
Lebih kaya dari Juno, bahkan kakaknya sendiri Reyhan. Delilah tidak percaya ini. Nayaka selama ini menyembunyikan identitasnya.
Bukankah ini sebuah keberuntungan? Oh, Delilah merasa ia memang diberkati sedari kecil. Terlahir dari sepasang konglomerat. Kakek yang kaya. Seorang Kakak yang berkuasa dan bergelimpangan harta. Lalu sekarang ia mendapati kekasihnya, calon suaminya adalah salah satu putra konglomerat dunia. Delilah ingin teriak, memberitahu semua pada orang-orang bahwa ia adalah wanita yang paling beruntung.
"Kuperhatikan kau senyum terus." Sera menegur.
Delilah mendongak pada Sera yang baru datang. "Kapan kau tiba?"
"Kau melamun rupanya. Aku datang saja kau tidak tahu."
"Kau tahu, Nayaka itu anak dari Omar Malik Hawwas. Itu, loh, pemilik apartemen Hawwas. Kau tahu, kan, betapa elitnya kawasan itu. Ah, Kiano punya satu. Apa kau sering ke sana menghabiskan waktu bersamanya?" Delilah menaik turunkan alisnya, menggoda Sera.
"Kau bicara apa, sih? Aku sudah punya pacar."
Delilah menatap curiga Sera. "Kau tidak mungkin kembali pada Juno, kan? Ya, kau ambil saja dia. Kau, kan, memang suka barang bekas dariku."
Sera melotot. "Gaya bicaramu memang sok. Asal kau tahu saja, sebenarnya kau itu merupakan pengemis."
Delilah bangkit dari duduknya. "Maksudmu apa?"
"Aku merelakan mereka semua karena kasihan padamu. Kau pikir, kau itu siapa sampai semua pria menginginkan dirimu? Kau tidak punya ayah dan ibu. Karena itu aku memberi peluang mereka semua untuk mendekatimu."
Delilah menaikkan sebelah alisnya. "Oh, ya? Jangan lupa Sera, kau mengejar Nayaka sejak dulu, padahal kau tahu dia hanya ingin bersamaku. Kau juga tahu kalau Juno memang naksir padaku."
"Sudah kubilang padamu. Aku menyumbangkan mereka untukmu. Kau itu perebut, Delilah. Kau mengunakan kekuranganmu untuk menggaet mereka semua. Aku kasihan padamu." Sera sama sekali tidak ingin kalah pada Delilah.
"Kau iri padaku karena aku selalu mendapatkan apa yang kumau. Kau selalu iri sejak dulu. Kau selalu menginginkan apa yang kumiliki. Mainan, kasih sayang, juga kekasih. Kau tidak layak bertanding denganku. Kau hanya orang luar di keluargaku."
"Delilah!" Anna menegur. "Apa yang kau katakan?"
"Benar, kan? Sera cuma orang luar di keluarga kita."
Anna menghampiri adik iparnya, lalu melayangkan satu tamparan di pipi Delilah. "Jaga bicaramu!"
"Kau menamparku?"
Delilah melotot. Pantang baginya untuk tidak membalas. Ia mengangkat tangan, tetapi Reyhan keburu meraihnya.
"Mau apa?" tanya Reyhan.
Delilah menarik tangannya. "Istrimu menamparku. Dia menampar adikmu!"
"Aku hanya memberinya pelajaran." Anna menyahut.
Secara bergantian, Reyhan memandangi Anna dan Delilah. Ini pertama kalinya Anna bermain fisik pada adiknya, dan pasti itu merupakan kesalahan yang fatal.
"Apa yang kau perbuat?" Reyhan bertanya pada adiknya.
__ADS_1
Tanpa rasa takut sedikit pun, Delilah menjawab, "Aku cuma mengatakan kebenarannya. Sera itu orang luar di keluarga kita."
"Kau mengatakan itu?" Reyhan sekali lagi bertanya.
"Itu memang kenyataan, kan?"
Reyhan hendak melayangkan tangan, tetapi Delilah menahannya. Ia tidak ingin ada satu orang lagi yang bisa menyakitinya.
"Kakak ingin menamparku? Kau tidak berhak untuk itu. Kau hanya Kakak tiriku."
"Delilah!" Reyhan emosi. "Kau jangan keterlaluan."
"Kau pergilah, Del. Bersiap saja sebelum Nayaka dan keluarganya datang." Anna menyela.
"Kakak tenang saja. Aku akan pergi dari sini setelah semuanya selesai." Delilah tersenyum, lalu berlalu dari semua.
"Sera, pergilah dulu ke dalam. Bantu Ayyena dan Anthea," ucap Anna.
Sera mengiakan, kemudian berlalu dari hadapan Reyhan dan Anna. Reyhan terduduk di sofa. Kaget karena ucapan sang adik yang begitu di luar dugaan.
"Sayang, aku enggak sengaja menampar Delilah. Aku minta maaf," ucap Anna.
Reyhan menggeleng. "Jangan lagi dibahas, Ann. Delilah sangat keterlaluan tadi. Dia menganggap Sera orang lain, padahal dari kecil kita sudah memberitahu kalau keluarga Diki adalah kerabat kita."
"Kau tenangkan diri dulu. Sebentar lagi keluarga Nayaka akan datang. Kita harus bersiap menyambutnya."
Reyhan mengangguk, dan Anna berlalu. Sementara Delilah lekas bersiap-siap untuk menyambut kedatangan kekasih dan calon mertuanya.
Baru turun dari mobil, Kyomi sudah melepaskan pegangan tangan dari Nayaka. Anak itu berlari memeluk Reyhan yang memang sengaja menunggu kedatangan rombongan Omar ke rumahnya.
"Kakek!" Kyomi berseru. "Kyomi kangen."
"Beneran kangen?"
Kyomi mengangguk. "Iya, beneran."
Reyhan tersenyum, lalu mengecup pipi anak itu. Kyomi beralih pada Anna, Kiano, serta si kembar. Sementara Reyhan menyambut tamu khususnya, yaitu Omar.
"Selamat datang, Tuan Omar."
Kedua pria paruh baya itu saling merangkul. Reyhan beralih pada Nayaka yang terlihat berbeda kali ini. Calon suami Delilah itu, memakai setelan yang serba bermerek.
"Kakak ...." Delilah menghampiri kekasihnya.
"Kenalkan dulu, dia Papaku. Omar Malik Hawwas."
Delilah tersenyum, lalu mengulurkan tangan. "Halo, Om."
__ADS_1
Omar menyambut uluran tangan itu. "Halo, Delilah. Nayaka banyak cerita tentang dirimu."
Delilah tersipu malu. "Semoga dia menceritakan hal yang baik tentang diriku."
Omar cuma terkekeh kecil. Selebih itu, Reyhan yang mengambil alih. Ketika semua ingin masuk ke rumah, dan Nayaka juga berkeinginan, Delilah mencegah kekasih itu.
"Kau benar-benar anaknya?"
"Kau sudah lihat, kan?" Nayaka ingin melangkah, tetapi Delilah masih menahan tubuhnya. "Apalagi, Del?"
"Kau tidak merindukanku?"
Nayaka mengembuskan napas lelah. Ia mengecup bibir Delilah sekilas. "Ayo, masuk."
"Kakak!" Delilah cemberut.
"Apalagi?"
Delilah memeluknya erat. Nayaka mengusap punggung kekasihnya itu, lalu menarik diri. Kecupan ringan ia sematkan di kening wanita itu.
"Kurangi manjamu."
Delilah tertawa. "Ayo, kita masuk."
Keduanya masuk menyusul yang lain. Nayaka duduk di samping ayahnya, dan Delilah di dekat Reyhan. Sementara Kyomi berada di tengah ayah dan kakeknya.
"Bagaimana kalau kita makan malam dulu sebelum bicara?" Anna menawarkan.
"Tidak perlu, Tante. Kita hanya sebentar di sini," sahut Nayaka.
Tentu saja hal itu membuat heran semua yang hadir. Sera, Maya, serta Diki yang cuma mendengarkan di sofa sebelah, juga merasa aneh akan ucapan Nayaka.
"Oh, baiklah."
"Jangan tersinggung, Nyonya. Lebih baik kita lekas bicara saja." Omar menimpali.
"Kedatangan kami ke sini karena aku ingin memutuskan hubunganku bersama Delilah. Aku membatalkan pernikahan ini. Aku dan Delilah tidak saling cocok," ucap Nayaka.
Delilah tersentak. "Kau bercanda? Kita sudah memiliki anak dan kita harus menikah."
"Aku tahu itu." Nayaka menatap Delilah. "Aku tidak ingin menikah denganmu. Aku ingin kita putus!"
"Kau bilang putus setelah apa yang kuberikan padamu." Delilah meradang. "Kau jangan bicara omong kosong."
"Diam dulu, Del." Reyhan menyela. "Nayaka, apa-apaan ini?"
"Maafkan aku, Tuan Reyhan. Hubunganku tidak sehat bersama Delilah. Kami tidak cocok. Daripada aku tidak bahagia, lebih baik aku memutuskan hubungan ini."
__ADS_1
"Kau harus menikahi Delilah. Kalian sudah memiliki anak dan kau harus bertanggung jawab."
Bersambung