
Delilah merentangkan tangan, dan Nayaka menggendongnya. Selesai membersihkan diri bersama, waktunya untuk tidur guna mengistirahatkan tubuh yang lelah.
Manjanya Delilah melebihi Kyomi. Tapi Nayaka tidak keberatan melakukan itu. Sudah biasa Delilah bertingkah seperti anak kecil ketika bersamanya.
Perlahan Nayaka merebahkan Delilah di samping Kyomi yang lelap. Kekasihnya itu hanya mengenakan segitiga hitam berenda karena memang Delilah tidak membawa pakaian ganti sama sekali. Sementara Kyomi tidur dengan kaus dalam dan celana pendek ketat.
"Kakak tidur di sebelahku saja." Delilah bergeser sedikit agar Nayaka bisa kebagian tempat.
"Aku di sofa saja. Kasihan Kyomi, dia bisa enggak leluasa tidurnya."
"Tubuhmu bisa sakit."
"Enggak apa-apa." Nayaka memberi kecupan di kening Kyomi, lalu bergantian dengan Delilah. "Kau tidurlah, aku di sofa saja."
Kalau sudah begitu, Delilah juga tidak bisa memaksa. Ia membiarkan Nayaka merebahkan diri di sofa bersama satu guling.
Nayaka membuka mata. Ia beringsut duduk dari tidurnya. Memandangi Delilah, dan Kyomi yang telah pulas. Nayaka mengambil ponsel di saku kemeja, kemudian men-dial nomor dengan nama 'Fahmi'.
Telepon tersambung. Ketika ia mendengar suara dari sana, Nayaka berkata, "Halo, Paman Fahmi. Ini aku, Nayaka. Siapkan saja semuanya. Aku akan pulang bersama keluargaku."
Setelah mengatakan itu, Nayaka memutus sambungan teleponnya. Ia berjalan mendekat ke kasur. Ikut merebahkan diri di samping Delilah.
"Sayangku." Nayaka mengecup lembut bibir itu.
Ia juga mengusap dua kelembutan Delilah secara bergantian. Nayaka memundurkan tubuhnya agar bisa mencucup kembali milik kekasihnya itu.
Delilah mengerjap, ia sadar apa yang terjadi pada tubuhnya. "Sayang ...."
Nayaka cuma bergumam karena bibirnya sudah penuh akan milik Delilah. Sebelah tangannya juga menekan lembut buah padat itu.
Delilah tidak peduli. Ia sudah ngantuk berat. Pasrah saja dalam kenikmatan yang kekasihnya itu berikan. Nayaka hanya mencucup dua bagian itu, setelah puas, ia kembali lagi tidur di sofa.
...****************...
Pagi hari, Delilah dan Nayaka menyempatkan lagi bermain satu ronde sampai permainan itu usai ketika Kyomi merengek tidak menemukan siapa pun di sampingnya.
"Selamat pagi, Sayang." Delilah tersenyum manis menyambut putrinya.
"Papa mana?"
Sedikit kecewa lantaran Kyomi malah mencari Nayaka lebih dulu. "Papa lagi gosok gigi di dalam."
"Mama sama papa mandi sama-sama?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"Mama belum mandi. Cuma gosok gigi saja tadi." Delilah tidak sempat mandi, bahkan ia belum membasuh miliknya dari cairan yang disemprotkan oleh Nayaka, karena Kyomi lebih dulu menangis.
Nayaka muncul dari bilik mandi. Rambutnya basah, dan aroma sabun menguar dari tubuhnya. "Selamat pagi, Kyomi."
"Selamat pagi, Papa," balasnya, lalu turun dari tempat tidur.
"Kyomi mandi dulu, ya."
Nayaka mengacak-acak rambut Kyomi. "Iya. Jangan dibasahin rambutnya. Nanti saja pas sampai di rumah."
"Oke ...." Kyomi menjawab dengan menyatukan ujung jari telunjuk dan ibu jari menjadi lingkaran.
Nayaka tertawa melihatnya. "Dia sangat menggemaskan?"
"Oh, ya!" Delilah menyahut. "Bagaimana dengan ibunya?"
Nayaka mendekat, menarik pinggang ramping Delilah. "Ibunya lebih dari itu." Nayaka menempelkan bibirnya yang disambut terbuka terbuka oleh Delilah. "Tadi itu aku belum puas."
"Kau sudah mandi, tetapi aku belum membersihkan diri. Rasanya sangat lengket." Delilah merapatkan kakinya.
"Tapi kau menyukai yang lengket itu, kan?"
"Kau membuangnya di dalam tadi."
"Aku akan minum setelah sampai di rumah."
Helaan napas terdengar dari bibir Nayaka. "Syukurlah. Aku belum siap punya anak lagi. Masih banyak yang ingin kucapai. Aku tidak ingin sepertimu."
"Kakak! Kau menyindirku?" Delilah memukul lengan Nayaka.
"Aku, kan, hanya bicara saja. Lebih baik kita merencanakan secara matang untuk anak kedua."
"Papa!" seru Kyomi.
Nayaka terperanjak kaget. "Kyomi! Bisa tidak manggilnya jangan teriak?"
Kyomi menyengir. Hanya kepalanya saja yang muncul dari balik tembok kamar mandi. "Baju Kyomi enggak ada."
"Biar aku yang urus, Kak." Delilah mengambil baju pesta Kyomi yang berada di sofa, kemudian menyusul masuk ke kamar mandi. "Kyomi pakai baju ini dulu."
"Enggak mau. Bajunya gatal."
"Enggak ada baju lagi, Sayang. Pakai ini dulu saja." Entah kenapa Kyomi selalu membantah setiap perkataannya. "Habis ini kita langsung pulang."
__ADS_1
"Tapi manik-manik bajunya bikin gatal. Kyomi enggak suka."
"Nanti Mama buang manik-maniknya. Kyomi pakai ini dulu. Ayo, dong. Masa Kyomi mau keluar pakai kaus dalam." Delilah tidak putus asa dalam membujuk putrinya. "Nanti Mama janji abis ini kita jalan-jalan."
"Kyomi mau jalan ke taman. Mau main sepeda."
"Iya, kita jalan ke taman." Delilah mengiakan saja yang penting Kyomi mau pakai baju. "Mama mandi dulu, setelah itu kita pulang."
"Jangan lama. Kyomi lapar, nih."
"Iya, Sayang. Kyomi sama papa dulu, ya."
Kyomi keluar, Delilah kembali menutup pintu kamar mandi, dan gilirannya dirinya yang membersihkan diri.
Selesai berberes, Nayaka, Delilah dan Kyomi meninjau ballroom hotel dulu. Semua sudah dikemas oleh orang yang ditunjuk. Tinggal di hari Senin nanti Delilah melihat laporan penjualan yang diatur oleh asistennya, Nela.
"Aku mau berhenti dari kantormu," ucap Nayaka ketika mereka telah berada dalam mobil.
"Kau bekerja di perusahaanku saja, Kak. Kau bisa menjadi CEO, bahkan direktur utamanya menggantikan Om Andy."
"Aku ingin sendiri meniti karier, Del. Bisa tidak kau melihatku sebagai pria yang punya kemampuan?"
"Aku tahu kau punya skill itu. Tapi di sini relasi dan koneksi lebih menguntungkan, Kak."
"Kau selalu tidak mendukungku. Kapan kau bisa percaya kalau aku juga mampu seperti mantan kekasihmu, bahkan lebih."
Delilah menoleh pada kekasihnya yang menyetir. "Kau ingin memulai karier dari nol? Butuh waktu bertahun-tahun, Kak. Kyomi mungkin sudah sangat dewasa, dan kau baru diangkat menjadi manager umum. Umurmu sekarang sudah kepala tiga. Persaingan sangat ketat. Kalau bermimpi jangan ketinggian, Kak. Maaf, tapi aku hanya ingin kau berada di dunia nyata, bukan fantasi."
"Kenapa kau bicara seperti itu?" Kyomi menyahut.
Delilah menoleh ke kursi belakang. "Kyomi, tidak baik menyela pembicaraan orang tua. Kau tidak mengerti apa pun."
"Kyomi percaya Papa. Suatu saat Kyomi dan Papa akan keliling dunia. Papa sudah janji pada Kyomi."
"Tidak perlu menunggu Papamu. Sekarang juga kita bisa keliling dunia. Kau harus tahu, Sayang. Kau punya Mama yang bisa diandalkan."
Nayaka menghentikan mobil di bahu jalan. Ia menatap tajam Delilah. "Begini caramu bicara pada Kyomi? Kau seakan-akan merendahkan diriku. Seharusnya kau tidak boleh bicara begitu, Del. Kau akan membuat aku, sebagai ayah kandungnya tidak bisa diandalkan."
"Aku hanya bicara yang sesungguhnya. Aku tidak ingin Kyomi berangan-angan bahwa kau akan mewujudkan keinginannya."
"Lalu kau ingin Kyomi merendahkanku?" emosi Nayaka sudah memuncak.
"Kalian selalu bertengkar. Kyomi benci Papa dan Mama." Kyomi membuka pintu mobil. Anak itu melompat keluar begitu saja, lalu berlari ke jalan.
__ADS_1
Bersambung