
Kyomi berlari menghampiri sang ibu, lalu memeluknya. Nayaka tersenyum, merasa lega karena Delilah menepati janji bertemu dengannya di Inggris.
Memang Delilah datang lebih dulu tiga sebelumnya, baru Nayaka menyusul dan sekarang sang mantan menjemputnya.
Nayaka memeluk Delilah, lalu mengecup keningnya. "Kukira kau tidak akan datang."
"Masih berpikir aku tidak akan datang?" Delilah mendengkus.
Nayaka menyengir. "Siapa tahu kau membohongiku."
"Aku tidak datang menjemputmu, tapi menjemput Kyomi."
"Iya, apa pun itu, aku senang kau datang. Ayo, kita pulang."
Ketiganya berjalan bersama. Delilah mengeret koper Kyomi sembari mengiringi putrinya. Sementara Nayaka membawa dua koper di tangan. Mereka akan tinggal di sini sampai tujuan hidup tercapai.
Tiba juga di apartemen. Delilah menginginkan tinggal di apartemen peninggalan ibunya, dan terpaksa Nayaka juga ikut di sebelahnya. Lagipula, bangunannya sudah di renovasi dan harga perawatannya cukup mahal. Nayaka membeli satu unitnya tepat di sebelah. Dengan memaksa tentunya karena sang pemilik tadinya hanya ingin menyewakan saja.
Tadinya ingin tinggal bersama karena akan lebih efisien. Tapi, Delilah sudah mewanti-wanti jika tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Astaga! Memangnya Nayaka akan menidurinya terus-menerus? Ya, memang hasrat itu ada. Nayaka akui, terlebih melihat Delilah yang seakan terus menggodanya. Sungguh begitu menyiksa.
Sudah diputuskan kalau Kyomi akan tinggal bersama Delilah. Sang putri sudah besar, dan lebih cocok tinggal bersama ibunya.
"Aku simpan koper di kamar dulu."
"Bersihkan dirimu dan pergi makan." Delilah menyuruh Kyomi untuk masuk ke biliknya.
"Iya. Terima kasih sudah membersihkan unitku."
"Setidaknya kau akan nyaman tidur."
"Apa aku tidak bisa tidur di tempatmu?"
Delilah mendecakkan lidah. "Kau ini ...."
"Bukan berarti kita tidur bersama, Sayang."
Delilah menggeleng akan rayuan itu. "Tidak! Kau sudah punya bilik sendiri."
Nayaka mengembuskan napas. "Baiklah ...."
Delilah terkikik geli. Ia langsung masuk ke dalam. Nayaka hanya memperhatikan pintu yang tertutup itu. Delilah membawa Santi yang akan membantunya selama berada di Inggris. Ia juga mulai menerima orderan perhiasan secara online. Setelah perhiasan yang dibuatnya dikenal, maka Delilah akan membuat pameran sendiri.
"Sayang, mandi dulu. Mama akan siapkan makan."
"Mau lihat Kanaka dulu."
__ADS_1
"Ayo, dong, Sayang. Mandi dulu."
"Kyomi mau telepon."
"Telepon siapa?" Delilah memandang lekat putrinya. "Kakek Omar? Atau teman?"
Kyomi mengangguk. "Iya, teman sekolah."
"Oh, boleh. Telepon saja. Kyomi punya ponsel, kan?"
Tanpa menunggu lagi, Kyomi bergegas menuju kamarnya. Hunian milik Delilah telah direnovasi dan diperbesar dengan dua kamar. Kyomi akan tidur bersama Delilah, dan Santi punya kamar tersendiri.
"Nayaka belum bercerita tentang teman sekolah Kyomi. Nanti saja, deh, tanya dia," gumam Delilah.
Selesai membersihkan diri. Nayaka mengunjungi bilik Delilah. Ia masuk saja karena sandi di pintu sudah ia hapal. Baik Delilah dan Nayaka sama-sama memberitahu kode pintu rumah mereka.
Nayaka langsung meraih Kanaka yang tergeletak di atas karpet. Ia menimang dulu, melatih Kanaka untuk miring agar segera belajar tengkurap.
"Kak, Kyomi punya teman di sekolahnya?" Delilah ikut duduk di samping Nayaka sembari menyerahkan satu gelas air putih pada mantannya itu.
"Pasti punya lah, Del. Kenapa memangnya?"
"Tadi dia minta buat teleponan."
"Kyomi!" seru Delilah. "Makan dulu."
"Berisik ...." Nayaka menegur.
"Biarin!" ucap Delilah sembari beringsut dari duduknya.
Kehidupan seperti ini yang akan Delilah wujudkan. Ia ingin mengurus semuanya sendiri sambil bekerja. Hanya ada satu pelayan, dan lainnya, ia yang akan kerjakan.
Kyomi baru selesai mandi. Yang terbiasa oleh pelayan, kini Kyomi harus kembali seperti dulu, ketika ia hidup bersama sang ayah di Paris. Semua harus dilakukan secara mandiri.
"Siapa yang kau telepon tadi?" tanya Delilah.
"Hanya teman sekolah. Kyomi cuma bilang kalau sudah sampai di London."
"Teman perempuan atau teman lelaki?"
"Namanya Sarah." Kyomi tersenyum ketika mengatakannya.
Delilah mengangguk. "Oke! Cepat keluar. Papamu sudah ada di sini."
Kyomi mengangguk. Ia bernapas lega ketika Delilah sudah keluar kamar. Bukan Sarah yang ditelepon, melainkan Dareen. Kyomi juga tidak akan pernah bilang kalau Dareen mengecup pipinya.
__ADS_1
Ketiganya berada di ruang makan sambil menyantap hidangan yang Delilah sediakan. Baik Nayaka dan Kyomi, tidak protes atas makanan yang terdiri dari telur, sosis dan sayur. Dari dulu juga mereka terbiasa. Ini seperti mengulang masa lalu, dan sebenarnya Nayaka juga senang.
"Aku sudah punya pekerjaan. Bagaimana denganmu?" tanya Delilah.
"Aku bisa bekerja. Kau tenang saja. Aku bisa kerja paruh waktu di banyak tempat."
"Kau yakin? Anak kita ada dua."
"Kita bisa menambah lagi menjadi 3. Mumpung masih muda."
"Aku serius, Nayaka."
"Aku juga serius, Sayang. Berhematlah dengan uang yang kuberikan nanti. Tidak ada kartu debit dengan saldo ratusan juta dollar. Tidak ada kartu hitam. Tidak ada tas dan baju mahal. Kyomi juga akan sekolah di tempat biasa. Dia akan naik bus sekolah. Aku sudah meninggalkan semuanya. Ini demi kau dan hidup yang kau inginkan."
"Kau meninggalkan semuanya?" Delilah tidak percaya ini.
Nayaka mengangguk. "Ya, kita mulai lagi dari awal."
Delilah tidak lagi menanggapi. Ia memang berkata, seperti itu. Namun, ia tidak menyangka jika Nayaka benar-benar melepas semua. Sekarang mereka pindah ke Inggris. Memulai hidup baru sebagai keluarga.
Apartemen yang dihuni Nayaka, hanya dijadikan sebagai tempat untuk tidur. Yang lainnya, Nayaka selalu lakukan di apartemen Delilah. Makan dan minum selalu di sana. Ketika malam hari di pukul 10 malam saja, Nayaka akan pulang ke biliknya sendiri.
Andai bisa dan Delilah mau, bisa saja Nayaka membobol dinding agar kamar mereka menyatu. Sayangnya Delilah masih menolak untuk tinggal bersama seperti dulu. Apalagi menikah.
"Kau mendapat pekerjaan?"
Nayaka mengangguk. "Ya, di sebuah restoran. Aku dapat dua. Pagi dan siang. Malamnya aku bisa bersamamu. Kalau kau?"
"Ada lima orderan. Batu permata yang kau berikan sangat membantu. Kurasa pelangganku ini orang kaya. Dia memesan satu set perhiasan dan sudah membayar setengahnya."
"Aku akan temani bila kau ingin mengantarnya. Sepertinya kita harus menyewa satu gedung. Lebih berkelas, maka orang akan datang dengan sendirinya."
Saran Nayaka ada bagusnya juga. Memiliki gedung akan membuat orang percaya, dan bisa melihat langsung perhiasan yang Delilah buat. Masalahnya, bagaimana cara mendapatkan gedung? Harga sewanya sudah pasti mahal.
"Kita bisa mengajukan pinjaman. Seorang pengusaha juga perlu modal, kan?"
Lagi-lagi Delilah setuju pada saran Nayaka. Ada benarnya juga. Tapi, menyewa gedung juga perlu karyawan, sedangkan Delilah baru merintis usahanya.
"Bukannya harus ada banyak barang?"
Nayaka mengangguk. "Selagi mengajukan pinjaman, kau buat saja perhiasan, lalu jual online. Setelah itu uangnya bisa diputar lagi."
Delilah tersenyum. "Baik. Aku akan mencobanya."
Bersambung
__ADS_1