Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Kaget


__ADS_3

"Pusat perusahaan ada di Dubai. Karena kau sudah memutuskan untuk mengambil semua, maka kita harus tinggal di sana."


Nayaka paham betul kata-kata yang tercetus dari mulut Omar. Mengambil semua berarti, meninggalkan semua kenangan di Indonesia. Masa kecil, kenangan bersama ibunya, lalu Delilah. Meski kenangan itu lebih banyak membuat trauma, tetapi Nayaka pernah merasakan manisnya kasih sayang orang tuanya.


"Bagaimana rencana pernikahanmu? Papa akan datang melamar untukmu."


"Jangan dibahas. Sebentar lagi juga Tuan Reyhan akan datang mencariku," sahut Nayaka.


Omar melihat Fahmi, tetapi asistennya itu cuma menggeleng. Omar senang putranya mau kembali dan mengatakan akan mengambil alih perusahaan. Namun, ada sesuatu yang membuat perasaan putranya itu terluka, dan Omar yakin Nayaka ada masalah dengan calon istrinya itu.


"Baiklah, Papa juga ingin bertemu dengannya. Sekaligus ingin membayar segala bantuan yang telah ia berikan padamu."


"Seharusnya kau lakukan itu sejak dulu." Nayaka bangkit dari duduknya, lalu melangkah pergi.


"Nayaka!" Omar menegur.


Nayaka berhenti, lalu menoleh. "Kau tidak meninggalkan apa-apa sejak berpisah dari ibuku. Kau mengambil semuanya dari kami, hingga aku selalu saja dianggap sebagai seorang pengemis. Aku tidak bisa melawan mereka yang menghinaku karena aku sadar, pria miskin seperti diriku ini tidak akan mampu melawan anak orang kaya."


"Kau masih kecil untuk tahu segalanya, Nayaka."


"Yang kutahu, kau itu pria yang suka menyiksa ibuku."


"Kau tidak tahu apa-apa, Nak." Omar membela diri. "Ada alasan aku melakukan itu."


"Alasannya adalah kau yang suka bermain wanita. Perusahaanmu bangkrut, dan semua masalah itu kau lampiaskan pada ibuku."


"Nayaka!" tegur Omar.


"Sudahlah, aku tidak ingin membahasnya." Nayaka lekas berlalu setelah mengatakan hal itu.


Sementara Omar terduduk di atas sofa. "Aku memang bersalah, tetapi aku melakukan itu karena Nilam yang tidak menerima kebangkrutanku. Dia tidak mendukungku, dan selalu menuntut. Saat dia melarikan diri dengan bantuan Dion, aku tidak bisa apa-apa. Aku meninggalkan semua kenangan yang ada di Indonesia, dan kembali ke Dubai."


"Masa lalu tidak bisa diubah, Tuan. Lebih baik memperbaiki hubungan yang telah renggang saja. Tuan Muda sudah kembali dan dia siap menerima tanggung jawab ini." Fahmi mencoba menenangkan Omar dengan kata-kata yang menyejukkan.


"Ada apa dengan Nayaka dan Delilah? Apa mereka bertengkar?" tanya Omar.


"Mungkin, Tuan. Karena waktu itu, Kyomi hampir saja celaka karena berlari ke jalan raya."


Omar menggeleng. "Aku tidak ingin mencampuri urusan asmaranya. Tapi kasihan Kyomi. Dia anugerah, juga dosa dari kedua orang tuanya."

__ADS_1


Fahmi tidak tahu harus berkata apa. Memang di sini Kyomi yang kasihan. Fahmi mencoba mengalihkan pembicaraan. "Tuan Muda bilang, Tuan Reyhan pasti akan datang. Apa kita siapkan penyambutan?"


Omar mengangguk. "Mungkin bicara mengenai hubungan Nayaka dan Delilah. Kita siap-siap saja jika pernikahan diadakan secara tiba-tiba."


Fahmi mengangguk. "Iya, Tuan. Ini pernikahan Tuan Muda. Harus diadakan secara meriah."


"Iya, kau benar. Nayaka harus tunjukkan siapa dia yang sebenarnya." Omar tertawa sembari mengucapkannya.


Andai kedua orang itu tahu apa yang terjadi antara Nayaka dan Delilah. Tentu khayalan tentang pernikahan mewah itu akan buyar begitu saja.


...****************...


"Rey, aku sudah selidiki Nayaka," ucap Diki sembari menyodorkan map warna merah.


"Aku juga tahu Nayaka itu siapa. Ibunya namanya Nilam. Bapaknya enggak tahu ke mana." Reyhan menyahut, seolah ia pernah bertemu saja pada sosok Omar.


"Kau tahu siapa nama bapaknya?"


Reyhan tampak berpikir. "Siapa, ya? Kan, Dion yang berurusan sama mereka. Aku mana tahu. Lagian aku menyuruhmu mencari Nayaka. Kau tahu, kan, Delilah sudah tergila-gila pada sosok pria itu."


"Justru itu. Selama ini kita tahu Nayaka sebagai anak asuh Dion. Bapaknya masih ada Rey. Omar Malik Hawwas, seorang pengusaha real estate asal Dubai. Kemungkinan Nayaka ada di rumahnya. Kau bisa menghubunginya untuk mencari calon menantumu itu."


Diki berdecak. "Mereka ada di sini. Apartemen Hawass di Jakarta Selatan itu milik mereka, Rey."


"Kenapa tidak bilang?"


Ketukan di pintu menghalangi Diki yang ingin menjawab betapa lemotnya pikiran Reyhan yang sudah mulai menua itu. Delilah tiba-tiba saja muncul.


"Kak, Nayaka sudah ditemukan?"


"Kau tidak tahu kekasihmu itu? Dia mungkin di rumah orang tuanya." Reyhan menyahut.


"Orang tua Nayaka sudah tidak ada. Ibunya tiada dan ayahnya menelantarkan dia."


Reyhan dan Diki saling melihat. Bingung, terlebih heran karena Delilah tidak tahu apa-apa mengenai siapa pria yang dicintainya itu.


"Kau ada masalah apa sampai Nayaka lari darimu?" Reyhan bangkit dari duduknya. Ia berjalan mendekati sang adik yang tengah gugup saat ini.


"Dia memukulku, Kak," jawab Delilah.

__ADS_1


"Logikannya, Del. Jika Nayaka mencintaimu, dia pasti minta maaf karena kesalahan yang dia buat. Bukan lari seperti ini. Nayaka tidak mungkin takut padamu, kan?"


"Aku menyuruhnya bekerja di perusahaan, tapi dia menolak. Kami bertengkar, dan dia memukulku," tutur Delilah.


Reyhan menaikkan sebelah alisnya. "Nayaka lari. Pasti kau tahu di mana dia, kan? Dia tidak jauh-jauh dari orang tuanya."


"Kak, Nayaka cuma punya aku." Delilah kekeh atas jawabannya.


"Kau tidak tahu kalau Ayah Nayaka sudah ada di sini. Nayaka juga punya perusahaan Real Estate."


"Apa?" Delilah kaget mendengarnya. "Dia tidak pernah bilang padaku."


"Kau keluarlah dulu. Biar Kakak yang urus."


"Tunggu, Kak. Maksud Kakak apa? Nayaka punya perusahaan?"


"Dia anak dari pengusaha Omar Malik Hawwas. Kau tahu apartemem elit Hawwas, kan? Itu milik mereka."


Delilah membelalak. "Apa?!"


"Kau keluar dulu." Reyhan mendorong pelan Delilah keluar dari ruang kerja. Kemudian menutup dan mengunci pintu. Reyhan memandang Diki. "Kurasa masalahnya sedikit sulit. Aku yakin Delilah telah membuat masalah."


"Nayaka pergi bersama Kyomi. Apa mereka putus?" tanya Diki.


"Mungkin saja."


"Seharusnya kau segera menikahkan mereka, Rey. Tidak peduli mau itu ada pesta atau tidak. Harusnya nikahkan saat itu juga."


"Kenapa kau menyalahkan diriku? Aku berniat mau menikahkan mereka, tetapi Nayaka dan Delilah memilih untuk menyelesaikan pekerjaan mereka dulu. Aku akan menuntut Nayaka menikahi Delilah." Reyhan bertekad.


"Ini sedikit susah, Rey. Masalahnya Nayaka bukan tidak bertanggung jawab. Tapi, Delilah awalnya meninggalkan kekasihnya itu."


"Tidak peduli apa pun itu. Nayaka harus menikah dengan Delilah," ucap Reyhan.


"Aku tidak tahu. Delilah susah diatur. Coba kau beri dia pelajaran sekali-kali. Anak itu sudah terlalu manja."


"Apa?" Reyhan terkesiap mendengarnya. "Sejak dulu siapa yang protes kalau aku akan mendidik Delilah dengan sedikit keras. Kau bilang inilah itulah. Kau sama saja dengan Om Bastian. Selalu saja kalian itu memperlakukan Delilah khusus hanya karena ia tidak punya orang tua."


"Kali ini tidak akan. Kita segera temui Nayaka. Pernikahan sebentar lagi. Bisa malu, Rey, keluargamu kalau pernikahan batal lagi," ucap Diki.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2