
Malam yang harus Angel lalui dengan melihat Nayaka melakukan panggilan video bersama Delilah. Suami Angel itu tengah duduk di sofa dengan memegang boneka. Ya, Nayaka tengah menimang putranya.
"Kanaka haus lagi? Jempolnya enak?" Nayaka tertawa ketika ia melihat tangan Delilah menarik pelan tangan nan mungil itu.
Saat jari telunjuk ibunya mengenai pipi, Kanaka mulai mencari-cari sumber makanannya. Delilah suka menjahilinya, dan membuat Kanaka menangis.
"Kebiasaan," kata Nayaka.
"Sudah, ya, Kanaka mau nyusu." Delilah ingin telepon ini berakhir karena ia susah untuk menyusui putranya.
"Berikan saja. Dari dulu juga aku sering lihat."
Delilah mengeluarkan lidahnya mengejek. "Enak saja. Minta saja sana sama istrimu."
Angel dengar itu. Nayaka sadar ada istrinya yang belum tidur dan masih mendengarkan ia bicara bersama mantan.
"Tutupi saja pakai kain." Pilihan yang diberikan Nayaka.
"Aku susah pegang ponselnya. Sudah, ya. Kanaka menangis, nih."
"Aku ingin lihat kalian tidur."
"Astaga!" Delilah mendengkus. "Jangan lihat dulu. Tunggu aku bilang boleh, baru lihat sini."
Nayaka mengangguk. "Oke, siap!"
Patuh akan perintah Delilah. Nayaka memalingkan wajahnya ke arah lain. Setelah sang mantan mengatakan boleh untuk melihatnya lagi, barulah ia menoleh pada kamera.
"Jangan tidur beneran. Kanaka bisa sesak kalau kau tutupi begitu." Nayaka protes dengan apa yang dilakukan Delilah. Kanaka tidak bisa bernapas jika ada kain yang berada di atas wajahnya.
"Ya, makanya dimatiin dulu. Nanti aku telepon balik, deh."
"Ya, dibuka saja kenapa, sih? Aku sudah lihat dan merasakannya juga."
Kata-kata yang sama sekali tidak pantas Nayaka ucapkan di depan istrinya. Delilah tidak lagi punya ikatan dengan mereka. Statusnya sudah orang lain, dan bisa-bisanya pria itu secara gamblang ingin melihat bagian sensitif dari mantan istrinya.
"Jangan nyebelin, deh." Delilah mulai kesal.
Nayaka tertawa. "Lepasin dulu Kanaka dan singkirkan kain itu. Aku ingin lihat dia."
"Sebentar. Pejam mata dulu." Putranya masih ingin menyusu, tetapi karena sang ayah ingin melihat, Delilah terpaksa menarik miliknya dari bibir Kanaka.
Nayaka menutup mata dengan dua buah tangannya. Ketika suara Delilah terdengar, barulah ia menurunkan sepuluh jemarinya itu.
__ADS_1
"Lucunya. Lihat bibir Kanaka. Masih mau minum susu." Sayang sekali Nayaka tidak dapat menyentuh putranya secara langsung. Ya, apa boleh buat. Kunjungannya masih beberapa minggu lagi.
"Aku ngantuk. Sudah dulu, ya? Besok lagi."
"Langsung tidur. Kanaka tidur di tempatnya sendiri. Jangan ada banyak barang di ranjangnya. Tidurnya jangan terlalu nyenyak. Nanti anak nangis malah enggak dengar."
"Cerewet!" ucap Delilah.
"Cuma mengingatkan, Sayang."
"Ya, ke sini, dong. Lihatin aku dan Kanaka."
"Iya, aku bakal ke sana, kok. Selesain kerjaan dulu. Gimana mau nafkahin kalian kalau enggak kerja."
"Ya, sudah. Aku tutup teleponnya."
"Iya. I love ...."
Telepon video itu terputus sebelum Nayaka sempat melanjutkan kalimatnya. Ia mengembuskan napas panjang, lalu membalik ponsel pintarnya.
"Kau memberinya uang?" tanya Angel.
"Aku harus menafkahi anakku, kan?"
"Kalaupun iya, memangnya kenapa? Kau tahu aku dan Delilah, kan? Memangnya kami ada hitung-hitungan?"
"Perhatikan istrimu, Nay!"
"Kau ini kenapa, sih, Angel? Ada saja kata-katamu yang memancing amarahku. Kau tidak sanggup hidup denganku? Aku bisa detik ini juga melepasmu."
"Nayaka!" Angel tidak terima diperlakukan begini. "Setelah mendapati keinginanmu, kau ingin mencampakkanku?"
Nayaka mengacak-acak rambutnya. "Saat aku enggan menyentuhmu, kau marah. Aku jadi serbasalah. Setelah aku menjalani tugas sebagai suami, kau marah juga. Kau bilang habis manis sepah dibuang. Kutegaskan padamu, Angel. Aku ingin kembali bersama Delilah. Apa pun alasannya, dan aku tidak peduli siapa yang bakal tersakiti. Aku manusia biasa. Aku punya napsu. Punya banyak keinginan dan gudangnya salah. Hanya maaf yang bisa aku ucapkan."
Selesai mengeluapkan amarahnya, Nayaka keluar. Ia akan tidur di kamar utama. Tempat di mana kenangan Delilah berada.
Angel beringsut bangun dari tempat duduknya. Suaminya lupa dengan ponsel yang tergeletak di meja. Angel meraih itu, kemudian menyalin nomor Delilah.
Mungkin ini siksaan atau karma atau apalah. Setiap pagi Nayaka akan bicara pada Delilah. Malam menjelang tidur juga, dan Nayaka semakin sibuk dengan urusan kerja karena ingin berkunjung ke Swiss lagi.
Omar pun ingin ke sana pada saat Kanaka lepas 40 hari. Keluarga di Indonesia juga akan datang, dan mungkin ini bisa dijadikan sebagai ajang untuk memperbaiki hubungan yang sedang renggang.
"Nak, kau cepatlah hamil kembali. Papa sudah ingin menimang cucu," ucap Omar. "Kanaka mungkin akan tinggal di Inggris. Dia tidak mau pindah kemari."
__ADS_1
Sangat disayangkan, tetapi Omar tetap menerima keputusan Delilah. Masalah anak menantunya tidak ingin ia turut campur.
"Angel akan berusaha, Papa." Permintaan ini juga beban bagi Angel.
"Jangan memaksakan kehendak." Nayaka menyahut. "Angel bukan sapi perah."
"Papa hanya ingin minta cucu."
"Papa mau ikut nanti?" Nayaka mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Pasti. Papa sudah enggak sabar buat gendong. Setiap hari Kyomi selalu tunjukkin foto Kanaka."
"Aku pesan tiket buat Papa kalau begitu."
"Kau tidak membawa Angel?"
Nayaka menatap ayahnya, dan Omar keceplosan bicara. Harusnya ia tidak berkata demikian. Angel dan Delilah musuhan. Jika disatukan, maka akan ada perang.
"Papa pulang, deh. Oh, ya, Papa ada beli hadiah untuk Kanaka."
"Jangan beli macan sungguhan. Delilah bisa jantungan bila melihatnya." Nayaka sungguh heran. Orang-orang kaya di Dubai senang memelihara hewan buas yang katanya merupakan simbol dari seberapa kaya orang itu.
Omar hanya menjawab ucapan Nayaka dengan deheman. Angel tahu ia tidak diajak untuk mengunjungi Swiss. Ya, siapa lagi yang tidak menginginkannya hadir. Sudah pasti Delilah.
"Aku ingin ikut ke Swiss."
"Boleh, tapi aku tidak bisa menemanimu untuk liburan. Aku akan berada di tempat Delilah untuk beberapa hari. Ada acara di sana."
"Aku juga tahu dan aku ingin menghadirinya. Kanaka juga anakku, Nay."
"Kau ini ingin memicu pertengkaran?" raut wajah Nayaka mulai berubah kesal.
"Itu kalau Delilah yang tidak bisa move on darimu."
"Delilah sudah move on. Tapi aku yang tidak bisa. Kau pikir jika aku membawamu ke sana, apa yang ingin aku tunjukkan. Bahwa aku baik-baik saja? Bahwa aku punya istri yang lebih baik dari mantanku sebelumnya? Dengan aku membawamu ke sana, aku bakal mengingatkan Delilah pada luka yang kuberikan. Kita menikah di saat aku telah memiliki istri."
Nayaka menggeleng. Ia sendiri tidak bisa bagaimana menjelaskan ini pada Angel. "Sumpah, Angel. Aku bertahan karena Delilah. Dia tidak mau aku menyakitimu. Dia sudah merelakan diriku untukmu. Lalu, kau ingin datang ke sana dan membuat masalah begitu?"
"Niatku baik, Nay!" Angel tidak terima dituduh begitu saja.
"Niatmu memang baik. Tapi tanya apa yang ada dalam benakmu paling dalam. Kau ke sana hanya ingin menunjukkan kalau kau adalah pemilikku!"
Bersambung
__ADS_1