
Delilah melotot. "Oh, kau ingin membalasku?"
"Sudahi pertengkaran ini, Delilah. Ini di tempat umum." Nayaka mendesis dengan menatap tajam mantan kekasihnya itu.
"Aku tidak ingin bertengkar, tetapi kau yang mulai lebih dulu. Aku tidak suka ada wanita lain yang berada di sekitar Kyomi."
Secara bergantian Kyomi memandang Delilah dan Nayaka. Lagi-lagi kedua orang tuanya itu bertengkar, dan bayang-bayang pemukulan antara orang tuanya, tiba-tiba menghantui.
"Kyomi mau pulang!"
Delilah tersentak, ia meraih tangan putrinya, tetapi Kyomi menghindar. "Sayang!"
"Kyomi enggak mau sama Mama."
Lalu berlari tanpa arah. Angel segera menyusul, begitu juga Nayaka dan Delilah. Kyomi tidak peduli siapa saja yang ia tabrak. Anak itu berlari ke mana kedua kakinya inginkan.
"Berhenti, Kyomi!" seru Angel, ketika Kyomi sudah ingin mencapai pada tangga eskalator. "Tolong hentikan dia!"
Pengunjung yang berada di dekat tangga, segera menghalangi Kyomi. Sampai pada akhirnya, Angel dapat meraih putri dari Nayaka itu.
"Kyomi mau pulang," rengeknya.
"Iya, Sayang. Kita pulang, ya." Angel mencoba membuat tenang Kyomi dengan memeluk dan mengusap kepala gadis kecil itu.
"Kyomi!" Nayaka ingin mengambil alih, tetapi anaknya tidak mau.
"Papa suka marah-marah. Kyomi takut."
"Kyomi!" Delilah memisahkan Angel dan anaknya.
Kyomi kembali meronta ketika berada dalam dekapan Delilah, dan itu membuat mereka menjadi pusat perhatian pengunjung.
"Sudah, Delilah." Nayaka segera menggendong Kyomi. "Ayo, Angel, kita pulang."
Tentu saja Delilah tidak tinggal diam. Ia mengikuti langkah dari Nayaka yang terburu-buru menuruni tangga menuju pintu keluar.
"Tunggu, Nayaka!" perintah Delilah.
Namun, Nayaka tetap melangkah keluar ke arah parkiran mobil, dan sampai di sana, Delilah tidak menyangka jika ia melihat empat orang pengawal.
"Halangi dia," ucap Nayaka.
"Siap, Tuan."
"Kau tidak berhak memperlakukan aku begini!" Delilah berkata lantang ketika ia dihalangi oleh empat orang pria tinggi besar.
Nayaka membawa Kyomi dan Angel masuk mobil. Baru setelah itu ia menghadapi mantan kekasihnya. Nayaka meraih tangan Delilah, membawanya menjauh dari kendaraan mewahnya.
"Apa maumu sebenarnya, hah?"
__ADS_1
"Aku tidak terima kita putus!"
"Kau tidak sadar apa yang terjadi pada hubungan kita selama ini? Hanya ada pertengkaran, Del. Selama kita tinggal bersama, selalu saja ada perdebatan di antara kita. Bukan hanya saat ada Kyomi, sebelum Kyomi ada, kita terus berselisih paham. Aku lelah, Del. Sangat lelah untuk terus memahamimu." Nayaka mengungkapkan semua kedongkolan hati yang selama ini ia pendam.
"Itu hanya alasanmu. Kau sengaja membuangku, dan ingin bersama Angel, kan?"
"Pikiranmu selalu saja negatif. Kau lihat anak kita, apa kau tidak kasihan? Kyomi terlalu sering melihat dan mendengar kita bertengkar, Del." Nayaka berkata seakan ia memelas pada Delilah.
"Kau yang memulainya, Nayaka," ucap Delilah.
Nayaka mengusap kasar wajahnya. "Kau masih tidak mengerti rupanya. Kau selalu saja menyalahkanku tanpa berpikir apa yang telah kau perbuat. Intropeksi dirimu, Delilah."
"Cukup!" Delilah mengangkat tangannya agar Nayaka diam. "Jangan menyalahkanku apa pun, karena aku tidak salah di sini."
"Kau tidak salah, aku yang salah." Akhirnya Nayaka mengucapkan hal itu karena lelah untuk berdebat lagi.
Nayaka lekas melangkah pergi dari hadapan Delilah. Tidak tahu apalagi yang harus Nayaka katakan pada mantan kekasihnya itu. Berbuih-buih dijelaskan, Delilah tetap tidak mengerti. Wanita itu selalu menganggap kalau ia benar.
"Nayaka!" panggil Delilah.
Namun, pemuda yang dipanggil itu tidak mendengarkan. Nayaka masuk mobil, kemudian memerintah sopir untuk segera mengemudikan kendaraannya.
Delilah mengumpat pada dua pengawal yang masih berada di sekitarnya. "Minggir! Tuan Muda kalian sudah pergi."
Karena sudah diusir begitu, dua pengawal tadi lekas masuk mobil, lalu menyusul dua rekan kerja serta atasan mereka yang lebih dulu berlalu dari gedung mal.
Dua minggu dilewati Delilah dengan menyenangkan diri. Berkumpul bersama teman-teman, berbelanja, bahkan Delilah menyempatkan diri berlibur ke Bali selama lima hari.
Ia butuh liburan untuk menghilangkan segala beban dalam pikirannya. Amarahnya pada Nayaka. Kekesalan pada Reyhan, dan Kyomi yang enggan untuk bicara padanya. Delilah sudah menghubungi putrinya, dan mencoba meminta maaf. Tapi tetap saja Kyomi enggan untuk bersamanya.
Malah sebaliknya, Angel yang kini begitu dekat dengan Kyomi. Setiap hari wanita itu selalu menemani buah hati Nayaka. Kyomi juga senang, dan sang ayah tidak mungkin menghalangi kebersamaan itu.
"Kau tidak ingin menikah?" Omar menegur Nayaka yang asik memperhatikan Kyomi dan Angel.
"Aku belum memikirkannya."
"Kyomi butuh sosok ibu."
"Dia sudah punya Ibu." Nayaka menjawabnya tegas.
"Di mana ibunya?"
Ya, pertanyaan itu yang tidak bisa Nayaka jawab. Di mana ibunya? Di mana Delilah? Nayaka sudah memberi alamat rumahnya agar Delilah berkunjung. Hanya telepon saja yang ia terima, tetapi Kyomi menolak untuk bicara.
"Maksud Papa apa?" Nayaka menatap lekat Omar. Ia sedikit tidak suka bila sang ayah mencampuri kehidupan pribadinya.
"Jangan memberi harapan jika kau tidak suka. Kalau kau menyukainya, maka nikahi saja."
"Aku tidak ...." Nayaka tidak jadi melanjutkan kalimatnya. Ia sadar dengan maksud dari Omar. "Aku akan menyuruh Kyomi menjauh dari Angel."
__ADS_1
Omar menggeleng. "Mau buat anakmu bersedih lagi. Mereka sudah sangat akrab."
"Aku membiarkannya karena seminggu lagi kita akan pindah ke Dubai."
"Nak, kau juga harus menikah. Kau sudah mengambil alih perusahaan. Identitas Kyomi akan kusembunyikan."
"Apa?" Nayaka langsung memandang Kyomi dan Angel. Syukurlah keduanya tidak mendengar kekagetannya. "Apa maksud Papa?"
"Kau tahu apa yang kumaksud. Menikahlah dengan wanita mana saja. Jangan lagi ada Kyomi yang lain. Kita memang akan tinggal di luar negeri. Tapi tetap saja, aib adalah aib. Mereka akan tetap bergunjing, meski kita sudah membungkamnya."
"Aku akan pikirkan nanti. Papa jangan mengurusi kehidupan pribadiku."
Selesai mengatakan hal itu, Nayaka segera menghampiri Kyomi yang tengah asik bersama Angel.
"Sayang ...."
"Papa, lihat, deh, Kyomi gambar rumah."
Nayaka meraih kertas yang terdapat gambar rumah dengan empat orang yang menghuninya. Nayaka tersenyum. "Ini Papa, Mama, Kyomi, terus satunya siapa? Kok, ada tiga cewek?"
"Itu Tante Angel. Kyomi gambar itu karena Tante Angel baik."
Nayaka menarik sedikit sudut bibirnya. Sementara Angel merasa tidak enak hati. Bukan maksudnya untuk gabung dalam kehidupan keluarga kecil Nayaka, tetapi Kyomi sendiri yang menginginkannya.
"Kita ke apartemen Mama, yuk!" ajak Nayaka.
"Enggak mau!" Kyomi langsung menolak. "Mama suka marah-marah. Kyomi enggak suka."
"Mama pasti kangen."
"Kyomi enggak mau!"
"Jangan dipaksa, Nayaka." Angel menyela. Lalu, ia mengusap rambut Kyomi. "Mama Delilah pasti rindu pada Kyomi."
"Mama dan Papa suka bertengkar. Kyomi enggak mau ke apartemen."
"Enggak mau pamitan sama Mama?" Nayaka mencoba membujuk.
"Enggak mau!" teriak Kyomi, lalu bangun dari duduknya, dan berlari ke kamar.
"Kau harus sabar, Nay," kata Angel, memberi perhatian.
Nayaka mengangguk. "Ya, lagi pula Delilah ibu kandungnya. Kyomi pasti kembali padanya."
"Kau benar."
Nayaka tersenyum. "Ayo, aku antar kau pulang
Bersambung
__ADS_1