
Delilah baru dapat bernapas lega karena Kyomi ada bersama Nayaka. Hampir saja ia ingin berteriak lantaran tidak menemukan anak semata wayangnya itu.
Reyhan menggeleng. "Kau di mana, anak di mana. Ingat, Del. Kau sudah punya anak."
"Kok, Kakak nyalahin Delilah, sih. Kan, tadi Kyomi sama Kak Anna."
"Eh, kau kira istriku pengasuh? Kyomi tadi menghampirimu, kan?" Reyhan jadi kesal mendengarnya. "Kalau kau begini lagi, lebih baik Kyomi tinggal bersamaku saja. Kau mengharapkan Kakakmu ini menjaganya, kan?"
"Sudah, Sayang." Anna mencoba menenangkan suaminya. "Kyomi memang melepaskan diri dari peganganku tadi."
"Kyomi menghampirimu, Del. Kau malah asik berfoto bersama teman-temanmu." Ayyena menyambung. "Kau jangan mengharapkan Mamaku menjaga anakmu."
Memang Anna dan Ayyena melihat Kyomi menghampiri Delilah. Anna kira memang adik suaminya itu sudah melihat Kyomi, dan ia pun menyapa kenalan yang lain.
"Kyomi cucunya. Maksudku keponakannya." Delilah menjawab.
"Kau ...!" Reyhan mulai marah.
"Sudah, Rey. Tamu masih ada. Kalian jangan membuat keributan. Sekarang Kyomi sudah bersama papanya. Dia aman bersamanya." Anna menengahi agar semuanya tidak bertengkar.
"Kita pulang saja. Lama-lama aku bisa memukul anak ini lagi."
Reyhan langsung saja melangkah pergi meninggalkan istri, anak dan adiknya. Delilah begitu enteng menyalahkan Anna, seolah istrinya itu harus menjaga Kyomi, padahal Delilah adalah ibunya.
"Kakak sudah tidak sayang lagi padaku." Wajah Delilah murung ketika mengatakannya.
Anna cuma diam saja, ia menyusul suaminya yang telah lebih dulu berjalan pergi. Sementara Ayyena pun sama. Ia segera menghampiri saudara kembarnya yang saat ini tengah PDKT pada seorang pria.
Delilah pun meninggalkan acara ini karena tamu yang mulai beranjak pergi dengan membawa perhiasan yang mereka beli. Ada juga yang meminta Delilah langsung untuk mendesain kalung khusus.
Kesal sudah pasti karena Nayaka tidak memberitahu dulu jika ia membawa Kyomi bersamanya. Semua khawatir, takutnya Kyomi menyelinap pergi, lalu diculik orang. Membayangkannya saja Delilah tidak sanggup. Terlalu menakutkan jika sampai itu terjadi.
Sampai di kamar hotel yang Nayaka sebutkan tadi, Delilah mengetuk daun pintu sebanyak tiga kali. Ia melipat tangan di perut menunggu itu, tetapi Nayaka masih belum membuka.
Delilah mengetuk lagi. Ke-9 kalinya barulah pintu kamar terbuka. "Kak, kau ...."
"Diam!" Nayaka keluar, lalu menutup pintu.
"Kyomi mana?"
"Sudah tidur. Kenapa?"
__ADS_1
"Kau marah?"
"Menurutmu?" tanya Nayaka. "Kau pikir, aku harus apa? Kau baru sadar kehilangan anak."
"Kau sendiri tidak meneleponku. Kau bisa, kan, mengirim pesan padaku."
"Kau ini ibu macam apa, sih, Del? Anakmu merengek ingin tidur, tapi kau tidak peduli. Kau sibuk dengan kumpulan sosialitamu itu. Kau lupa bahwa kau punya anak!" Nayaka sedikit keras mengatakannya.
Delilah merasa tidak terima atas ucapan Nayaka. "Kau tahu kalau malam ini adalah acara besarku. Kau tahu kalau aku harus menjamu para tamu khusus itu. Sekarang, kau malah menyalahkanku tidak becus sebagai ibu. Seharusnya kau mengerti posisiku, Kak."
"Dengan mengabaikan anakmu begitu? Dia putrimu! Wajar kalau dia ingin selalu bersamamu. Kau malah sibuk berfoto. Oh, ya, kau bilang aku tidak mengabarimu, kau lihat ponselmu. Aku mencoba meneleponmu!"
"Tadi Kyomi bersama Kak Anna. Aku kira dia yang menjaganya." Delilah beralasan agar Nayaka tidak marah.
"Apa?" Nayaka menggeleng. "Kau mengharapkan anakmu diasuh orang lain?"
"Aku hanya meminta Kak Anna menjaganya saja sebentar."
"Lalu kau bisa bersenang-senang begitu? Di rumah, beliau sudah menjaganya, dan sekarang di luar, kau ingin anakmu dijaga olehnya? Kau mengharapkan seorang wanita berumur menjadi pengasuh?"
"Kau sendiri yang menyayangkan untuk membawa pengasuh. Kalau aku membawa babysitter, kita tidak akan repot."
"Aku capek bicara padamu." Nayaka menekan handel pintu, ia masuk ke kamar dengan disusul oleh Delilah.
"Kak, aku minta maaf. Kau jangan marah begini." Delilah meraih lengan kekasihnya, tetapi Nayaka menepis pegangan tangannya.
Nayaka duduk di sofa, dan Delilah duduk di pangkuannya. "Jangan begini. Aku tidak berminat."
"Aku janji tidak akan mengulangi hal ini lagi." Delilah mengusap lembut rahang Nayaka. Ia juga memberi kecupan kecil di hidung bangir pria itu. "Jangan marah lagi, wajahmu tidak sedap dipandang."
"Jangan membujukku dengan cara seperti ini." Nayaka meraih pinggang Delilah, membawa wanita itu turun dari pangkuannya.
Keras kepala Delilah, ia kembali duduk di atas pangkuan Nayaka. Bahkan, ia melepas kalung yang melingkar di leher. Delilah menurunkan tali gaunnya, melepas pad yang melindungi putik kelembutannya.
"Kau membuatku berjanji untuk tidak melakukannya." Nayaka memalingkan wajah saat memandang dua kelembutan itu.
"Aku tahu kau menginginkannya."
Gaun hitam itu melorot begitu saja. Delilah mendekatkan dua sisi sensitifnya ke hadapan Nayaka. Membenamkannya ke wajah pria itu agar sang kekasih mau mencucup salah satunya.
Digoda seperti itu, Nayaka luluh juga. Ia menangkap salah satunya. Mencucupnya dengan kuat, menggigit kecil yang membuat Delilah menutup bibir. Ia tidak boleh bersuara lantaran Kyomi juga berada di kamar yang sama.
__ADS_1
Nayaka menggendong Delilah masuk ke kamar mandi. Di dalam sana, ia melanjutkan apa yang tadi tertunda. Baju yang ia kenakan dilepas satu per satu. Delilah pun telah polos, dan siap untuk dimasuki.
"Kau begitu pintar membuatku diam." Nayaka menarik ujung putik itu. Memelintir, lalu menekan bantalan lembut itu.
"Aku hanya memberimu karena dari semalam, kau sangat menginginkannya."
Nayaka menunduk, mengecup tubuh Delilah. "Kau sendiri yang mengingkari janjimu."
"Haruskah kita hentikan ini?"
"Kau ingin aku tersiksa?" Nayaka menekan kuat.
Delilah menjerit, tetapi lekas Nayaka menutup bibirnya dengan sebuah belitan panas. Bibir rekah Delilah menyambut baik kumbamg yang mengisap sarinya.
Secara sadar, Delilah merasakan sesuatu yang mulai masuk. Ia mendongak dengan dua tangan bertengger di leher Nayaka.
"Rasanya tetap luar biasa." Delilah kembali mengecup bibir Nayaka.
"Kau rasakan gerakannya."
Pelan, tetapi menghentak ketika masuk. Nayaka sengaja, menariknya keluar, lalu memasukkannya lagi.
"Kau suka?" tanya Nayaka.
"Aku selalu suka kau memasukiku. Tapi, aku lebih suka kalau kau membuat tubuh ini bergetar."
Nayaka tersenyum, kemudian menuruti apa yang Delilah minta. Membuat tubuh kekasihnya itu bergetar dengan hebat sampai Delilah menutup mulut secara rapat.
"Pelan sedikit!"
"Kau bilang agar aku mengguncang tubuhmu."
"Ya, tapi jangan terlalu kuat juga."
Nayaka tidak peduli, ia ingin permainan ini cepat berakhir. Tiga hentakan penutup, sebagai akhir permainan mereka.
Delilah langsung turun dari meja wastafel. Ia duduk di toilet, meringis ketika membasuh miliknya sendiri. "Perih kalau terlalu kuat."
"Memangnya salahku? Kau sendiri yang minta."
Bersambung
__ADS_1