
Nayaka menoleh pada suara siulan yang ia dengar. Matanya melotot melihat penampilan Delilah yang terlihat berbeda. Kenapa berbeda? Sejak kapan kekasihnya itu, oh, ralat, sekarang istri, memakai pakaian renang?
Pakaian renang? Nayaka bangun dari duduknya. Memang tampilan baju itu, seperti pakaian renang. Model jumpsuit, dengan bagian bawah yang tidak bisa dijelaskan. Astaga! Apa-apaan model baju seperti itu. Kainnya terselip di bagian inti milik Delilah.
Bagian atasnya berbahan brokat yang berleher rendah. Menampakkan sisi dari kelembutan sensitif Delilah. Biasanya mereka langsung saja membuka pakaian, bisa dibilang ini pertama kalinya Delilah memakai baju aneh seperti itu.
Delilah berjalan mendekat, meletakkan dua lengannya di leher Nayaka. Mengikis jarak di antara mereka, lalu mengecup bibir suaminya.
Tanpa diminta lagi, Nayaka merangkul pinggang ramping itu. Mengusap punggung mulus Delilah sembari menikmati manisnya belitan yang tengah mereka lakukan.
Wangi bedak bayi, mendorong Nayaka mengecup pipi Delilah. Beberapa kali ia mendaratkan bibirnya di sana, dan itu membuat Delilah merasa geli.
"Kakak!" Delilah mencoba mendorong Nayaka, tetapi suaminya itu tidak ingin melepas.
Kecupan Nayaka turun ke bawah dagu. Aroma parfum yang istrinya pakai begitu lembut karena memang Delilah cuma mengoleskan minyak wangi itu sedikit. Tujuannya agar bau tubuhnya tidak membuat Nayaka mabuk atau pusing.
"Sebentar, Kak." Delilah menahan kepala Nayaka.
"Apalagi?" Nayaka kesal sendiri keasyikkannya diganggu.
"Tutup dulu tirainya. Mau live secara langsung?"
Berat hati Nayaka melepas pelukannya, lalu berjalan menutup tirai. Nayaka juga segera melepas baju yang ia kenakan. Ia benar-benar menginginkan Delilah saat ini.
Delilah tergelak ketika melihat bagian yang sangat sering ia rasakan. Tidak boleh disentuh sedikit, benda itu langsung naik.
Nayaka mendekat, langsung meraih Delilah dalam gendongan. Sekali lagi mereka menyatukan bibir dengan langkah menuju tempat tidur.
Keduanya sama-sama terjatuh di atas kasur empuk. Nayaka mengecup bagian yang membuat istrinya bergairah sembari menekan benda favoritnya.
Suara Delilah berat, tubuhnya bagai dimandikan. Ia telah basah, kotor oleh liur yang Nayaka berikan.
__ADS_1
Semakin turun kecupan itu, Delilah mengeliat terlebih Nayaka telah mengecup bagian tengahnya. Memberi gigitan pada bagian dalam kakinya, lalu bibir itu menyusur sampai pada tungkainya.
Geli terasa saat Nayaka mengemut ibu jari kakinya. Delilah membiarkan itu sampai Nayaka melebarkan kakinya, lalu menyisihkan kain yang terselip ke samping.
Jemari itu mulai menyentuh. Delilah melipat bibir ketika Nayaka mulai masuk perlahan. Jari yang malu-malu. Penasaran, suka mengintif, begitulah mendeskripsikannya.
"Kalau lidahmu yang menyentuhnya, pasti lebih enak, Sayang," ucap Delilah.
Nayaka tersenyum. Lalu, menuruti pemintaan istrinya. Harum bercampur parfum yang tadi Delilah oleskan di tepiannya. Ini akan membuat Nayaka betah untuk berlama-lama menikmati keindahan yang tengah merekah saat ini.
Sementara Delilah bagai cacing kepanasan. Ia berguman tidak jelas saking nikmatnya sapuan lidah Nayaka.
Delilah menjerit. "Jangan digigit!"
Nayaka bahkan menepuk benda itu beberapa kali, lalu kembali mengemutnya. Ia juga mengecup bagian belakang Delilah. Benda bulat itu sangat nyaman bila dicengkeram.
"Kak, masukin saja."
Lalu, ia mengusap bibir istrinya, dan Delilah tahu apa yang diinginkan oleh Nayaka. Delilah bertopang siku menahan beban tubuhnya, sedangkan Nayaka duduk berlutut di depan.
Sebelum masuk, maka bagian yang keras itu harus diberi pelumas alami. Dengan lihainya, Delilah memutari ujung bulat itu dengan lidahnya. Sepanjang garis berurat itu, ia basahi dengan liur.
Nayaka sama halnya, ia merasa melayang-layang menikmati sentuhan itu. Terlebih Delilah langsung memenuhi bibirnya dengan bagian itu.
Semakin basah, tegang, dan Nayaka butuh pelampiasan. Ia membebaskan tubuh Delilah dari baju yang masih istrinya kenakan. Tanpa penghalang, bebas, Nayaka masuk menghunjam. Bergerak dalam tempo yang membuatnya nyaman.
"Kak, kau lupa pakai pengaman," ucap Delilah. Tubuh wanita itu terguncang. Dua sisi kelembutannya naik turun karena hunjaman Nayaka.
"Masih harus pakai pengaman?"
"Aku belum mau hamil."
__ADS_1
Kemarin Nayaka yang tidak ingin Delilah hamil. Sekarang malah kebalikannya. Delilah belum ingin menghabiskan waktu hanya dengan mengurus anak, meski nanti ada pengasuh.
"Nanti aku keluarkan di luar. Kau juga minum pencegahnya."
Memiliki anak juga perlu perencanaan dan kesiapan. Secara materi, Nayaka terbilang sangat mampu. Namun, ini soal kesiapan. Perhatian dan waktu yang akan mereka sediakan bagi keluarga.
Delilah mencengkeram seprai, posisinya telah berganti dengan membelakangi Nayaka. Salah satu posisi gerakan yang Delilah sukai karena hunjaman Nayaka semakin terasa.
Gerakan itu semakin menghentak kuat. Nayaka mencengkeram kuat dua sisi pinggang istrinya, lalu tanpa sadar, ia memuntahkan laharnya di dalam rahim Delilah.
"Kakak ...." Delilah menggerutu. "Malah buang di dalam."
Nayaka tertawa. "Maaf, kelepasan tadi."
Delilah segera turun dari tempat tidur. Berjalan cepat masuk kamar mandi, sedangkan Nayaka terkapar karena tenaganya terkuras habis.
"Jangan mandi dulu, Del. Tadi aku keluar cepat. Main sekali lagi pasti lama," seru Nayaka.
Delilah mendengkus. "Tadi saja seperti enggak minat. Sekali merasa malah ketagihan." Delilah lalu menjawab ucapan suaminya dari dalam kamar mandi. Ia sedikit berteriak, "Iya, nanti main lagi."
Selesai membasuh miliknya, Delilah keluar dari bilik mandi. Nayaka terperangah melihat istrinya. Tadi jumpsuit aneh, lalu sekarang pakaian yang istrinya pakai semakin aneh.
Nayaka tertawa. "Apa-apaan dalaman itu?"
Mengapa ada lubang di area khusus itu? Dibilang robek, tetapi jahitannya rapi. Rupanya itu dalaman khusus. Nayaka tidak habis pikir dengan desain bentuknya. Benar-benar membuat Nayaka berfantasi liar.
"Supaya langsung bisa masuk. Jadi, enggak capek lagi buat buka," kata Delilah.
Nayaka mengacungkan dua jempolnya. "Bagus, kau tampak luar biasa."
Bersambung
__ADS_1