Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
CEO


__ADS_3

Terlalu mencurigakan. Sekarang Delilah menatap gedung putih di depannya. Ini seperti ruko, bila di Indonesia menyebutnya. Yang jelas gedung ini berderet dengan gedung lain.


Letaknya sangat strategis. Pusat perbelanjaan yang ramai dilalui warga setempat maupun turis yang berlibur ke kota London.


Mencari tempat di sini tentu tidak mudah. Biayanya juga sangat mahal. Yang menjadi pertanyaan, dari mana Nayaka mendapatkan uang? Pasti dari orang tuanya. Tidak salah lagi, dan Delilah tidak suka.


"Aku mau pulang." Delilah melangkah begitu saja, tetapi Nayaka lekas mencegahnya. "Lepaskan tanganku."


"Kau tidak suka gedungnya? Kalau kau tidak suka, kita bisa mencari tempat lain lagi."


Delilah menatap lekat mantan suaminya itu. "Dari mana kau mendapatkan uang? Kau meminjam dari bank? Katakan padaku, Nay. Jujur padaku. Tidak mungkin dari pinjaman. Kita baru pindah kemari, dan bank tidak mungkin mencairkan dana yang besar. Oh, apa kau memakai nama besarmu sebagai anak dari Omar Malik Hawwas?"


"Apa yang kau katakan ini, Sayang. Aku tidak pernah melakukan itu."


"Jangan memanggilku dengan sebutan itu." Delilah mengacungkan jari telunjuknya. "Aku tidak butuh gedung ini. Aku bisa menyewa tempat lain dengan uangku sendiri."


"Jangan marah dulu, Del. Aku bisa jelaskan. Ini bukan uang dari ayahku. Ini uangku. Hasil dari kerja kerasku," ucap Nayaka.


"Omong kosong!" Delilah emosi mendengarnya. Nayaka masih saja berbohong, meski sudah ketahuan. "Kerja di dua tempat, tidak mungkin bisa menyewa tempat ini. Kau pikir aku ini tidak mengerti tentang gedung bagus atau buruk. Kau jangan membodohiku, Nayaka."


"Aku tidak bohong padamu. Aku pakai uangku sendiri."


"Sudahlah. Aku mau pulang saja."


"Dengar dulu, Delilah."


"Jangan menghalangiku atau aku akan sangat marah."


Delilah bahkan tidak mau masuk mobil Nayaka. Ia menghentikan taksi untuk mengantarnya kembali ke apartemen.


Nayaka menyusulnya segera. Ketika mereka tiba di gedung apartemen, Nayaka membiarkan Delilah untuk masuk lebih dulu. Kali ini ia akan membiarkan kekasihnya itu tenang. Memaksa Delilah malah akan membuatnya semakin marah.


Malam hari, Nayaka tidak datang untuk makan malam. Ini menjadi bahan pertanyaan Kyomi karena tidak seperti biasanya, sang ayah tidak bergabung bersama mereka.


"Mama marahan lagi?" tanyanya.


"Mama hanya kesal pada Papamu." Delilah bangun dari duduknya. Ia mengambil rantang, lalu mengisinya dengan makanan. "Berikan ini pada Papa."


"Mama marah kenapa, sih?"


"Sayang, ada kalanya orang dewasa juga bertengkar. Mama kesal karena Papamu sudah berbohong. Itu tindakan tidak baik," kata Delilah.


"Berbohong demi kebaikan juga tidak apa-apa."


Delilah melotot mendengarnya. "Jangan dengarkan ucapan Papamu. Ini ... suruh Papamu makan."


Kyomi mengangguk. Meraih rantang makan dari ibunya, kemudian melangkah pergi ke apartemen sebelah.


"Papa ... Ini Kyomi." Serunya sembari menekan bel.


Tidak ada tanda Nayaka untuk membuka pintu. Kyomi menekan angka-angka di gagang pintu, dan terbuka.

__ADS_1


"Papa malah tidur." Rantang makanan itu di letakkan di meja sebab Nayaka tidur di sofa. "Papa ...."


Nayaka bergumam. Perlahan ia membuka matanya, dan melihat Kyomi yang duduk di bawah sembari memandangnya.


"Sayang, kau di sini?"


"Mama suruh Papa makan."


Nayaka beringsut bangun. "Mama enggak cari Papa?"


Kyomi menggeleng.


"Mama marah sama Papa?"


Kyomi mengangguk.


"Ya, sudah. Papa makan."


"Kyomi pulang, ya?"


Nayaka mengangguk. "Iya. Langsung tidur. Besok Papa antar ke sekolah."


"Kyomi mau pakai bus sekolah saja."


"Kau harus menunggu di halte kalau begitu."


"Papa antar sampai di sana saja."


Kyomi pun menyahutinya, kemudian melangkah pergi. Tinggal Nayaka yang menikmati makan malam dari Delilah.


Keesokan paginya, Delilah masih tidak menegur Nayaka. Sarapan pagi terasa hening. Hanya suara Kanaka yang tertawa saat menerima makanan untuk pertama kalinya.


Tidak terasa, Kanaka sudah berusia enam bulan. Nayaka dan keluarga kecilnya sudah tiga bulan berada di London.


"Kyomi sudah selesai. Mama, Kyomi berangkat." Kyomi mengecup pipi Delilah saat ia bergeser dari kursi makan.


"Tunggu di ruang tamu. Papa juga akan selesai."


"Hati-hati, Sayang!" seru Delilah.


Nayaka tidak berani menegur Delilah. Wajah kekasihnya ini tidak sedap dipandang. Cemberut saja, meski Kanaka tengah tertawa saat ini.


"Kalau wajahmu cemberut, Kanaka akan sedih."


"Buktinya Kanaka tertawa." Delilah memainkan lidahnya, yang membuat Kanaka tertawa. "Iya, kan, Sayang? Kanaka bahagia, kan?"


"Aku berangkat kerja dulu." Nayaka bergeser dari kursinya. Ia mengecup kening Kanaka, lalu mengulurkan tangan pada Delilah. "Kalau kau tidak lagi marah, bicara padaku."


Delilah mengecup punggung tangan Nayaka, tetapi ia tidak menanggapi kalimat terakhir mantan suaminya itu.


Saat keduanya telah keluar dari apartemen, Delilah bergegas menuju arah jendela. Ia melihat ke bawah.

__ADS_1


"Mbak Santi!" panggilnya.


"Iya, Nona."


"Aku mau pergi. Kau lanjut beri makan Kanaka."


Santi mengangguk. "Iya ...."


Harus diselidiki. Delilah akan mengunjungi tempat kerja Nayaka. Untungnya ia sudah mengaktifkan GPS. Ia bisa mengetahui di mana posisi Nayaka saat ini.


Delilah menumpang taksi menuju kafe Brook Star. Ia meminta sopir untuk berhenti tidak jauh dari sana. Delilah keluar setelah membayar ongkosnya. Untungnya Delilah sudah siap sedia. Ia memakai jaket, dan topi untuk mengintai.


"Apa Nayaka bakal tahu aku mengikutinya?" Delilah jadi was-was. Ia sudah memakai jaket dan topi baru. "Masuk saja, deh."


Ketika Delilah masuk, ia melihat Nayaka yang duduk sembari menatap layar laptop dengan secangkir kopi dan cake cokelat di sampingnya.


"Permisi." Delilah menghentikan pelayan wanita. "Aku ingin tanya sesuatu padamu. Kau lihat pria yang memakai kemeja kotak itu? Dia suamiku, aku sedang memata-matainya. Aku takut dia selingkuh. Aku ingin tanya. Apa dia sering kemari?"


"Oh, pria itu setiap hari kemari. Dia hanya sendiri. Kadang juga ada dua pria yang bersamanya."


Delilah mengangguk. "Terima kasih atas jawabanmu."


Sudah Delilah duga. Nayaka berbohong padanya. Pria itu tidak bekerja paruh waktu di dua tempat, melainkan nongkrong di kafe sembari menatap layar laptop.


Delilah mendatangi Nayaka. Ia langsung saja duduk di depan teman masa kecilnya itu. "Jadi, begini pekerjaanmu?"


Nayaka malah tersenyum. Ia sudah tahu Delilah saat wanita itu masuk dan bertanya pada pelayan. Ia sempat melirik pengunjung yang masuk, dan rupanya itu kekasihnya.


"Kemari. Duduk di sampingku. Aku perlihatkan apa pekerjaanku sebenarnya."


Delilah menurutinya. Ia melihat grafik yang sedang bergerak dengan angka-angka yang tidak mudah dipahami.


"Ini apa?"


"Uang kripto. Aku membangun aplikasi uang kripto. Coin Global. Sekarang kau lihat ini."


Nayaka menunjukkan satu lagi, tetapi menampilkan mobil-mobil yang terpanjang.


"Kau ingin membeli mobil?"


"Bukan," jawab Nayaka. "Aku membuat aplikasi penjualan mobil bekas. Driver Shine."


"Sejak kapan?" Delilah sungguh tidak tahu. "Tidak mungkin dalam 3 bulan kau bisa meraup untung."


"Sudah lama. Sekitar 7 tahun lalu, dan sekarang aku meraup untungnya. Kau pernah dengar Global Drvcon?"


Delilah membelalak. "Kau CEO-nya?"


Nayaka terkekeh. "Kau baru tahu siapa aku sebenarnya, kan?"


"Astaga!"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2