Lihat Aku, Delilah

Lihat Aku, Delilah
Pulang Menikah


__ADS_3

Delilah mulai memproduksi perhiasan untuk mengisi etalase toko miliknya serta pesanan pelanggan. Pekerja dari Indonesia telah hadir, dan membantu prosesnya. Ia memulai kembali usaha yang ditinggalkan selama menikah bersama anak konglomerat bernama Nayaka.


Masih tetap memakai nama perusahaan waktu itu. Ya, menurut Delilah, nama gabungan ibu serta ayahnya membawa keberuntungan. Ia merindukan kedua orang tuanya. Saat pulang nanti, Delilah akan berziarah.


Nayaka juga ikut membantu dalam proses promosi. Maklum, ia sudah berpengalaman dalam bidang marketing. Target pasar mereka adalah wanita karier. Perempuan yang punya penghasilan sendiri. Mereka bisa membeli perhiasan yang indah, tetapi dengan harga yang cukup dikantong.


Gelang, cincin, serta kalung yang Delilah design, juga unik. Sederhana, tetapi manis. Ia juga membuat satu set perhiasan saja. Jika pembeli membeli gelang, maka pelanggan selanjutnya tidak bisa memilikinya. Mereka hanya bisa membeli kalung, cincin atau anting. Ini sama saja dengan perhiasan itu limited edition.


Karena promosi ini gencar, bukan hanya melalu media sosial saja, tetapi Delilah meminta selebgram untuk mereview produk buatannya. Ya, meski membayar mereka dengan cukup mahal. Tapi, hasilnya tidak tanggung-tanggung. Delilah sampai kewalahan dibuatnya. Pesanan cukup banyak sampai di angka 100 set.


"Kita harus tutup pesanannya. Ini belum dibuat," kata Delilah. "Hitung berapa cincin, kalung, anting serta gelang. Jangan sampai salah."


Semua dikerjakan secara ekslusif. Dengan desain serta ukuran yang telah disesuaikan oleh pelanggan. Delilah benar-benar sibuk, tetapi untungnya ada Nayaka.


Calon suaminya ikut membantu. Mereka rela tidur di toko karena Delilah harus bergadang. Bahkan Nayaka membuat kamar tersendiri di lantai 1 sebab Delilah melakukan pengerjaan di lantai dasar.


"Nona, pelanggan ini malah minta desain tersendiri. Apa kita terima saja?"


Delilah menggeleng. "Untuk saat ini, aku belum bisa membuat gambar. Pekerjaan kita masih banyak. Jika dia tidak mau memakai salah satu dari perhiasan dari desain yang ada, maka batalkan saja. Ya, aku tahu pembeli adalah raja, tetapi aku juga tidak mau sakit kepala karena permintaannya."


Bukan hanya mengurus perhiasan saja. Tetapi Delilah harus memikirkan rencana ulang pernikahannya. Gaun pengantin yang ia suruh Anna merancangnya. Lalu sovenir pernikahan yang telah dipesan serta resepsi.


"Kau juga harus istirahat, Sayang." Nayaka menegur.


Delilah tersenyum. "Aku tahu. Apa Kanaka sudah tidur?"


"Iya, sudah. Mbak Santi yang menjaganya."


"Aku harus buat produksi massal untuk mengisi etalasenya. Harusnya kita buat dulu perhiasan sebanyak-banyaknya." Delilah merasa salah langkah sebab ia tidak punya cadangan lagi.


"Dari awal, kan, tujuannya memang hanya menerima pesanan saja. Kau membuat model-model itu memakai perhiasan, lalu membuat pembeli memesannya. Kita kenalkan dulu nama brand-nya."


Delilah mengangguk. "Kau benar, Sayangku. Semuanya harus selesai dalam waktu 3 bulan. Setelah itu aku akan produksi massal."


"Lebih cepat lebih bagus karena aku sudah tidak tahan menunggu lagi."

__ADS_1


"Gaun penganti itu lama dibuat. Aku ingin gaunnya penuh permata."


"Ya, aku tahu," sahut Nayaka.


"Sayang, aku haus." Delilah mulai bersikap manja. "Aku kerja. Tapi lihat tanganku?" Kedua tangan itu bersarung, dan Delilah juga memakai kacamata khusus.


"Hati-hati saat kau membentuk perhiasannya." Nayaka mengambil botol mineral yang berada di sudut ruangan. "Ini, minum."


"Ya, dibuka, dong."


Nayaka tersenyum. "Bayar dulu." Ia malah memajukan bibirnya.


Delilah menoleh kiri kanan. Dasar Nayaka. Di dalam ruangan ini ada dua orang pekerja, tetapi pria ini malah meminta hal aneh.


"Kau tidak lihat mereka?" Delilah melotot.


"Mereka juga fokus bekerja."


Dengan cepat Delilah mengecup bibir Nayaka. "Sudah ...."


Tiga bulan kemudian, pesanan itu jadi. Semua dikirim ke pemiliknya, dan ada juga yang mengambil langsung dari toko. Namanya usaha, ada saja yang komplen. Tidak semua mulus, tetapi Delilah sabar, terlebih selalu ada orang-orang terdekat di sampingnya. Ia tidak lagi bar-bar seperti dulu jika ada yang menghina. Ia bisa menahan diri.


Selepas pesanan itu selesai, Delilah memproduksi massal perhiasan untuk mengisi etalase tokonya, dan ini dikerjakan oleh bawahan yang memang sudah kompeten.


Sementara itu, Delilah juga Nayaka bersiap untuk kembali ke Indonesia. Semua persiapan pernikahan, diurus oleh Anna. Baik itu gedung, katering, termasuk tamu undangan. Lagi pula yang banyak kenalan adalah Reyhan.


"Semua dokumen keberangkatan sudah siap, kan?" tanya Nayaka.


"Aku cek lagi!" Delilah berteriak menyahuti Nayaka. Ia terlalu sibuk menyiapkan semuanya. "Sayang, kau lihat selimut Kanaka?"


"Sudah di tas." Nayaka menyahut. "Kyomi, pakai topi dan sepatumu. Kita bisa telat ke bandara."


"Iya, Papa."


"Ayo, berangkat!" kata Delilah, yang lekas meraih Kanaka.

__ADS_1


Semua akan pulang, termasuk Santi. Pulang kampung yang selalu ditunggu-tunggu oleh mereka. Nayaka memesan dua taksi online untuk mengantar mereka ke sana.


Perjalanan yang memakan waktu akhirnya, membuat Nayaka dan sekeluarga tiba di Indonesia. Mereka dijemput oleh sopir rumah Omar. Calon mertua Delilah itu, sudah berada di Indonesia bersama asistennya Fahmi.


"Besok langsung ke butik Kak Anna?" tanya Nayaka.


"Iya, dong. Kita harus fitting baju. Harinya sudah dekat. Kak Reyhan juga sudah sebar undangan. Sayang, aku terlihat gendut tidak? Aku bilang ke Kak Anna untuk pakai ukuran yang sama seperti gaun dulu. Aku sudah jaga berat badan, loh."


"Kemarin sudah diukur, kan? Tinggi, lingkaran pinggang, lebar bahu. Kita sudah kirim ukurannya."


"Tapi itu kamu yang ukur. Wajahku bagaimana? Kantung mataku kelihatan tidak?"


"Kau cantik. Mau bagaimanapun penampilanmu, aku tetap bersamamu."


"Nanti kau yang berpaling dariku jika aku tidak cantik. Pria kaya biasa begitu. Apalagi kau pernah menikahi wanita lain selain diriku. Besok, aku harus melakukan perawatan."


Nayaka cuma diam. Masalahnya siapa yang mulai selingkuh lebih dulu? Tetap kembali ke pasal satu, wanita selalu benar.


Kanaka menangis mendengar suara ribut dari orang tuanya. Delilah meletakkan kesayangannya itu di atas pangkuan Nayaka, sementara ia mengambil air putih dari dalam tas.


"Dia mau susu, bukan air putih," kata Nayaka.


"Di rumah saja. Kain penutup asi-nya berada di tas lain."


"Kyomi juga haus." Anak itu menyahut dari kursi depan. "Papa, singgah dulu ke warung bakso."


"Pak, cepat sedikit bawa mobilnya." Nayaka memerintahkan itu.


"Papa, singgah dulu." Kyomi mulai merengek.


"Sabar dulu, Kyomi." Nayaka mengusap wajahnya. Sudah lelah perjalanan, ditambah ruang mobil yang terasa sempit, eh, Kyomi malah merengek minta bakso.


"Nanti Mbak Santi beli, ya. Kyomi sabar dulu." santi menenangkan Kyomi karena mereka duduk berdua di kursi depan.


Untungnya Kanaka tidak cerewet. Diberi air putih juga dia mau. Baru dua anak, tetapi mereka berdua sudah kerepotan. Meski begitu, Nayaka maupun Delilah merasa inilah keluarga sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2