanya? Lihat aku, Nay. Aku di sini. Wanita yang tidak akan pernah memperlakukan dirimu dengan buruk."


Setelah berkata begitu, Nayaka melangkah pergi. Entah Angel yang tidak mengerti atau memang begini kehidupan yang Nayaka inginkan. Hubungan cinta tidak sehat yang setiap hari hanya diisi pertengkaran.


Seperti yang Nayaka katakan sebelumnya. Setelah dokumen Kyomi selesai, maka keduanya terbang ke Indonesia. Angel tidak bisa melarang, dan ia juga tidak dapat ikut lantaran kondisinya tengah berbadan dua. Namun, Nayaka berjanji hanya tiga hari berkunjung ke sana.


"Kakek Reyhan!" Kyomi berseru sembari berlari menghampiri Reyhan. Ia memeluk pria yang ketampanannya masih terpancar. "Kyomi kangen, nih."


Reyhan tertawa. "Kakek juga."


Suasana ini canggung ketika Reyhan menatap Nayaka. Ingin sekali memukuli pria di depannya ini yang telah menyakiti hati sang adik. Tapi dilihat dari sisi lain, Rey tidak ingin bertindak gegabah. Ia tahu Delilah, dan Nayaka juga manusia biasa yang punya batas kesabaran.


"Masuklah ...."


Nayaka mengangguk. Memang kedatangannya ingin mengorek informasi mengenai keberadaan Delilah. Berharap, siapa tahu memang sang mantan berada di rumah mewah ini.


"Kyomi sayang. Ayo, temui Nenek Anna. Dia pasti kangen."


"Di mana Nenek?"

__ADS_1


"Kyomi!" Ayyena dan Anthea datang menyambut.


Kyomi melepas tangan Reyhan ketika melihat si kembar. Anak itu juga merindukan kakak-kakaknya.


"Duduklah," ucap Reyhan. "Kau datang kemari untuk mengetahui keberadaan Delilah? Kau sampai menyuruh orang kemari untuk menanyakan itu."


"Malam itu, dia memintaku menceraikannya, dan aku mengabulkan apa yang dia minta."


"Jadi, kau ingin mengurus surat perceraianmu? Urus saja, katakan saja Delilah tidak tahu ke mana. Kan, itu memang faktanya biar putusnya juga cepat."


Nayaka menggeleng. "Aku emosi waktu itu. Aku tidak berniat pisah."


"Lalu, kau membawa wanita lain dan membuat istrimu menderita? Aku tahu perasaanmu. Lelaki manapun akan marah bila melihat istrinya selingkuh. Aku juga tahu perlakuan Delilah selama ini padamu. Tapi, haruskah membalasnya dengan menikahi wanita lain?"


Nayaka mengangguk. Itulah salahnya. "Ya, aku menyadarinya."


"Kalau kau sudah bertemu dengannya, kau mau apa? Sedangkan kau telah menikah untuk yang kedua kalinya. Kurasa Delilah tidak setuju kau menikah lagi."


"Ya, dia tidak setuju. Itu sebabnya aku hanya menikah siri."


"Kudengar, wanita itu juga hamil anakmu."


Tidak heran Reyhan tahu. Kyomi sudah pasti menceritakan semuanya pada sang kakek. Nayaka kembali menganggukkan kepalanya.


"Kalau sudah begitu, lebih baik lanjutkan saja pernikahanmu. Jangan lagi mencari Delilah. Kau tidak mungkin ingin menyakiti hati istrimu lagi, kan?"


Dari perkataan Reyhan, sudah jelas jika pria dewasa ini memang ingin keduanya berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.


"Kau pasti tahu keberadaannya." Nayaka menatap Reyhan lekat.


Reyhan menggeleng. "Dia hanya mengirim sebuah pesan. Ia pergi, dan akan kembali bila waktunya tiba."


"Aku tidak yakin."


"Kau tidak percaya kalau aku hanya duduk diam begini?" Reyhan tersenyum tipis. "Aku sungguh tidak tahu. Kalaupun tahu, aku akan biarkan saja Delilah menjalani hidupnya sendiri. Mungkin dengan ini, ia bisa berpikir dewasa."


Haruskah Nayaka juga begitu? Diam saja tanpa lagi mencari sang mantan istri. Seperti kata kakak Delilah ini. Lebih baik lanjutkan saja pernikahan bersama Angel, dan melepas masa lalu.


"Kau tidak mengerti." Nayaka menggeleng karena tidak menyetujui ucapan Reyhan yang menyimpan makna tersirat dari setiap katanya.


"Sebenarnya, kau mencari apa dalam hidupmu? Istri atau kekasih hati? Jika kau kembali pada Delilah, apa kau sanggup menghadapi kelakuannya lagi? Kau sudah mendapatkan istri yang menurutmu pantas, maka pertahankan dia. Kekasih hatimu hanya pandai menyakiti. Lebih baik kau melepasnya."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2