
Makan malam yang begitu menyenangkan di hotel tempat Delilah akan mengadakan pameran. Setelah itu ketiganya mengunjungi ballroom pameran. Pagelaran itu dibuka untuk kalangan tertentu selama tiga hari. Undangan telah disebar semuanya oleh tim promosi.
Sebenarnya, ada dua tempat yang akan dijadikan sebagai perkenalan perhiasan produk Delano Jewerly. Delilah sepakat untuk memamerkan koleksi yang lain pada masyarakat luas. Ia juga mengadakan pameran di salah satu mal di Jakarta. Karena di sanalah perhiasan yang ia buat akan lebih dikenal.
"Jangan lari-lari, Kyomi!" seru Delilah ketika putrinya seperti burung yang lepas dari sangkar.
Kyomi berlari mengelilingi ballroom yang luas. Semua sudah dihias dengan mewah, tinggal menempatkan perhiasan saja ke dalam kaca akrilik.
"Sesuai dengan keinginanmu, kan?" Nayaka berkata seraya memandang sang kekasih.
Delilah mengangguk. "Ya, ini bagus. Hiasannya juga indah."
"Setelah di sini, kita akan adakan lagi pameran di mal."
"Setelah itu, acara pernikahan kita." Delilah tersipu malu mengatakannya.
Nayaka tertawa kecil. "Apa bedanya, sih? Lagian setiap hari kita tidur bersama."
"Jelas bedanya. Kau milikku dan aku milikmu."
"Tidak ada malam pertama. Kita terlalu sering melakukannya."
"Kebetulan Kakak bicara begitu. Malam ini, tidak ada jatah untukmu."
Nayaka tersentak. "Eh, bukannya kau sudah berjanji akan memberiku malam ini. Padahal ini yang pertama aku meminta darimu."
Delilah menggeleng. "Ada bagusnya juga kau bicara begitu. Setidaknya ada hari puasa untukku."
Nayaka menghela. "Aku menyesal mengatakannya."
Delilah terkikik geli. "Kan, Kakak yang ngomong tadi. Ucapan itu harus dipertanggungjawabkan. Kita tidur bersama setelah menikah."
Nayaka tersenyum jahil. "Yakin? Kau tidak akan tahan."
"Sangat yakin," Delilah menyahut. "Begini saja, aku akan minta Kyomi untuk tidur bersamaku."
"Dasar licik."
"Kakak sendiri yang bilang kalau aku harus mendekatkan diri pada Kyomi."
"Aku akan mengalah." Nayaka merangkul pundak Delilah, lalu mengecup kening kekasihnya. Ia berani melakukannya karena ballrroom hotel begitu lenggang. Hanya ada dua penjaga yang ditugaskan untuk menjaga kondisi ruangan itu. "Sudah malam, kita pulang sekarang."
Delilah mengangguk, lalu memanggil Kyomi. Anak itu sempat protes kesenangannya diganggu. Namun, setelah Nayaka memberi penjelasan, Kyomi langsung diam.
"Besok malam, Kyomi diajak ke sini lagi, kan?" tanyanya.
__ADS_1
"Tentu saja. Besok malam adalah hari istimewa Mama," sahut Delilah.
"Kyomi mau pakai baju yang nenek Anna kasih."
Delilah mengangguk. "Besok Kyomi boleh memakai baju apa pun."
Nayaka tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kyomi sudah terpengaruh akan kemewahan keluarga Reyhan. Malam ini saja, putrinya itu memakai baju keluaran brand ternama. Padahal, kalau dilihat, Kyomi hanya memakai kaus putih, rok jeans, serta sepatu. Tapi, dari setelan itu, bisa dapat satu buah motor. Untungnya Kyomi masih mau memakai tas sekolah dan sepatu yang ia belikan di pasar.
Nayaka berdeham. "Jangan terlalu memanjakan Kyomi."
Delilah menoleh. "Maksudnya?"
"Aku ingin Kyomi tetap sederhana, Del."
"Kau selalu saja mempermasalahkan itu. Baju yang dipakai Kyomi juga bekas, kok. Pakaian si kembar dan milikku masih banyak yang terawat. Memang mau bagaimana lagi? Ibu dan kak Anna memberi kami pakaian dengan merek itu." Delilah mencoba menjelaskan.
"Kau yakin? Om Reyhan saja memberinya alat make up Barbie. Anakku itu masih kecil, tetapi sudah pandai berdandan."
"Siapa bilang Kyomi masih anak kecil? Umurnya mau tujuh tahun akhir tahun ini. Jangan berpikir seperti itu, Kak. Kyomi sudah terlahir dari rahim seorang wanita kaya."
Nayaka cuma diam, dan mungkin benar. Kyomi memang terlahir seperti itu. Pihak ibu dan ayahnya punya ekonomi yang kuat. Andai Delilah tahu kalau ia sudah bertemu dengan orang tua kandungnya yang merupakan seorang konglomerat dunia.
Sesampainya di kediaman Dion, terlintas dalam pikiran Nayaka tentang kenangan ketika ia menginjak kaki untuk pertama kali di rumah itu.
Tidak ada yang berubah dari isi rumah itu. Sama seperti terakhir kali Nayaka pergi dari sana. Foto-foto mendiang orang tua Delilah masih terpasang rapi, lalu taman bunga yang dibuat Dion untuk istrinya, juga masih sangat terawat. Nayaka ingin seperti Dion. Pria yang penuh kasih, lembut dan setia pada pasangannya.
"Papa, lihat, ini kakek dan nenek?" tunjuk Kyomi pada foto yang berada di lemari pajangan.
Delilah meraih foto keluarga, lalu memberikannya pada Kyomi. "Coba tunjuk, ini siapa?" Delilah menunjuk pada foto masa remajanya.
"Siapa?"
"Ini kak Kiano, Ayyena, Anthea, Sera, Mama, lalu ini .... "
"Kyomi tahu, ini kakek Reyhan dan nenek Anna. Ini om Diki sama tante Maya. Kalau ini kakek dan nenek, Kyomi. Ini eyang Bastian, dan ini juga eyang Alberto." Kyomi bisa hapal karena ia pernah melihat foto yang sama di rumah Reyhan. "Foto eyang Alberto ditempel."
Delilah tertawa. "Mama juga enggak sempat bertemu sama eyang Alberto."
"Besok lagi lihat fotonya. Sudah larut, Kyomi harus tidur." Nayaka menghentikan keduanya yang asik memandangi potret keluarga.
"Kyomi mau tidur sama Papa."
"Enggak boleh lagi, Sayang. Tidur sama Mama saja. Kyomi, kan, sudah besar."
"Temani saja," desak Kyomi.
__ADS_1
"Iya, Papa temani."
Karena belum menyiapkan kamar, Delilah membawa Kyomi tidur di kamarnya sendiri. Membantu putrinya ganti baju, menemaninya gosok gigi, semua itu mereka lakukan bertiga.
"Kenapa Papa dan Mama harus menikah?" tiba-tiba Kyomi bertanya demikian.
"Karena memang harus menikah," jawab Delilah.
"Apa Kyomi akan dapat adik lagi?"
"Oh, itu, lebih baik tanya pada Papamu."
Kyomi memandang Nayaka yang berbaring di sampingnya. "Apa Kyomi akan punya adik kalau Papa dan Mama menikah?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Kata kak Ayyena, kalau Mama dan Papa menikah, Kyomi akan dapat adik."
Nayaka tersenyum. "Kyomi mau adik?"
Anak itu menggeleng. "Enggak mau. Nanti Papa enggak sayang lagi sama Kyomi."
"Tentu saja Papa dan Mama akan selalu sayang pada Kyomi." Nayaka mengecup kening putrinya, mengusap pipinya agar Kyomi lekas tertidur.
"Apa dia akan meninggalkan kita lagi kalau Kyomi dapat adik?"
Kening Nayaka berkerut. "Dia siapa?"
"Mama Delilah."
"Sayang, Mama tidak akan meninggalkanmu lagi." Delilah menjawab cepat.
"Tidak akan, Sayang. Mama tidak akan melakukannya lagi." Nayaka memandang lekat Delilah, lalu beralih pada Kyomi. "Tidurlah, Sayang. Mama dan Papa tidak akan meninggalkanmu."
Kyomi mengangguk, lalu memejamkan matanya setelah membaca doa tidur. Delilah makin senang melihatnya. Kyomi anak pintar dan patuh atas apa yang Nayaka ucapkan.
"Kapan dia akan menjadi anakku?" celetuk Delilah sembari mengusap puncak kepala Kyomi.
"Dia memang anakmu, kan?" Nayaka malah merasa heran akan pertanyaan itu.
"Kyomi selalu menurut padamu. Dia tidak membantah apa pun yang kau katakan." Delilah mengucapkannya dengan rasa cemburu.
Nayaka terkekeh. "Itu karena anak perempuan memang akan dekat bersama papanya."
Bersambung
__ADS_1