Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Permintaan Nayaka


__ADS_3

Jenuh juga dengan rumah tangga yang kehidupan di dalamnya penuh dengan diam. Tiba-tiba Nayaka pergi ke luar negeri tanpa pamit.


Delilah hanya tahu berita ini dari pelayan rumah. Ke mana Nayaka? Negara mana yang pria itu kunjungi, dan berapa lama? Delilah mengirim pesan, tetapi tidak dibalas. Apalagi di telepon. Sama sekali tidak diangkat.


Sampai kapan ini akan berakhir? Delilah mengerti kesalahannya tidak dapat dimaafkan. Ia menyesal. Namun, ia mau berubah demi menyelamatkan pernikahan yang baru berumur seumur jagung ini.


Karena Nayaka tidak ada, Delilah menjemput Kyomi dari rumah mertuanya. Anaknya itu pun tidak tahu ke negara mana sang ayah pergi mengurusi bisnis.


Seminggu berlalu, Nayaka juga belum pulang. Ditunggu-tunggu sampai akhirnya, pria itu pulang juga.


"Papa!" Kyomi berlari menghampiri sang ayah. "Kangen."


"Papa juga kangen, Sayang."


"Papa perginya lama banget."


Nayaka tersenyum. "Papa ada oleh-oleh buat Kyomi."


"Mana?"


"Ada di ...."


"Kak!" Delilah menegur.


Nayaka berhenti melanjutkan kalimatnya ketika melihat Delilah. Lalu, ia beralih pada Kyomi. "Nanti malam saja kita bukanya. Papa mau bicara sebentar sama Mama. Kyomi, ke rumah Kakek dulu, ya."


Kyomi memajukan bibirnya. "Masih kangen sama Papa."


"Iya, Sayang. Nanti Papa susul ke rumah Kakek. Pergi sama Bibi saja, ya."


Kyomi mengangguk. "Iya, deh."


Selepas Kyomi pergi bersama pengasuhnya, Delilah mulai membuka mulut. Ia ingin bicara pada suami yang telah satu bulan ini mengabaikannya.


"Aku tahu kau masih marah. Tapi, jangan diam saja. Ngomong, dong, Kak. Aku salah, dan aku minta maaf."


"Kita bicara di kamar saja."


Baru lah Delilah mendengar suara suaminya. Ia mengikuti Nayaka yang lebih dulu jalan menuju kamar tidur mereka.


"Kak, kau ke mana? Katanya kau tengah melakukan perjalanan bisnis. Kau tidak bilang padaku."


"Aku ke Indonesia."


Delilah terkesiap. "Indonesia? Selama tiga minggu kau di sana?"


"Aku ingin menikah lagi."

__ADS_1


"Katakan sekali lagi," pinta Delilah.


Nayaka menatap lekat istrinya itu. "Aku ingin menikah lagi."


"Kau ingin menikah lagi? Kau ke Indonesia untuk meminang Angel itu."


"Ya, kau benar. Aku ingin menikahi Angel."


"Aku tidak akan pernah mengizinkan kau menikah lagi. Kalau kau masih nekat, lebih baik kita berpisah!"


"Oke!" jawab Nayaka cepat. "Jika itu yang kau inginkan, aku kabulkan."


"Kak ...." Delilah berkata lirih.


"Aku butuh seorang istri yang ada untuk anak dan suaminya. Aku butuh seorang istri yang setia pada suaminya. Terserah kau, Delilah. Kau ingin melanjutkan pernikahan ini atau tidak, aku tetap menikahi Angel."


Delilah terduduk di atas tempat tidur. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Delilah terisak mendengar ucapan Nayaka. Sebuah permintaan yang menakutkan bagi seorang istri.


"Aku minta maaf, Kak. Kumohon, jangan siksa aku begini. Aku tidak mau ada wanita lain di antara kita." Delilah menangis.


Bahkan air mata Delilah saja tidak dapat meluluhkan sakit hati Nayaka. Ia sama sekali tidak iba sekalipun.


"Harusnya kau senang ada wanita lain yang ingin menjadi istriku. Kau bebas keluar rumah. Kau bebas bersenang-senang di luar sana. Kau tidak perlu khawatir padaku dan Kyomi. Aku membantumu, Del. Kurang baik apa aku sebagai suamimu."


Ucapan yang begitu benar. Bukankah selama ini Delilah menginginkan kebebasan? Harusnya ia senang. Tapi ini bukan keinginan Delilah. Siapa yang ingin berbagi suami? Tidak ada wanita yang mau, termasuk Delilah.


Nayaka menarik kakinya. "Aku mempertahankanmu karena mengingat kau anak dari pria yang menolongku. Sumpah, Delilah. Saat itu, aku ingin sekali mendepakmu. Kini, terserah kau. Bertahan atau pergi dari kehidupanku. Setuju atau tidak, aku tetap menikahi Angel."


"Kau tidak bisa menikahinya, kau tidak akan bisa!"


"Malam ini juga, aku akan menikah. Kau boleh datang ke rumah Papa."


Setelah mengatakan hal itu, Nayaka keluar dari kamar. Ke rumah Omar? Delilah menghapus air matanya. Artinya, wanita itu ada di sana, dan Delilah tidak akan membiarkan siapa pun berani memiliki suaminya.


"Nyonya, Anda tidak boleh keluar rumah." Penjaga mencoba menghalangi Delilah keluar.


Delilah melayangkan tangannya ke wajah pria itu. "Minggir!" Lalu, ia mendorongnya.


"Nyonya!" teriak penjaga. Nasib sial ia terima. Pipinya panas karena tamparan sang majikan.


Delilah masuk mobil, menyalakan mesin, lalu mengendarainya. Sampai di gerbang, lagi-lagi ia dihalangi. Sudah pasti ini ulah Nayaka.


"Buka atau aku tabrak pagar ini!" Delilah berteriak.


Dua penjaga tidak peduli. Ya, tabrak saja karena pagar rumah ini begitu kokoh. Tidak dipedulikan, Delilah nekat. Ia memundurkan mobil, memasang sabuk pengaman, lalu bersiap. Apa pun yang terjadi nantinya, ia harus ke rumah Omar.


"Nyonya nekat. Cepat buka gerbangnya." Salah satu penjaga takut akan tindakan Delilah sekarang.

__ADS_1


"Tapi ...." Satunya ragu karena ini perintah.


Suara deru mobil terdengar nyaring karena Delilah mulai siap untuk menerobos masuk.


"Cepat buka!"


Remote control di tekan, Delilah langsung meluncur, dan mobilnya sedikit menabrak pagar yang lambat membuka.


"Sialan!" Delilah mengumpat ketika mobilnya sedikit oleng.


Kendaraan roda empat itu melaju ke kediaman Omar. Tiba di sana, Delilah turun dan langsung menuju pintu masuk.


Rupanya dalam kediaman itu tengah mengadakan pertemuan keluarga. Delilah yang emosi, menghampiri Angel, dan langsung melayangkan tamparan di pipi.


"Kau sudah tahu Nayaka punya istri, tapi kau masih menginginkan suamiku!"


Angel diam saja. Omar segera memerintahkan pelayan pria untuk menengahi keributan ini.


Nayaka meraih tangan istrinya. "Ikut bersamaku."


"Lepasin! Aku ingin buat perhitungan dengan dia!" Delilah menepis tangan suaminya itu.


"Ikut atau kau tahu sendiri akibatnya. Aku tidak main-main, Delilah."


Delilah menghentakkan kakinya. Ia berjalan lebih dulu menuju kamar di lantai bawah. Nayaka ikut masuk, dan menutup pintu rapat.


"Aku sudah membuat pilihan untukmu."


"Kau pria sialan! Kau bahkan membawa keluarganya kemari. Kalau dari awal kau ingin menikahi perawan tua itu, kenapa kau menikahiku?"


Nayaka mengembuskan napas panjang. "Masih tidak sadarkah kau, Del?"


"Aku salah. Aku minta maaf!" Delilah mengucapkannya bersungguh-sungguh.


"Sudah berapa kali, dan kau masih mengulanginya. Aku tidak akan pernah memaafkan perselingkuhan. Sekarang terserah kau saja. Aku sudah memberimu pilihan. Berpisah atau bertahan."


"Aku tidak akan membuat wanita itu menjadi istrimu di mata hukum."


"Terserah. Angel menerima segala persyaratanku. Dia tidak keberatan sama sekali."


Delilah terperangah. "Wanita itu memang menginginkan dirimu, kan?"


"Lakukan apa yang kau mau, tapi aku tidak akan izinkan dia menginjak rumahku!"


"Itu rumahku, dan di sanalah aku akan membawa pulang istriku. Kau tidak terima, maka pergi saja."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2