
Nayaka mengedor pintu kamar yang terkunci dari dalam. Sang anak tengah marah sangat ini lantaran Delilah juga ikut pulang ke rumah sewa. Ketika ia mendengar suara motor Nayaka, anak itu begitu senang, tetapi raut wajah bahagia itu berubah ketika melihat mobil warna putih ikut datang.
"Kyomi, Papa perlu bicara," ucap Nayaka.
"Papa bohong!" teriak Kyomi dari dalam sana.
"Papa perlu bicara. Papa akan jelaskan semuanya."
Selagi Nayaka membujuk Kyomi, Delilah menarik tangan Angel keluar dari rumah. Ia kesal karena wanita itu masih tetap berada di dekat dua orang yang paling penting dalam hidupnya.
"Rupanya peringatanku tidak kau laksanakan. Kau ini sungguh tuli atau apa? Jauhi anakku juga Nayaka," ucap Delilah.
"Kau ibunya, tetapi kau tidak tahu bahwa tidak ada pengasuh untuk Kyomi. Kau memang tidak pantas menjadi ibunya," kata Angel.
"Tidak perlu kau beritahu. Anakku akan mendapatkan yang terbaik sama sepertiku. Kau tidak diperlukan lagi di sini. Pergi dan jangan datang kemari lagi."
"Kau tidak berhak mengusirku. Aku di sini karena Nayaka."
"Angel!" tegur Nayaka yang berjalan menghampiri. "Kenapa kalian di sini?"
"Kak, aku minta kau usir dia," kata Delilah.
"Kau di sini ingin buat ribut?" tanya Nayaka. "Angel lebih diperlukan di sini daripada kau."
Nayaka meraih tangan Angel, lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Delilah terperangah karena Nayaka tidak lagi menjadikan dirinya sebagai prioritas.
Kyomi sudah keluar kamar, tetapi ia ingin bersama Angel. Ketika wanita itu masuk, Kyomi langsung memeluknya.
"Tante Angel di sini saja," kata Kyomi.
Delilah harus menahannya terlebih melihat senyum kemenangan Angel serta Nayaka yang begitu dekat pada wanita itu. Ia merasa seperti seorang istri tua jahat yang diabaikan dan Angel adalah ibu muda yang disayangi Nayaka.
"Ayo, kita bicara," kata Nayaka.
"Orang lain tidak boleh ada di sini," celetuk Delilah.
"Sepertinya aku harus pergi," ucap Angel.
"Nanti dulu. Kita makan malam bersama. Tante bilang ingin masak makanan istimewa malam ini," sahut Kyomi.
Angel mengusap puncak kepala anak itu. Ia berlutut mensejajarkan tingginya bersama Kyomi. "Sayang, Tante ada sedikit pekerjaan. Besok, Tante akan kemari lagi."
"Biarkan Tante Angel pergi, Nak," ucap Nayaka.
Wajah Kyomi berubah sendu. "Baiklah."
"Aku akan pesankan taksi," kata Nayaka.
Delilah tersenyum penuh kemenangan. Mau usaha bagaimanapun, Angel tidak akan pernah bisa melawan dirinya. Nayaka bahkan tidak sempat untuk mengantar wanita itu pulang ke rumahnya.
"Ingin menyaingiku? Kau bermimpi, Angel," bisik Delilah. "Dasar perawan tua."
Angel terkesiap mendengar ucapan Delilah. Ia menatap tajam wanita yang saat ini tengah tersenyum sinis memandanginya.
__ADS_1
"Jangan didengarkan, Angel," bisik Nayaka.
"Kau mendengar ucapannya?" tanya Angel.
"Dia anak manja. Dari dulu juga tidak berubah. Entah apa yang ia bisikkan, tapi itu pasti sesuatu yang buruk."
Angel tersenyum. "Terima kasih, Nayaka."
"Jangan dipikirkan. Taksimu sudah tiba. Ayo, biar aku antar sampai depan."
Entah Nayaka sengaja atau tidak, yang jelas Delilah kesal memandangi pria itu memperlakukan Angel seperti seorang ratu.
Nayaka melambaikan tangan setelah mobil taksi berlalu dari hadapannya. Ia melangkah mendekati Delilah. "Umurmu sudah 26 tahun, kapan kau akan menjadi dewasa?"
"Kau mulai protes akan sikapku."
"Karena aku terlalu muak padamu," jawab Nayaka.
Memang ibu dan anak. Kalau marah, Kyomi mirip Delilah. Nayaka memangku putrinya, mengecup pipi gadis kecil itu agar kekesalan di hati anaknya sedikit mereda.
"Wajah Kyomi tidak akan cantik bila cemberut begitu," kata Nayaka.
Kyomi mencebik. "Kenapa dia masih di sini?"
"Dia Mama, Kyomi."
"Tapi dia tidak sayang padaku."
Delilah menggeleng. "Mama menyayangimu."
"Ada alasan dan Mama tidak bisa mengatakannya," ucap Delilah.
"Kalian sama seperti orang tua Sydeny, kan?"
Nayaka memeluk Kyomi. "Tidak, Sayang. Kami tidak begitu."
"Papa jangan membohongiku. Kyomi tidak ingin melihatnya di sini!" ucap anak itu.
Delilah lantas menghampiri keduanya. Ia meraih tangan Kyomi, tetapi anak itu menepisnya.
"Kau sudah mati!" kata Kyomi.
"Kyomi!" tegur Nayaka.
Anak itu turun dari pangkuan Nayaka, berlari masuk ke dalam kamar. Nayaka mengembuskan napas lelah dan ia beranjak dari duduknya.
"Kak," tegur Delilah.
"Aku akan membujuknya. Kau tunggu sebentar di sini."
Nayaka ikut masuk menyusul Kyomi. Ia duduk di tepi tempat tidur samping anak itu yang tengah melipat tangan di perut dengan wajah cemberut.
"Mama akan sering kemari," kata Nayaka.
__ADS_1
"Papa sudah berjanji padaku."
"Dia mamamu, Sayang. Dia melahirkan Kyomi dengan penuh perjuangan."
"Dia meninggalkanku," kata Kyomi. "Hanya Kyomi sendiri yang tidak punya ibu. Dia juga mendorong kita. Papa tidak lihat tanganku terluka?"
"Mama tidak sengaja."
"Kenapa Papa membelanya?"
"Bukan begitu, Sayang. Tapi tidak baik bicara begitu pada ibumu sendiri. Dia adalah mamamu. Dia tidak akan tergantikan," ucap Nayaka. "Kami sudah berjanji untuk mengasuhmu bersama. Papa mohon untuk menerimanya, Sayang."
Kyomi diam saja, ia malah merebahkan diri di atas kasur. Nayaka tidak ingin memaksanya lagi. Biarlah seperti ini dulu. Suatu saat nanti, Kyomi akan menerima Delilah sebagai ibunya.
"Papa siapkan makan malam dulu," kata Nayaka, lalu beranjak dari kamar.
Delilah langsung menghampiri Nayaka ketika pria itu sudah keluar dari kamar. "Bagaimana, Kak?"
"Kau harus sabar," jawab Nayaka. "Aku sudah siapkan jadwal kunjunganmu. Rabu, Kamis, dan Jumat."
"Aku ingin di hari Sabtu," protes Delilah.
"Aku hanya mengizinkanmu berkunjung kemari. Aku tidak mengizinkanmu untuk membawanya keluar. Kau bisa datang ke rumahku ini setiap hari Rabu, Kamis dan Jumat malam."
"Lalu sisanya kau akan bersama Angel begitu?"
"Kenapa kau begitu cerewet? Kau terima atau tidak?" tanya Nayaka.
Delilah mendengkus. "Baik, aku terima. Tapi aku ingin kau melibatkan diriku dalam segala hal tentang Kyomi. Aku ibunya. Kau tidak lupa, kan?"
"Aku tidak lupa kau ibunya. Hanya kau saja yang lupa bahwa sudah punya anak."
Nayaka pergi ke dapur setelah mengucapkan itu dan Delilah mengikutinya. Sama sekali tidak berubah. Nayaka tetaplah pria yang bertanggung jawab.
"Biarkan aku membantumu," kata Delilah.
"Kau bisa apa?"
"Jangan mengejekku. Aku ingin Kyomi mencoba makanan yang kubuat."
"Terserah kau saja. Tapi jangan sampai mengotori dapurku. Kau tanggung sendiri akibatnya nanti," ucap Nayaka.
"Apa makanan kesukaan Kyomi?" tanya Delilah.
"Ikan bakar dan roti. Dia lebih suka makanan western."
"Oh, aku akan buatkan dia steak ayam bersama roti panggang."
Nayaka tidak menjawab, ia tetap dengan pekerjaannya. Sementara Delilah mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dan lemari atas penyimpanan roti.
"Aku akan membawa pelayanku kemari," ucap Delilah.
"Tidak perlu," jawab Nayaka.
__ADS_1
"Untuk mengasuh Kyomi. Aku tidak ingin Angel di sini."
Bersambung