Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Ulah Kyomi


__ADS_3

Apa itu cinta? Tidak ada seorang pun mampu mengartikannya. Setiap insan punya pandangannya masing-masing. Termasuk Nayaka yang masih terbelenggu dalam cintanya bersama Delilah.


Cinta itu indah, tapi mampu menghancurkan harga diri. Bisa dibilang begitulah Nayaka saat ini. Tidak peduli betapa buruknya perlakuan Delilah, tetapi ia masih menginginkan wanita itu di sisinya. Nayaka bagai menjilat ludahnya sendiri. Ia mampu berkata untuk tidak memaafkan perempuan itu. Namun, hatinya bertindak berbeda.


"Kyomi masih marah pada mama?" tanya Nayaka.


"Kenapa kalian berpisah?" Kyomi balik bertanya.


Nayaka tersenyum. "Ketika kau besar nanti, Kyomi akan tahu banyak hal."


"Aku sudah besar."


"Kadang orang dewasa suka bertengkar dan mereka pergi untuk menenangkan diri," sahut Nayaka.


"Papa dan dia bertengkar?"


"Di musim dingin kau lahir. Dia begitu bahagia saat itu dan memberimu nama yang indah."


"Apa Papa menyakiti dia?" Kyomi bertanya seakan ia adalah wartawan.


"Mungkin saja. Mamamu begitu muda ketika melahirkanmu dan ia ingin mengejar cita-citanya."


"Lalu dia meninggalkanku dan Papa."


Kyomi tertunduk, wajahnya sendu. Sejak ia masuk sekolah, ibunya mulai dipertanyakan. Setiap anak akan dijemput ibunya atau bermain bersama kedua orang tua. Kyomi kadang iri dan menginginkan Nayaka mencarikan ibu untuknya.


"Sekarang mama sudah ada bersama kita," ucap Nayaka.


Kyomi menggeleng. "Apa dia tidak akan meninggalkan kita lagi?"


"Mama akan bersama kita, tetapi dia ...."


"Kyomi mengerti," ucapnya. "Dia akan sama seperti ibu temanku."


Nayaka terdiam mendengarnya. Mau disembunyikan bagaimanapun, Kyomi akan tahu jika Delilah akan kembali meninggalkannya ketika mendapat keluarga baru.


"Papa akan selalu bersamamu," ucap Nayaka.


Kyomi menarik selimut, lalu membalik diri membelakangi Nayaka. "Selamat malam, Papa."


Nayaka mengusap puncak kepala putrinya. "Semoga mimpi indah, Sayang."


Nayaka menghidupkan lampu tidur kemudian mematikan lampu utama. Ia menatap sekali lagi Kyomi yang terlelap kemudian keluar dari kamar.


Beberapa hari Delilah tidak menampakkan batang hidungnya di rumah. Begitu juga Angel karena Kyomi sudah punya penjaganya sendiri. Bagus juga bagi Nayaka karena ia tidak ingin warga sekitar bergosip akan dirinya. Nayaka juga tahu mengapa Delilah tidak sempat datang. Selain karena pekerjaan, tentu saja karena Juno.


Namun, Kyomi sama sekali tidak menanyakan keberadaan ibunya. Ia beraktivitas seperti biasa seakan Delilah memang tidak pernah ada atau pernah hadir dalam hidupnya.

__ADS_1


"Nanti siang, mama akan menjemputmu di sekolah. Mama sudah menelepon Papa untuk itu," kata Nayaka.


"Papa tidak akan ikut?"


"Papa akan menyusul setelah pulang kerja."


"Tidak bisakah Kyomi pergi bersama Papa saja?"


"Papa akan menyusul, Sayang. Bermainlah dulu bersama mama nanti."


"Baiklah," jawab Kyomi patuh.


Hari Jumat tiba dan malamnya mereka akan menginap di apartemen baru. Delilah sudah menelepon jika tidak perlu membawa perlengkapan Kyomi karena ia sudah menyiapkan segalanya. Alamat apartemen juga sudah dikantongi. Jadi, Nayaka tinggal menyusul saja nanti.


...****************...


Di kantor, Nayaka memang masih sempat bertemu Delilah. Entah harus dikatakan apa hubungan mereka saat ini, tetapi keduanya tidak lagi bertengkar.


Nayaka mengirim pesan pada Delilah meski bisa saja ia menemui wanita itu di ruangannya. Ia tidak ingin sampai Delilah telat menjemput buah hatinya di sekolah.


"Nela, aku harus pergi. Kau uruslah pekerjaan yang tersisa," kata Delilah.


"Iya, Bu," sahut Nela.


Tidak ingin bertanya lebih lanjut mengapa Delilah seperti terburu-buru ingin keluar, padahal waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi.


Sebelum mengendarai mobil, Delilah mengirim pesan balasan bahwa ia tengah di perjalanan kepada Nayaka agar pria itu tidak khawatir.


Empat puluh lima menit perjalanan, Delilah sampai di gedung sekolah Kyomi. Ia harus menunggu sampai bel berbunyi. Ketika mendengar suara khas anak kecil berteriak senang, Delilah keluar dari mobil mencari keberadaan Kyomi.


Namun, siapa sangka pemandangan yang Delilah lihat membuat hatinya meradang. Ia berjalan cepat meraih Kyomi dari genggaman Angel.


"Kau tidak perlu repot mengantar anakku," ucap Delilah.


"Aku tidak tahu kau datang menjemputnya," sahut Angel.


Delilah mendekat, lalu berbisik, "Jangan mencari muka di depan putriku." Raut wajah Delilah berubah tersenyum tatkala memandang Kyomi. "Ayo, Sayang. Kita pulang."


"Hati-hati, Kyomi," ucap Angel.


Kyomi melambaikan tangan pada Angel. "Ketemu lagi nanti," ucapnya.


Delilah segera membawa Kyomi masuk mobil dan berlalu dari sana. Keduanya tidak ada saling bicara. Kyomi asik memandangi jalanan, sedangkan Delilah fokus menyetir dengan sesekali memandang putrinya.


Mobil yang dikendarai sampai di area parkir apartemen. Delilah turun lebih dulu, lalu membawa Kyomi bersamanya. Keduanya langsung saja berjalan masuk gedung apartemen menuju lift.


"Papa akan menyusul kita nanti," ucap Delilah.

__ADS_1


"Aku tahu," jawab Kyomi.


Keduanya sampai di unit nomor 22. Delilah membuka kunci apartemennya, lalu menyuruh Kyomi untuk masuk lebih dulu. Apartemen luas dan tidak begitu mewah. Namun, Delilah menyediakan ruangan khusus untuk putrinya bermain. Ada tenda mainan, boneka dan tentu saja pernak-pernik yang membuat Kyomi tergoda.


"Mama akan siapkan makan. Kau pergilah mandi dan ganti baju."


"Tidak perlu. Papa sudah membekaliku makan siang," kata Kyomi.


Delilah menarik napas panjang. "Satu hari saja, Kyomi. Jadilah anak baik."


"Memangnya aku nakal?"


"Kau anak baik. Ayo, Mama tunjukkan kamarmu."


Kyomi mengingat pesan Nayaka yang harus mengikuti ucapan dari sang ibu, dan ia melakukannya. Tidak ada bantahan dari bibir Kyomi. Apa yang Delilah pakaikan, berikan, ia terima.


Namun, sampai pada pukul enam sore, Kyomi mulai berbuat ulah. Tenda mainan yang sengaja di tata serta boneka, dilempar begitu saja oleh Kyomi.


Apalagi kalau bukan Nayaka yang tidak kunjung datang. Delilah selalu mengatakan kalau sang ayah akan tiba sebentar lagi, tetapi sampai matahari sudah terbenam, batang hidung pria itu tidak terlihat.


"Kyomi mau apa?" tanya Delilah.


"Mau Papa!" teriaknya.


"Tenang dulu, Sayang. Papa akan datang sebentar lagi." Delilah menyodorkan sepiring nasi, tetapi Kyomi menepisnya.


"Kyomi tidak ingin makan!"


"Tapi kau harus makan," kata Delilah.


"Enggak mau!" ucap Kyomi.


Anak itu mulai menangis. Delilah mencoba menelepon Nayaka, tetapi panggilannya tidak tersambung.


"Kakak ke mana, sih?" Delilah memijat keningnya. "Diamlah, Kyomi. Kau sudah besar untuk menangisi papamu."


"Kyomi mau pulang. Kyomi mau ketemu papa!" ucapnya.


Lagi-lagi Delilah menelepon Nayaka, barulah pria itu mengangkatnya dan mengatakan kalau ia telah berada di lantai bawah dan menunggu untuk dijemput.


"Mama mohon untuk tenang, Kyomi. Papa sudah berada di bawah," kata Delilah.


"Kyomi ingin jemput papa."


Delilah mengangguk. "Sebelum itu, cuci dulu wajahmu."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2