
Baru kali ini Delilah benar-benar kehilangan kendali atas dirinya. Ia menghancurkan apa saja yang ada di depan mata. Membuat semua karyawan yang ada di perusahaan terheran-heran.
Delilah dipecat dari jabatannya sebagai CEO atas hasil dari rapat pemegang saham. Tentu saja pemimpin dari semua itu adalah Reyhan, yang merupakan pemilik saham terbanyak pada perusahaan Delano Jewerly yang Delilah bangun.
"Usir wanita ini!" Reyhan memberi perintah pada suruhannya.
Tidak ada yang bergerak. Ya, karena Delilah merupakan adik dari atasan mereka sendiri. Rasanya ragu-ragu, meski sudah diperintahkan seperti itu.
"Kalian tidak mendengar perintahku?" Reyhan mulai memasang tampang murka.
"Baik, Tuan." Para satpam segera menjalankan perintah. Mereka menghadang Delilah yang ingin menghancurkan kembali meja, komputer atau apa saja yang dapat wanita itu jangkau. "Ayo, Nona. Segera tinggalkan tempat ini."
"Lepaskan aku!" Delilah meronta sekuat tenaga.
Dua orang satpam yang memegang tangannya pun tidak tinggal diam. Delilah diseret keluar dari perusahaan begitu saja.
"Pergi dari sini!" tanpa ragu satpam mengusir.
Reyhan ada di sana, melihat adiknya yang kembali protes karena tidak terima dipecat begitu saja. Masih saja Delilah itu keras kepala. Bukannya meminta maaf menyesali perbuatannya, wanita itu malah semakin melawan.
"Aku akan buktikan kalau aku bisa hidup tanpa bantuanmu!" teriak Delilah.
Reyhan menghela napas panjang. Diki yang ada di sana, dan melihat adegan itu juga tidak berdaya. Kali ini ia turuti saja keinginan Reyhan.
"Suruh orang untuk mengawasi Delilah," ucap Reyhan. "Tapi, jangan bantu anak itu sekecil apa pun. Terserah dia mau melakukan apa di luar sana."
"Kau kejam sekali." Diki menegur.
"Terserah aku." Reyhan berlalu setelah mengatakan hal itu.
Sementara Delilah terus saja mengumpat karena peristiwa pagi ini. Ia masuk mobil dengan wajah penuh amarah. Lalu, mengendarai kendaraan warna putih itu menuju perusahaan Dion yang dikelola oleh Andy.
Sampai di sana pun rupanya sama saja. Sudah ada orang-orang yang menghalangi Delilah. Bahkan Andy pun tidak bisa apa-apa. Ia pun hanya bawahan yang kebetulan menjabat sebagai CEO. Namun, pemegang saham atau kendali semuanya masih berada di tangan Reyhan.
"Kau butuh berapa, Del. Om bakal kasih," kata Andy, yang tidak tega melihat anak dari mendiang atasannya.
"Delilah mau kerja di sini."
"Ya, sama saja, Del. Bakalan enggak bisa. Temui Kakakmu, dan minta maaf padanya." Andy memberi saran.
__ADS_1
"Aku tidak mau melakukan apa pun." Delilah berkilah.
"Turuti saja apa yang dikatakan Tuan Reyhan," ucap Andy. "Begini saja, Om kasih kamu 100 juta. Ini uang pribadi, dan hanya sekali ini Om kasih. Kau gunakan uang ini sebaik-baiknya."
Delilah mengangguk. "Makasih, Om."
"Ingat!" Andy mencoba mengingatkan. "Hanya sekali karena Om juga diancam."
Delilah mendengkus. "Kak Reyhan benar-benar keterlaluan."
Andy segera mentransfer sejumlah uang yang ingin ia berikan pada Delilah. Seratus juta, dan hanya itu yang pantas. Reyhan sudah menelepon jika Andy hanya boleh memberi sebatas itu, dan setelahnya tidak ada lagi bagian untuk Delilah.
"Dengar, Nak. Minta maaf pada Kakakmu."
"Sudahlah, Om. Jangan lagi mencampuri urusanku. Terima kasih atas uangnya. Delilah pergi dulu."
Andy hanya bisa menggelengkan kepala pada mendiang putri atasannya itu. Delilah memang bukan gadis kecil lagi. Dengan lingkungannya, ia berubah menjadi wanita yang keras kepala. Dari remaja sudah dibiasakan dengan kemewahan, dan dibebaskan dalam pergaulan.
Sakit hati, Delilah melarikan diri dengan berbelanja. Ya, setidaknya ia bisa mengurangi kekesalan akibat kejadian tadi pagi. Apa saja yang menurutnya bagus dipandang mata, maka barang itu ia ambil.
"Hitung semuanya," kata Delilah pada kasir. "Oh, ya, kalian bisa kirim tas-tas ini ke apartemenku, kan?"
"Tentu saja, Nona."
Kasir itu harus memakai sarung tangan untuk membungkus tas dengan plastik putih, lalu memasukkannya ke dalam kotak berwarna oranye.
Pandangan mata Delilah tertuju pada tas kecil warna putih yang sangat cocok untuk Kyomi. Ia pun mengambil tas itu, dan meminta pelayan toko membungkusnya.
"Totalnya 63 juta." Kasir wanita itu mengucapkannya dengan senyum paling manis. Delilah adalah langganan mereka dan wajar harus diperlakukan istimewa.
Dengan gampangnya Delilah membayar semua itu dengan kartu kreditnya. Ia tidak miskin, limit kartunya masih banyak.
Kasir itu menyerahkan nota pembelian yang harus Delilah tanda tangani. Delilah juga menuliskan alamat tempat tinggalnya yang baru.
Berhasil berbelanja sebanyak tiga tas baru, gaun, serta baju malam, Delilah kembali ingin memuaskan dirinya. Ia berjalan menuju toko perhiasan, tetapi langkahnya berhenti. Matanya melotot melihat Nayaka dan Kyomi. Namun, yang membuat Delilah marah adalah, ada Angel di sana.
Delilah tidak peduli jika aksinya ini akan mengundang perhatian pengunjung mal. Ia berjalan cepat menghampiri ketiganya yang seperti tidak sadar akan kedatangan Delilah.
"Kyomi!" tegur Delilah.
__ADS_1
Kyomi menoleh, ia melepas pegangan tangan Angel. Lalu beralih pada sang ibu. "Mama Delilah."
Delilah memeluk putrinya. "Sayang, kenapa tidak menelepon Mama?"
"Kyomi tidak ingat nomor Mama."
Delilah melirik Nayaka. Ia tahu jika ini pasti alasan sang ayah yang ingin menjauhkan mereka berdua. Baru sehari putus, Nayaka telah menggandeng wanita baru, dan perempuan itu paling Delilah benci.
"Kau sengaja, kan?" Delilah menuding langsung Nayaka.
"Ini tempat ramai, aku tidak ingin bertengkar."
Delilah berjalan mendekat pada Angel, lalu mendorong wanita itu. "Menjauh dari putriku!"
"Delilah!" Nayaka menegur.
Reaksi itu menarik perhatian pengunjung. Namun, Delilah tidak peduli, bahkan bila orang-orang ingin merekam, ia juga masa bodoh.
"Nay, aku akan menunggumu di parkiran saja. Aku tidak ingin membuat masalah," ucap Angel.
"Tunggu, Angel. Aku mengajakmu kemari karena ...."
"Karena apa?" Delilah menyahut.
"Mama Delilah, jangan marah." Kyomi menyela. "Tante Angel cuma temani kita belanja. Kyomi akan pindah ke Dubai, dan Kyomi ingin kasih hadiah buat teman-teman."
"Mama bisa menemanimu. Tidak perlu orang lain." Delilah menatap mantan kekasihnya. "Kak, kau sengaja, kan?"
"Kau menuduhku terlalu dini. Dari awal aku sudah bilang akan pindah. Lalu, ke mana kau ketika aku meneleponmu tadi."
"Apa?" Delilah segera merogoh tas mencari ponselnya. Ia terdiam ketika melihat lima panggilan tidak terjawab. Delilah tergagap-gagap menjawab Nayaka. "Aku tidak dengar."
"Karena kau asik dengan urusanmu sendiri," ucap Nayaka. "Dengar, Del. Perlu kuingatkan padamu. Kita sudah putus. Aku menghubungimu karena kau ibu dari anakku. Aku masih ingin melibatkanmu dalam mengurus Kyomi. Tapi apa? Kau lupa telah memiliki anak."
"Aku punya urusanku sendiri."
"Aku tahu. Paham sekali dengan urusanmu. Tidak ada masalah, kan, kalau aku mengajak Angel untuk bergabung bersama kami? Aku sengaja mengajaknya untuk menemani kami berbelanja."
"Kau serius menggantikanku dengan dia?" tanya Delilah.
__ADS_1
"Kalau kami cocok, kenapa tidak?"
Bersambung