Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Melanjutkan Hubungan


__ADS_3

"Angel, aku akan suruh sopir untuk mengantarmu," ucap Nayaka.


"Dia datang sendiri, biarkan dia pulang juga sendiri." Delilah menyela seraya melipat tangan di perut.


Nayaka memandangnya lekat, lalu menggeleng. "Biar sopir yang mengantar Angel." Nayaka berkata dengan lemah lembut.


Delilah mendengkus, kemudian masuk dalam rumah. Seolah-olah, kediaman itu adalah miliknya. Tidak ada rasa canggung sekalipun bagi wanita itu.


"Maafin Delilah, ya, Angel." Nayaka tersenyum saat mengatakannya.


"Kau bilang sudah putus hubungan dengannya."


"Mungkin dalam asmara, iya. Tapi sebenarnya hubungan kami tidak seperti itu, kan? Dari umurnya 10 tahun, kami telah bersama. Delilah segala-galanya bagiku."


"Kurasa kalian hanya cocok sebagai adik kakak. Sadar enggak, sih, Nay, Delilah itu saat bersamamu, seperti anak kecil. Dia manja, ingin diperhatikan, bahkan dia sepertinya iri pada putrinya sendiri. Kurasa kalian tidak cocok bersama."


Nayaka mencerna apa yang dikatakan Angel. Sedikitnya memang benar apa yang diucapkan wanita di depannya ini.


"Kau tahu sendiri, kan, Delilah memang seperti itu. Kami bersama sudah lama. Dia bergantung padaku, dan aku juga."


"Tapi, Nay." Angel menyela. "Kau tahan untuk hidup bersamanya. Apa kau akan mengalah terus? Delilah akan terus menganggap dirimu lemah, Nay. Kau ditinggalkan bersama putrimu hanya karena ia belum siap untuk memiliki anak."


"Maksudmu apa, sih, Angel?" akhirnya, pertanyaan itu terlontar juga. "Delilah hamil diusia 19 tahun. Kami memang berbuat kesalahan. Harusnya, aku yang sudah berumur jauh darinya tidak melakukan itu. Aku selalu menurutinya. Aku tidak ingin dia mengeluarkan air mata lagi setelah apa yang ia lalui."


"Itu sebabnya aku katakan padamu. Kalian cocoknya sebagai saudara. Maafkan aku, Nayaka. Bukan maksudku untuk mencampuri masalah pribadimu. Aku hanya memikirkan Kyomi. Kasihan dia yang harus bersaing bersama ibunya sendiri."


"Terima kasih, Angel. Kau selalu memikirkan Kyomi."


"Aku suka padanya. Dia manis dan pintar." Angel mengucapkannya seraya tersenyum.


Nayaka pun membalas senyum itu. Lalu menyuruh sopir rumah untuk mengantar Angel. Setelah mobil yang ditumpangi sahabatnya itu menjauh, Nayaka lekas masuk rumah. Ia masih ingin minta penjelasan terkait kehamilan yang diucapkan Delilah.


"Mana Kyomi?" tegur Nayaka.


Delilah mengangkat pandangannya dari ponsel. "Sama pengasuhnya."


"Kita mesti bicara. Ikut denganku."


Delilah bangun dari duduknya. Ia mengekor ke mana langkah kaki Nayaka itu membawanya. Delilah masuk saja ke kamar ketika ayah dari putrinya mempersilakan.


Nayaka menutup pintu, lalu menguncinya. "Bukannya kau meminum pil KB?"

__ADS_1


"Itu tidak menjamin. Bisa saja, kan, aku sedang mengandung saat ini."


"Jadi, kau tidak hamil?"


"Aku bilang bisa saja," jawab Delilah.


Nayaka memijat keningnya. "Del, sebenarnya kau menganggap aku apa, sih?"


"Kau ayah dari putriku."


"Del, ubah sedikit perilakumu." Nayaka meminta seakan ini seperti permintaan terakhir. Sebuah cara untuk menyelamatkan hubungan mereka lagi.


"Aku minta maaf karena merendahkanmu. Aku tidak bermaksud begitu. Wajar, kan, kalau sebagai calon istrimu, aku menginginkan kehidupan kita yang lebih baik.


"Aku juga minta maaf, Kak. Aku tidak sengaja mengatakan kata kasar untuk Kyomi. Dia putri kita dan aku menyayanginya. Maafkan semua kesalahanku."


Awalnya Delilah mungkin mengatakan untuk tidak ingin mengemis pada Nayaka. Namun, kenyataannya, ia sangat sakit hati saat hubungan mereka berakhir begitu saja.


Sudah cukup ia kehilangan kedua orang tuanya. Delilah tidak ingin lagi kehilangan Kyomi maupun Nayaka.


"Kemarilah," ucap Nayaka.


Delilah tersenyum. Ia segera memeluk Nayaka. Kan! Sekeras apa pun Nayaka marah, Delilah tetap mampu membuat pria itu luluh. Nayaka untuk Delilah, begitu pula sebaliknya. Mereka adalah satu, dan tidak ada yang bisa memisahkan mereka.


Delilah mengangguk, lalu kembali memeluk Nayaka. "Kita lanjutkan saja acara yang sudah dirancang."


"Iya, aku akan segera memberitahu Papa."


Sekarang Delilah bisa membuktikan kalau ia bisa mengurus diri sendiri tanpa bantuan dari Reyhan. Ia punya suami kaya raya sekarang. Untuk masalah keuangan, tidaklah masalah bagi Delilah saat ini.


Delilah memutuskan untuk menikah tanpa pesta yang mewah karena ia ingin sebuah resepsi pernikahan di Dubai. Di mana namanya dan Nayaka akan tertera di gedung paling tertinggi di dunia. Semua orang akan tahu hari pernikahannya itu.


"Aku dan Papa akan mengunjungi Kakakmu. Kau mau ikut?"


"Aku titip salam saja dengannya," kata Delilah.


"Loh, kok, masih enggak mau baikan."


"Lebih baik kita nikah saja, Kak. Aku enggak mau insiden kemarin terulang. Aku enggak mau ketemu beliau."


Nayaka meraih tangan Delilah. "Ya, tapi harus dikasih tahu."

__ADS_1


"Pokoknya aku enggak mau ikut!" Delilah berkata tegas.


Nayaka menghela. "Baiklah, kau tidak perlu ikut. Biar aku dan Papa saja."


"Kita undang saja mereka saat pernikahan. Aku tidak perlu persetujuan Kak Reyhan."


"Terserah kau saja, Del." Nayaka mengiakan saja permintaan Delilah.


Seminggu kemudian, pernikahan itu sungguh terjadi. Tanpa kehadiran dari sang kakak, Reyhan. Hanya Anna, Diki serta kerabat lain yang ikut menyaksikan pernikahan Delilah dan Nayaka.


Delilah tersenyum ketika Nayaka dengan lancar mengucapkan ijab kabul pernikahan. Saat saksi telah mengatakan "sah", dan akhirnya, Delilah resmi menjadi Nyonya Nayaka Malik Hawwas.


Nayaka menyematkan cincin pernikahan di jari manis Delilah, lalu mengecup kening istrinya. Keduanya tersenyum, tampak dari raut wajah mereka yang begitu dipenuhi binar kebahagian.


Pernikahan itu diadakan di kediaman Nayaka tentunya. Mereka juga mengundang orang terdekat saja, bahkan kedua istri Omar tidak ikut hadir. Setelah menikah, Nayaka akan memboyong semua keluarga ke Dubai. Mereka akan tinggal di sana dan memulai hidup baru.


"Selamat untuk kalian berdua. Semoga rumah tangga kalian selalu diberkahi oleh yang Mahakuasa." Omar memeluk Nayaka, lalu mengecup kening putranya, kemudian berganti pada Delilah.


"Terima kasih, Papa," sahut Delilah dan Nayaka secara bergantian.


"Selamat, Sayang," ucap Anna, ketika Delilah menyalaminya.


"Makasih Kak Anna."


"Makasih, Kak Anna. Maaf karena sikap Delilah." Nayaka tidak enak karena istrinya terkesan cuek.


"Nay, sekarang kau adalah kepala keluarga. Kau didik istrimu. Jangan mau kalah dengannya jika dia salah. Jangan pula kau bermain fisik ketika bertengkar."


Nayaka mengangguk. "Iya, aku akan berusaha."


Anna menatap sendu adik iparnya. Delilah sedikit pun tidak menanyakan kabar Reyhan. Di antara mereka berdua sama sekali tidak ingin mengalah.


"Ayo, Anna. Kita pulang saja. Mereka juga sudah menikah," ucap Diki. Bahkan Diki pun ikut-ikutan dingin pada Delilah.


Delilah cuma melirik kepergian dari kerabatnya itu. "Memang apa, sih, salahku? Kenapa mereka menjadi begitu dingin?"


"Habis ini, kita berkunjung ke rumah Kak Reyhan. Kau harus minta maaf padanya."


Delilah menoleh pada suaminya. "Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan. Ini semua karena kau awalnya."


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Ini hari bahagia kita, kan?" Nayaka mengucapkannya seraya tersenyum.

__ADS_1


"Kakak benar. Kita harus bahagia."


Bersambung


__ADS_2