
Rupanya, dua hari itu telah mengubah dunia Nayaka. Di kantor, ia tidak dapat menghindari tatapan pertanyaan dari rekan kerjanya. Nayaka cuma diam dengan cepat berlalu melewati semua. Namun, apa ia bisa menghindar? Saat tiba di meja miliknya sendiri, Nayaka mendapat pelototan itu lagi.
"Ada apa?" tanya Nayaka kepada Mary dan sofi.
"Tidak mengira telah bertemu suami ibu Delilah yang sebenarnya," celetuk Mary.
"Kau sungguh terkenal, Naya. Eh, maksudku Tuan Nayaka," Sofi menimpali.
"Ada apa dengan kalian? Bicara seperti biasa saja."
"Kami tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tetapi apa benar jika kau dan atasan ada hubungan?" tanya Mary memastikan, lalu menambahkan lagi ucapannya. "Kalian bahkan memiliki anak."
"Rupanya berita itu sudah tersebar," ucap Nayaka. "Memang begitu kebenarannya."
"Kau bekerja di sini karena beliau?" tanya Sofi penasaran.
Meski Nayaka menceritakan segalanya, pikiran orang lain akan tetap mengarah pada satu hal. Ia dianggap bergantung kepada gadis itu mengenai finansial.
"Terserah kalian mau menganggapnya apa. Lebih baik kita bekerja. Dua hari lagi launching produk baru, kan?"
Mary dan Sofi terdiam, lalu lekas duduk di depan meja mereka masing-masing. Membuat Nayaka marah takutnya bisa mempengaruhi kedudukan keduanya di perusahaan. Kabar baiknya, mereka mengenal Nayaka, kemungkinan naik jabatan itu begitu dekat.
Nayaka menghela napas perlahan. Bekerja di perusahaan Delilah sama saja membunuh harga dirinya. Ia akan dianggap sebagai pria aji mumpung karena telah dicintai oleh seorang wanita kaya.
Ini baru sehari, Nayaka sudah tidak tahan berada di kantor. Ia segera beranjak dari kursinya, melangkah menuju lift menemui sang kekasih yang berada di lantai teratas. Kepergian itu mengundang tatapan pertanyaan di antara Sofi serta Mary.
"Hampir saja aku naksir sama Nayaka," celetuk Mary.
"Dari awal keduanya memang mencurigakan. Aku curiga saat atasan memanggil Nayaka di ruang rapat," ucap Sofi.
"Aku juga merasa aneh. Rupanya kejadiannya seperti ini. Kau lihat foto dan video viral itu, kan?"
"Aku masih menyimpannya. Kasihan tuan Juno dikhianati cintanya. Aku sempat kasih komentar pada laman media sosialnya," ungkap Sofi.
"Aku enggak berani," sahut Mary.
Karena Nela sudah tahu hubungan Nayaka dan Delilah, wanita itu membiarkan saja Nayaka menerobos masuk ruang atasannya. Melihat wajah kesal itu, memang tidak baik menghalangi kepentingan Nayaka, bahkan senyum saja tidak pria itu balas.
Pintu ruangan dibuka, Delilah kaget karena Nayaka datang tanpa mengetuk lebih dulu.
"Ini kantor, Kak," ucap Delilah.
"Tahu, aku tidak tahan bekerja di sini. Aku ingin keluar," kata Nayaka.
__ADS_1
"Aku tahu itu, tapi kamu harus menepati perjanjian kontrak kerjanya. Kamu mau keluar dan bekerja di mana saja, terserah." Delilah bangkit dari duduknya, menghampiri Nayaka yang terlihat kesal. Ia mengangkat tangan, mengusap wajah yang penuh ketegangan itu. "Setelah ini, kau bekerja di perusahaan peninggalan papa saja. Aku menyuruh Andi untuk mengajarimu."
"Kau pikir aku tidak mampu?"
"Menurutmu?" ucap Delilah. "Belajar dari orang yang berpengalaman. Jangan berpikir karena kau telah bekerja di perusahaan luar negeri, kau begitu pintar."
"Kau benar, terima kasih telah mengingatkanku."
"Fokus untuk dua hari ini. Sebagai atasan, aku ingin pameran ini sukses," kata Delilah.
"Tidak usah kau ingatkan. Aku tahu apa yang akan kulakukan," sahut Nayaka.
Delilah tersenyum, lalu memeluk sang kekasih. Sementara tubuh yang dipeluk itu berusaha untuk melepaskan diri. Kehangatan yang menjalar bisa saja membangkitkan hasrat lelakinya.
"Ini kantor. Kita atasan dan bawahan," ucap Nayaka.
"Itu tadi, tetapi sekarang kita adalah pasangan."
Nayaka meraih dagu lancip itu, lalu mendaratkan kecupan di atas bibir yang merona merah.
"Sudah, aku harus kembali kerja. Jangan membuat ini semakin rumit," kata Nayaka.
"Baiklah, malam ini menginap di apartemen."
"Aku heran, kenapa dia masih marah padaku?" ucap Delilah. "Apa Angel yang mengajarinya? Wanita itu mengajar di sana, kan?"
"Kau yang berbuat, kau sendiri malah menyalahkan orang lain."
Delilah berdecak. "Setelah kita menikah, aku ingin Kyomi pindah dari sekolah itu."
"Terserah kau saja," sahut Nayaka sambil melepas pelukan Delilah.
"Kapan kau akan melamarku?"
"Apa masih perlu melamar? Langsung ijab kabul saja."
"Lebih baik Kakak lekas keluar dari ruangan ini." Delilah mendecakkan lidah, lalu melangkah menuju kursinya.
Nayaka cuma bisa tertawa. "Aku pergi. Jangan lupa untuk menjemput putrimu pulang sekolah. Kalau kau telat, dia akan marah."
"Iya," jawab Delilah dengan menarik salah satu sudut bibirnya.
Mana mungkin Nayaka melupakan tanggung jawab itu. Acara pernikahan yang awalnya untuk Juno dan Delilah, kini berganti. Acara tetap sesuai jadwal hanya saja mempelai pengantin pria berganti dan pernikahan itu akan dibuat secara sederhana saja.
__ADS_1
...****************...
Istirahat kantor, Nayaka menyempatkan diri mengunjungi toko perhiasan di Melawai Plaza. Ia pergi memilih cincin pertunangan untuk Delilah. Bukan berlian yang dapat Nayaka berikan, tetapi hanya cincin emas putih sesuai isi dompetnya, yang ia beli seharga tiga juta rupiah.
Setelah itu, Nayaka pergi mengunjungi restoran favorit kekasihnya. Cukup menguras kantong membawa Delilah ke tempat yang sesuai dengan selera wanita itu.
Nayaka memesan meja untuk mereka juga makanan yang lagi-lagi sesuai selera Delilah. Mungkin kekasihnya tidak meminta hal seperti ini, tetapi Nayaka ingin memberi sesuatu pada Delilah, apalagi hal ini akan menjadi moment paling membahagiakan bagi keduanya.
"Semua sudah selesai. Tinggal menyuruh Delilah saja," gumam Nayaka. Ia menepuk jidat. "Apa Delilah mau dijemput pakai motor?"
Sudah lama saling mengenal, tetapi Nayaka belum pernah melihat kekasihnya menaiki sepeda motor. Waktu remaja, ketika mereka ingin bertemu, Delilah sendiri yang akan mendatanginya bersama sopir yang telah disogok agar tidak mengatakan pertemuan itu.
"Lebih baik menyuruhnya datang sendiri saja ke restoran ini," gumam Nayaka, lalu keluar dari restoran mewah menuju sepeda motor yang terparkir di pojok area parkir mobil.
Hendak menaiki sepeda motornya, Nayaka kaget karena ada yang menepuk pundaknya. Ia menoleh, terkesiap, dan pertanyaan muncul di otaknya. Kapan wanita yang tersenyum ini berada di belakangnya?
"Sera!" ucap Nayaka.
"Hai, Nayaka," sapa Sera dengan senyum manisnya.
Nayaka membungkukkan sedikit tubuhnya tanda hormat, kemudian meraih helm yang disangkutkan di stang motor, lalu memakainya.
Sera mengerutkan kening. "Kau ini kenapa?"
"Aku mau pulang."
"Aku, kan, temanmu," ucap Sera. "Ayo, kita makan siang bersama."
"Aku harus masuk kerja," kata Nayaka.
"Kau akan menjadi keluarga om Reyhan. Kenapa masih malu kepadaku? Aku bukan bagian dari mereka."
"Aku tidak mau makan bersamamu."
"Selalu saja begini. Kau terlalu bucin dengan Delilah. Aku suka padamu, Nay," ucap Sera. "Dari dulu saat aku pertama kali melihatmu."
"Sera, jangan membuat masalah. Aku tidak menyukaimu."
"Kau jujur sekali," kata Sera.
"Kau makan sendiri saja. Aku harus balik ke kantor."
Sera mengentakkan kakinya. Sebelum Nayaka berlalu, lebih baik ia lekas pergi dari sana.
__ADS_1
Bersambung