
Syukurlah Delilah bisa mendapat pekerjaan di sebuah butik yang menjual gaun pernikahan. Ia bisa menempelkan manik-manik di baju itu. Hanya dijahit saja memakai benang, maka semuanya akan beres. Ya, hampir mirip dengan membuat perhiasan.
Namun, itu pikiran Delilah. Sebenarnya membuat gaun dan perhiasan jelas berbeda. Alhasil, omelan yang saat ini ia dapatkan.
"Kau bilang bisa menjahit. Tapi kau hampir membuat gaun ini rusak. Kau tahu, gaun pengantin ini akan diambil seminggu lagi. Bahannya ini sangat mahal. Butuh waktu untuk mendapatkannya."
Wanita berambut cokelat, gendut dengan kacamata bulat bertengger di hidung ini lah, yang sedari tadi terus mengoceh.
"Kalau kau ingin memecatku, maka pecat saja. Berikan upah kerjaku." Delilah mengulurkan tangan. Kesalnya dimarahi di depan pekerja lain.
"Dasar tidak becus! Kau sudah tidak bisa bekerja dan sekarang meminta upah."
Delilah melipat tangan di perut. "Jadi, kau tidak mau membayarku?"
Tentu saja wanita pemilik butik harus membayar waktu yang Delilah habiskan seharian ini. 25 Franc diterima. Delilah langsung memasukkannya ke jaket kulit yang ia kenakan.
"Terima kasih." Delilah tersenyum, lalu ia menoleh pada gaun pengantin itu. "Rancangan gaunmu sangat jelek. Selera kalian payah."
"Apa yang kau katakan?" Pemilik butik itu begitu marah.
Delilah tidak menghiraukan. Ia segera berlalu dari sana. Bukan maksud ingin menghina, tetapi wanita pemilik butik telah keterlaluan memarahinya. Ia, kan, hanya salah menempatkan bunga kertasnya saja.
"Sekarang Mama harus cari pekerjaan baru." Delilah mengembuskan napas lelah. "Sulit juga ternyata. Tapi kita harus tetap semangat."
Hidup di kota Swiss terbilang mahal. Delilah harus pandai mengatur keuangannya. Ia harus menahan diri untuk berbelanja atau makan makanan mewah di restoran. Ini yang harus dilakukan karena ia tidak mau meminta bantuan siapa pun termasuk sang kakak.
Sepanjang perjalanan, Delilah melewati pertokoan. Ia berhenti, lalu mundur tiga langkah. Memalingkan kepalanya ke arah depan kaca etalase.
"Bukannya ini tas merek Belancia model terbaru? Kenapa bisa di sini?"
Tas tote berukuran besar warna hitam dengan bahan kulit berkualitas. Benda itu sangat cocok untuk menyimpan barang-barang keperluan bayi tentunya. Satu tangan menenteng tas hitam itu, lalu satu lagi memegang kereta bayi. Wow! Begitu menakjubkan. Delilah merasa ia tampak begitu sempurna. Sayang, sekarang ini hanya menjadi sebuah khayalan saja. Ia tidak akan mampu membelinya.
"Jangan dipikirkan. Sebaiknya aku lekas pergi."
Bergegas Delilah menjauh dari toko yang menjual barang bermerek. Ia menuju kafe dengan memesan susu dan satu potong kek keju. Setengah harga dari gajinya sehari. Dalam sekejap saja uang sisa sedikit. Dulu, Delilah begitu senang menghamburkan kertas-kertas berharga itu tanpa peduli susahnya mencari.
Dari kecil ia kaya, lalu bekerja sebagai desainer perhiasan. Begitu mudah ia mendapatkan pasar karena nama-nama besar yang mengikutinya. Ibarat, Delilah ini sudah jadi, dan hanya perlu mengasah untuk lebih bersinar lagi. Untuk benar-benar berjuang, Delilah belum pernah merasakannya.
__ADS_1
Selagi di kafe, Delilah memanfaatkan internet di sana untuk mencari lowongan. Setidaknya yang ringan saja karena ia tengah mengandung.
"Aku bisa membuat sebuah akun, kan? Aku bisa membuat sebuah review tentang fashion di internet."
Cara seperti itu begitu mudah mendapat uang kalau berhasil mendapat banyak follower. Tidak masalah, Delilah harus bekerja keras saja.
Dalam perjalanan pulang, ia membeli beberapa manik, tali gelang, lem, jarum dan pinset. Ia bisa membuat perhiasan sederhana dengan bahan itu dan hasilnya bisa dijual.
Sementara di belahan benua lain, Angel tengah berbahagia. Lantaran hasil USG menunjukkan kalau dirinya mengandung anak laki-laki.
Omar sudah pasti senang. Ia kembali mengadakan syukuran atas anugerah ini. Sementara Nayaka, ia turut berbahagia, tetapi merasa ada yang kurang.
Ia malah membayangkan Delilah. Menurut sifat teman masa kecilnya itu, sudah pasti saat ini Delilah mulai sombong. Pasti ia akan bermanja, meminta apa saja, karena telah berhasil mengandung anak laki-laki. Nayaka tersenyum membayangkannya.
"Papa, kok, senyum-senyum sendiri?" Kyomi menegur.
Nayaka tertawa. "Tidak, Sayang. Papa hanya senang saja."
"Karena dapat adik bayi?"
Nayaka mengangguk. "Tentu saja."
"Apa Mama Angel akan sayang pada Kyomi?"
"Tentu saja, Sayang," sahut Nayaka.
"Kyomi mau Mama Delilah."
"Nanti Mama akan telepon." Nayaka mencoba untuk menenangkan hati putrinya.
Kyomi menundukkan kepalanya. "Mama tidak sayang sama Kyomi." Kemudian, ia bangkit dari duduknya, lalu berlari ke kamar.
Nayaka menghela napas. "Di mana kau sekarang, Del? Aku juga merindukanmu."
Meski sudah tidak bersama Delilah, Nayaka tetap meniduri kamar mereka. Semalam di kamar Angel, dan selanjutnya di kamar tidur Delilah. Ketika Nayaka tidak mendatangi istrinya di apartemen, Nayaka juga melakukan hal sama. Ia tidur sendiri di kamar utama.
Perlakuan ini tentu membuat Angel merasa sakit hati. Ia adalah istri satu-satunya sekarang, tetapi masih diperlakukan seperti pada masa ada Delilah.
__ADS_1
Namun, ini lah syarat yang telah disetujuinya. Nayaka bilang kalau ia tidak bisa memberi cinta dan mungkin Angel akan sakit hati bila bersamanya. Namun, Angel tetap menerima pinangan itu, meski dijadikan sebagai pengisi kekosongan dalam rumah tangga Nayaka dan Delilah.
Apa yang diucapkan Delilah memang benar. Neraka itu sendiri yang Angel ciptakan untuk dirinya. Sampai kapan pun tidak ada yang bisa mengganti sosok Delilah di hati Nayaka.
"Kau tidak senang aku hamil anak laki-laki?"
Nayaka beralih pada Angel yang tiba-tiba saja menanyakan hal itu. "Tentu aku senang. Dia adalah anak laki-laki pertamaku."
"Kau tidak mendaftarkan pernikahan kita. Kau tidak ingin anak ini diakui, kan?"
"Kenapa bicara begitu? Perlu waktu untuk mengurusnya. Anak itu adalah anak kandungku. Tentu saja ia akan diakui."
"Kau juga belum mengurus surat perceraianmu."
"Jangan lagi membahas perceraianku, Angel. Kau tidak ingin kita bertengkar, kan?"
"Kau masih mencintainya, Nay." Angel sedikit bersuara keras.
Nayaka menghela. "Aku berpisah bersama Delilah, bukan karena aku tidak cinta. Aku mencintainya. Sampai detik ini jantungku berdegup kencang bila menyebut namanya."
"Aku istrimu sekarang. Aku perlu cintamu."
"Aku menyayangimu, Angel. Sungguh!"
Ada banyak perbedaan dari cinta itu sendiri. Cinta yang memang seseorang tidak bisa hidup tanpa sosok yang dicintainya. Ada pula cinta karena tanggung jawab. Angel mengerti pada bagian mana ia ditempatkan. Nayaka mencintai atau menyayanginya, tetapi ada suatu perasaan hanya diperuntukkan pada satu wanita saja, yaitu Delilah.
Pagi hari yang penuh kejutan. Kyomi mendapat sebuah bingkisan. Dengan tidak sabarnya, anak itu membuka hadiah dari seseorang yang begitu ia rindukan.
"Tunggu, Kyomi! Dari mana kau mendapatkan bingkisan itu?" Nayaka bergegas menghampiri Kyomi.
"Dari Mama Delilah. Lihat ini, Papa."
Nayaka merebut bingkisan itu. Sayangnya alamat dari si pengirim, adalah alamat apartemen yang Delilah tempati di Dubai.
"Ayo, kita buka bersama."
Nayaka ikut membantu. Bingkisan itu berisi tas tote print serta sebuah kertas dengan tulisan cetak. Nayaka tidak bisa berbuat apa-apa. Delilah membeli bingkisan itu sudah pasti dari aplikasi belanja online.
__ADS_1
"Apa nama tokonya?"
Bersambung